
Jordi yang baru tiba di RS di sambut oleh Mak Asih yang tengah menonton acara gosip di sebuah stasiun televisi swasta .
" Tuan muda datang.., neng Dila belum lama tidur , tadi teman temannya datang berkunjung " ucap Mak Asih dengan suara pelan .
" Iya Bik....saya lagi senggang " Jawab Jordi dengan lembut .
Jordi menatap Dila yang tengah tidur pulas . Bibirnya yang sedikit terbuka menandakan ia tengah terlelap dengan sempurna .
" Mak mau cari udara segar dulu ya tuan , kebetulan tuan datang " ucap Mak Asih , tentu saja untuk membuat Jordi merasa nyaman .
" Oh..iya bik.., biar saya yang jaga Dila , nanti saya telp kalau saya mau pulang " jawab Jordi seraya duduk di sofa .
Mak Asih bergegas keluar kamar , dan menuju taman Rumah sakit , ia sendiri sebenarnya memang merasa sedikit bosan hanya duduk dan menonton tv sendirian .
Jordi beranjak dari sofa dan menuju kursi di dekat ranjang ,duduk di sana sambil menatap wajah yang jiwanya tengah berkelana di dunia mimpi . Pria itu menarik nafas panjang ,. Mencoba menetralisir debaran jantungnya dengan mengalihkan pandangannya ke tempat lain , memandang sekeliling ruangan itu .
Matanya yang tajam menatap laci di samping ranjang yang sedikit terbuka , karena penasaran ia membuka laci tersebut .
Jordi mengambil sebuah buku yang mirip sebuah Diary , ia hendak membacanya namun matanya lebih tertarik pada sebuah map yang warnanya sangat ia kenal . Map milik perusahaan keluarganya . Dengan ragu ia meletakkan diary di atas meja , lalu mengambil map tersebut .
Jordi terpaku membaca berkas yang ada di tangannya . Daftar direksi dan beberapa tenant perusahaan tertera di sebuah kertas bersama dengan nama perusahaan milik mereka . Ada beberapa nama yang telah di lingkari dengan pena , salah satunya nama tuan Andarya . Jordi menggeleng gelengkan kepalanya , kini ia bisa menebak kenapa tuan Andarya yang biasanya susah untuk goyah , bersikap baik hari ini .
Dengan lembut ia meletakkan kembali map di tangannya . Menatap Dila sesaat , lalu matanya kembali tertuju pada buku kecil yang tadi ia abaikan , dengan ragu meraih buku itu dan mulai membukanya .
Sebuah tulisan tangan yang ia tahu milik Dila tergores di tiap lembar halaman . Dengan berdebar ia baca beberapa halaman , tentu saja isinya hanya jurnal harian dan beberapa catatan tentang tugas dan kegiatan sehari hari Dila .
Ia hendak menyudahinya , namun matanya terpaku saat sebuah catatan membuat niatnya berubah .
𝑫𝒖𝒂 𝒑𝒖𝒍𝒖𝒉 𝒎𝒆𝒊
𝑹𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒑𝒊𝒔𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊
𝒎𝒆𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒅𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒑𝒂𝒑𝒖𝒏 𝒅𝒊 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂
𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒎𝒖 𝒍𝒂𝒈𝒊..
𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒂𝒑𝒂 𝒊𝒏𝒊 ?
𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂𝒎𝒖 𝒌𝒆 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒌𝒖
𝑨𝒌𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒆𝒃𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒑𝒆𝒓𝒑𝒊𝒔𝒂𝒉𝒂𝒏
𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒌𝒖 𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒉𝒊 𝒂𝒊𝒓 𝒎𝒂𝒕𝒂
𝑲𝒂𝒖 𝒌𝒖 𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒅𝒊 𝒂𝒏𝒕𝒂𝒓 𝑩𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑩𝒊𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈
𝒃𝒆𝒈𝒊𝒕𝒖 𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒕𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒌𝒖 𝒈𝒂𝒑𝒂𝒊
𝒌𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒌𝒖 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒎𝒖
𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒃𝒖𝒕 𝒏𝒂𝒎𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒕𝒂𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒇𝒂𝒔𝒌𝒖
𝑲𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈𝒎𝒖..
