Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
74 . Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Anto masih terpaku tanpa berpikir apapun , Karena ia memang tidak mengenali wajah tersebut meski berusaha mengingatnya .


" Piye kabare ? " Sapaan lelaki yang kini mengambil tempat duduk di depannya hanya ia balas dengan senyum hangat .


" aku mas Bejo , mas Bejo " bisik lelaki berumur sekitar 35 tahun tersebut .


" Lha kamu ngapain di sini ? " Tanya lelaki itu setengah berbisik .


"Oh..mas Bejo..., Maaf mas saya....


" Ya aku sudah dengar dari Simbah kondisimu , aku dengar kamu merantau kesini , kebetulan kita bertemu " ucap lelaki itu .


" Beberapa hari lalu ada yang menyapaku di tempat kerja , sok kenal sama kamu tapi nggak aku ladeni " cerita mas Bejo sambil menghisap sebatang rokok dalam dalam .


Anto terdiam sambil menatap wajah mas Bejo yang tengah mengeluarkan asap rokok dari kedua lubang hidungnya , seperti cerobong lokomotif kereta api . Sontak udara di sekitarnya di penuhi asap putih berbau tembakau .


" Terus ada lagi orang tanya tanya juga di klinik sekitar , di tempat istriku buka praktek juga di datangi . Anehnya mereka di tanya pernah gak ada tentara yang terluka minta tolong di obati gitu...." Cerita pria itu dengan wajah bingung .


" Kapan kejadiannya mas ? " Tanya Anto penasaran .


" Tiga mingguan yang lalu kayaknya ... aku lupa " jawab mas Bejo sembari mengambil sesuatu dari dalam tas pinggang yang melekat di tubuhnya .


" Aku lupa memberikan ini saat mengantar kamu dulu " ucapnya sambil menyerahkan sebuah kalung perak yang berhiaskan liontin berbentuk hati .


" Kamu memakai ini saat aku temukan dulu " ucap mas Bejo yang melihat ekspresi wajah Anto yang bingung .


" Oh.. terimakasih mas , saya juga mengucapkan terimakasih karena mas Sudi menolong saya dulu " ucap Anto dengan tulus .


" Bapakmu sehat jangan khawatir , istriku habis dari malang seminggu lalu " cerita mas Bejo , sambil kembali menghisap rokoknya .


Mereka berdua asik mengobrol tanpa menyadari di sudut warung ada sosok yang diam diam memotret kebersamaan mereka dengan sebuah kamera handphone .


Setelah menghabiskan tehnya , Anto pamit untuk pulang . Mas Bejo memberinya sebuah kartu nama .


" Kalau mau kabur lagi itu alamat temanku di Sulawesi , dia punya peternakan ayam di sana " ucapnya sambil menepuk pundak Anto .Anto hanya terdiam sambil tersenyum masam .


" Jangan main main , Pengedar hukumannya mati atau penjara seumur hidup " bisik mas Bejo sembari menepuk punggungnya sebelum ia melangkah keluar warung .


" Aku pamit dulu mas " ucap Anto sembari melangkah pergi .


Pemuda itu segera menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan . Lalu mulai mengemudi menuju bank di mana ia tadi menurunkan Lilis .


Begitu sampai di halaman Bank di lihatnya Lilis telah menunggu di teras bank sambil berbincang bincang dengan seorang lelaki berseragam polisi . Jordi hanya terpaku di dalam mobil tak berani menghampiri Lilis .


Tak lama Lilis menyadari kehadirannya segera menyudahi percakapannya dengan polisi tersebut dan langsung berjalan ke arahnya , lelaki itu terlihat mengikuti Lilis .


" Mas Anto..kok tidak langsung memanggil saya " ucap Lilis sembari tersenyum ceria .


Mau tak mau Anto keluar dari dalam mobil agar petugas tersebut tak curiga , ia berusaha bersikap wajar .


" Ini yang namanya Anto ? " Tanya lelaki itu .


" Iya kak Wira..., Mas kenalkan dia pemuda dari kampung kita yang sukses jadi polisi hebat..." Lilis berucap dengan wajah penuh kebanggaan


" Ach..kamu ada ada saja Lis..., " Pemuda itu tersenyum malu mendengar pujian Lilis .


" Saya dengar dari orang orang kamu jadi Arjuna yang membuat banyak gadis di kampung halaman kami jatuh cinta " ucap pria itu sambil tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya .


Anto hanya tersenyum sambil menyambut uluran tangan pria itu .


"Itu kabar yang di besar besarkan " ucap Anto setenang mungkin meski ia sangat gugup .


" Dari mana asalnya mas ? " Tanya Wira sambil menatap wajah Jordi dengan seksama .


" Saya dari malang " Jawab Anto singkat .


" Oh...., saya pernah tugas di sana setahun . " cerita Wira dengan ramah .


