
Sudah menjelang dini hari saat Jidan tiba di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Semarang . Pria itu memarkir mobilnya jauh dari rumah . Ia berjalan dengan perlahan mendekati rumah yang tampak gelap gulita tanpa penerangan tersebut .
Jidan membuka pintu dengan perlahan . Ia mengendap endap memasuki rumah tersebut .
" Raise your hand or i'ill shoot your head ! " Sebuah pistol menempel tepat di pelipisnya .
" Apa kau ingin menembak suamimu ? " Ucap Jidan mendengar suara seorang wanita yang sangat ia kenal sambil mengangkat kedua tangannya .
" Kau... bagaimana kau tahu aku di sini ? " Ucap seorang wanita dengan terkejut .
Jidan tidak menjawab ia melangkah menuju saklar lampu lalu segera menghidupkan penerangan di ruang tengah rumah tersebut .
Seorang gadis berambut pirang dengan wajah bule nampak berdiri tak jauh dari tempatnya sambil memegang sebuah pistol .
gadis itu hanya mengenakan celana jeans pendek dan kaos tanpa lengan . Lekuk tubuhnya yang seksi terlihat jelas dengan pakaian ketat yang menempel di badannya .
" Kenapa kau baru datang ? Kau tahu aku sangat takut , kau meninggalkanku dengan orang yang tidak ku kenal " ucap gadis itu seraya menatap dalam wajah Jidan .
Jidan tersenyum melihat wajah itu . Ia melangkah menuju ruang makan Seraya mengambil segelas air .
" Apa kau sudah cerita pada ayahmu ? , Apa aku bisa tinggal di rumahmu ? " Tanya gadis itu sambil mengikuti Jidan .
Jidan menghabiskan minumannya . Pria itu duduk di kursi makan dengan wajah lelah .
" Kenapa kau kabur , ku bilang rumah ini hanya bisa kau tempati di saat genting " ucap Jidan sambil menatap wajah cantik di depannya .
Wanita itu terdiam sambil memandang wajah Jidan yang nampak lelah .
" Apa kata ayahmu ? " Tanya wanita itu tanpa menjawab pertanyaannya .
" Aku belum mengatakan apapun , ada sesuatu yang terjadi di rumah " jawab Jidan .
" Benarkah ? , Bukan karena kau takut mereka tidak bisa menerima aku kan ? " Tanya gadis itu .
" Bella...aku lelah , aku berkendara kesini hampir tujuh jam tanpa berhenti , bolehkah aku istirahat ? " Tanya Jidan seraya melangkah menuju kamar .
" Kenapa kau kabur dari rumah Bima ? " Tanya Jidan sambil berjalan .
" Aku tidak nyaman dirumah itu " jawab gadis itu sambil mengikuti Jidan ke kamar .
" Ibunya selalu menganggap aku sebagai kekasih Bima ,. Dia mengajak aku kemana saja , kau tau aku tidak boleh lengah " lanjut wanita itu .
" Kenapa kau membawa bawa pistol itu , dan kenapa pakaianmu seperti itu " tanya Jidan sambil berbaring .
" Pistol ini untuk berjaga jaga , dan kenapa dengan pakaianku , aku di dalam rumah " jawab wanita yang di panggil Bella oleh Jidan .
" Sebenarnya aku melihat Andrew di Bandung beberapa hari lalu " ucap Bella sambil menatap Jidan .
__ADS_1
" Apa ? Di mana ? " Tanya Jidan .
" Saat ibu Bima mengajak aku berbelanja ke pasar tradisional , aku melihatnya , tapi kurasa dia tidak melihatku " cerita Bella .
Jidan bangkit dari tidurnya , ia duduk di atas ranjang sambil berfikir namun rasa lelah membuat ia tidak bisa berpikir jernih .
" Bella jangan lagi mengenakan baju itu " ucap Jidan beberapa saat kemudian .
" Sudah ku bilang keluargaku sangat menjunjung tinggi kesopanan meski kami keluarga modern , Pakailah pakaian yang ku belikan " ucap Jidan sambil memandangnya .
" Bukankah aku sexy " goda Bella
" Isabella..!!" Teriak Jidan sambil menatap wajah gadis yang saat ini harus berpura pura menjadi istrinya .
" Baiklah..aku akan memakai pakaian yang kau belikan " ucap gadis itu sambil cemberut .
" Kapan kau akan membawaku kerumahmu ,, bukankah kau bilang aku akan aman di sana ? " Tanya Isabella .
" Biar aku pikirkan , aku lelah sekali ,. Aku ingin tidur " jawab Jidan seraya berbaring .
" Jangan lupa tutup pintunya saat kau keluar " ucap Jidan seraya menutup matanya .
Isabella menatap tubuh Jidan yang memunggunginya , gadis keturunan Jawa Belanda itu melangkah keluar kamar , ia tidak lupa menutup pintu .
Jidan membuka matanya perlahan setelah Isabella keluar kamar . Ia menarik nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di pinggiran ranjang .
Ia menempuh perjalanan panjang karena mendapat kabar dari Bima bahwa Isabella , gadis keturunan Indonesia yang ia tolong dari Turki kabur dari rumah Bima .
Jidan bertemu kembali dengan Isabella ketika berada di pesawat saat pulang ke Indonesia . Gadis itu mengatakan ia ingin mencari saudara sang ibu yang ada di Semarang .
karena merasa kasihan pada gadis yang hidup sebatang kara setelah menjadi korban jaringan perdagangan manusia , Jidan ingin membantunya menemukan keluarganya di Indonesia .
Bella kabur dari kekasihnya yang ternyata ingin menjadikan dirinya pelacur , sejak saat itu gadis itu selalu di kejar kejar oleh orang orang yang terlibat dengan kekasihnya .
