
Jidan berusaha membuka ikatan tangannya setelah dirinya di lempar dari kendaraan yang membawa dirinya dan Dila . Dengan wajah tertutup kain hitam pria itu berhasil membuat tangannya yang terikat terbuka setelah meraih pisau kecil di bawah sepatunya . lalu Jidan pun membuka penutup kepala dan ikatan kakinya .
Setelah berjibaku beberapa saat pria itu memeriksa sekelilingnya , ia menyadari saat ini ia berada di luar kota Bandung . Dengan cepat ia menelpon nomer Dila .
Dila yang tengah berada di mobil bersama gerombolan preman terkejut karena suara handphonenya . Dengan cepat Mike yang duduk di depannya mengambil handphone tersebut dari tas pinggangnya .
" Oh.. dia memang handal " ucap Mike sambil menunjukkan layar handphone Pada Dila . Tertera nama kontak Jidan di sana .
" Pria dingin ? " Ucap Mike sambil tersenyum pada Dila .
" Oh...ku rasa kau memang handal ! " Ucap Mike begitu menerima panggilan itu .
" Apa maumu ? " Tanya Jidan tanpa basa-basi .
" Maaf aku hanya menjalankan perintah , tapi kurasa kau tau apa yang kami inginkan ! " Jawab Mike sambil memandang Dila .
" Biarkan aku bicara dengannya " ucap Jidan dengan tegas .
Mike tertawa mendengar ucapan Jidan .
" Aku akan berbaik hati kali ini , karena dia cukup manis " ucap Mike sambil meletakkan handphone di telinga Dila .
" Kekasihmu ingin bicara " ucapnya pada Dila .
" Dila... dengarkan baik baik..., Aku akan menyelamatkanmu apapun caranya , kau harus percaya padaku , mengerti ! " Dila hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan Jidan di telepon .
" Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu walau seujung kuku , jadi jangan takut , jangan biarkan mereka memandang lemah dirimu , fokuslah " Mike dengan cepat menarik handphone Dila dari telinga gadis itu .
" Kurasa sudah cukup , kami akan menghubungimu lagi nanti " ucap Mike .
" Kau tahu kami mengawasimu , jika ada pihak lain yang ikut campur kau hanya akan melihat mayatnya , kau tahu kami tidak pernah main main bukan " ucap Mike seraya melemparkan handphone Dila keluar mobil . Telepon itu hancur berkeping keping di jalanan beraspal yang mereka lalui .
Di tempatnya Jidan terdiam , pemuda itu lalu menghubungi seseorang .
" Kau ada di mana ? " Tanya Jidan begitu telepon tersambung .
" Aku sedang bermain dengan keponakanku " jawab seseorang yang Jidan hubungi .
" Dengar aku butuh bantuanmu , kau tolong siapkan barang barang ini apapun caranya " Jidan lalu menyebutkan berbagai jenis benda perlengkapan tempur dari rompi anti peluru , pistol , jenis peluru hingga perlengkapan lain ( nggak tau apa namanya dah ðŸ¤ðŸ˜‰)
" Apa ?! , Kau gila untuk mendapatkan semua itu aku butuh perintah dari perwira tinggi " jawab orang di telepon .
" Aku tidak mau tau , ini tentang nyawa Dila , ku mohon Bim.." ucap Jidan dengan nada serius pada orang itu yang tak lain adalah Bima .
" Apa kau sedang dalam masalah ? " Tanya Bima dengan serius .
" Orang itu ada di sini , dia menyandra Dila , kurasa dia ingin menukarnya dengan Isabella " jawab Jidan .
" Kau harus meminta bantuan ayahmu " ucap Bima .
__ADS_1
Jidan menarik nafas panjang .
" Aku tidak ingin ia terlibat dalam masalah ini , kau tahu aku sudah mendapatkan sanksi karena peristiwa dengan Isabella di Turki " jawab Jidan sambil berjalan cepat , ia menghentikan seorang pengendara motor yang kebetulan lewat .
" Maaf pak , ini di mana ya pak ? " Tanya Jidan pada pengendara motor tersebut tanpa menutup teleponnya .
" Oh ini desa Lebak Muncang , kec Ciwidey " jawab pengendara motor tersebut sambil menatap Jidan yang penuh luka .
" Anak dari mana ? , Kenapa penuh luka ? Tanya orang itu heran .
" Oh saya hanya terjatuh dari mobil tadi pak , boleh antar saya ke penginapan terdekat " tanya Jidan .
" Oh mangga atuh " jawab pria setengah baya itu dengan ramah .
Jidan segera naik motor bapak yang baik hati tersebut sambil kembali berbicara dengan Bima .
" Kau dengar ?! " Tanya Jidan .
" Ya..." Jawab Bima .
" Akan ku kirim lokasiku setelah mendapat penginapan , kurasa mereka tidak jauh dari sini " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .
*****
Mobil yang di membawa Dila sampai di sebuah villa terpencil di sebuah desa perkebunan teh . Para preman itu membawanya masuk ke dalam villa .
Seorang lelaki berwajah tampan dan keren sedang duduk di sebuah sofa di ruang tengah villa yang cukup besar tersebut .