𝒌𝒖 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏𝒌𝒖..
𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒈𝒖𝒑 𝒎𝒆𝒍𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏...
𝒉𝒂𝒓𝒖𝒎𝒎𝒖 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒉𝒆𝒎𝒃𝒖𝒔𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒈𝒊𝒏
𝒉𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕𝒎𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒍𝒖𝒌𝒌𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒊𝒏𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓𝒊
𝒅𝒂𝒏 𝒓𝒊𝒏𝒕𝒊𝒌 𝒉𝒖𝒋𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒊𝒔𝒊𝒎𝒖..
𝑴𝒂𝒂𝒇.....
𝑴𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂...
𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒕𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒍𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂...
𝑴𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖 ...
𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒕𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓𝒎𝒖..
Jordi terdiam setelah membaca catatatn hati Dila dalam buku itu , hatinya yang penasaran kembali membuka lembar demi lembar hingga mendapati sebuah catatan . namun ia mengurungkan niatnya untuk kembali membaca kerena melihat Dila yang mulai terbangun . Ia segera memasukkan buku itu ke laci .
Dila nampak membuka mata perlahan , termenung sejenak seperti tengah mengumpulkan nyawa yang belum kembali sepenuhnya dari dunia mimpi . gadis itu nampak menguap beberapa kali sampai akhirnya terlihat sadar sepenuhnya .
" kau disini ?, sapanya dengan suara serak begitu menyadari kehadiran Jordi .
Jordi hanya terdiam mendengar pertanyaan Dila , separuh Jiwanya masih terpatri pada selembar catatan hati Dila yang tadi ia baca .
" apa kau tidak sibuk ? " tanya Dila lagi , membuat kesadarnnya pulih sepenuhnya .
" ehm...tidak ..aku tinggal menunggu hasil dari beberapa pertemuan tadi pagi . bagaimana perasaanmu ? " tanyanya pada pemilik mata indah yang membuatnya merasa berdaya .
" aku sudah lebih baik , esok atau lusa sudah bisa pulang " jawab Dila sambil meraih botol yang berada di samping ranjang .
__ADS_1
dengan sigap Jordi membantunya meraih gelas itu , lalu duduk di tepian ranjang dan menyerahkan botol berisi air mineral pada Dila . setelah Dila meneguk minuman itu hingga tinggal separuh Jordi membantunya meletakkan kembali botol itu ke atas meja .
" Terima kasih " ucap Dila sambil memandang Jordi .
" ada lagi yang kau perlukan ? " tanya Jordi .
Dila menggeleng pelan , lalu menarik nafas panjang .
" Jo... bisakah kau katakan keadaanku pada kakek , terus terang aku merasa tidak enak merahasiakan hal ini padanya , apakah tidak akan berpengaruh pada kesehatan kakek ? " tanya Dila tiba tiba .
" Tinggal dua hari...yang penting cepatlah sembuh . kau sudah menelponnya ? " Tanya Jordi .
" Aku takut tidak bisa bohong saat berbicara langsung padanya " ucap Dila setelah menjawab pertanyaan Jordi dengan gelengan kepala .
" kau ingin aku membawanya kemari ? " tanya Jordi dengan suara tenang .
" menurutmu gimana ? " Dila meminta pendapat .
" kau yang lebih tahu dalam hal ini " jawab Jordi sambil beranjak dari tepian ranjang .
" kau ingin jalan jalan keluar , ke lantai paling atas ada tempat santai , saat senja suasananya lumayan bagus " ucap Jordi mengalihkan pembicaraan .
" benarkah ? , memangnya ada ? " tanya Dila tidak yakin .
" aku pernah menemani nenek cukup lama di RS ini , aku ambilkan kursi Roda ya ? " Tawar Jordi .
" baiklah ..." Jawab Dila sambil tersenyum . ia memang sudah bosan tiga hari terkurung Di dalm ruangan itu .
Jordi meninggalkan Dila sendirian , Dila menatap punggung Jordi yang berjalan keluar kamar . gadis itu menarik nafas panjang , mendapat perlakuan Jordi yang begitu hangat ada sesuatu yang mengusik dadanya , ia merasa bersalah tapi juga sangat bersyukur .
