Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
87 . dokter Aisyah Nuraini


__ADS_3

Setelah sehat sibuk dengan beberapa pasien , akhirnya tugasnya hari ini selesai juga . Dokter Aisyah meninggalkan ruangannya dan berjalan keluar puskesmas untuk pulang karena jam prakteknya Telah selesai . Ia tidak lupa pamit kepada staf puskesmas dan perawat yang menjadi asistennya .


" Assalamualaikum..." Seperti biasa ia akan mengucapkan salam sebelum masuk rumah .


" Walaikumsalam " Mak Mus yang tengah berada di ruang tengah menjawab salamnya dengan hangat .


" Mau langsung makan dok ? " Pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan wanita berumur hampir 50 tahun tersebut setiap kali dirinya pulang dari puskesmas .


Sudah hampir setahun ini , Mak Mus bekerja sebagai Art dokter Aisyah , ia akan datang pagi hari lalu pulang saat sore ketika dokter Aisyah telah pulang dan memastikan tidak ada lagi yang ia perlukan .


" tidak usah Mak., Saya mau istirahat dulu . Mak makan saja dulu setelah itu Mak boleh pulang . " jawab Aisyah lembut .


" Saya mau cuci kaki dulu ya Mak " ucap wanita muda itu seraya menuju ke belakang .


Mak Mus hanya menatap punggung mungil Aisyah yang pergi ke belakang untuk mencuci kaki ke kamar mandi . Dari kemarin di lihatnya sang dokter lebih memilih berdiam diri di kamarnya ketika pulang ke dari puskesmas .


Sesaat kemudian sang dokter keluar dari kamar mandi , ia kemudian duduk di ruang makan sambil menatap lembut dirinya yang tengah merapikan makanan .


" Mak..., Nanti malam saya mau ke Bandung , ada urusan di sana . Besok Mak datang saja seperti biasanya lalu langsung pulang saja kalau semua sudah beres " ucapan Aisyah membuat Mak Mus menghentikan pekerjaannya .


" Kok mendadak dok ? , Lama ya di Bandung ? " Tanya Mak Mus .


" Kurang tahu Mak , Mak bawa saja stock makanan yang bisa rusak ke rumah , dan seperti biasa bersihkan semua rumah setelah itu Mak boleh libur , saat saya akan pulang saya kasih kabar " jawab Aisyah sambil menuangkan segelas air putih .


" Saya ke kamar dulu ya Mak , mau siap siap " ucap Aisyah seraya melangkah menuju kamarnya setelah meneguk segelas air putih .


Aisyah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sesaat , ia lalu memiringkan tubuhnya perlahan . matanya yang berbulu lentik menatap sebuah foto yang berada di atas meja kecil di tepi ranjang . Foto seorang lelaki muda dengan seragam tentara dan seorang lelaki berpakaian seperti seorang kiyai terpampang di bingkai tersebut .


Perlahan wanita itu menarik nafas panjang . Setelah hampir setahun memutuskan untuk menjauh , hari ini demi membantu seseorang ia harus kembali ke ke kota Bandung .


Ya , setahun lalu ia sengaja menghilangkan diri dari sosok yang berada di foto tersebut . Sosok Abimayu , pria yang telah menjadi cahaya hatinya . Namun cinta itu harus ia relakan karena ibu dari Abimayu tidak merestui hubungan mereka . Dan demi kebaikan sang pujaan hati ia memilih untuk menghilang dari kehidupan Abimayu .


Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu , selain status sosial dirinya yang menyandang status janda muda membuatnya mengambil keputusan tersebut , Aisyah juga tidak ingin merusak hubungan seorang ibu dengan anaknya .


Ia tahu hingga kini Bima masih mencari-cari dirinya , dari beberapa teman dekat yang masih berhubungan dengan dirinya . Dan ia juga tahu betapa pria itu sungguh mencintai dirinya . namun ia tidak sanggup menerima cinta yang begitu besar jika harus mengorbankan sebuah hubungan yang lebih suci yaitu Kasih ibu yang tentu lebih terhormat dari pada cinta siapapun di dunia ini .


