Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
19. pangrango , first summit first love bag 2


__ADS_3

Malam itu seperti kesepakatan sebelum pendakian dua kelompok dari kota berbeda itu bermalam di camp kandang badak . Mereka sampai di camp dari puncak pangrango pukul setengah tujuh malam , setelah shalat mereka segera mendirikan tenda .


Ivan mendirikan tenda untuknya dan Dedi , karna dia lebih cekatan . Sementara Dedi mendirikan tenda Dila , sedangkan Dila sibuk menyiapkan makan malam , mereka bekerja sama agar cepat istirahat .


Di sisi yang tak jauh kelompok dari Bandung juga tengah sibuk , berbagi tugas .


Mereka memang berencana melihat sunrise di puncak gede jika tidak ada halangan , lalu menikmati indahnya pemandangan alun alun Surya kencana esok pagi sebelum turun gunung melalui jalur putri .


Dila tengah sibuk memasak Indomie goreng ketika tiba tiba Adi mendatanginya .


" Apa kau baik baik saja , kau tidak pusing ? " Tanyanya pada Dila .


" Oh...aku sudah sembuh " jawab Dila sambil sibuk memasukkan mie .


" Jangan lupa minum obatmu lagi sebelum tidur " ucap Adi mengingatkan .


" ya terimakasih " jawab Dila sambil tersenyum . Ia menatap lelaki yang tengah berjongkok di depannya .


Jika di perhatikan lelaki yang seharian ini banyak diam itu memang tampan . Wajahnya mirip Joy Taslim , hanya saja kulitnya lebih gelap .


" Auw...." Dila terkejut saat tangannya tak sengaja menyentuh nesting ( sebutan alat masak bagi para pendaki ) yang panas , Adi segera meraih tangan Dila dan meniupnya . Dada Dila sempat berdesir pelan saat lelaki itu memegangi tangannya . Adi segera mengambil obat bakar dari tas pinggang yang masih melekat di tubuhnya .


Dila sangat kagum melihat perlengkapan obat obatan pria itu yang siap untuk hal hal tak terduga .


" Sudah selesai " ucap Adi seraya melepaskan tangan Dila , Dila masih asik mengagumi wajah tampan di depannya .


Adi mengangkat mie yang di masak Dila .


" Dila....." Panggilnya membuat Dila tersadar . Gadis itu buru buru melanjutkan pekerjaannya . Semburat merah nampak di kedua pipinya karena malu . Adi tersenyum melihat tingkah Dila .


Dila hanya diam saja sembari menyelesaikan masakannya . Gadis itu lantas membuat telur dadar . Adi meninggalkan Dila yang sibuk dengan aktifitasnya , pemuda itu membuat api Dengan ranting yang telah ia kumpulkan .


" Kau sudah siap masak ?" Tanya Ivan yang datang menghampiri Dila . Dila manggut-manggut .


" Kalau begitu ayo kita makan " ajak Ivan .


" Kak Dedi ayo makan ...!!" Dila memanggil Dedi yang tengah duduk santai di depan tendanya .


" Makan makan...." Dedi bersenandung riang sambil menuju ke tempat mereka . Ketiga orang itu pun segera melahap masakan Dila setelah berdoa .


" Apa kak Bima dan yang lainnya sudah selesai masak ? " Tanya Dila .


" Mereka biasanya hanya makan Roti gandum " jawab Ivan dengan mulut penuh .


" Oh..." Dila manggut-manggut .


" Setelah ini kamu langsung tidur saja , takutnya kelelahan gak bisa ikut summit besok " Ivan menasehati Dila .


" Iya kak..." Jawab Dila menuruti perintahnya .


" Adi bilang kamu demam , apa kamu siap untuk perjalanan besok , jika tidak kamu istirahat saja di sini " lanjut Ivan .


" Nggak ah..Dila ikut " sahut Dila cepat .


" Kamu yakin ? , Perjalanan pulang juga melelahkan lho.." Ivan mengingatkan .


" Yakin...." Jawab Dila cepat .


" Baiklah... setelah makan biar kami berdua yang membereskan barang , kamu langsung tidur ya " ucap Ivan .


" Ya kak... terimakasih " Dila tersenyum senang . Dedi tertawa melihat raut wajah Dila .


