
Rinto turun dari sebuah taxi dan melangkah menuju kafe tempat mereka janjian. Rinto memang sengaja datang lebih awal 10 menit dari kesepakatan, agar tidak meninggalkan kesan buruk saat pertemuan kedua mereka.
Ternyata choki telah datang terlebih dahulu bersama manegernya sekaligus fotografernya.
Rinto melangkah kesebuah meja yang letaknya paling strategis, pemandangannya langsung mengarah ke pantai.
Choki hanya melambaikan tangan pada Rinto dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tempat yang mereka janjikan merupakan tempat yang sangat instagramble. Sehingga Choki masih terlihat masih sibuk dengan berbagai fose untuk pengambilan foto.
Rinto hanya memandang Choki dari kejauhan dan sesekali melihat ke arah pintu menunggu Sheli datang.
Rinto melirik jam di tangannya, sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Sheli masih belum terlihat datang.
"Apakah ia tidak akan datang?" batin Rinto.
Ada rasa takut Sheli tidak ingin bertemu dengannya lagi, karena ia tahu pertemuan kemarin tidak menunjukkan kesan baik terhadap mereka berdua.
Setelah cukup puas Choki menuju Rinto dan manegernya keluar dari kafe.
"Hai bro," Choki menarik kursinya.
"Hai, temanmu tidak ikut gabung," tanya Rinto.
"O, itu manegerku, ia ingin keliling."
Rinto hanya mengangguk.
"Ia mencari tempat yang menarik untuk mengambil beberapa gambar lagi."
__ADS_1
"Sepertinya kau menyukai tempat ini, bro" tanya Rinto
"Yea, it's Amazing bro, konsepnya alami membuat kita terbuai." Choki merentangkan kedua tangannya.
Rinto hanya tersenyum mendengarnya. Apa yang diucapkan oleh Choki memang betul, pulau yang memanjakan mata dengan keindahannya.
Penilaian Choki terhadap pulaunyaa membuat Rinto senang.
Usahanya untuk mengembangkan pulau ini ternyata tidak sia-sia.
Tak lama Sheli masuk ke kafe dan melambaikan tangan ke arah Rinto, dengan senyum yang mengambang.
Melihat Rinto melambaikan tangan Choki pun membalikkan badanya mengarah yang dituju Rinto.
Sheli menggunakan aoutfit cream tanpa lengan dengan celana panjang batik. Walaupun santai tetap saja memberikan kesan anggun pada Sheli.
Sebelum duduk dikursinya Sheli mengarahkan pandangannya kesekeliling.
"Apakah kalian sudah memesan," tanya Sheli lagi.
"Belum, kami menunggumu murai. Tidak hanya cerewet ternyata kau juga lamban," ujar Rinto acuh.
"Hei, batu." Sheli menatap Rinto.
"Iya kan, betul." Rinto hanya tersenyum manis melihat Sheli mulai kesal.
Sheli memukul kepala Rinto dengan buku menu. Rinto pura-pura kesakitan sambil mengusap kepalanya.
Sheli hanya menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Choki hanya memandang mereka dengan tersenyum.
"Bukan lamban,tadi keliling sebentar, ternyata disini cukup lengkap, fashionnya juga lumayan menarik, hingga lupa waktu" lanjut Sheli lagi sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Choki menangguk menyetujui pendapat Sheli.
"Apakah kalian berdua tidak berniat tinggal disini." tanya Rinto mulai membujuk.
"Hm, bisa saja asal ada job disini." Jawab Choki.
"Kalau aku, ntahlah" Sheli mengangkat kedua bahunya.
"Kau adalah desainer milenial, apa salahnya mencoba hal baru, sepertinya cocok jika kita kolaborasi berdua, Iyakan Rinto?" tanya Choki.
Rinto nampak berpikir pertanyaan dari Choki.
"Betul juga, baju pantai oleh murai. Sepertinya cocok." jawab Rinto sambil membesarkan matanya pada Sheli.
Sheli hanya menunjukkan deretan giginya pada Rinto.
Mereka berhenti sejenak saat pelayan menghidangkan beberapa menu makanan yang mereka pesan
Secara diam-diam Rinto mengirim pesan pada Jack.
"Atur kerja sama dengan Choki."
"Siapa Choki?" Balas Jack
"Cari informasi dia selebgram, secepatnya!!!!!!!!."
__ADS_1
Rinto memberika perintah, meskipun yang menerima pesan di ujung sana bingung atas perintah yang cukup mendadak.
/*/*