Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
35 . ciuman pertama yang tercuri


__ADS_3

Sebuah pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional Husain Sastranegara . Pesawat dari Ambon itu tiba pukul sepuluh pagi di hari Senin .


Sekelompok pendaki keluarga di pintu kedatangan . Nampak Dila dengan wajah bantalnya berjalan dengan santai di samping Mike .


Ia memang jadi akrab dengan Bule satu itu , selain karena ia bisa berbahasa Indonesia pria itu ternyata menyenangkan dan mudah akra. dengan siapa saja .


" Nona Dila ..." Sebuah suara membuat Dila yang tengah asyik mengobrol menoleh .


" Pak Nurdin ? " Dila heran melihat supir tuan Gunawan ada di tempat itu .


" Bapak sedang apa ? " Tanya Dila .


" Saya menunggu nona " ucapnya .


" Hah..? ! " Tanya Dila heran .


" Tuan meminta saya menjemput anda " ucap pak Nurdin .


" Non...tuan sakit , ia terus menanyakan nona Dila " ucap pak Nurdin .


" Apa kakek sakit ? , Sejak kapan ? " Tanya Dila .


" Sudah tiga hari " Jawab Pak Nurdin .


" Tapi beliau tidak mau di rawat , dia terus menanyakan non Dila " lanjut pak Nurdin .


" Kalau begitu ayo kita pulang " ucap Dila cepat .


" Kak Dedi kak Ivan aku duluan ada perlu , Nanti ku telp ! " Seru Dila pada rombongannya .


Ivan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dila .


Rumah tampak sepi saat Dila tiba di rumah mewah tuan Gunawan . gadis itu melangkah dengan cepat menuju kamar pemilik rumah mengikut langkah cepat pak Nurdin .


" Tok tok tok


Pak Nurdin mengetuk pintu kamar tersebut .


" Tuan ....saya datang bersama Nona Dila..." Seru pak Nurdin seraya membuka pintu kamar .


Dila melangkah mendekati tempat tidur tuan Gunawan . Dilihatnya lelaki itu tengah bersandar pada bantal .


" Kakek sakit ? " Tanya Dila seraya meraih tangan tuan Gunawan .


" Tidak ..hanya sedang merasa bosan " jawab tuan Gunawan dengan malas .


" Kenapa ? " Tanya Dila seraya melepaskan ransel besarnya . Gadis itu menatap wajah tuan Gunawan yang nampak pucat .


" Ach.. tidak apa apa , kau kemana saja ? , Apa kau baik baik saja" tanya Tuan Gunawan tanpa menjawab pertanyaan Dila .


" Oh...aku hanya mencari udara segar " jawab Dila sambil tersenyum .


" Dila... tinggallah di rumah ini , kakek selalu di marahi eyangmu dalam mimpi " ucap tuan Gunawan sambil menatap Dila dengan wajah memelas .


Dila terdiam sambil memandang tuan Gunawan . Hatinya yang lembut tergelitik . Tinggal di rumah itu berarti ia harus bertemu dengan Jidan setiap hari saat pria itu tidak sedang bertugas .


" Uhuks..uhuks" tuan Gunawan terbatuk batuk .


" Ya ya baiklah aku akan tinggal di rumah ini " jawab Dila cepat .


" Benarkah ? , Kau tidak bohong bukan ? " Tanya tuan Gunawan .


Dila menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum manis .


" Kau cucu terbaik " ucap tuan rumah seraya mengusap kepalanya . Dila sangat terharu mendengar kata kata itu .


" Tapi kek..Dila akan pulang sebentar mengemasi barang barang milik Dila " ucap Dila beberapa saat kemudian .

__ADS_1


" Tidak...Non biar saya saja yang mengambil barang-barang Nona ke rumah , Sekarang nona istirahat dulu , ayo saya antar ke kamar Nona " ucap pak Nurdin yang berada di ruangan tersebut .


" Benar kau tampak lelah " ucap tuan Gunawan.


" Baiklah... kakek istirahatlah , aku akan kembali setelah selesai mandi " ucap Dila Seraya meraih ransel besarnya dan berjalan keluar kamar .


Diluar kamar sudah ada seorang pelayan wanita hampir sebaya dengan pak Nurdin dan seorang pelayan lelaki yang segera meminta ransel besar Dila seraya membawanya ke lantai dua .


