
Suasana sudah gelap , Jordi dan Dila yang pulang dengan mengendarai mobil yang sama larut dalam pemikiran masing masing . Di tengah perjalanan Jordi mengajak Dila untuk mampir ke sebuah tempat wisata yang buka hingga malam di daerah gunung Banyak kota Batu , dan Dila setuju .
Mereka tiba di tempat wisata omah kayu dan paralayang di Kota Batu menjelang Maghrib , setelah shalat Maghrib di tempat itu Keduanya berkeliling di tempat wisata yang buka 24 jam tersebut .
Dari tempat itu mereka bisa menikmati pemandangan kota batu di malam hari . Keduanya mencari view terbaik untuk duduk dengan santai . Dila merasa takjub melihat pemandangan kota yang terlihat indah dari tempat itu .
"Dila... tentang hal yang aku katakan padamu kemarin , bisakah kau memikirkannya ? " Tanya Jordi tiba tiba setelah keduanya terdiam beberapa saat sambil memandang view kota malang .
" Aku akan menunggu hingga kau bisa membuka hati untuk ku " lanjut Jordi Karena Dila masih membisu .
" Jo...kau percaya keajaiban ? " Tanya Dila tiba tiba tanpa menjawab pertanyaan Jordi .
" Kurasa itu ada " jawab Jordi .
" Hampir setahun aku berharap itu terjadi , bahkan saat inipun sebagian hatiku masih mengharapkan hal itu . Aku tidak ingin memberimu harapan palsu . Cinta yang kau inginkan itu.... seseorang telah mengambilnya dari hatiku , tidak ada yang tersisa di sini " ucap Dila sambil meletakkan telapak tangannya ke dada .
" Maka biar aku yang mengisinya , aku punya banyak cinta untuk kita berdua " Jordi menatap wajah Dila dengan lembut . Dila terdiam , ia tidak pernah melihat tatapan itu dari mata Jordi .
Gadis itu ingin bercerita tentang hal yang ia alami dua hari lalu , tentang harap yang ia punya bahwa lelaki yang ia jumpai adalah Jidan . Namun hatinya yang lembut tidak ingin melukai Jordi dengan hal yang ia sendiri belum yakin .
Kata kata yang ia dengar tadi siang sedikit banyak telah menyentuh hatinya . Setidaknya ia tahu ada seseorang yang tidak ingin ia terus terperangkap dalam kedukaan , dan orang itu adalah lelaki yang ada di depannya saat ini .
Dila memejamkan matanya karena perasaan yang serba salah .tiba tiba Jordi mendaratkan sebuah kecupan di keningnya .
Dila terdiam , ada sesuatu yang lembut menggelayar di dadanya , memberikan rasa nyaman meski hanya sesaat . Gadis itu menatap pria di depannya dengan sedih .
Jordi tersenyum lembut sambil memandang Dila .
" Maaf ..aku tidak bisa menahannya " ucapnya seraya mengalihkan pandangannya dari tatapan wajah Dila .
"Jangan terlalu mencintai aku , jangan mengharapkan apapun dariku kau bisa terluka " ucap Dila sambil bergetar menahan sedih .
" Cinta memang terkadang memberikan rasa sakit , kau pernah mengatakan hal itu " jawab Jordi sambil tersenyum .
Dila terdiam sambil menggigit bibirnya . Kini hatinya benar benar Dilema .
" Jo....." Panggil Dila lembut , Jordi menatap wajah Dila yang terdiam dengan bibir terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu .
" Kurasa dia masih hidup , aku bertemu dengannya dua hari lalu " ucap Dila akhirnya .
Jordi terdiam sambil memandang wajah Dila , ia sungguh merasa kasihan pada gadis itu .
" Kau bisa merindukan ia kapanpun , aku tidak ingin kau melupakan dia sepenuhnya , tapi aku tidak ingin kau terus sedih karena selalu merindukan orang yang tidak akan kembali " ucap Jordi lembut .
" Aku bertemu seseorang yang sangat mirip dengan Jidan , kurasa itu dia tapi dia tidak mengenaliku " ucap Dila membuat Jordi terdiam sambil mencerna kata kata gadis itu .
" maksudmu kau bertemu dengan seseorang yang..
Dila mengangguk dengan pelan , sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.
" Bagaimana kau bisa berpikir itu adalah dia ? " Tanya Jordi setelah terdiam beberapa saat .
" Karena hatiku berdebar saat melihatnya " jawab Dila dengan polos , membuat hati Jordi serasa di remas .
" Jika dia bukan Jidan...apa kau mau menerima cintaku ? " Tanya Jordi dengan wajah serius .
" Dila jawab aku ! " Bentak Jordi .
" Aku tidak tahu " jawab Dila sambil beranjak dari duduknya .
Jordi menarik tubuh Dila , memeluk gadis itu dengan erat . Dila hanya terpaku , ia tidak menolak ataupun bereaksi terhadap pelukan pria itu .