" Kamu tu kadang kadang seperti anak kecil " ucap Dedi .


" Emang dia masih kecil " Ivan menyahut .


" Kalian....yang benar saja aku sudah sembilan belas tahun " Dila protes .


" Tuh kan belum dua satu plus " Ivan kembali menggoda Dila .


" Apaan sih..." Dila merajuk .


Mereka tertawa , ketiganya asik bercerita dan bercanda sambil menikmati makan malam .


Setelah selesai makan Dila masuk ke tendanya sementara Ivan dan Dedi langsung mencuci peralatan ke sumber air tak jauh dari tempat itu .


Dila tengah asik melihat lihat hasil jepretan kamera digitalnya di dalam tenda , saat seseorang memanggilnya .


Dila segera membuka tendanya di lihatnya Adi tengah berjongkok di depan tendanya .


" Minumlah ini.. sebelum tidur " ucapnya seraya mengulurkan cangkir dari stainlis still yang biasa di bawa oleh pendaki berisi minuman .


" Apa ini ? " Tanya Dila .


" Air jahe yang di tambah madu , bagus untuk stamina " jawabnya seraya tersenyum .


Dila terpaku di tempatnya , dadanya kembali berdesir melihat senyum Adi .


" Dila....kemarilah..." Seruan Ratna membuat Dila tersentak dari kebisuannya .


Gadis itu dan rombongannya tengah duduk di depan api .


" Ya..." Jawab Dila .


" Sebaiknya kau langsung tidur , kondisimu sedang tidak baik " ucap Adi sambil meraih tangannya dan menyerahkan minumannya .


" Aku gabung bentar aja .." sahut Dila seraya meraih syal tebal di tendanya . gadis itu keluar dari tendanya .


Adi menggeleng gelengkan kepalanya melihat Dila yang tidak mendengar nasehatnya . Keduanya menuju rombongannya yang tengah mengelilingi api sambil minum kopi .


" Wah... jangan jangan akan ada cinta bersemi di pangrango nih..." Seru Jimy melihat mereka datang berdua .


Dila tertawa mendengar kata kata Jimy , sedangkan Adi hanya diam seolah tak mendengar apapun .


Mereka semua duduk di dekat api , mencoba mencari kehangatan di sana . Dila dan Adi duduk berdampingan .

__ADS_1


" Kak Adi mau kopi " Ratna menawarkan Kopi pada Adi .


Tanpa menunggu jawaban dari Adi gadis itu segera menghampirinya sambil membawa


Secangkir kopi .


" Ini kak Nana yang buat lho.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Adi .


" Thanks " ucap Adi sambil menerima pemberiannya .


" Jadi Dila rencana mau kuliah di mana ? " Tanya Ratna sambil kembali ke tempat duduknya yang berdampingan dengan Bima .


" Belum tau..rencana di Bandung , supaya tidak jauh dari rumah " jawab Dila seraya menghirup air jahe pemberian Adi .minuman itu ternyata sangat nikmat , Dila menatap Adi yang ada di sampingnya , saat itu pria itu ternyata juga tengah memandangi dirinya .


" Thanks..." Ucap Dila sambil mengangkat cangkir minumannya . Adi hanya tersenyum tipis .


" Mau masuk universitas negri ? " Tanya Ratna .


" Ya kalau lulus seleksi , tapi ada rencana cadangan juga sih biar nggak terlalu lama menghabiskan waktu tanpa kegiatan " jawab Dila .


" Wah kayaknya lagi pada seru nih ! " Ucap Ivan yang baru datang .


" Sini bro gabung " ucap Bima yang dari tadi hanya diam .tanpa di minta dua kali Ivan langsung duduk di dekat Bima , sementara Dedi pergi menyimpan peralatan yang mereka cuci .


Bima dan Ivan asik mengobrol berdua . Sementara yang lain hanya diam sambil mendengarkan obrolan mereka .


" Dila apa itu ? " Tanya Ivan menunjuk cangkirnya .


" Air jahe " jawab Dila singkat .


" Kak Adi yang kasih " lanjutnya .


" Oh kukira kopi " Ivan melihat sekeliling .