Namun keputusannya untuk tidak pernah kembali ke kota Bandung , di mana Bima tinggal agar mereka tidak pernah bertemu harus ia lupakan demi rasa kemanusiaan .


Seorang pria yang sangat dekat dengan Bima muncul , awalnya ia merasa khawatir tempat tinggalnya kini akan ketahuan , namun keadaan pria itu membuat jiwa dokternya tergelitik .


Seorang perawat yang dekat dengan dirinya memberikan informasi bahwa pria itu ternyata lupa ingatan , Ia bahkan tidak bisa mengingat siapa dirinya .


Meski nama dan silsilah keluarga pria itu berbeda dari yang ia kenal , Aisyah sangat yakin pria bernama Purwanto itu adalah Adi , sahabat Bima yang merupakan anak seorang petinggi TNI .


Diam diam ia mencari informasi terbaru tentang Adi , dan ia sangat terkejut mendapati bahwa pria itu telah meninggal dunia hampir sepuluh bulan lalu , namun kata hatinya tetap saja mengatakan pria itu adalah orang yang sama yang ia kenal hampir satu setengah tahun lalu , pria yang selalu bersikap tegas dan sangat bijaksana . Ia tidak mungkin salah mengenali orang yang pernah menyelamatkan hidupnya , Adi adalah sosok yang juga sangat berjasa di dalam hidupnya , pria itu pernah membantu dirinya saat mengalami masa masa sulit ketika kehilangan sang suami .


Tidak ada satupun yang tahu kisah pahit hidupnya di kampung tersebut , kecuali eyang Saka yang telah meninggal dunia . Bagaimana kisah masa lalunya , bagaimana hubungannya dengan Bima dan Adi , pria yang kini ia tahu bernama Purwanto , Ia ingin menjadikan itu masa lalu yang tak pernah tergali . Namun sayang peristiwa kemarin siang seakan adalah jawaban dari do'a do'anya selama ini . Ia tidak akan pernah merubah ataupun menghapus masa lalu .


Karena hal itu Aisyah ingin membantu mengobatinya , meski ia sendiri merasa bimbang , jika kata hatinya tidak salah kemungkinan untuk bertemu dengan Bima akan terbuka lebar jika ia terus berhubungan dengan Adi dan pergi ke kota Bandung . Saat ini ia hanya berharap apapun keputusan yang kini ia ambil adalah jalan terbaik untuk sebuah kebaikan .


Awalnya ia ingin pergi lusa , namun sahabatnya Lisa yang merupakan seorang asisten dokter spesialis saraf yang bersedia membantunya memintanya untuk menemui mereka esok pagi karena lusa sang dokter yang menjadi pembimbingnya harus pergi ke Ambon .


Dering telepon genggamnya mengejutkan lamunan Aisyah , ia melihat layar handphonenya sesaat lalu menerima panggilan tersebut .

__ADS_1


" Assalamualaikum .." Aisyah menjawab sopan .


" walaikumsalam..., Mbak saya sudah menyelidiki semua yang mbak minta " ucap seseorang yang merupakan sahabat lamanya .


" Lalu , apa yang kamu ketahui ? " Tanya Aisyah dengan tenang .


" Mbak benar , dua bulan lalu ayahnya yang merupakan seorang petinggi memeriksa arsipnya kembali secara pribadi , dan sepertinya melakukan pemeriksaan ulang . Satu lagi kak Bima juga melakukan hal yang sama . Apa mbak yakin orang yang mbak temui adalah dia ? mbak tau kan dia adalah sahabat karib kak Bima ? " Tanya Teguh yang merupakan anggota polisi yang juga adalah adik angkatnya karena tumbuh di panti asuhan yang sama .


" Ya mbak tau..., Dari awal bertemu mbak sangat yakin lelaki itu adalah kak Adi , makanya mbak terkejut mendapat kabar kematiannya dari kamu waktu itu " jawab Aisyah dengan tenang .


" Mbak yakin dia tidak akan mengatakan keberadaan mbak pada kak Bima ? " Tanya teguh dengan hati hati .


" Kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu " jawab Aisyah dengan tenang .


