
Sehari sebelumnya
Di sebuah rumah sederhana di desa kecil Tak jauh dari Villa .
Purwanto Bersiap untuk berangkat ke desa sebelah dengan motor bututnya .
" Mas jangan lama lama di sana ! " Seru intan sang adik yang duduk di kelas dua SMU .
" Ya...kamu jangan nakal saat aku pergi , dan bantu Yono mengerjakan tugas sekolah " ucapnya pada sang adik .
" Aku berangkat dulu pak .." ucapnya seraya melangkah keluar dari rumah . Rumah kecil yang di bangun berkat bantuan program bedah rumah dari pemerintah .
Suara bising motor bututnya memecah kesunyian malam di desa itu .
Seperti biasa , satu bulan sekali ia akan pergi ke tempat seorang tabib pengobatan tradisional untuk menebus obat dan melakukan check up .
Ada alasan yang kuat kenapa ia tidak pergi ke rumah sakit , meski hatinya selalu menyangkal hal itu .
Sebenarnya Purwanto tidak bisa mengingat apapun setelah bangun dari pingsan hampir satu Minggu . Seorang pemborong yang merupakan teman akrab ayahnya menemukan dirinya pingsan di sebuah lahan kosong yang akan di bangun sebuah resort di pinggiran kota Bandung .
Dengan keadaan terluka parah , dan kaki patah . Saat itu di sekitar tempat itu sedang ada patroli yang mengejar anggota gembong narkoba . Sahabat ayahnya yang bernama Bejo yang menemukan dirinya juga menemukan sekantong bubuk putih yang yang menurut sang istri yang merupakan seorang bidan adalah narkoba . Karena ingin melindungi dirinya mas Bejo segera menyembunyikan dirinya .
Lalu mereka membawa Anto ke seorang ahli pengobatan tradisional dan sangkal Putung untuk di rawat . Seminggu lebih Anto pingsan dan hanya di infus sambil di beri obat obatan herbal .
Mas Bejo yang merupakan adik angkat ayahnya lalu mengabari sang ayah . Tentu saja lelaki itu sangat senang anaknya yang minggat sepuluh tahun lebih telah di temukan . Sayang , saat ia terbangun ia bahkan tidak ingat namanya sendiri .
Untuk melindunginya sang ayah menitipkan Anto pada Simbah panggilan untuk pemilik klinik pengobatan Tradisional itu . Enam bulan Anto di rawat untuk mengobati tulang pahanya yang patah . Dan pengobatan luka luka di tubuhnya . Ia juga mengalami cedera kepala yang lumayan parah .
Menurut Simbah ada saraf di kepalanya yang mengalami luka hingga ia tidak bisa mengingat apapun , untuk itu Anto harus minum ramuan herbal agar sakit kepala yang sering ia rasakan cepat sembuh dan ingatannya kembali .
Setelah hampir dua jam mengendarai motor bututnya Anto tiba di rumah Simbah . Setelah bertegur sapa dan berbincang bincang ia segera menuju pondok kecil yang berderet di belakang rumah , tempat beberapa orang yang mengalami patah tulang di rawat di sana .
Simbah sendiri tidak pernah meminta mahar padanya karena tahu kondisi ekonomi keluarganya , untuk membalas kebaikannya Anto sering melakukan pekerjaan apa saja saat datang ke rumah besar milik Simbah .
Parasnya yang tampan dengan postur tubuh yang sangat ideal membuat beberapa anak gadis di desa itu tertarik padanya . Bahkan anak Simbah juga menyukai dirinya .
Namun entah kenapa Anto sama sekali tidak tertarik pada wanita-wanita itu , hatinya terasa kosong dan terkadang ia merasa sangat sedih seakan akan ia tengah merindukan seseorang .
Anto membaringkan tubuhnya di sebuah dipan bambu di halaman pondok . Matanya menerawang jauh ke langit malam yang di penuhi bintang . Perjumpaannya dengan wanita kaya tadi sore telah mengusik hatinya .
Untuk pertama kali sejak ia sadar , Ia merasa dadanya berdebar memandang mata bulat yang indah itu . Wajahnya yang ayu , kulitnya yang putih mulus menari nari di pelupuk matanya .
Awalnya ia berfikir karena wanita itu cantik , seperti artis sinetron . Tapi bahkan saat melihat bintang film seperti Rianti Cartwright tidak membuat jantungnya berdesir seperti sore tadi , meski ia hanya melihatnya dari layar kaca .
" Apa yang kau pikirkan Anto...dia orang kaya , dan lagi dia itu istri dari seseorang "Gumam pemuda itu dalam hati .
"Wulandari Ratnadila ..., Kenapa namanya terasa tidak asing ? " Anto bergumam pelan .
" Siapa itu mas ? " Suara Dewi membuat Anto menoleh .