" Ini kopi.." Adi menawarkan cangkirnya pada Ivan , lelaki itu segera menghampiri Adi dan mengambil cangkir berisi kopi pemberian Ratna yang belum ia minum sekalipun .


Ratna nampak kecewa melihat kopi buatannya berpindah tangan .


" Kak Ivan ini masih ada , yang ini aja " ucapnya pada Ivan .


" Aku tidak minum kopi " Adi berkata lembut.


" Iya.... setahuku Adi tidak minum kopi makanya aku ambil ini , Dila juga lebih memilih teh , makanya tadi ku tanya apa minumannya kalau kopi mau ku minta soalnya sayang kalau di buang dia hanya akan minum seteguk saja " Ivan menimpali .


" Oh....maaf Ratna nggak tau " ucap Ratna dengan nada kecewa .


Mereka kemudian bercerita ini dan itu hingga pukul sepuluh malam .


" Dila..kamu tidak istirahat ? , Kita sudah harus jalan lagi lho jam dua kalau mau dapat sun rise " Ivan mengingatkan .


" Iya kak menghabiskan minuman ini " jawab Dila seraya kembali meneguk air jahenya .


Adi yang berada di sampingnya segera meraih cangkir yang ia pegang lalu meminum sisa air jahe di cangkir itu .


Dila tercengang bisa bisanya lelaki itu minum dari cangkir yang sama dengannya .


" Ya baiklah " ucap Dila seraya bangkit dari duduknya .


" Dia seperti anak kecil yang manis kan.." Ivan menggoda Dila .


" Aku sudah sembilan belas tahun " protes Dila seperti biasanya .


" Tetap saja belum dua puluh satu " jawab Ivan seperti biasanya juga .


" Tidur sana...kalau terjadi sesuatu padamu akan ada kopasus menyerbu rumahku saat pulang dari sini " goda Ivan lagi .


Dila melangkah pergi ke tendanya sambil bersungut-sungut . Ivan tertawa puas karena berhasil membuat Dila marah .


" Memangnya ayah Dila anggota Kopasus ? " Tanya Ratna setelah Dila masuk ke tendanya .


" Ayahnya sudah meninggal , tapi dengar dengar gitu sih , cuma kakeknya katanya sih pensiunan jendral , masih punya pengaruh sampai sekarang " jawab Ivan .


" Oh....kakak tahu ? " Tanya Ratna pada Bima . Bima juga seorang prajurit TNI berpangkat Bintara tinggi .


" Nggak..." Jawab Bima singkat .


" Kamu juga tidur dulu Na , kamu kan paling susah bangun " ucap Bima pada Ratna membuat gadis itu merona malu .


" Baiklah malam semuanya , " ucap Ratna seraya melangkah menuju tenda .


*****


Getar handphone membuat Dila terbangun dari tidur nyenyak nya . gadis itu merasakan tenggorokannya kering dan kepalanya agak pusing .


Dila segera melepaskan resleting sleeping bag nya .ia segera mematikan alarm di hapenya . Ia lalu mengenakan syal dan perlengkapan nya , gadis itu segera keluar dari tenda karena Suara percakapan teman temannya telah terdengar .


" Pagi...." Sapa Dila pada Ivan dan Dedi yang sudah siap .


" Pagi...kamu baik baik saja ? Tanya Ivan .


" Ya..cuma agak pusing " jawab Dila singkat . Ivan mendekatinya lalu memeriksa suhu tubuhnya dengan menempelkan telapak tangannya ke kening Dila .


" Kamu minum obat nggak semalam ? " Tanya Ivan pada Dila . Ia menanyakan hal itu karna kening Dila sangat panas .


" Oh iya aku lupa " jawab Dila seraya merogoh kantong celananya , kemarin ia memasukkan obat pemberian Adi ke kantong celananya .


Gadis itu segera meraih satu tablet Paracetamol dan meminumnya .


" Dila kalau kamu ngerasa nggak fit jangan di paksakan " ucap Adi yang tiba tiba menghampiri mereka .


" Dila nggak apa apa cuma pusing dikit aja " jawab Dila .


" Dila pingin ke alun alun Surya kencana.." Dila merayu Ivan dengan wajah puppy nya .