" Apa maksud mbak ? " Pertanyaan teguh di telepon hanya di Jawab helaan nafas panjang Aisyah .


" Dia lupa ingatan " jawab Aisyah sambil beranjak dari tempat tidurnya .


" Nanti malam aku berencana pergi ke Bandung bersama dengan dia , bisakah aku menitipkan dia padamu . Maksudku bisakah dia tidur di rumahmu ? " Tanya Aisyah sambil mengambil sebuah koper kecil dari lemari bajunya .


" Mbak bilang akan datang lusa ? " Tanya Teguh dengan nada heran .


" Dokter Andriyan akan keluar kota , Jadi Lisa bilang aku harus pergi malam ini jika ingin bertemu dengan beliau " jawab Aisyah .


" Aku tidak masalah , bagaimana dengan dia ? " Tanya teguh dengan suara ragu .


" Dia pasti mau , ya sudah nanti mbak telpon saat sudah tiba di Bandung . Terimakasih untuk semuanya ya Guh.." ucap Aisyah dengan tulus .


" Ach..jangan segan mbak , saya senang bisa membantu mbak Ais . Hubungi saya saat sudah tiba di Bandung . Saya tutup dulu ya mbak , masih ada tugas yang harus saya selesaikan . Assalamualaikum.." ucap Teguh mengakhiri percakapan mereka .


Panggilan Mak Mus dari balik pintu membuat ia menghentikan kegiatannya dan bergegas membuka pintu kamar .


" Ada apa Mak ? , Mak sudah mau pulang ? " Tanya Aisyah begitu mendapati Mak Mus berdiri di depan pintu kamarnya .


" Bukan dok...tapi itu ada pasien " ucap Mak Mus dengan sopan .


" Siapa ? " Tanya dokter Aisyah dengan lembut .


" Itu pak Wira dok , katanya pasiennya ada di rumah , sedang pingsan dan susah mau di bawa " jawaban Mak Mus membuat Aisyah bergegas menuju ke ruang tamu , untungnya ia belum sempat membuka jilbab yang ia kenakan .


" Sore Bu dokter..maaf bisakah ikut saya sebentar ? " Ucap pak Wira dengan panik .


" Tenang dulu pak , bicaranya pelan pelan " Aisyah mencoba menenangkan pak Wira .


" Begini dok , tadi saya pergi ke rumah keponakan saya , karena sepertinya dia salah memberikan kunci motor saya dengan kunci yang lain , tapi saat saya ke pondoknya saya mendapati ia terbaring di dipan di halaman , awalnya saya kira ia tidur , tapi saya rasa ia pingsan " jawab pak Wira setelah tenang .


" Maksud Bapak mas Anto ? " Aisyah memastikan dugaannya .


" Iya...dok " jawaban pak Wira membuat Aisyah khawatir . Ia segera meraih tas yang berisi perlengkapan medis miliknya , mengambil beberapa obat untuk keadaan darurat lalu segera mengajak pak Wira untuk pergi ke pondok tempat Anto tinggal .


" Sekarang dia dengan siapa di pondok pak ? " Tanya Aisyah dalam perjalanan menuju pondok , mereka mengendarai sepeda motor .


" Ada ayahnya Cecep , kami tadi datang berdua mau sekalian mengobrol " jawab pak Wira sambil mengemudikan motornya .

__ADS_1


Aisyah hanya terdiam begitu menyadari mereka memasuki ujung kampung . Sepeda motor yang mereka naiki menyusuri jalan setapak sepi di antara area persawahan milik keluarga Eyang Saka .


Tak berapa lama mereka sampai di sebuah pondok di tepian sungai yang yang mengalir di perkampungan tersebut .


Aisyah langsung turun dari motor yang di parkir di depan pondok , ia menatap pondok sederhana dari kayu dan sekeliling tempat tersebut , tak jauh dari sana ada sederet bangunan yang Ia sendiri tidak tahu untuk apa . melihat tempat tinggal pria itu Aisyah hanya menelan ludahnya sendiri , pria yang ia kenal sebagai seorang cucu dari petinggi TNI dan seorang pengusaha sukses di Bandung , bagaimana bisa hidup di tempat seperti ini ? . Namun ia sempat mendengar dari Bima , Adi adalah pria yang suka petualangan dan hidup di alam bebas .