Dila menatap pria di hadapannya . Rambutnya pirang dengan kulit putih khas Eropa , hidungnya mancung dan wajahnya sangat tampan . Ia juga begitu atletis dan keren . Jika saja tidak dalam situasi sekarang Dila akan mengira pria itu aktor Hollywood yang sedang berlibur ke Indonesia .
Pria itu menatap Dila dengan seksama .
" She's good " gumam pria itu sesaat kemudian .
Kemudian pria itu mendekati Dila yang tengah duduk di sofa . Tangannya dengan lancang membelai wajah Dila Inci demi inci hingga membuat Dila muak . dengan kasar Dila menghentakkan kepalanya ke wajah pria itu seraya berdiri dari duduknya .
Pria bule yang tak lain adalah Andrew mantan kekasih Isabella tertawa meski wajahnya terasa sakit , ia tersenyum melihat wajah marah Dila ,. Dengan santai ia melepaskan lakban di mulut Dila .
" kau sungguh liar " ucap Andrew sambil menyeringai , tentu saja dalam bahasa Belanda .
" Kurasa selera kami sama tentang wanita , dia juga seperti kamu liar dan sangat sexy " lanjutnya .
Mendengar kata sexy , meski tidak mengerti bahasa lainnya Dila segera meludahi pria itu.
Plak !
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dila , gadis itu meringis lalu kembali menatap Andrew dengan kemarahan , ia tidak menghiraukan bekas tangan di pipinya dan darah yang mengalir di bibirnya .
" Wanita itu memang seperti kucing , perlu di belai untuk di taklukkan " ucap Andrew
__ADS_1
" Tapi kurasa kau pantas di beri pelajaran dengan cara ini " plak! ,. Lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Dila .
Dengan kesal Dila meninju Andrew dengan tangan terikat , lelaki itu terhuyung hingga mundur beberapa langkah , beberapa orang yang ada disana termasuk Mike terkejut melihat hal itu . Dua orang pria segera Menahan Dila .
" Lepaskan ikatan ini , kita lihat siapa yang menaklukkan dan di taklukkan ! " Ucap Dila sambil menatap tajam Andrew .
" Wanita jalang.. ! " Bentak Andrew
Lelaki itu memberikan isyarat pada Mike , pria itupun segera menelpon seseorang , yang tak lain adalah Jidan .
" Kau punya waktu enam jam untuk membawa Isabella padaku jika ingin kekasihmu ini selamat , ingat datanglah sendiri jika tidak ingin melihatnya menjadi mayat ! " Ucap Andrew dalam bahasa Belanda .
" Biarkan aku mendengar suaranya " jawab Jidan dalam bahasa Belanda .
Andrew mengaktifkan loud speaker handphone Mike .
" Dila kau baik baik saja " tanya Jidan .
" Ya aku baik baik saja , " jawab Dila dengan tenang .
" apa mereka memukulmu ? " tanya Jidan .
Dila terdiam tidak menjawab pertanyaan Jidan
" Aku akan menjemputmu , jangan takut Dila , ku mohon kuatlah dan tunggu aku " ucap Jidan dengan suara dalam .
" Ya...aku bisa mencium aroma teh dari sini , itu membuat aku tenang " ucap Dila dengan nada berbeda.
Andrew menutup loud speaker handphonenya . Lalu kembali berbicara dengan Jidan .
" Ku rasa kau harus segera bersiap , jangan buang waktumu " ucap Andrew sambil tersenyum .
" Dengar , jika kau sakiti dia seujung jari saja , aku akan mematahkan kaki dan tanganmu hingga untuk merangkakpun kau tidak akan mampu " ancam Jidan .
Andrew menutup teleponnya , ia memerintahkan anak buahnya membawa Dila ke dalam kamar dengan paksa .
Di dalam kamar Dila duduk di ranjang sambil mengamati sekelilingnya , namun hasilnya nihil , tirai kamar tertutup rapat hingga Dila tidak bisa melihat keluar Kamar .
Dila berusaha membuka ikatan tangannyanya , namun ikatan itu sangat kuat . gadis itu mengerang dengan kesal , air matanya mengalir lagi keluar . Ia berharap Jidan bisa mengerti pesannya . ia tahu sebagai tentara pria itu tidak akan menuruti keinginan Andrew .
Gadis itu terdiam sambil terduduk di lantai ,
Ia berusaha untuk tenang sambil berfikir positif .
Di tempat lain Jidan yang tengah berada di sebuah penginapan kecil terdiam sambil memandang ke halaman . Dila memang berbeda , dari nada suaranya gadis itu tidak terdengar panik , jika gadis lain mungkin akan segera menangis begitu mendengar suaranya . Meski begitu ia tetap khawatir .
Sebuah Telepon membuat Jidan tersadar dari lamunannya .
" Aku sudah mendapatkan semua barang yang kau inginkan Kemana aku harus mengantarnya ? " Suara Bima menggema di handphonenya .
__ADS_1
" Aku akan mengirimkan sebuah lokasi , datanglah kesana " jawab Jidan seraya menutup panggilan Bima . Pria itu kemudian mengirimkan lokasinya melalui aplikasi WhatsApp .