Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
48 . Hidup terus berjalan , cinta tidak terganti


__ADS_3

Dila menutup teleponnya setelah berbincang dengan tuan Aditya . Hatinya tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Wanita yang beberapa hari lalu membuat ia cemburu .


Siang itu juga Dila berencana untuk pulang ke Bandung , setelah mendengar kabar dari tuan Aditya bahwa gadis itu berhasil di selamatkan .


" Jadi neng punya sepupu ? " Tanya Mak Asih dengan tersenyum . Mereka tengah berbincang bincang sembari mengemasi Beberapa barang Dila .


" Ya Mak...aku pernah bertemu dengan dia sekilas , dia sungguh cantik " jawab Dila .


" Oh... syukurlah...mudah mudahan dia baik hati seperti neng Dila " ucap Mak Asih .


Tak berapa lama Lilis juga datang mebawa laporan keuangan pabrik dan perkebunan .


" Kau cek Dulu baru tanda tangan , dan kapan kau punya waktu untuk melakukan mutasi keuangan dari rekening kakek ke rekening pribadimu , jangan di tunda tunda lagi " ucap Lilis sambil menyerahkan sebuah berkas .


Dila terdiam , ia memeriksa angka angka keuangan tersebut sesaat . Meski bukan ahli kakeknya juga pernah mengajarkan bagaimana memeriksa hal itu . Eyang selalu mengajari Dila untuk selalu memastikan bahwa ia di jalur yang benar , teliti agar tidak tertipu , Namun tidak menaruh curiga berlebih terutama pada orang orang yang telah membantu dan berjasa pada usaha keluarga mereka .


" Oh...jadi ada peningkatan permintaan beras ? " Tanya Dila beberapa saat kemudian .


" Ya...tapi hasil panen sawah kita ada penurunan di musim lalu , Sementara ini aku menyimpan pendapatan pabrik di rekening ku , itu karena kau sulit sekali di hubungi .


Dila terdiam, mau tak mau dia memang harus mengelola keuangan perkebunan dengan benar demi masa depan dirinya dan para buruh .


" Ayo kita ke bank dulu sebelum pergi , kurasa aku harus membuat rekening untuk keuangan perkebunan " ucap Dila sesaat kemudian .


" Nah itu akan lebih baik , sekalian Kau urus tabungan eyang , pak Handoko kemarin meminta aku untuk datang bersama denganmu ke kantornya " ucap Lilis .


" Pengacara eyang ? " Tanya Dila .


" Iya ..beliau mendapatkan amanah agar setelah empat puluh hari beliau harus menyampaikan surat wasiat dan menyerahkan warisan eyang padamu " jawab Lilis .


" baiklah..aku akan mampir kesana sebelum ke Bandung " jawab Dila .


" Kalau begitu aku telp beliau " ucap Lilis seraya menuju ruang keluarga untuk menelpon pengacara keluarga .


Setelah makan siang Dila dan Lilis naik mobil bersama pengawal Dila menuju kota pelabuhan ratu . Mereka menuju sebuah kantor notaris di kota kecil itu .


Dila di sambut pak Handoko dan seseorang yang tidak Dila kenal . Mereka berdua segera melakukan pertemuan di ruangan pak Handoko .


" Kenalkan neng Dila dia adalah penasehat keuangan eyang selama ini " pak Handoko memperkenalkan lelaki di sebelahnya .


" Saya Arifin nona Dila " lelaki yang sudah berumur itu memperkenalkan diri . Dila menyambut uluran tangan dari lelaki berumur tersebut . mereka segera duduk melingkari sebuah meja .


Pak Handoko menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa berkas .


" Neng Dila..itu adalah beberapa asset Eyang yang harus di pindah namakan kepada neng Dila " ucap pak Handoko .


Dila membuka amplop itu ada beberapa lembar berkas di dalamnya .


Dila membaca semua berkas dengan seksama . Semua harta yang terdaftar di kertas itu Dila juga telah mengetahuinya .


Rumah

__ADS_1


beberapa Kendaraan


Pabrik penggilingan padi


Kebun jeruk


Sawah yang di kelola secara mandiri dan juga ada beberapa hektare yang di kelola oleh beberapa warga dengan sistem sewa .


Semua itu masuk dalam daftar asset yang di serahkan kakeknya padanya . Dila memeriksa berkas untuk pemindahan kepemilikan yang di serahkan pada kantor notaris tersebut . Gadis itu lalu menandatangani berkas yang di perlukan setelah memastikan tidak ada yang janggal .


Hingga pada berkas kedua Dila terbengong sesaat setelah membacanya .