" Gini aja..kita akan mengikuti rencana awal turun lewat jalur putri setelah mastiin kamu fit , biar aku menemani dia di sini bro " Adi mengusulkan .

__ADS_1


" Kamu gak usah ikut ngejar sun rise di gede , gimana ? , Nanti kita kesana berdua setelah kamu istirahat lagi " ucap Adi sambil menatapnya .


" Gimana Dila ? " Tanya Ivan .


" Baiklah...." Ucap Dila dengan nada sedih . Jujur ia ingin menikmati indahnya sun rise di puncak gede , namun ia tidak ingin menjadi beban bagi pendaki lain .


" Kalau kamu masih tidak sehat kita langsung turun dan tidak menyusul mereka " lanjut Adi membuat Dila makin sedih .


" Okee....deal ya , nggak apa apa kan bro ? " Tanya Ivan pada Adi .


" Gak pa pa , aku sudah sering summit di gede " jawab Adi .


" Kamu gak apa apa jaga dia sendirian kan ? " Ivan memastikan dan dijawab anggukan mantap Adi .


". Nggak apa apa jalur ke bawah nggak susah " jawab Adi percaya diri .


Setelah sepakat Ivan dan Dedi bergabung dengan yang lain yang sudah siap berangkat . Mereka segera memulai summit attack pukul dua dini hari dan berjanji menunggu hingga pukul sebelas di alun alun Surya kencana , jika lewat dari jam itu mereka akan meninggalkan keduanya .


Dila memandang kepergian teman-temannya dengan sedih . Gadis itu kembali ke tendanya untuk beristirahat . Ia tidak ingin melewatkan perjalanannya yang lain karna demamnya . Ia berharap akan baikan dan kembali sehat .


Panggilan Adi membuat Dila terbangun . gadis itu mengucek matanya setelah menjawab panggilan Adi dengan suara seraknya . Dila menggeliat mencoba melakukan peregangan , setelah membuka resleting sleeping bag yang membungkusnya .


Rasa pusing di kepalanya sudah hilang , namun tenggorokannya masih terasa kering dan gatal . Dila membuka tendanya , suasana di sekitar sudah terang benderang . Dila melihat jam tangannya , sudah pukul lima tiga puluh pagi . dilihatnya Adi tengah duduk sambil memegang sebuah cangkir .


" Pagi..." Sapa Dila sembari menghampiri pria itu .


" Pagi...." Jawab Adi seraya menyodorkan secangkir milo hangat .


" Terimakasih " ucap Dila sembari menerimanya .


" maaf ya kak..gara gara Dila , kakak tidak dapat melihat sunrise " ucap Dila yang telah duduk di samping Adi .


" Kenapa harus minta maaf , itu hal yang juga tidak kamu inginkan . " Jawab Adi seraya meneguk Milo miliknya .


" Kamu sudah baikan kan ? " Tanyanya kemudian .


Dila mengangguk mantap . gadis itu memang merasakan tubuhnya lebih segar .


" Kalau begitu ayo berkemas , tenda dan keperluan mu biar aku yang bawa " ucap Adi seraya beranjak dari duduknya .


Adi telah siap bahkan tendanya juga sudah di rapikan . Dila hendak beranjak , namu Adi melarangnya , pria itu menyuruh Dila duduk dan menghabiskan minumannya , dia menawarkan diri merapikan barang barang milik Dila .


Dila duduk sambil memperhatikan Adi yang tengah sibuk . Pemuda itu sangat cekatan seperti tentara , melihat Adi ia seperti bernostalgia melihat ayahnya sewaktu kecil saat mereka berlibur .


Dila terpana , entah kenapa pria itu semakin menarik perhatiannya . Semakin ia memandang , Adi seakan bertambah tampan .


" Apa kau sudah siap ? " Tanya Adi mengejutkannya .


" Emh...ya " jawab Dila ,. Gadis itu meneguk habis minumannya . Adi meminta cangkir kotor miliknya , membilasnya dengan air lalu menggantung di ranselnya .


Ransel pemuda itu kini lebih tinggi karna dia memasukkan tenda dan sleeping bag Dila ke ranselnya . Sementara milik Dila kini sudah makin ringan .