" Neng Dila melamun ? " suara Mak Asih membuyarkan lamunannya .
" Mak dari mana ? " tanya Dila tanpa menghiraukan pertanyaan Wanita paruh baya itu .
" cari udara segar Neng , Bosan di kamar terus . Tuan Jordi sudah pulang ? " tanyanya kemudian .
" sedang cari kursi Roda mak , Dila bosan di kamar terus pingin keluar sebentar " Jawab Dila seraya beranjak dari tidurnya .
" neng mau apa ? " tanya mak Asih .
" ke toilet Dulu mak " jawab Dila sambil turun dari ranjang setelah mengambil cairan infus yang tergantung di tepi ranjang , mak Asih membantunya hingga ke pintu toilet .
Dila menatap wajahnya yang terlihat pucat dan tirus , di ambilnya air hangat lalu membasuh wajah itu sebentar . lalu mengeringkannya dengan handuk yang tergantung . suara mak asih terdengar menyapa seseorang , dan dari suaranya ia tahu itu Jordi . iapun segera keluar dari kamar mandi .
" Kau sudah siap ? " pertanyaan Jordi menyambut dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi . Dila hanya mengangguk , Jordi segera mendorong kursi roda ke dekat Dila , lalu membantu Gadis itu duduk dengan posisi ternyaman Di sana .
" mak mau Ikut ? , Kita mau ke atas " Dila bertanya pada mak Asih yang tersenyum melihat mereka .
Jordi segera membawa Dila keluar kamar . meski tampak kerepotan karena ia juga harus memegangi kantong berisi cairan infus Dila , pemuda itu melakukannya dengan senang hati tanpa mengeluh .
Setelah berjalan di beberapa lorong , mereka naik lift , lalu tiba di lantai paling atas , yang ternyata seperti sebuah taman . ada beberapa kursi besi dan tanaman hias yang menghiasi taman tersebut . suasana nampak sepi , mungkin tempat itu tidak di ketahui banyak orang .
Jordi berjalan ke dekat sebuah kursi besi panjang , setelah memastikan kursi yang di tumpangi Dila aman , ia duduk di kursi , satu tangannya terangkat ke atas guna memastikan cairan infus berada di atas titik tubuh Dila .
cahaya senja yang berwarna jingga menerpa wajah pucat Dila , membuat ia kini terlihat begitu cantik di mata Jordi . sementara Dila nampak tertegun menatap langit yang cahayanya sudah mulai redup .
Dila tertegun sejenak menyaksikan pemandangan di hadapannya . dari tempat itu ia bisa melihat melihat suasana berkabut kota bandung . meski tidak seindah jika berada di puncak , namun itu dapat menghibur kebosanannya yang terkurung di kamar beberapa hari .
" Gimana...sedikit menghibur kan ? " tanya Jordi .
" lumayan " jawab Dila sambil tersenyum .
" tentu tidak seindah saat kamu melihat dunia dari puncak gunung " ujar Jordi sambil tertawa ringan .
Dila hanya terdiam , ia menghirup udara dalam dalam yang terasa begitu segar . meski ia tidak bisa mencium aroma pohon , namun itu sudah cukup banginya .
" bagaimana rasanya ? " pertanyaan jordi yang memecah kesunyian mereka membuat Dila menoleh .
" apa yang kamu rasakan saat berada di puncak ?" tanya Jordi sambil menatap wajah Dila yang terlihat segar karena pantulan cahaya jingga .
" tentu saja senang ... ada harunya juga , saat berada di puncak aku merasa menjadi begitu kecil dan kerdil . pemandangan yang luar biasa yang bisa kita nikmati dari atas , dan awan yang terbentang di hadapanku membuat aku bertanya pada diri sendiri " nikmat mana lagi yang kau cari ? , kuasa lebih besar mana lagi yang membuatmu lebih takut kepada selain Tuhan ? " , aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata kata " jawab Dila dengan semangat .
" kalau kau sudah sehat ayo kita pergi bersama ! " ucap Jordi serius .