"Mari Bu dokter " ajakan pak Wira membuat Aisyah bergegas mengikuti langkah pak Wira menaiki tangga kayu memasuki teras pondok yang merupakan rumah panggung setinggi pinggang orang dewasa .


Di ruang tamu pondok tersebut , Purwanto terlihat tengah berbaring lemah , ayah Cecep terlihat mendampingi dirinya .


" Selamat sore Bu dokter " sapa ayah Cecep dengan sopan begitu ia memasuki pintu pondok .


" Sore pak " jawab Aisyah seraya menghampiri Anto yang terbaring lemah . Pemuda itu sepertinya telah sadar dari pingsannya .


Tangan Aisyah segera meraih lengan kekar pemuda itu , memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya dengan seksama .Ia kemudian meraih stetoskop dari dalam tasnya dan memeriksa dada hingga perut pemuda tersebut dengan seksama , memeriksa mata dan pandangan pemuda tersebut .


" Mas Anto bisa mendengar saya ? " Tanya Aisyah sambil menatap wajah Anto yang pucat , meski lemah Anto mengiyakan panggilan sang dokter .


" Siapa Anda ? " Tanya Aisyah dengan tenang . Anto hanya terdiam sambil menatap wajah Aisyah dengan pandangan berbeda .


Aisyah menarik nafas dalam-dalam ,meski terlihat tenang Namun dari tatapan dan detak jantung Anto ia tau pemuda di hadapannya tengah kebingungan dan panik , sikap yang ia tunjukkan adalah hasil dari pelatihannya sebagai tentara pasukan khusus yang sering bertugas dalam misi misi berbahaya .


" Kepala mas Anto terasa nyeri ? " Tanya Aisyah dengan sabar .


Anto hanya menggeleng perlahan . Aisyah terdiam beberapa saat , lalu menyuruh Anto berbaring dengan nyaman .


" Gimana dokter ? " Tanya pak Wira yang duduk di samping Anto .


" Maaf pak Wira bisa kita bicara di luar ? ,Ucap dokter Aisyah setengah berbisik di hadapan pak Wira . Ia tidak ingin percakapan mereka di dengar oleh ayah Cecep .


" Pak bisa tolong buatkan mas Anto teh hangat agar lebih tenang " ucap sang dokter sambil memandang ayah Cecep yang usianya kemungkinan tidak terpaut jauh dengan Anto .


Ayah Cecep mengangguk dan bergegas ke dapur untuk membuat teh , dokter Aisyah mengajak pak Wira keluar pondok .


Pak Wira mengikuti langkah dokter Aisyah yang berjalan menuju halaman pondok , dengan tenang sang dokter duduk di dipan Bambu di tengah tengah halaman pondok tersebut .


Dokter Aisyah terdiam sesaat , sebelum akhir memulai percakapan dengan pak Wira yang ikut duduk di sebelahnya .


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamualaikum..😊😊


salam kenal untuk Reader semua 🙏🙏🙏


maaf jika baru sekarang Author menyapa semuanya .


pertama Tama saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya buat semua pembaca yang telah Sudi meluangkan waktu untuk membaca karya pertama Author , semoga Reader semua terhibur dengan karya saya .


jangan bosan untuk menanti setiap episode baru ya ya meski Author tidak bisa update setiap hari karena kesibukan untuk keluarga , kerja dan aktifitas lain di dunia nyata .


maaf jika dalam setiap karya masih banyak sekali kekurangan dalam tata bahasa , dan juga salah pengetikan . masukan dan komentar dari para reader selalu saya nantikan sebagai penyemangat Author untuk terus menulis dan melanjutkan karya ini hingga tamat .


jangan lupa like dan vote karya saya biar tambah semangat ya ...😊😊😉

__ADS_1


semoga para reader selalu di beri kesehatan dan di beri Rizki yang berlimpah oleh Allah SWT .


salam sayang dari Author buat semuanya ..😘😘😍


__ADS_2