" Eyang punya saham di sebuah perusahaan ? " Tanya Dila heran .


" Emh....ya begitulah " jawab pak Handoko dengan gugup .


" Beliau tidak pernah bercerita tentang hal ini ? " Gumam Dila . Matanya makin membulat melihat nilai sahamnya di perusahaan Tersebut , total lembar saham yang di serahkan pada dirinya tidak sedikit .


" Kenapa aku sama sekali tidak tahu akan hal ini " gumamnya dengan wajah serius .


" Anda cukup menandatangani kolom yang di bawah maka saham tersebut akan jadi milik anda " ucap tuan Arifin .


" Saya akan mempelajarinya " jawab Dila sambil memasukkan berkas tersebut ke dalam amplop . Ia merasa aneh karena eyang Saka sama sekali tidak pernah menyinggung tentang kepemilikan saham tersebut .


" Emh...apa ada lagi yang ingin kita bicarakan ? " Tanya Dila .


" Tidak ada..mengenai peralihan deposito Eyang saka , saya sudah memberitahu pihak bank anda akan kesana hari ini " ucap tuan Handoko .


Dila mengucapkan terimakasih kepada keduanya , lalu segera berpamitan .


Gadis itu segera pergi ke sebuah bank BUMN tempat kakeknya Menabung . Manager cabang langsung menyambut Dila begitu ia menyebutkan namanya dan menyampaikan niatnya . Ia di undang masuk ke ruangan tamu untuk nasabah VIP .


Dila menyerahkan semua berkas yang di butuhkan . Ia sendiri tidak tau berapa besar kakeknya menabung , mungkin hanya beberapa ratus juta begitu tebakan Dila .


Setelah proses yang panjang Dila akhirnya menerima sebuah buku Tabungan deposito atas namanya .


Dila membaca saldo deposito Peninggalan kakekya sesaat . Matanya membulat sesaat .Ternyata kakeknya memiliki saldo deposito jauh lebih banyak dari yang ia pikirkan . Nilai tersebut tersebut sama sekali tidak pernah ia bayangkan , ternyata kakeknya seorang milyader .


Dila juga Memindahkan tabungan bisnis sang kekek ke rekening baru dan memberikan surat kuasa pada Lilis untuk mengelolanya untuk transaksi penarikan dalam jumlah tertentu atas persetujuan darinya .


Dila mengurus segalanya dengan Lilis , agar mudah bagi sahabatnya itu untuk melakukan transaksi bisnis meski mereka berada terpisah . Setelah semuanya beres Dila kembali ke Bandung , sedangkan Lilis kembali ke Cikidang .


Dila menghela nafas panjang di dalam mobil membuat pengawalnya melirik beberapa saat ke arahnya .


" Apa ada yang mengganggu anda non ? " Tanyanya .


Dila hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya , ia merasa lelah berurusan dengan hal hal bisnis , gadis itu memejamkan matanya untuk mengurangi rasa lelahnya . Hingga ia tidak sadar ia tertidur sepanjang perjalanan .


" Non...kita sudah sampai " ucapan lembut pengawalnya membuat Dila membuka matanya . Mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman rumah tuan Gunawan .


Dila menguap dan segera mengusap wajahnya , dengan lesu gadis itu turun dari mobilnya .

__ADS_1


Tuan Gunawan nampak berdiri di depan rumah sambil tersenyum menyambut kedatangan dirinya . Saat Dila pamit akan pulang ke Sukabumi , tuan Gunawan memang sempat khawatir gadis itu tidak akan kembali ke rumah besar .


Dila mencium punggung tangan tuan Gunawan , Keduanya berpelukan dengan hangat . Dila mulai merasa nyaman berada di dekat tuan Gunawan yang begitu menyayangi dirinya .


" Bagaimana keadaan di sana ? " Tanya tuan Gunawan ramah .


" Alhamdulillah semua sehat kek.." jawab Dila sambil berjalan beriringan dengan tuan Gunawan .


Keduanya berbincang sambil berjalan menuju ruang keluarga . Di sana sudah ada Tania dan nyonya Irma yang tengah duduk bersantai . Mereka kemudian mengobrol dengan hangat . Setelah berbincang beberapa saat Dila pamit untuk ke kamarnya .


*****


Keesokan harinya tuan Aditya mengajak Dila kerumah sakit untuk pengambilan sample melakukan test DNA . Awalnya Dila merasa tidak perlu namun karena niat tuan Aditya yang tulus akhirnya Dila menerima tawaran tersebut .


Butuh waktu sekitar empat Minggu untuk mengetahui hasil dari test DNA yang mereka lakukan . Selama waktu itu Dila sibuk dengan kuliah dan tugas tugasnya yang menumpuk . Kesibukan itu membuat Dila bisa lupa akan kesedihan yang ia rasakan .