Dila tertawa mendengar ajakan Jordi yang sama sekali belum pernah naik gunung .
" aku serius " Jawab Jordi sungguh sungguh .
" aku ingin melihat Edelweis yang katanya merupakan lambang cinta abadi " ucap jordi dengan suara dalam .
" dimana bunga itu berada ? " pertanyaan Jordi membuat Dila terpaku .
" Kau ini...apa hanya itu tujuanmu naik gunung ? " ucap Dila sambil menatap jauh ke tempat lain .
" Tidak.... , Aku hanya penasaran , apa jika kita mendaki bersama kau akan membuka hatimu untukku ? , Apa yang pernah Jidan katakan hingga kau begitu cinta mati padanya ? Itu yang membuatku ingin mendaki gunung " jawab Jordi dengan santai .
Dila hanya terdiam , ia sungguh tidak ingin membahas hal itu lagi dengan Jordi .
__ADS_1
" aku ingin kau memberi aku kesempatan yang sama .. , Tolong kenali aku lebih jauh setelah itu putuskanlah ingin bersamaku atau tetap pada masa lalumu . setidaknya jika memang ia kembali ada kesempatan yang sama antara aku dan Dia " ucap Jordi setelah memutar kursi roda Dila dan membuat gadis itu berada di di hadapannya .
" Jika Pria yang kau temui waktu itu benar benar Jidan , aku minta kau memberi aku kesempatan untuk membuat hatimu berdebar , karena cinta juga harus di perjuangkan . jika kau tidak memberiku kesempatan berjuang itu tidak adil " Ucap Jordi tanpa memperdulikan wajah Dila yang terlihat menghindari tatapannya .
" Jo....cinta itu bukan hadir atas keinginan kita " ucap Dila sambil menatapnya
" Aku tahu.., tapi aku percaya cinta juga bisa datang karena terbiasa " Sahut Jordi Cepat .
" kau juga harus memberi hatimu ruang . bagaimana bisa kau menganggap Dia yang terbaik jika kau tidak pernah mau mengenal orang lain " ucap Jordi setelah menarik nafas panjang .
" aku pernah menganggap seseorang adalah yang terbaik , lalu aku patah hati karena di campakkan . namun pada akhirnya aku sadar itu adalah jalan untukku berkata she is not the one i should fight for " ucap jidan sambil tersenyum hangat .
" Biarkan aku menjadi penjaga mu , hingga kau merasa terbiasa , beri hatimu sedikit ruang , sedikit saja untuk mengenal aku lebih baik " lanjut pria itu dengan wajah hangat .
suara telp yang berdering di kantong celana Jordi membuat percakapan mereka terhenti . jordi meraih handphone dari kantong celananya dan menatap layar poncelnya sesaat .
" kakek .." ucapnya menunjukkan layar handphone ka arah Dila .
" halo kek..." jawab Jordi dengan sopan .
" ajak Dila kembali ke kamarnya , aku sudah ada di sini " ucapan tuan Gunawan membuat Jordi terdiam .
" Cepat Turun sekarang , Dia masih sakit dan kau ajak pergi ke atap yang pasti berangin kencang " Lanjut Tuan Gunawan .
" baik kek... kami turun "Jordi menjawab dengan tergagap , ia segera menutup telp dan memasukkanya ke saku celana .
" ada apa ? " tanya Dila yang penasaran , namun tidak di jawab ole Jordi , pria itu segera membuka kunci Roda dan mendorong kursi yang di duduki Dila untuk membawa gadis itu kembali ke dalam Rumah sakit .
" aku masih ingin di sini , kau panggil mak Asih saja dan pergilah " Ucap Dila sambil menatap Jordi yang panik .
" kakek Di sini " Ucap Jordi sambil memencet tombol lift .
" apa ?! " tanya Dila dengan panik .
" bagaimana ia tahu ? " tanyanya kemudian .