Hingga saat melarikan diri ke Turki ia hampir di tangkap oleh aparat yang di suap oleh orang suruhan kekasihnya . Saat itu Jidan yang tengah membantu interpol yang menyelidiki kasus tersebut menolongnya . Sejak saat itu Jidan berteman dengan gadis itu dan ingin membantunya .
Jidan yang merasa iba tidak bisa berbuat apa-apa saat ini . ia berusaha mencari informasi tentang keluarganya , Namun masalahnya adalah gadis itu masih menjadi incaran sang kekasih , Jidan khawatir akan Keselamatan Isabella , itu sebabnya ia berencana membawa Isabella ke rumah dan minta bantuan sang ayah agar gadis itu aman , namun kejadian hari itu saat Jidan bertemu dengan Dilla di rumah besar membuat rencana Jidan berantakan .
Kini hati Jidan makin bingung , ia khawatir akan membuat keluarganya makin khawatir , namun di sisi lain hatinya ingin menolong gadis itu mendapatkan kehidupan yang damai seperti keinginannya .
Apalagi kini kakek berencana akan membawa Dila kerumah , akan sulit baginya menjelaskan situasi sebenarnya pada gadis itu . Ia tidak mungkin menjelaskan hal sebenarnya karena itu bisa berbahaya bagi keselamatan Dila .
Sementara itu Isabella nampak sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan . Wanita itu nampak sangat bahagia menyambut kedatangan Jidan .
Bagi Isabella Jidan adalah malaikat penolong . Ia merasa aman jika berada di sisi lelaki tampan itu . Ia juga sangat merindukan Jidan jika berjauhan dengannya .
Ia sadar ia telah jatuh hati pada lelaki tersebut . itulah sebabnya saat seorang anggota interpol memberi tahunya bahwa Jidan akan pulang ke Indonesia ia segera memesan penerbangan yang sama dengan Jidan , selain itu ia ingin mencari keluarga mediang ibunya di kota Semarang .
__ADS_1
Isabella sadar alasan sebenarnya dirinya ke Indonesia adalah ingin mengikuti Jidan . Ia telah menjadi pengagum lelaki itu sejak pertemuan pertama . Apalagi setelah mengenal Jidan lebih jauh lelaki itu ternyata tidak sedingin dugaannya , ia amat penyayang terhadap wanita dan sangat melindungi dirinya .
Isabella masuk Indonesia dengan alasan akan berkenalan dengan keluarga Jidan karena ia adalah tunangannya saat interview di kantor imigrasi . Itu semua atas perintah Jidan agar ia tidak mudah terlacak oleh Andrew .
Setelah membuat sandwich dan secangkir teh hangat Isabella membawa makanan tersebut ke kamar di mana Jidan beristirahat .
Jidan nampak terlelap , Isabella menatap wajah tampan itu dengan seksama .gadis itu berdiri lama di tepi ranjang .
Perlahan wajah Isabella mendekati wajah Jidan , wajah tampan yang selalu bersikap acuh padanya itu membuat ia makin penasaran .
" Apa yang kau lakukan ?" Suara dalam Jidan membuat Isabella tersentak . Lelaki yang terlihat Tertidur lelap itu telah membuka matanya lebar lebar .
' ee aku membawa makanan untukmu " ucap Isabella sambil mengangkat wajahnya , gadis itu segera berdiri .
" Masih terlalu pagi , tidurlah ke kamar mu ! , Ucap Jidan tegas .
" Baiklah..." Jawab Bella seraya meninggalkan kamar tersebut .
Jidan kembali menutup matanya setelah kepergian Bella . lelaki itu merasa lelah setelah tidak tidur hampir delapan belas jam .
Pagi sekali Jidan sudah sibuk menelepon seseorang .
" Ada apa ? , Kemana lagi kau pergi hingga tak kembali ? , Bukankah kau sedang dalam masa hukuman ? " Suara tuan Aditya terdengar menggema di handphonenya .
" Papa aku butuh bantuan " ucap Jidan tanpa menghiraukan pertanyaan sang ayah seraya melangkah keluar kamar .
" Ada apa katakanlah !" Seru sang ayah .
" Ini tentang keselamatan seseorang " ucap Jidan .
" Bisa aku meminta beberapa orang untuk melindungi seorang gadis " ucapnya sambil berjalan menuju pintu keluar rumah .
" Apakah ini ada kaitannya dengan wanita yang mengikuti dirimu ? " Tuan Aditya berbicara dengan tenang .
" Dari mana papa tahu ? " Tanya Jidan .
" Serahkan keselamatannya pada polisi , kau tahu sejak awal itu bukan urusan resmi kita , saat itu kau hanya membantu , kau mengerti ?! , Apa kau sengaja melakukannya agar seragammu di lepas , lakukan dengan hormat jika kau menginginkannya " ucap Tuan Aditya .
Jidan terdiam sambil menatap ke tempat yang jauh , ia sudah menduga sang ayah tau saat ini ia tengah dalam masa hukuman disiplin militer.
" Masalahnya adalah dia tidak percaya pada siapapun , kau tahu dia pernah di khianati oleh orang yang seharusnya melindunginya " Jidan menjelaskan .
"Apa saat ini kau masih bersama dia ? " Tanya tuan Aditya
" Ya..." Jawab Jidan singkat .
" Ajak dia ke rumah baru papa , akan ada beberapa orang kepercayaan papa yang menjaganya , papa tidak ingin kamu terlibat terlalu dalam , serahkan urusannya pada papa " ucap tuan Aditya seraya menutup teleponnya .
__ADS_1