Dila juga berusaha merelakan segala hal yang telah terjadi dalam hidupnya . Berbahagia dalam hidup dengan mencoba berbahagia dengan hal hal kecil yang terjadi di setiap momen hidupnya .


Setiap akhir Minggu Jordi selalu menemani dirinya untuk mencari hiburan dengan berjalan jalan di alun alun sambil menikmati jajanan jalanan , atau hanya mendengarkan lagu lagu yang di mainkan oleh anak band lokal . pria angkuh itu telah banyak berubah . Ia lebih banyak tersenyum dan lebih ramah .


Satu bulan telah berlalu , hasil test DNA telah keluar . Dari hasil test terbukti bahwa ibu Dila dan ibu Isabella adalah saudara kandung .


Tuan Gunawan mempertemukan mareka berdua .


Dila langsung memeluk Isabella tanpa banyak bertanya , baginya yang terpenting kini ia memiliki saudara meski hanya sepupu .


Isabella awalnya terkejut , ia tidak menyangka saudara sepupunya adalah Dila , Gadis yang di cintai oleh Jidan .


Atas kebaikan tuan Aditya , Isabella tinggal bersama dengan keluarga mereka , tuan Aditya telah tinggal di rumah pribadi mereka , sementara nyonya Kirana kini tinggal dengan tuan Gunawan .


Tuan Gunawan juga meminta Jordi untuk memberikan pekerjaan kepada Isabella , agar Dila tidak khawatir pada sepupunya tersebut , Rara mendapatkan pekerjaan di butik milik nyonya Nisa .


Semua berjalan lancar , semua orang melanjutkan hidup mereka , meniti hari baru meniti mimpi baru , melupakan hal sedih yang telah terjadi .


Namun hidup yang berjalan , hari yang berganti tidak merubah satu relung kosong di hati Dila . titik kosong di hatinya masih tak terisi , nama Jidan tak terganti meski ada beberapa orang pria yang mencoba mengetuk hatinya , Termasuk Jordi yang telah bersikap begitu baik padanya .


Di akhir semester ia akan mendaki gunung , mencari surga yang dulu terlihat indah , tapi ia hanya melihat kesunyian . Bibirnya tertawa namun hatinya menangis saat menikmati keindahan puncak yang berhasil ia taklukkan . Benar kata orang surga itu terletak di hatimu , bukan di mana kau berada .


Hatinya hanya bergetar saat melihat sunrise , ataupun sunset di puncak . Selain itu yang ia rasakan hanyalah kesunyian bersama segelintir kenangan tentang seseorang yang tak akan pernah kembali .


kehilangan Jidan telah merubah cara pandangnya tentang arti sebuah cinta . Membuat ia lebih memilih untuk terdiam dan menikmati perjalanan dalam bisu , gadis yang selalu ceria itu kini menjadi lebih pendiam meski tetap ramah pada orang orang yang menyayangi dirinya . Ia juga lebih serius dan lebih dewasa , Dila bahkan tertarik untuk mengelola semua aset sang eyang saka tinggalkan dengan serius , bahkan ia berinvestasi pada beberapa perusahaan dengan uang peninggalan eyangnya .


Bagi yang tidak begitu mengenal dirinya , Dila adalah sosok sempurna . Anggun , cantik , terlihat cerdas dan sangat sopan . Tidak ada lagi sikap manis dan kekanakan .


Namun bagi Mak Asih dan Lilis yang mengenal dirinya sejak kecil , mereka tahu itu bukanlah kesempurnaan melainkan luka yang berusaha ia sembunyikan . Dila bagai orang asing yang berwajah sama dengan gadis yang mereka kenal hampir setahun lalu .


Lilis bahkan sering mendapati Dila menangis dalam tidurnya saat pulang ke rumah ketika liburan semester . Hal itu tentu membuat sahabat masa kecilnya itu mencoba mencari tahu apa yang terjadi . Ia menghubungi tuan Gunawan dan juga Isabella yang merupakan sepupunya .


Mendengar cerita dari Lilis , tentu Isabella merasa khawatir . Kasih sayang Dila yang begitu tulus juga telah membuat ia menyayangi gadis yang memang memiliki hati selembut awan seperti yang di katakan Jidan .


Isabella ingin membantu gadis itu melupakan kesedihannya yang dalam . Namun ia tidak tahu harus bagaimana , satu satunya yang bisa ia lakukan adalah berusaha menjadi sahabat terbaik untuk Dila .

__ADS_1


__ADS_2