" Kamu Wi.. mengagetkan saja " ucap Anto seraya bangkit dari tidurnya , ia lalu duduk bersila di di dipan bambu itu .
Dewi menyuguhkan secangkir teh hangat , ia tahu pemuda itu tidak suka kopi .
" Siapa orang yang bernama Wulan mas ? " Dewi kembali bertanya dengan curiga .
" Oh...hanya orang kaya yang berjalan jalan di resort dekat kampung kami , dia tersesat sampai ke kebun " jawabnya sambil tersenyum .
__ADS_1
" Cantik ya..? " Tanya Dewi .
" Orang kota kan cantik cantik wi.." jawab Anto .
" Ya jelas lah ...bedaknya aja mahal " sahut Dewi dengan nada iri . Anto hanya tersenyum melihat reaksi gadis itu .
Anto tahu Dewi diam diam menyukai dirinya . Gadis yang baru lulus SMU itu selalu mencari perhatian darinya , ia memang anak bungsu Simbah dari istri keduanya .
" Terimakasih tehnya tapi lain kali tidak usah membuatkan aku teh , aku bisa buat sendiri " ucap Anto kemudian .
" Nggak apa apa mas , aku nggak keberatan kok , ya udah mas aku kerumah dulu ya " ucap Dewi sambil berlalu .
" Makasih wi " ucap Anto .
Malam makin larut , Anto masuk ke pondok , berbaring di ranjang pasien yang kosong ,
Di belakang rumah ada empat pondok , masing masing berisi dua ranjang rumah sakit untuk dua pasien , kadang semua penuh tapi kebetulan malam ini hanya tiga pondok yang terisi dan satu pondok kosong , Anto bisa tidur di sana . Saat semua pondok penuh , Anto akan tidur di mushola .
Anto mengambil selimut yang di bawanya dari ransel , lalu mulai memejamkan matanya . Karena lelah ia mulai tertidur pulas .
Dalam tidurnya Jidan bermimpi melihat gadis cantik yang ia temui tengah berlari dengan gembira di sebuah Padang rumput .
Beberapa kilasan peristiwa hadir di mimpinya , dalam mimpi itu ia begitu akrab dengan gadis tersebut .
Anto terbangun dari tidurnya dengan terkejut , ia melihat jam dinding yang tergantung , masih pukul dua malam .
" Kenapa aku bermimpi tentang dia " gumamnya seraya duduk di ranjang .
" Mata itu menatapku dengan tatapan yang sama saat itu " gumam Anto sembari kembali berbaring .
Selama ini ia sering bermimpi buruk , melihat mobil meledak sedangkan masih ada seseorang di dalamnya , lalu ia di berondong peluru , dan hal hal lain yang membuat ia merasa tersiksa , namun mimpinya malam ini adalah suasana damai dan indah dengan seorang gadis . Mimpi itu terlihat nyata , hingga saat ia terbangun hatinya masih berdebar .
" Argh....!" Pemuda itu menggaruk kepalanya karena bingung .
" Apa sebaiknya aku menemuinya , apa yang akan ku katakan ? " Pikir Anto .
Tok tok tok
Sebuah ketukan pintu membuat Anto terkejut . dengan heran pemuda itu turun dari ranjangnya dan membuka pintu .
" Mas Tito ada apa ? " Tanyanya heran melihat kedatangan anak dari kakak ayahmya .
" Ada surat dari Bapakmu " ucapnya dengan berbisik bisik . Anto mengernyitkan keningnya melihat cara bicara Tito .
" Kenapa Bapak mengirimi aku surat ? " Tanya Anto .
" Bacalah kau akan mengerti " ucapnya .
Dengan penasaran Anto membuka surat yang dikirim ayahnya .
𝑳𝒆...
𝒕𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒂𝒌 𝒍𝒖𝒓𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 , 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒕𝒂 𝒑𝒐𝒍𝒊𝒔𝒊 . 𝒊𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊 . 𝑴𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑 .
𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒋𝒂𝒓𝒂 , 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒖𝒍𝒖 . 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒊 𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒊𝒌 𝒂𝒅𝒊𝒌𝒎𝒖 ,𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 .
𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒐'𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏𝒎𝒖 .
__ADS_1
𝑷𝒆𝒓𝒈𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒆 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒆𝒓𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒌𝒂𝒃𝒖𝒎𝒊 , 𝒅𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒃𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒌𝒆𝒃𝒖𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒍𝒐𝒍𝒂 𝒔𝒂𝒘𝒂𝒉 , 𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒐𝒔𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒊𝒌 .
𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒃𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌 . 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒕𝒖𝒔 𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒅𝒊 𝒎𝒂𝒏𝒂𝒑𝒖𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒅𝒂 .
𝒘𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒎
𝒃𝒂𝒑𝒂𝒌
Anto terdiam sambil melipat surat dari sang ayah .