" Non Dila ini bu Narti kepala pelayan di rumah ini " pak Nurdin mengenalkan Bu Narti .


" Halo Bu saya Dila " Dila mengulurkan tangannya .


" Halo Nona panggil saja saya Narti " ucap Bu Narti sambil membungkuk .


" Tidak boleh begitu , ibu lebih tua dari saya , dan panggil saya Dila " ucap Dila ramah .


Bu Narti memandang wajah Dila dengan haru , lalu memandang pak Nurdin meminta pendapatnya .


" Turuti saja perkataannya " ucap pak Nurdin .


" Oh ya Non Dila Bu Narti akan mengantar Nak Dila ke kamar sementara itu saya akan mengambil barang anda " ucap pak Nurdin .


" Baiklah..." Jawab Dila .


" Eh pak...cukup beberapa pakaian dan laptop saja , yang lain nanti saya bereskan sendiri " pinta Dila sambil berjalan mengikuti Bu Narti .


" Baik Non.." jawab pak Nurdin yang segera melangkah pergi menuju garasi .


* * *


" Nona ini kamar anda " ucap Bu Narti sambil membuka pintu kamar yang pernah di pilih Dila .


Mereka masuk ke dalam . Dila terkejut melihat desain kamar itu telah berubah . Sebuah sofa berwarna biru muda , sebuah meja kecil dan TV ada di kamar tersebut . ranjang kamar juga bernuansa biru .


Dila memandang takjub kamar tersebut yang di desain mirip dengan miliknya di Sukabumi .


Dila mengikuti Bu Narti menuju ruang ganti , di ruang kecil itu terdapat lemari sepatu dan tas dari kaca , sudah ada beberapa barang branded di dalamnya .


Dila membuka pintu lemari pakaian , gadis itu memandang Bu Narti sambil mengernyitkan dahinya .


" Semua yang disini adalah milik Nona" ucap Bu Narti sambil tersenyum .


Dila terdiam , hadiah itu terlalu berlebihan untuk dirinya , namun ia tak ingin tuan Gunawan kecewa .


" Ini terlalu banyak " gumam Dila .


" Nona...


" Panggil saja Dila Bu.." sanggah Dila .


"Ba baik nak Dila , apa ada yang anda perlukan ? Atau inginkan ? " Tanya Bu Narti .


Dila menggeleng , ia memang merasa penat dan ingin istirahat sebentar saja .


" Baiklah jika begitu , saya akan pergi , handuk dan perlengkapan mandi ada di lemari paling ujung " ucap Bu Narti seraya pamit dan keluar kamar .


Dila segera masuk kamar mandi setelah mengambil handuk , gadis itu segera membersihkan diri .


Jidan baru selesai berolahraga dan hendak ke kamarnya untuk membersihkan diri saat di lihatnya Bu Narti menuruni tangga sambil tersenyum .


" Bu Narti tolong siapkan jus untukku " ucap Jidan sebelum Bu Narti menghilang dari pandangannya .


" Baik tuan muda " jawab Bu Narti .


" Apa ada tamu , kenapa bibik ke atas ? " Tanya Jidan sambil menatap heran .


" Oh Nona Dila akhirnya mau tinggal di rumah ini " jawab Bu Narti sambil tersenyum .

__ADS_1


Jidan terpaku di tempatnya . Pria itu terdiam sambil memandang Bu Narti yang berjalan menuruni tangga . ternyata rencana mereka berhasil , gadis itu masih saja memiliki perasaan selembut awan bisik hati Jidan .


Beberapa saat kemudian Jidan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya , namun entah mengapa ia justru menuju ke kamar Dila , beberapa hari lalu ia memang melihat seorang desain interior ke rumah dan merapikan sebuah kamar tamu yang katanya untuk Dila , kamar itu terletak di sebelah kamar Tania .


Pintu kamar Dila tidak tertutup rapat , Jidan segera membuka pintu itu lebar lebar .


Dila yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya berbalut handuk terkejut melihat sosok yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar .


Keduanya terdiam karena terkejut , Jidan tidak menyangka akan mendapati Dila dalam keadaan seperti itu , Dila tersadar langsung berlari menuju ruang ganti .


" Kau..apa yang kau lakukan ! " Bentak Dila dari ruang ganti . Jidan masih terpaku di tempatnya , pemandangan tadi membuat darahnya berdesir .


