Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
72 . seperti inikah rasanya


__ADS_3

Dila masih terjaga meski biasanya ia akan langsung tertidur begitu meminum obat . percakapannya dengan Bima membuat ia tak kunjung terlelap . ia kembali mengingat percakapan mereka tadi dengan jelas .


" aku mendengar semuanya ....aku tahu om Adit menyelidiki kasus Jidan kembali . sebenarnya ada apa ?" tanya Bima .


" aku bertemu seseorang yang sangat mirip dengan dia " jawab Dila singkat , namun membuat Bima ternganga lebar .


Bima terpaku sambil menatap Dila yang tengah bercerita panjang lebar . gadis itu menceritakan kejadian yang menimpanya saat berada di malang .


" bagaimana jika dia lupa semua tentangmu karena sebuah kejadian ? , atau Dia tak lagi seperti Dulu ? " Bima berkata setelah terdiam beberapa saat .


" bagiku dia kembali dengan selamat itu sudah cukup , masalah dia melupakan aku , atau tidak bisa mengingatku itu hal yang berbeda " Jawab Dila seraya menarik nafas panjang .


" apa yang akan kau lakukan sekarang ? " tanya Bima kemudian .


" aku tidak tahu , pikiranku benar benar buntu . kami bahkan kehilangan jejaknya " jawab Dila dengan wajah sedih .


" aku akan membantu , mungkin sesuatu memang telah terjadi " ucap Bima setelah terdiam beberapa saat .


" tapi Dila...pernahkah kau berfikir apa yang akan terjadi antara Jordi dan Jidan jika dia benar benar kembali ? . apa kau tahu Jordi mungkin mencintaimu ...


" Oh dia sudah mengatakan perasaanya padamu ? " Sambung Bima menangkap ekspresi wajah Dila setelah tidak jadi jadi menyelesaikan kalimatnya .


" bagaimana perasaanmu padanya ? " tanya Bima kemudian . Dila hanya menggeleng .


" Kau sungguh tidak memiliki sedikit saja rasa terhadap Jordi ? " Tanya Bima mencoba mencari tahu .


" Aku tidak tahu kak Bim....,. Aku sungguh sungguh tidak tahu..." Dila bergumam .


Keduanya terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing masing .


" Kakek.... meminta aku untuk mencoba mengenal Jordi lebih dekat.., aku sungguh tidak tahu harus bagaimana ? , Dan aku juga tidak bisa mengatakan kejadian ini " gumam Dila sambil menatap Bima yang duduk dengan tenang .


" Sekarang semua tergantung pada hatimu . Tidak seorang pun bisa memaksamu untuk bertahan untuk seseorang atau melepaskan seseorang . Hatimu adalah milikmu . " Bima menarik nafas panjang .


" Kau juga tidak boleh terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti . Kau berhak bahagia dan mendapatkan yang terbaik . Jika ada sedikit saja rasa di hatimu pada Jordi , apa yang di katakan Tuan Gunawan ada benarnya ...cinta bisa datang karena terbiasa . Mungkin ada takdir lain yang lebih indah dari apa yang kau harapkan " ucap Bima sambil tersenyum tenang .


" Ka Bim....." Dila menatap Bima tak mengerti .


" Kenapa ? " Tanya Bima sambil tersenyum .


" Kau pernah mengatakan ingin bersama seseorang yang tidak akan pernah membiarkan kamu sendirian . dan Jidan bukan orang seperti itu , kau sendiri pernah mengalaminya .


" Antara ini.. " Bima menunjuk dadanya " dan seragam , kau tahu pasti mana yang akan ia pilih " ucapan Bima membuat Dila terdiam .


" Dia mencintai kamu , semua orang yang mengenalnya tahu itu , tapi kau tahu dia bukan tipe budak cinta yang akan melakukan apa saja yang kau minta , dia seorang prajurit sejati yang akan selalu memilih negara di atas segalanya . mungkin Jordi akan mencintai kamu dengan cara yang lebih baik " Bima kembali berkata dengan suara hangat .


Dila menarik nafas panjang , pernyataan Bima terngiang jelas di telinganya .

__ADS_1


Dila menatap langit-langit kamar yang hanya terlihat hitam pekat karena lampu ruangan telah di matikan oleh Mak Asih sebelum wanita itu tidur . Lama pikirannya melayang , mengingat kilasan peristiwa yang telah ia lalui sejak eyang dan Jidan meninggal .


Ia mengingat setiap momen yang ia habiskan dari awal bertemu Jordi , hingga peristiwa tadi sore di lantai teratas .


Harus ia akui , Jordi adalah pria yang berbeda dari sebelumnya . Jordi yang dingin dan angkuh kini menjadi sosok yang hangat dan cair . Banyak sisi baik pria itu yang ia sukai .


Namun semua waktu yang mereka habiskan , tidak mampu mengubur kerinduan ataupun rasa yang ia punya untuk Jidan .


Benar ia merasa nyaman berada di dekat Jordi . Tapi hanya sebatas itu . Iapun merasakan kenyamanan itu saat bersama Ivan atau Bima . baginya Jordi adalah sahabat baik , Dan karena hal itu kadang ia merasa bersalah saat Jordi seakan menaruh harapan yang tinggi pada hubungan mereka .