" Teh...saya mau pamit nih..., Ada tugas " ucap polisi muda itu sambil tersenyum pada Lilis setelah melihat arlojinya .


" Yah...kami juga harus cepat pulang takut kemalaman di jalan " jawab Lilis .


Mereka saling mengucapkan salam perpisahan , lalu Wira segera meninggalkan mereka berdua .


Sepeninggalan Wira Anto segera membukakan pintu mobil untuk Lilis , keduanya kemudian meninggalkan halaman Bank yang sudah hampir tutup .


" Mau mampir kemana lagi Lis ? " Tanya Anto setelah beberapa meter meninggalkan bank.


" Saya mau cari bakso langganan ke dekat sekolahan di ujung jalan sana mas , sudah lama banget gak mampir kesana biasanya sama Dila " jawab Lilis dengan semangat .


" Baiklah..." Jawab Anto seraya melajukan mobilnya .

__ADS_1


Sekitar lima menit kemudian mereka tiba di kompleks sekolah SMU , di seberang jalan terdapat sebuah kios yang menjual mie ayam bakso . Anto memarkir kendaraannya di halaman kios tersebut .


Keduanya kemudian memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela . Seorang ibu menghampiri keduanya .


" Eh....si Eneng sudah lama gak muncul , kemana aja ? " Sapa ibu itu dengan ramah .


" Iya Bu...lg sibuk , makanya gak bisa sering main " jawab Lilis sambil tersenyum .


" Neng geulis kemana ? , sibuk kuliah atau minggat ke gunung deui ..? Tanya pemilik warung yang berumur sekitar 45an tahun itu sambil tertawa kecil .


" Lagi sibuk kuliah buk..., " Jawab Lilis sambil tersenyum .


" Lha eta' teh Saha' ? " Wanita itu mengerling pada Lilis .


" Kabogoh ? ( Kekasih ) " goda ibu tersebut .


" Lain ..." Lilis menjawab dengan wajah merona .


" Kasep pisan neng ? " ...


" Eh...giman si ibuk ini malah asik ngobrol...mau makan apa ? , Bakso ? Mie ayam ? " Tanyanya kemudian .


" Saya biasa buk.., emh mas Anto mau makan apa ? " Tanyanya .


" Saya mie ayam saja " jawab Anto sambil tersenyum mendengar percakapan Lilis yang dapat ia pahami ertinya , Lilos dan ibu pemilik pemilik warung itu terlihat akrab .


" Minumnya apa ? " Tanya ibu itu sambil tersenyum pada Anto .


" Teh botol saja..." Jawab Anto .


" Si Eneng seperti biasa ? " Tanya pemilik warung pada Lilis .


" Iya buk..., Saya es kopi aja " jawab Lilis .


Ibu pemilik warung segera pergi meninggalkan keduanya . Keduanya membisu sambil sesekali menatap jalanan yang tidak begitu ramai .


" Maaf ya mas...Bu Misye memang begitu orangnya rame " ucap Lilis sambil menatap wajah Anto .


" Tidak apa apa " jawab Anto seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi .


" Sering kesini ? " Tanyanya kemudian .


" Dulu sering ...hampir tiap weekend ,, sambil jemput Dila , sudah hampir setahun ini tidak kesini " jawab Lilis sambil merapikan anak rambutnya .


" Ya..., Dia suka makan bakso di sini , dulu SMU di sekolah depan itu " cerita Lilis .


" Kalian satu sekolah ? " Tanya Anto .


Lilis menggelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain .


" Saya cuma lulusan SMP , lalu menikah muda , tapi kemudian gagal dalam pernikahan saya " ucap Lilis sambil tersenyum kaku .


" Kenapa ? " Tanya Anto sambil menatap Lilis dalam .


Di padang Anto dalam jarak yang begitu dekat membuat Jantung Lilis berhenti berdetak untuk beberapa saat .


" maaf.." Ucap Anto memecah kesunyian .


" Tidak apa apa .." jawab Lilis gugup .


Anto tersenyum datar , dan Itu membuat pesonanya makin berlipat lipat di mata Lilis .


" Mas Anto Sudah Punya kekasih di Malang " Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Lilis membuat ia mengumpat dalam hati .


Anto hanya terdiam menatap wanita degan kulit sawo matang di depannya sesaat lalu menatap jauh ketempat lain .


" Saya tidak sempat memikirkan hal seperti itu " jawabnya kemudian karena Lilis terus saja memperhatikan gerak geriknya ,


" Mas Anto sakit ? , Saya melihat Obat yang mas bawa tadi " Ucap Lilis tiba tiba .


" kenapa tidak berobat ke dokter ? " tanyanya lagi .


" Karena tidak ada biaya " Jawab Anto dengan Santai .