" Bisa bisanya kau masuk ke kamar seorang wanita tanpa mengetuk pintu " oceh Dila sambil berganti pakaian . Jidan hanya terdiam .


Tidak ada suara di ruangan itu , hanya terdengar suara pintu lemari yang terbuka dan tertutup .


" Apa kau masih di sana ? " Pertanyaan Dila membuat Jidan sadar dari lamunannya .


" Ya?? , Ya...." Jawab Jidan gagu .


Dila keluar dari ruang ganti dengan menggunakan sebuah kaos longgar dan celana legging panjang , rambutnya yang basah tergerai begitu saja dengan berantakan .


Jidan terpaku ini pertama kali baginya melihat Dila yang baru mandi dengan rambut basahnya . Meski kini gadis itu telah berpakaian lengkap tapi sosok Dila berbalut handuk masih melekat di matanya .


" Kenapa kau kemari ? " Tanya Dila dengan nada biasa seolah olah tidak terjadi apa-apa .


Jidan menatap lekat lekat wajah cantik Dila , aroma lembut shampoo dan wangi tubuhnya seakan menjadi magnet baginya . Pemuda itu berjalan perlahan mendekatinya . Dila hanya terpaku di tempatnya , dadanya kembali berdesir menerima tatapan dalam mata elang Jidan .


" Apa maumu ? " Gumam Dila seraya melangkah mundur menyadari Jidan terus saja mendekatinya .


Dila terpojok di dinding kamar , Jidan mengurung tubuh mungil itu dengan tubuhnya . Dila tertunduk , mencoba menahan degub jantungnya yang tak menentu . kaos tanpa lengan yang basah oleh keringat menampilkan otot otot lengan dan dada Jidan . membuat pria itu terlihat keren di matanya .


" Kau habis mendaki ? " Tanya Jidan sambil menatap Dila dengan dekat


" Kenapa kau kemari , pergi sana ! " Bentak Dila tanpa menatap wajah Jidan .


" Aku mencium aroma gunung , itu sebabnya aku kemari " bisik Jidan lembut sambil tersenyum melihat Dila yang salah tingkah .


Dila mendongakkan wajahnya mendengar perkataan Jidan . Mereka saling menatap . Dada gadis itu kembali berdebar saat kedua mata mereka bertemu .


" Jika jantungmu berdebar saat menatapnya dia adalah sunset dan sunrise dalam hidupmu " perkataan Ivan di puncak Binaiya kembali terngiang di telinganya .


" Tidak..itu hanya karena dia sangat tampan " sanggah hati Dila .


Jidan menatap lekat wajah Dila yang merona , pipinya yang putih kemerahan dan bibir merekah itu menggoda imannya .


Cup ! , Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Dila , Dila membelalak karena terkejut . Ia menatap Jidan yang tersenyum manis sambil berbalik dan melangkah pergi .


" Kunci pintumu jika kau tidak ingin di terkam singa" ucapnya sambil keluar kamar .


Dila masih terpaku di tempatnya , ia merasa kini ia hidup tanpa jantung , jantungnya terlepas saat kecupan hangat bibir Jidan mendarat di bibirnya .


Dila memegang bibirnya sesaat kemudian .


" Dasar mesum ! , kau adalah singa itu ! " Bentak Dila entah untuk siapa . Ia hanya sediri di kamar itu .


Dila berlari menuju pintu dan menutupnya . gadis itu berjalan gontai menuju ranjang , kakinya lemas .


" Oh... ciuman pertamaku " gumam Dila penuh sesal sambil menjatuhkan dirinya di ranjang .


" Kenapa dia mencuri ciuman pertamaku " gumam Dila sambil menutup wajahnya dengan bantal .


Gadis itu terdiam sambil memejamkan matanya . hilang sudah kantuk yang tadi menyerangnya . Gadis itu tidak tau bagaimana perasaannya saat itu .


Di tempat lain Jidan tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin , ia mengutuki dirinya yang tak bisa menahan diri . Entahlah apa yang dipikirkan Dila tentang dirinya kini .


" Dila.. kenapa kau membuat aku hilang akal " gumam Jidan sambil terpaku di bawah shower yang mengalir .

__ADS_1


Bukan hanya kali ini ia melihat wanita berpakaian sexy , ia selalu biasa saja . tapi entah mengapa bayangan Dila yang hanya terlilit sebuah handuk membuat darahnya memanas .


__ADS_2