" Ini uang buat pegangan beserta alamat rumah teman pak lek " mas Tito memberinya sebuah amplop .
" To.." suara Simbah dari luar rumah .
" Ini ..aku menyiapkan obat herbal untuk satu bulan , Dan beli saja obat cina ini saat sudah habis , khasiatnya hampir sama " Simbah yang tiba tiba muncul dari balik pintu memberinya sebuah bungkusan juga sebuah resep obat tradisional .
" Makasih Mbah..maaf saya merepotkan " ucap Anto .
" Ndak Ndak..., Nanti subuh ada pasien datang dari Cianjur , kamu naik travelnya saja ke sana , aku sudah bilang sama calon pasienku dan orangnya mau ngantar ke Sukabumi " ucapnya kemudian .
" Baik Mbah .. suwun " jawab Anto .
" Sudah jangan rame rame nanti malah ada yang curiga , bentar lagi orangnya datang kok.." ucap Simbah seraya meninggalkan mereka .
" Yo wis ngono wae, aku pamit ati ati Yo bro.." ( ya sudah aku permisi , hati hati ya bro ) mas Tito segera pergi meninggalkan pondok setelah menyerahkan sebuah tas ransel berisi pakaian miliknya .
Anto terdiam sambil menutup pintu . Ia bergegas membereskan pakaiannya dan menyatukan dengan pakaian yang di bawa mas Tito . Pemuda itu duduk di atas ranjang , entah kenapa dia merasa ada yang salah dengan hidupnya .
Satu setengah jam kemudian sebuah mobil Avanza datang , seorang pasien datang bersama keluarganya . Setelah berbincang dengan Simbah dan asistennya pasien itu segera menuju pondok yang ia tempati , tentu saja Anto sudah pergi dari sana , ia segera menemui sopir travel yang memutuskan berangkat setengah jam lagi .
☀️☀️☀️☀️☀️
Anto terbangun ketika mereka tiba di terminal kota suka bumi , ia tertidur sekitar dua jam di perjalanan . Setelah membayar ongkos yang di sepakati ia segera turun dan mencari angkot sesuai warna yang ada di petunjuk yang di berikan ayahnya .
Anto mengerjakan matanya yang silau oleh sinar matahari siang itu . Setelah ia melihat angkot yang ia cari pemuda itu segera menaikinya . Wajah wajah baru terlihat memperhatikan dirinya yang baru masuk angkot .
Sepanjang perjalanan ia hanya terdiam sambil mendengarkan percakapan beberapa penumpang yang naik bersama dengan dirinya , anehnya ia tidak merasa asing dengan bahasa Sunda yang mereka gunakan , anto justru merasa asing dengan bahasa Jawa saat pertama kali sadar dari pingsannya .
Mungkin hampir sepuluh tahun ini ia merantau ke Bandung , bukan ke Jakarta seperti yang di katakan ayahnya , begitulah pikirnya . Anto berencana mencari masa lalu yang ia lupakan di kota itu .
Sang kenek memberi tahu Anto saat telah sampai dengan tujuannya , di sebuah masjid . Di depan masjid terdapat beberapa tukang ojek sesuai informasi yang ia baca .
Seorang tukang ojek menghampiri dirinya dengan sepeda motor .
" Mau kemana kang ? " Tanya tukang ojek itu .
" Ke lumbung padi Eyang Saka " jawab Anto .
" Hayuk saya antar " tukang ojek itu menawarkan diri . Setelah bernegosiasi Anto di antar ketempat tujuan .
Sampai di lumbung Anto bertemu beberapa pegawai , singkat cerita ia akhirnya tiba di sebuah rumah milik sahabat sang ayah .
Setelah berbincang bincang Anto di beri sebuah kamar kecil yang memang kosong . Sahabat ayahnya itu hanya punya satu anak dan telah berumah tangga meski baru berusia delapan belas tahun .
Om Wira nama sahabat ayahnya , telah enam tahun mengelola sawah dengan sistem sewa dan terkadang Bekerja sebagai buruh harian di tempat orang terkaya di desa itu .
Anto memutuskan untuk berjalan jalan di sekitar rumah om Wira untuk membiasakan diri di tempat baru . ia harus menunggu beberapa hari untuk ikut bekerja di perkebunan karena sang mandor dan orang kepercayaan pemilik perkebunan tengah berlibur ke Jawa tengah .
__ADS_1
Anto berjumpa dengan beberapa pemuda yang tengah asik memancing di tepian sungai . Ia menghampiri mereka lalu berbincang bincang .
Pemuda pemuda itu sangat ramah dan menerima kehadirannya dengan sangat terbuka . Anto merasa bersyukur Dengan hal itu . Tempat barunya kini membuat ia merasa sedikit nyaman .