" Ayo kita pulang ": ucap Jordi kemudian . Ia berjalan dengan cepat menuju tempat parkir . Dila terdiam sambil memandang punggung pria itu . Ada rasa bersalah yang begitu besar pada lelaki itu .
☀️☀️☀️☀️☀️
Jordi duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit . Apa yang ia dengar sungguh tidak ia mengerti .
__ADS_1
Dengan lesu ia menelpon seseorang yang mungkin bisa mencerahkan pikirannya yang kusut .
" Halo Bim..! , Apa kau sedang sibuk ? " Tanya Jordi sambil memijit kepalanya setelah orang yang ia telepon yang tak lain adalah Bima menerima panggilan teleponnya .
" Aku sedang libur , ada apa ? "Suara Bima terdengar serak khas bangun tidur .
" Ada yang ingin aku tanyakan , ini tentang kecelakaan Jidan , apakah ada kejanggalan yang di temukan dalam penyelidikan kalian ? " Tanya Jordi .
" Kejanggalan apa maksudmu ? " Tanya Bima .
" Apa saja , sekecil apapun itu , kejanggalan yang menjurus pada kemungkinan bahwa abu jenazah di mobil itu bukan Jidan " ucap Jordi dengan tenang .
" Aku kurang tahu , tapi akan ku cari tahu , ada apa ? " Tanya Bima .
" Ada hal yang harus ku pastikan " jawab Jordi seraya mengucapkan terimakasih .
Jordi merebahkan tubuhnya ke ranjang , ia mengingat wajah Dila barusan , ada kebimbangan di matanya .
" Apa dia mulai mencintai aku , atau dia mulai ragu pada cintamu ? " Gumam Jordi sambil menatap langit-langit kamar hotel .
☀️☀️☀️☀️☀️
" Kau sedang apa ? " Suara Isabella membuat Dila berpaling dari pandangannya ke bintang malam . Gadis itu berbaring di kursi dekat kolam renang .
" Hanya memandang bintang " jawab Dila sambil tersenyum .
" Semua orang tau kau sedang melihat bintang , tapi apa yang kau lakukan ? " Tanya Bella .
"Apa maksud pertanyaan mu ? " Dila bertanya tak mengerti .
" Ada tiga hal yang dilakukan seseorang saat melihat bintang , pertama ia akan menghitungnya . Itu dilakukan oleh orang orang yang sedang bingung atau tidak bisa tidur . Kedua ia akan bercerita kepada bintang . Itu dilakukan oleh seseorang yang sedang merindukan orang yang ia cintai atau sedang sedih , dan yang terakhir mencari bintang itu dilakukan oleh orang yang hidup dengan banyak harapan dan penuh kebahagiaan . " Jawab Isabella
" Siapa yang mengatakan hal itu ,? " Tanya Dila .
" Aku..., Apa kau tidak mendengar yang aku katakan barusan " jawab Isabella sambil tertawa .
" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Isabella sambil tersenyum .
Dila menggelengkan kepalanya , Gadis itu memilih untuk diam dan kembali menatap bintang .
" Bella... Kudengar dulu kau sangat mencintai Jidan " ucap Dila tiba tiba .
Isabella memandang wajah sepupunya , ia mencoba menebak arah pembicaraan gadis itu .
" Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya ? " Tanya Dila sesaat kemudian .
" Karena dia tampan , baik , Dan Dia orang pertama yang peduli padaku " jawab Isabella dengan jujur .
" Jika ada orang lain yang memiliki sikap yang sama padamu saat ini apakah Kau juga akan mencintai dia seperti kau mencintai Jidan ? " Tanya Dila .
" Aku tidak tahu . Cinta datang bukan karena sebuah alasan , iya terlahir begitu saja di hati kita tanpa kita sadari " jawab sepupunya sambil ikut berbaring di sampingnya .
" Apa kau mencintainya ? " Isabella tiba-tiba bertanya .
" Jordi.... Apa kau mulai jatuh cinta padanya ? " Isabella kembali bertanya karena Dila tidak menjawab .
Dila menarik nafas panjang , Gadis itu menatap langit malam tanpa berkedip .
" Apa aku mulai mencintainya ? " Gumam Dila mengulang kata kata Isabella
" Apa waktu itu bisa membuat seorang pria Tetap mencintai meski telah berpisah begitu lama ?" Dila kembali bergumam .
" Siapa yang kau maksud ? " Tanya Isabella .
" Jika...jika Jidan masih hidup apakah dia hanya akan mencintai aku ? , Apakah dia tidak akan melupakan aku ? " Dila memandang wajah sepupunya
" Aku tidak tahu , saat itu yang ku tahu dia sangat mencintaimu , hingga tidak ada ruang untuk orang lain di hatinya " ucap Isabella .
