
Jidan menghentikan mobilnya di depan sebuah swalayan . Pemuda itu membeli semua kebutuhan yang di perlukan oleh Isabella . Setelah selesai ia segera menuju kasir dengan troli yang hampir penuh .
Sang kasir hanya tersenyum melihat belanjaan Jidan yang bahkan berisi pembalut wanita . Jidan hanya terdiam melihat tatapan manis dari karyawan swalayan tersebut .
Setelah selesai iapun segera bergegas keluar dari swalayan itu . Di tengah jalan Jidan berbelok ke sebuah toko handphone ia ingin membeli charger handphone untuk Isabella .
" kak Adi kan ? " Tanya seseorang yang baru saja menghampirinya .
Jidan menatap wajah di depannya sesaat , hanya teman temannya dari komunitas pecinta alam dan kampus yang memanggilnya dengan nama itu .
" Oh..Jimy ? , Apa kabar ? " Tanya Jidan sambil mengulurkan tangannya .
" Yah.. beginilah..aku sedang mencari pekerjaan , sambil kerja ini itu " jawab Jimmy sambil menerima uluran tangan Jidan , keduanya berjabat tangan dengan erat .
"Oh..., sudah melamar kemana saja ? " Tanya Jidan sambil menunggu charger yang ia minta kepada pemilik toko .
" Aku sedang menunggu panggilan dari sebuah perusahaan , kakak tahu Jaya Group ? " Tanya Jimy .
Jidan tersenyum , bagaimana tidak ia adalah salah satu pemilik sahamnya , jawabnya dalam hati .
" Pernah dengar " jawab Jidan
" Aku melamar untuk salah satu hotelnya di Semarang " ucap Jimmy .
" Bukankah kau anak sastra " Jidan berkata sambil menatap wajah Jimmy yang dulu bercita cita menjadi dosen .
" Yah...gitu lah , aku gak bisa lanjut S2 karena terkendala anggaran " Jawab Jimmy dengan wajah sedih .
" Kau melamar ke Semarang apa tidak jauh ? " Tanya Jidan .
" Kakek dari ibuku ada di sana , aku berencana tinggal bersama mereka , dan lagi di sana dekat dengan gunung gunung indah , aku bisa mendaki jika sedang libur " Jimmy berucap sambil tersenyum senang .
" Pak ini , harganya enam puluh ribu " penjual di toko tersebut menyerahkan barang pilihan Jidan . Jidan segera mengecek pesanannya dan membayarnya .
" Oh ya kakak masih bersama Dila ? " Tanya Jimmy .
Jidan tersenyum mendengar pertanyaan itu .
" Kalian sudah putus ya ? " Tanya Jimmy .
" Ku dengar dia pergi ke Ambon hari Minggu lalu " ucap Jimmy kemudian .
Jidan terdiam sejenak mendengar perkataan mereka .
" Temanku mengirimkan foto mereka " Jimmy membuka aplikasi WhatsApp di handphonenya lalu menunjukkan sebuah foto .
" Pak pulsa simpati 100 " ucap Jimmy pada pemilik toko setelah menyerahkan handphonenya pada Jidan .
Jidan terdiam menatap wajah wajah yang berfoto bersama dengan Dila di sebuah rumah .
" Dari mana pendaki asing itu berasal ? " Tanya Jidan pada Jimmy yang tengah asik mengobrol dengan penjual handphone .
" Aku tidak tahu , temanku yang berhubungan dengan mereka " jawab Jimmy .
" Kirim foto itu padaku " ucap Jidan .
__ADS_1
" Ya..? " Tanya Jimmy bingung .
" Ada kok foto Dila yang sendiri " ucapnya seraya menunjukkan beberapa foto .
Jidan melihat semua foto yang ada di handphone Jimmy lalu mengirim beberapa foto ke nomornya .
" Jimmy ..kau dekat dengan temanmu yang berhubungan dengan pendaki asing itu ? " Tanya Jidan .
" Ya..., Dia seniorku di pendakian selain kak Bima " jawab Jimmy .
" Apa pekerjaannya ? " Tanya Jidan .
" Kurang tahu tapi dia banyak berteman dengan orang asing sih , temannya yang ini ni , Jonathan namanya , orang Jerman kalau tidak salah " jawab Jimmy .
" Oh.. baiklah " ucap Jidan seraya menyerahkan handphone milik Jimmy .
" Tolong beri tahu aku jika ada kabar terbaru mereka ya " ucap Jidan kemudian .
" Kalian bertengkar " tanya Jimmy .
" Ya..." Jawab Jidan singkat .
" Aku harus pergi, sampai jumpa " ucap Jidan seraya melangkah menuju mobilnya .Lelaki itu melajukan mobil mewahnya meninggalkan toko handphone tersebut .
Jimmy memandang kepergian Jidan sambil mengernyitkan dahi .
" Mobilnya keren , apa dia benar benar orang kaya seperti kata kak Bima " gumamnya .
* * * *
" Itu Mike tangan kanan Andrew dari mana kau dapat foto ini ? " Tanya Isabella sambil menatap tak percaya .