Keduanya segera memulai perjalanan ke puncak gede pukul enam tiga puluh . Sepanjang perjalanan Dila banyak terdiam , tidak tahu haru bicara atau mengobrol apa dengan pria pendiam itu . Dan lagi entah kenapa kini Dila merasa Canggung berbicara dengan pria itu .


Adi juga hanya diam , ia hanya berbicara seperlunya pada Dila . Itupun jika harus memberi pengarahan atau sekedar memberi tahu hal hal yang harus di lakukan .


Mereka akhirnya tiba di puncak gede setelah dua jam perjalanan . Tidak ada orang saat itu kecuali mereka berdua . Dila memilih duduk sambil menikmati pemandangan yang luar biasa . Dari spot tempatnya duduk ia dapat melihat kawah , dan puncak pangrango . Tidak terbayang jika ia bisa datang lebih awal , tentunya pemandangannya akan sempurna dengan indahnya sunrise .


Puncak gede terletak dua ribu sembilan ratus lima puluh delapan MDPL . cuaca sangat cerah hari itu , namun tidak membuat suhu dingin di puncak gede berkurang .


Dila masih asik terpaku di tempatnya . Tidak seperti orang lain yang selalu sibuk mengambil foto , Dila lebih suka menikmati pemandangan indah dengan diam dan menyimpan setiap kenangan di hatinya . gadis itu memang sering lupa mengambil foto jika sudah terpesona panorama alam .


Dila menoleh ke sampingnya , dilihatnya Adi tengah memandangi dirinya dalam diam . Dila kembali memandangi ke tempat lain agar tidak bertatap mata dengan pria itu .


Saat Dila melirikkan mata kesamping pria itu masih memandangi dirinya , jantung Dila menjadi berdebar debar .


" Kenapa jantungku jadi begini ?" bisik Dila dalam hati .


" Kenapa dia terus menatapku ?" tanyanya dalam hati .


Dila memberanikan diri menoleh ke samping , di lihatnya Adi masih asik menatap dirinya sambil melipat tangan di depan dada . Pria itu kemudian berjalan perlahan mendekatinya .


Adi menghampiri Dila lalu duduk di samping gadis itu , tangannya menggapai keningnya . Dengan telapak tangannya ia mengecek suhu tubuh Dila .


Dila hampir tak bisa bernafas , jarak yang begitu dekat dengan pria itu membuat jantungnya seakan ingin meledak .


" Kau tidak demam , kenapa wajahmu merah ? " Tanya Adi sesaat kemudian .


Dila terkesiap , ia memegang kedua pipinya .


" Oh mungkin karna sinar matahari " jawab Dila sekenanya .


Adi menarik nafas dalam lantas beranjak dari duduknya .


" Kau tidak ingin berfoto ? " Tanya Adi kemudian .


" Oh ya " jawab Dila seraya mengambil handphone dari tas pinggangnya .


Gadis itu kemudian mengabadikan pemandangan di tempat itu , ia juga ber-selfie ria .


" Sini ku fotokan " Adi menawarkan bantuan sesaat kemudian .


Pria itu mengambil handphone dari tangannya , lalu mulai membidiknya dengan kamera handphone . Sesaat kemudian ia mengambil handphonenya sendiri , mengecek sesuatu , lalu tiba tiba ia membidik gadis itu dengan kamera handphone miliknya .


" Apa yang kakak lakukan ? " Tanya Dila terkejut .


" Lihatlah... hasilnya lebih natural " ucapnya seraya memperlihatkan hasil bidikan melalui handphonenya yang ia ambil tanpa Dila sadari .


" Berapa nomormu ? " Tanyanya kemudian .


" Kenapa ? " Tanya Dila .


" Ya biar ku kirim foto yang ini ke WhatsApp mu " jawabnya santai .


Dila menyebutkan no handphonenya dan Adi menyimpan kontaknya di Handphonenya .

__ADS_1


" Ayo kita turun , kita bisa terlambat nanti ' ajak Adi kemudian .


Pria itu mengambil ransel penuh muatan yang tadi ia letakkan begitu saja , lalu ia juga membantu Dila . Keduanya memutuskan untuk turun menuju alun alun setelah hampir setengah jam berada di sana , mereka tidak ingin di tinggal yang lain jika terlambat datang ke alun alun Surya kencana .


__ADS_2