" Jordi baik ,wajahnya pun bahkan lebih tampan dari Jidan , lebih mapan secara finansial . Dia selalu ada untukmu . Menemanimu saat kamu terpuruk . apa lagi kurangnya ? " Itulah yang pernah Ocha katakan .


ia sendiri tidak tahu apa sebabnya , mungkin karena Jidan adalah cinta pertamanya , maka sulit untuk di lupakan . tak dapat di pungkiri , sebelum kejadian di resort malang yang mempertemukannya dengan seseorang yang sangat mirip dengan Jidan ia ingin menata Hati dan mencoba menerima Jordi . Namun peristiwa hari itu seperti percikan api yang kembali menyalakan mimpi yang telah susah payah ia padamkan . apa seperti ini rasanya mencintai dengan berlebihan , kau bahkan tetap menjaga rasa meski yang kau dapat hanya sakit dan kecewa . kenapa ia harus mencintai Jidan begitu besar .


" apa itu sungguh kamu ? , Di mana kau kini ? " gumam Dila sembari memejamkan mata yang mulai lelah . gadis itupun akhirnya tertidur setelah pikirannya lelah berkelana dengan segala harap dan do'a yang Ia panjatkan dalam hati .


********************


Cahaya bulan separuh memberikan cahaya temaram malam itu . Di cakrawala ribuan bintang bersaing memamerkan cahaya indahnya pada penghuni bumi , berkerlipan dengan indahnya .


Jordi tengah terbaring sambil menatap ribuan bintang di langit , matanya nyalang mencari cahaya paling terang selain rembulan di atas sana .


Awalnya ia ingin langsung ke RS , bertanya pada Dila tentang tuan Gunawan , namun ia membatalkan niatnya karena sang mama menelpon dan memintanya untuk pulang cepat malam itu karena ingin membicarakan sesuatu .


Jordi menarik nafas panjang , ia kembali teringat perbincangannya dengan sang mama setelah selesai makan malam beberapa waktu lalu .


" Mama telah berbincang bincang dengan kakek , sepertinya dia akan mendukung hubunganmu dengan Dila , jadi kau tidak usah khawatir tentang hal itu " sang mama berkata lembut sambil menatapnya .


" Mama meyakinkan kakek untuk berbicara pada Dila tentang hubungan kalian " lanjutnya .


" Kenapa mama melakukan hal itu ? " Tanya Jordi dengan kecewa .


" Terus mau gimana ? , Kamu mau menanti Dila sampai kapan ? . Hanya kakek mu yang bisa membujuk Dila , kamu tahu ini sudah hampir setahun , apa kamu yakin bisa membuat Dila berkata ya ? " Nyonya Nisa menarik nafas dalam-dalam .


" Percaya pada mama..., Ini cara terbaik agar Dila dan kamu bisa bersama " lanjut nyonya Nisa sambil tersenyum hangat padanya .


" Bukan begitu....


" Mama tahu kamu sangat menyayanginya , dan juga apa kamu rela melepas saham perusahaan begitu saja pada orang lain yang tidak tahu asal usulnya ? " Tanya nyonya Nisa sambil menatap wajah Jordi dengan seksama .


" Ma...bukan itu alasanku bersama dengan Dila " Jordi berkata dengan pelan .


" Mama tahu....., Itu sebabnya mama akan membantumu " ucap nyonya Nisa sambil beranjak dari duduknya .


" Bagaimana jika Jidan masih hidup ? " Kata kata Jordi membuat nyonya Nisa kembali duduk .


" Apa maksudmu ? " Nyonya Nisa menatap wajah Jordi tajam .

__ADS_1


" Jika Dila terpaksa menerima cintaku karena kakek , lalu tiba tiba Jidan kembali , bukankah itu tidak adil untuk mereka ? " Jordi berucap pelan seolah hanya bergumam pada diri sendiri .


" Dari mana datangnya pemikiran seperti itu ? " Nyonya Nisa menatap wajah Jordi dengan iba .


" Apa itu yang di yakini Dila ? " Tanyanya kemudian . Jordi hanya membisu , ia tidak ingin membuat berita yang belum pasti menyebar dalam keluarga .


" Karena itu dia belum juga bisa menerima dirimu ? " Tanya sang ibu lagi .


Nyonya Nisa meraih tangan Jordi yang berada di atas meja , lalu membelai perlahan .


" Kamu harus kuat , setebal apapun seorang wanita bertahan dalam cinta yang telah usai , hatinya akan luluh pada ketulusan dari seseorang " ucap nyonya Nisa dengan lembut .


" Dila bukan tipikal wanita yang mudah luluh.., dia lembut tapi teguh pendirian " jawab Jordi sambil menarik tangannya dari genggaman sang ibu .


" Masa pesimis gitu sih...semangat dong..! , Kamu tahu wanita itu suka jika di perjuangkan " nyonya Nisa berusaha menghibur .