" Mereka ada di sini " gumam Jidan sambil menarik nafas panjang .
" Di mana tepatnya kau melihat Andrew " tanya Jidan kemudian .
" Kalau tidak salah di daerah Dago " jawab Isabella .
" Kau tetaplah di rumah dan jangan keluar kompleks , mengerti " ucapnya .
" Aku juga membelikan kamu charger , jadi hubungi aku jika terjadi sesuatu " lanjut Jidan Seraya melangkah keluar rumah .
Pemuda itu menelpon seseorang sambil berjalan menuju mobilnya .
Jidan menghela nafasnya karena sang ayah tidak mengangkat teleponnya .
Pria itu segera menghubungi ajudan ayahnya .
" Sedang apa papa ? " Tanya Jidan begitu panggilan handphonenya di angkat oleh pak Dewo ajudan sang ayah .
" Beliau sedang rapat nak Jidan , apakah ada hal penting ? " Tanya pak Dewo .
" Katakan pada papa , Kurasa salah satu tikus pemburu yang sedang kita awasi sedang bersama Dila di Ambon " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .
Jidan segera pergi dengan mobilnya setelah meminta penjaga Isabella lebih waspada . Pemuda itu mengendarai mobilnya dengan resah .
__ADS_1
" Bagaimana bisa mereka bertemu " gumam Jidan sambil terus mengemudi . Kini ia mengkhawatirkan keselamatan Dila .
Sebuah panggilan telepon membuat Jidan memasang earphone di telinganya .
" Bagaimana bisa !? " Suara tuan Aditya menggema sebelum Jidan sempat berkata apapun .
" Aku tidak tahu ..kurasa ini bukan sebuah rencana tapi mereka tidak sengaja bertemu " jawab Jidan .
" Ayah harus memastikan dia baik baik saja " ucap Jidan kemudian .
" Tidak perlu memintaku untuk itu ! , Jaga saja Isabella serahkan keselamatan Dila pada ayah , aku tidak ingin kau membuat semua lebih kacau " ucap tuan Aditya seraya menutup telponnya .
Jidan menepikan kendaraannya untuk menenangkan diri , setelah beberapa saat ia kembali berkendara menuju rumah besar .
Kendaraan yang Jidan kemudikan sampai di rumah besar tiga puluh menit kemudian . Dengan langkah cepat pemuda itu menemui pak Nurdin yang tengah berbincang dengan penjaga kebun .
" Pak..ikutlah kekamarku ada yang ingin ku bicarakan " ucap Jidan seraya malangkahkan kakinya menuju rumah .
Tanpa bertanya pak Nurdin mengikuti cucu tuannya itu .
Keduanya segera masuk ke kamar Jidan , Jidan lalu menceritakan tentang semuanya pada orang kepercayaan tuan Gunawan itu .
" Apa !? , Bagaimana bisa , tuan akan Sangat khawatir mendengar hal ini " ucap pak Nurdin penuh kekhawatiran .
" Ini sudah terjadi sekarang yang bisa kita lakukan adalah pencegahan agar tidak ada rute lain yang di tempuh Dila saat kembali agar kita bisa dengan mudah mengawasinya , bapak bisa lakukan itu ? " Tanya Jidan .
" Akan saya usahakan tuan muda " jawab pak Nurdin .
" Dan buat Dila tinggal di sini setelah pulang agar kita bisa melindungi dan mengawasi setiap orang yang berhubungan dengannya " ucap Jidan .
" Itu akan sulit , bagaimana caranya ? " Tanya pak Nurdin .
" Kita butuh kerjasama kakek " ucap Jidan sambil menghela nafas panjang .
" Tapi bukankah tuan akan tahu apa yang terjadi jika begitu " ucap pak Nurdin .
" Tidak ...kakek tidak akan bertanya apapun jika itu cara untuk membuat Dila tinggal di rumah ini " ucap Jidan .
" Bagaimana ? " Tanya pak Nurdin .
" Dila tidak bisa mengabaikan seseorang , suruh kakek berpura-pura sakit agar dia mau tinggal di sini " ucap Jidan seraya mengelus pelipisnya .
" Tuan muda sangat mengenalnya " ucap pak Nurdin sambil tersenyum .
" Karna aku mengenalnya aku jadi khawatir , dia bisa dalam bahaya karena pekerjaanku " gumam Jidan .
" Itu bukan salah tuan muda , jika Dila tahu dia tidak akan pergi dengan orang itu " ucap pak Nurdin .
Jidan terdiam sejenak mendengar perkataan pak Nurdin .
" Dila mengatakan padaku , butuh keberanian yang besar untuk menerima diriku seutuhnya " ucap Jidan sambil tersenyum masam .
" ku rasa sebagai seorang putri dari prajurit dia lebih tau apa yang akan ia hadapi jika bersamaku "
" Dan saya rasa Nona Dila memiliki hal itu , anda tahu dia begitu berani merelakan tuan saka saat dia bisa memilih hal lain " cerita pak Nurdin .
__ADS_1
" Ya..aku tahu dia adalah seorang pemberani " jawab Jidan sambil tersenyum masam .