" entahlah ....." jawab Jordi singkat .
keduanya terdiam sambil menatap layar yang menunjukkan lift tengah bergerak naik ke tempat mereka . rasanya mereka terjebak cukup lama menunggu lift tiba , keduanya bergegas masuk saat pintu lift terbuka .
tuan Gunawan telah menunggu di depan pintu Ruang rawat di temani oleh Didit , sopir cadangan yang ada di rumah untuk mengantar para pelayan jika hendak keluar karena kebutuhan mendesak . mak asih terlihat berdiri di depan pintu . Jordi menyapa Tuan Gunawan dengan tenang meski hatinya berdebar , takut tuan Gunawan akan memarahinya , Dila juga terlihat khawatir di kursi roda .
saat mereka muncul tuan gunawan menatap keduanya dalam diam , lalu meminta Jordi membawa Dila masuk dan membantu gadis itu berbaring . tuan Gunawan masih diam sambil memandang keduanya yang terlihat serba salah .
" kenapa kau masih di sini ? , pulanglah ke kantor " ucap tuan Gunawan sambil menatap wajah sang cucu tajam .
" ehm... baik kek .." ucap Jordi seraya berjalan meninggalkan rungan itu .
tinggalah Dila dan tuan Gunawan berdua di ruangan itu , Dila menatap wajah tuan Gunawan yang menatapnya dengan wajah kecewa .
" maaf kek...." Ucap Dila akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama .
" untuk apa ? " tanya Tuan Gunawan .
" karena Dila melarang Semua orang memberitahu kakek " Jawab Dila sambil tertunduk . tuan Gunawan terdengar tengah menarik nafas panjang .
" aku mengerti alasanmu ....tapi Dila , kakek yang membuat janji akan menjagamu pada eyang meski ia tidak memintanya , apapun yang terjadi kakek sungguh berharap kakek adalah orang pertama yang tahu keadaannmu " ucap Tuan Gunawan dengan tenang .
" Dila tidak ingin kakek khawatir " jawab Dila lembut .
" aku tahu..." jawab Tuan Gunawan singkat .
" kau sudah baikan ? " tanya tuan Gunawan kemudian , mencoba mengalihkan pembicaraan mereka .
" Dila sudah lebih segar " jawab Dila dengan lega karena tuan Gunawan terlihat tenang .
" syukurlah...." jawab Tuan Gunawan seraya berjalan ke arahnya , lelaki berumur itu segera duduk di kursi dekat ranjang .
ia menatap Wajah Dila dengan kasih sayang , lalu mulai menarik nafas panjang . tak lama tangannya meraih sesuatu dari balik kantong bajumya .
" kakek menemukan ini di meja kamarmu " ucapnya seraya menyerahkan sebuah gelang emas , peninggalan terakhir sang eyang sebelum wafat .
Dila merasa terkejut melihat gelang itu ada di tangan tuan Gunawan .
" ada yang ingin kau tanyakan ? " tanya tuan Gunawan kemudian .
Dila hanya terdiam , ia tidak tahu harus bagaimana meski sejak sebelum masuk RS ia punya banyak pertanyaan untuk tuan Gunawan .
" apa yang kakekmu katakan saat menyerahkan gelang itu ? " Tanyanya kemudian setelah untuk waktu lama ia hanya melihat Dila terdiam . tatapan mata Dila pada tuan Gunawan membuat lelaki itu sadar jika Dila sudah tahu semuanya .
" mau mendengar Versi kakek ? " tanya Tuan Gunawan . membuat Dila menatapnya dengan sebuah tanda tanya besar di matanya .
" itu adalah gelang pengikat dari eyang buyutmu " ucap Tuan Gunawan sambil tersenyum .
" ia meminta ayahku untuk menjadikan anak perempuannya sebagai menantu , lalu mengajak istrinya membuka sebuah usaha dan hidup dengan tenang seperti keinginan keluarganya , menjadi pengusaha " Lanjut Tuan Gunawan .
" apa kau bersedia Dila ? " tanya tuan Gunawan tiba tiba .
__ADS_1
"Apa kau bersedia menjadi menantu keluarga kami ? " Tuan Gunawan mengulangi pertanyaannya dengan nada serius .
Dila membuka mulut dan matanya lebar , karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari tuan Gunawan .