" Mama dulu juga pernah cinta mati pada seseorang , tapi kasih sayang papamu merubah semuanya . Jujur bahkan setelah menikah , mama masih cinta pada orang itu , namun kemudian mama sadar , yang mama butuhkan adalah seseorang yang selalu berada di sisi kita . Semakin dewasa kita akan mengerti , tidak semua keinginan , impian dan perjuangan berbalas sesuai harapan dan impian . Namun kita harus percaya Do'a dan usaha akan membuat Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita . Lalu mama sadar...ayahmu adalah lelaki terbaik yang dikirim Tuhan untuk menjaga mama . Bisa saja Dila akan jatuh cinta padamu setelah kalian menikah , itu juga mungkin kan ? , Yang Dila butuhkan saat ini adalah seseorang yang menerima ia dengan sepotong hatinya yang masih menyimpan nama Jidan " sang mama berkata panjang lebar .


" Aku tidak yakin....


" Harus yakin..., Akan sulit pada awalnya tapi kamu jarus bijaksana dan bersabar dalam hal ini , percayakan pada mama dan kakek " nyonya Nisa mengerling pada Jordi .


" Kenapa kakek begitu ingin Dila menjadi menantu keluarga kita ? " Tanya Jordi


" Karena itu impian kakek buyutmu yang belum jg terwujud , kakek tidak ingin meninggalkan dunia ini sebelum melunasi sebuah janji " jawab nyonya Nisa .


" Hanya itu.. saja ? " Tanya Jordi .


" Ada hal lain..., Kamu tahu bagaimana kakek begitu menyayangi Dila bukan ? . Karena dia satunya keturunan eyang Saka Arifin yang ingin ia lindungi dengan segenap hatinya . Ada hutang Budi yang tak bisa di balas meski dengan nyawa sekalipun , kamu tidak akan mengerti . intinya... Saat ini yang perlu kamu lakukan adalah bersikap baik pada Dila , jika ada hal yang akan terjadi kedepannya percayalah itu adalah yang terbaik untuk kalian , mengerti " nyonya Nisa menatap lembut wajah Jordi .


Jordi hanya terdiam sambil mengangkat kedua pundaknya .


" Hufff......." Hembusan keras nafas Jordi kembali terdengar , memecah kesunyian malam yang semakin larut .


" Apa yang sedang di rencanakan mereka " gumam Jordi sambil menatap bintang malam . Pria itu pada akhirnya memilih untuk mengakhiri hari yang panjang dengan kembali ke kamarnya .


Namun setelah lama berbaring ia masih belum bisa memejamkan mata . Kata kata sang mama , dan peristiwa di lantai atap rumah sakit terlintas di benaknya .


Bahkan setelah ia bersikap begitu lunak , menghiba dan mengharap cinta Dila , gadis itu masih juga tak bergeming . Apakah yang akan terjadi jika sang kakek yang memintanya ? , Apa ia akan mendapatkan kesempatan yang ia tunggu ? .


Kenapa begitu sulit mendapatkan hati Dila , kenapa seolah ada dinding tebal yang sengaja ia bangun agar tak dapat di tembus . Benarkah seseorang bisa begitu mencintai teramat dalam ?


Ia pernah merajut mimpi indah bersama Clarisa , mencintai gadis itu dengan dalam hingga rela melepas semua yang ia punya , pada akhirnya cinta itu luruh dengan mudah . Ia bahkan dengan cepat melupakan rasa sakit karena penghianatan Risa , tidak lama baginya untuk tenggelam dalam fase " patah hati " . Apakah itu artinya selama ini ia tidak mencintai Risa dengan dalam ? . Atau karena cara mereka berpisah yang berbeda dengan cara Dila dan Jidan berpisah ? Entahlah....


Dengan Dila...tak satupun saat indah dan romantis tercipta , terkecuali 2 detik terhangat di malam itu . Ach...Jordi tersenyum mengenang peristiwa itu . Selain hal itu , semua hal berlalu dengan hal " kecil tapi ia sendiri begitu menikmatinya . Ya...bersama Dila ia merasa lebih hidup , lebih rileks..bahkan merasa cukup bahagia hanya dengan menyentuh tetesan hujan dari sebuah tenda penjual mie ayam .


" Apa itu cinta yang sesungguhnya ? " Jordi kembali tersenyum kecil mengenang peristiwa demi peristiwa yang ia lalui saat menghibur Dila yang tengah berada pada fase patah hati ketika kehilangan Jidan , peristiwa itu justru menjebaknya dalam rasa yang begitu dalam .

__ADS_1


Rasa yang berusaha ia tepis awalnya , namun semakin hari semakin tumbuh subur hingga merubah ia yang dulu begitu menjaga gengsi kini seakan tak memiliki daya di depan gadis itu . ia bahkan rela menerima Dila seutuhnya dan tetap bersama dengan gadis itu meski belum ada cinta di hati Dila untuknya .


Ach.... seperti ini rasanya ? , Seperti inilah cinta yang sesungguhnya , ia bahkan rela menukar seisi dunia hanya untuk bersama dengan Dila seorang . haruskah ia menuruti kata kata sang mama . apakah Dila akan merubah keputusannya selama ini jika sang kakek yang memintanya .


__ADS_2