" Nah....Ini dia pesanannya .." Suara Bu Misye sang pemilik Warung menyela pembicaraan mereka sambil membawa dua mangkuk pesanan , dan minuman yang mereka minta .


" selamat menikmati ..." Ucapnya setelah menyajikan makannan .


" Terimakasih Bu..." Ucap Lilis sambil tersenyum senang , sementara Anto hanya mengangguk sopan .


Bu misye hanya berlalu sambil tersenyum amah karena ada pelanggan lain yang datang ke warungnya . keduanya mulai menikmati makanan yang mereka pesan tanpa banyak bicara .

__ADS_1


setelah selesai makan dan membayar makanan pada Bu misye keduanya segera meninggalkan Warung . mereka kembali ke mobil dan memulai perjalanan pulang .


" Mas sakit apa ? " Tanya Lilis memecah kesunyian setelah keduanya hanya terdiam untuk waktu yang lama .


" Saya pernah kecelakaan " Jawab Anto singkat , entah dari mana ia mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan Lilis dengn kebohongan seperti itu .


" Oh....., Apa masih harus minum obat sampai sekarang ? " tanya Lilis sambil sesekali menoleh ke arahnya . Anto hanya menjawabnya dengan anggukan ringan .


" sebaiknya segera ke dokter , Jika kendalanya masalah biaya mas Anto bisa mengajukan pinjaman karyawan , Obat tradisional bagus tapi bukankah lebih baik memastikan keadaan dengan memeriksakan diri ke dokter " ucap Lilis setelah terdiam beberapa saat .


" terima kasih , tapi saya rasa tidak perlu , saya baik baik saja " Jawab Anto sambil fokus mengemudi .


Lilis hanya terdiam mendengar jawaban Anto . suasana kembali sunyi . Lilis kemudian memutar Siaran Radio yang memutar lagu lagu Nostalgia . perjalanan pulang mereka di iringi lagu lagu dari suara emas almarhum penyanyi Nike ardila . sesekali Lilis ikut bergumam mendengar suara Emas Penyanyi tersebut .


" Lagu Nike memang yang terbaik " Ucap Lilis sambil tersenyum melihat Anto yang sesekali melirik ke arahnya .


" Suka lagu lawas? " Tanya Anto sambil tertawa ringan .


" saya sebenarnya lebih suka poppy tapi lagu lagu tadi kesukaan mama Dila , nama Dila sebenarnya di ambil dari namamnya " Jawab Lilis seraya tertawa ringan .


entah kenapa jawaban Lilis membuat sekelebat peristiwa terlintas dalam pikiran Anto , membuat kepalanya tiba tiba sakit . mereka hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil pick up yang mengangkut sayuran dari arah berlawanan , Pria itu membanting setir ke kiri membuat mobil yang mereka tumpangi melaju ke kebun cabe yang ada di sisi jalan . beruntung tidak ada orang hingga mereka tidak menabrak siapapun .


" kamu Tidak apa apa ? " Tanya Anto dengan cemas mendapati Lilis terduduk dengan pucat di tempatnya .


lilis hanya terdiam karena terkejut , Dengan menahan nyeri di kepalanya Anto memutar kemudi dan menghentikan mobilnya di sisi jalan .


dengan sigap ia turun dari mobil , lalu membuka pintu mobil yang berada di sisi kiri , lalu menuntun Lilis untuk turun dari mobil , Ia memapah Lilis untuk Duduk di bawah sebuah pohon sambil menahan nyeri di kepalanya .


" Kamu tidak apa apa ? " ia kembali mengulang pertanyaan yang sama pada Lilis dengan wajah cemas .


lilis menggeleng pelan , ia menatap Wajah pucat Anto yang terlihat menahan sakit .


" Mas Anto sendiri ? " tanya Lilis sambil meneatap Anto yang berjongkok Di depannya .


" aku tidak apa apa " Jawan Anto sambil tersenyum datar .


keduanya terdiam sambil menenangkan diri , beberapa saat kemudian Anto berjalan ke arah mobil lalu kembali dengan membawa dua botol air mineral .


" maaf ya...." ucap Anto setelah ke4duanya menenangkan diri masing masing dari rasa terkejut .


" Tidak apa apa mas " Jawab Lilis sambil menatap Wajah anto yang masih terlihat pucat , semilir angi membuat rambutnya yang sedikit gondrong berkibar tertiup angin , membuat Pria itu terlihat begitu maskulin .


" Ach...bisa bsanya aku berpikir seperti ini saat seperti ini " Lilis memaki dirinya sendiri dalam hati .


" pemilik kebunnya tidak ada , bagaimana kita meminta maaf " Gumam Anto sambil menatap beberapa baris tanaman cabe yang rusak akibat terlindas mobil mereka .


'Apa perlu kita tanya warga yang di sebelah sana mas " Lilis menunjuk sebuah Gubuk yang masih di huni oleh beberapa orang yang memperhatikan mereka dari jauh .