__ADS_1
" Bagaimana kau bisa tau ? " Tanya Dila .
" Dia menolak cintaku sebelum aku mengatakannya " Isabella tersenyum tipis .
" Kau tahu apa yang dia katakan ?! "
" Jangan berharap lebih dariku selain pertemanan . Karna hatiku milik seseorang " , dia mengatakan itu dengan wajah tentaranya " cerita Bella .
Dila tertawa mendengar cerita sepupunya . Entah kenapa ia merasa sangat bahagia mendengar cerita itu .
" Kurasa kalian akan jadi pasangan yang sangat bahagia jika hal itu tidak terjadi , semua karena dia ingin membantuku , maaf Dila aku membuat kamu kehilangan sesuatu yang sangat berharga hanya karena ingin menukarnya dengan orang seperti aku " ucap Isabella dengan sedih .
Dila terhenyak mendengar kata kata gadis cantik disampingnya .
" Menukarnya ? " Tanya Dila
" Jika dia tidak menyelamatkan aku , kalian akan tetap bersama , kau harus kehilangan dia hanya kerena sepupu seperti aku ingin berjumpa denganmu " ucap Isabella .
" Tidak ini semua karena perkataan bodohku " jawab Dila .
" Apa ?! " Tanya Bella .
" Kau tau dulu aku sangat iri jika melihat sepasang saudara , aku menjadi sebatang kara setelah eyang meninggal , aku merasa sangat kesepian lalu aku pernah berkata meski hanya dalam hati ," aku rela menukarnya dengan apapun jika aku di beri seorang saudara ." Saat itu aku berpikir saudara adalah dua orang yang memiliki hubungan darah . Tapi kini aku sadar bukan hubungan darah yang menjadikan seseorang saudara , tapi kasih sayang . Lilis , Mak Asih , mang Karman dan kakek Gunawan sekeluarga adalah orang yang tidak ada hubungan darah dengan ku , tapi mereka menyayangi aku sepenuh hati . Seharusnya aku tidak mengatakan hal bodoh itu " ucap Dila dengan nada menyesal .
" Kurasa Tuhan sedang menghukum aku " lanjut Dila .
" Itu tidak mungkin ..." Isabella bergumam .
" Eyang pernah mengajari aku untuk berpikir dan berkata hal hal baik agar hidup kita selalu baik " Dila berucap sambil menatap bintang .
" Eyang...apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Tanya Dila kepada bintang di langit .
" Apa maksudmu ? " Tanya Isabella bingung .
" Aku bertanya pada orang paling bijaksana " jawab Dila sambil menutup matanya .
" Apa eyang mendengar pertanyaan mu ? " Gumam Isabella .
" Dia bilang akan mengawasiku " jawab Dila sambil tersenyum .
" Dila...." Panggil Isabella lembut .
" Hem...." Jawab Dila malas .
" Apa Tuhanmu benar benar ada ? , Apa aku akan di kelilingi oleh orang orang yang mencintai aku seperti kamu jika aku rajin berdoa seperti kamu ? " Tanya Isabella dengan polos .
Dila tertawa mendengar pertanyaan Isabella yang seperti pertanyaan anak kecil .
" Apa ibumu tidak mengajarimu ? " Tanya Dila dengan nada prihatin . Selama ini Isabella memang tidak memegang keyakinan apapun .
" Bagi kami orang muslim umumnya kami percaya Allah adalah Tuhan untuk semua mahluk dan alam . Tapi itu semua tergantung kepercayaan kita masing-masing . Aku percaya Tuhanku Allah yang maha suci akan memberikan semua kebaikan jika kita berlaku baik pada siapapun tanpa memandang kepercayaan , status sosial dan warna kulit . Itu yang di ajarkan eyang padaku . " Dila mencoba menjelaskan sesuai pengetahuan yang ia miliki .
" Meski tidak berdoa seperti yang kau lakukan ? " Tanya Isabella .
" Do' a adalah permohonan atau permintaan . Kurasa setiap agama mengajari umatnya untuk meminta hanya pada Tuhannya " jawab Dila sambil tersenyum .
" Kurasa kau harus banyak membaca buku " ucap Dila sambil beranjak dari tidurnya dan melangkah menuju Villa ..
" Kau mau kemana ? , Ayo ajari aku ! " Isabella memanggilnya .
" Aku kedinginan ayo kita tidur " jawab Dila .
" Dingin apanya ? ,. Bagaimana kau menghadapi musim dingin " gerutu Isabella sambil menyusul Dila . Gadis berambut cokelat itu bergelayut manja pada tubuh mungil sepupunya .
" Kenapa kau sangat mungil ? " Ejeknya
" Berisik...!! , Kita hanya berbeda lima centimeter " teriak Dila di telinganya membuat ia menjadi tuli seketika .
__ADS_1
Dila tertawa melihat wajah merah Isabella , ia segera berlari sebelum gadis itu mengamuk .