" Biar aku yang bicara pada mereka " Lilis berjalan menuju gubuk tersebut tanpa menunggu jawaban dari Anto .


Anto memperhatikan langkag ringan Lilis , sambil mengingat peristiwa yang tiba tiba terlintas di kepalanya .


" ach....apa aku pernah mengalami hal itu " Gumamnya seraya menarik nafas dalam . pemuda itu merogoh kantong jaketnya lantas mengambil sebuah kalung yang di berikan oleh mas Bejo , ia menatap liontin berbentuk hati yang lalu tangannya dengan refleks mengutak atik liontin tersebut , tidak sengaja liontin itu terbuka .


Anto terkejut mendapati sebuah foto seorang gadis berparas cantik , dan seorang wanita paruh baya terdapat di dalam liontin di kalung tersebut . Ia terdiam sambil memperhatikan wajah di dalam Liontin itu .


" Sudah beres mas....ayo kita pulang " Suara Lilis membuat Anto terkejut , ia Buru buru menutup Liontin itu dan memasukkannya kedalam kantong jaketnya .


" Kita pulang sekarang ya...hari sudah sore " Lanjut lilis sambil berjalan menuju mobil . Anto hanya membisu sambil mengikuti langkah kecil Lilis menuju kendaraan mereka .


mereka kembali melanjutkan perjalanan . di sisa perjalanan mereka keduanya hanya membisu , sesekali Lilis manatap Anto yang hanya terdiam sambil menatap jalanan berliku di hadapan mereka .


mereka tiba di Rumah menjelang maghrib , Anto memilih untuk langsung pulang meski lilis menawarkan untuk tinggal hingga makan malam . lilis hanya menatap punggung Anto yang melangkah cepat meninggalkan Rumah dari arah teras .


Wajahnya Lilis terlihat lesu , ia kembali mengingat kejadian tadi saat melihat anto terdiam cukup lama sambil memegang sebuah kalung berliontin bentuk hati . dari bentuknya ia tahu itu kalung milik seorang wanita , Mungkinkah pria itu telah memiliki tambatan hati ? . Entah kenapa Mengingat hal itu hatinya merasa sedih . apa seperti ini rasanya patah hati ? ach... mereka bahkan hanya berbincang beberapa kali kenapa ia sudah sangat berharap pada pria itu akibatnya kini ia telah patah hati lebih dulu sebelum sempat berkata apapun pada lelaki itu .


lilis bukanlah orang yang mudah jatuh Cinta , Dan tak sedikit Lelaki yang mencoba mendekatinya , tapi kegagalan di massa lalu selalu menghantuinya , membuat ia begitu berhati hati pada mahluk yang bernama lelaki . namun entah kenapa sejak bertemu dengan Anto ia mulai menanam asa akan sebuah hubungan istimewa , mengkhayal akan hal hal Romantis bersama Anto seperti yang sering terjadi di drama drama korea yang ia tonton bersama Dila , sungguh piliu kini rasa di hatinya menjadi layu bahkan sebelum berkembang .


*******


Anto melangkah cepat menuju pondok yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah besar yang menjadi tempat tinggal Lilis . cahaya bulan purnama menjadi penerangan yang sempurna perjalanannya menuju pondok yang terletak terpencil , agak jauh dari pemukiman warga lain dan tidak ada penerangan listrik . Ia memang mampir lebih dulu ke masjid untuk Shalat Maghrib .


Sekitar lima belas menit kemudian Ia telah tiba di Pondok yang gelap karena ia memang tidak menyalakan lampu saat akan pergi tadi . pemuda itu segera memencet Sakelar lampu teras dan ruang depan begitu memasuki pondok .


pemuda itu segera kembali keluar pondok setelah meletakkan sekotak obat yang ia beli dari pasar , lalu merebahkan tubuhnya di baling baling bambu di halaman pondok . Ia menatap Rembulan yang memantulkan cahaya paling terang di langit .


" Hah....." terdengar nafas berat keluar dari mulutnya .


Selalu wajah samar yang sama , suara samar yang sama . sejak bertemu gadis bermata telaga waktu itu memori di kepalanya seakan berputar pada peristiwa peristiwa dirinya bersama dengan seorang wanita .


Anto melipat tangannya , meletakkan salah satu lengannya di bawah kepalanya , semakin di pikirkan jalan hidupnya semakin terasa janggal . ia memijit keningnya yang terasa berat lalu memejamkan matanya untuk sesaat , mencoba meringankan kepalanya yang tiba tiba terasa berat .

__ADS_1


" andai saja ada sebuah keajaiban yang membuat ia bisa mengingat semuanya dalam sekejap tentu hidupnya tidak akan serumit ini " Gumam Anto dalam hati .


__ADS_2