Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kedatangan Ilyas


__ADS_3

Qonni masih tertegun di tempatnya hingga saat pria itu melemparkan senyuman sambil mengangguk sekali.


"Ayu. Apa kabar?" Pria berkacamata itu kembali menyapanya hingga membuat Qonni tersadar. Tatapannya menghindar cepat.


"Baik, Mas," lirihnya menjawab. Mas Ilyas mau apa kesini, batinnya melanjutkan. Pasalnya saat masih ada Harun pun, tak pernah pria itu datang kemari. Kalaupun ingin bertemu, mereka akan janjian di tempat pertemuannya. Lantas, untuk apa Dia tiba-tiba ada di depan mata seperti sekarang ini.


"Bapak Fatkhul Qulum, ada?" tanyanya yang langsung memberikan jawaban dari pertanyaan dalam hati Wanita hamil tersebut.


"Ada, Mas. Mas mau ketemu, Ayah?"


"Iya," jawabnya.


"Kalau begitu silahkan masuk. Saya panggil dulu." Qonni berjalan lebih dulu meninggalkan pria yang masih berdiri menatapnya.


Terlihat dari cara jalannya, Qonni seperti mulai kesulitan karena perutnya yang besar. Tak lama, Bu Aida melongok keluar.


"Cari Bapak, Nak?" Serunya dari ambang pintu. Karena saat Qonni masuk tadi, dia langsung memberitahukan ibunya. Jika diluar ada tamunya Ayah.


"Ah, iya, Bu."


"Bapak lagi mandi. Masuk aja dulu–" ucapnya mempersilahkan.


"Iya, Bu. Terima kasih." Ilyas mulai mengayunkan kakinya masuk kedalam rumah yang sangat jauh perubahannya dari saat pertama kali dia kemari.


Dulu, terakhir saat dirinya datang sendiri atau saat bersama Harun rumah Ayudia tak sebesar ini. Ya, namanya roda kehidupan entah kapan pasti akan ada masanya untuk diatas.


"Silahkan, duduk. Ibu tinggal dulu, ya."


"Iya, Bu." Ilyas duduk dengan sopan di atas Sofa.


Sorot matanya berkelana mengitari seluruh ruangan yang nampak adem dan nyaman. Terdapat beberapa bingkai foto yang bertengger di dinding. Salah satunya, foto keluarga saat pernikahan Qonni dan Harun. Pria berkacamata itu memicingkan matanya yang tertuju pada wajah Harun.


Antum keliatan banget bahagianya, Run.


Ilyas berdeham. Ia ingat saat dirinya menghampiri Harun di ruang ganti, sedang bersiap-siap. Betapa Harun terlihat tegang sambil terus melatih diri, berikrar di depan cermin. Ia bahkan sampai tak menyadari kehadirannya di belakang, dan saat sadar ada Ilyas, Harun langsung memeluk tubuh pemuda tersebut.


Ya, saat itu hatinya sendiri sebenarnya masih tidak karuan. Bahkan sempat memutuskan untuk tidak hadir. Khawatir keikhlasannya akan gugur gara-gara melihat gadis yang ia kagumi dipersunting sahabatnya sendiri. Namun, setelah beberapa hari meminta petunjuk lewat sholat malamnya seperti di beri kekuatan lebih. Ia akhirnya mantap untuk mendatangi pernikahan mereka berdua.


"Silahkan di minum, Nak." Aida datang dengan nampan berisi teh manis dan cemilan di atasnya. Hingga membuat pria berambut ikal itu membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"MashaAllah, repot-repot, Bu."


"Alaaaaah, cuma teh kok. Silahkan..., Bapak bentar lagi turun, di tunggu aja, ya."


"Iya, Bu. Terima kasih." Ilyas meraih cangkirnya dan menyesap sedikit demi menjaga adab ketika di persilahkan untuk mencicipi suguhan oleh Tuan rumah, maka ia harus langsung mencicipinya.


Saat Aida sudah masuk, tak lama nampak bayangan orang dewasa. Fatkhul Qulum yang terlihat segar sehabis mandi itu menghampirinya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam warahmatullah."


"Udah lama?" Tanyanya dengan senyum sumringah khas Beliau.


"Belum lama, Kok, Pak."


"MashaAllah, Alhamdulillah. Saya pikir, Kamu nggak jadi kesini," tuturnya sambil menghempaskan bokong ke permukaan sofa yang empuk.


"Insyaallah, kalau saya sudah janji akan menyanggupi maka saya pasti akan tetap datang, Pak."


"MashaAllah..." Ulum manggut-manggut. "Ayo di minum dulu."


"Oh, iya. Saya pikir nggak ada acara lagi makanya saya suruh santai dulu." Pria itu terkekeh, di barengi Ilyas juga turut tertawa. "Kalau begitu ayo ikut saya, komputernya ada di belakang," ajaknya sambil bangkit, yang di ikuti Ilyas turut mengekor di belakang, sambil menggendong tas berisi perlengkapan perkakasnya.


Di sebuah ruangan yang satu sisinya terbuka. Tempat dimana Ulum biasa menyelesaikan pekerjaannya di rumah, pria paruh baya itu langsung menunjukkan barangnya yang rusak pada Ilyas.


Dengan sigap, pemuda tersebut langsung melepaskan komponen kabel yang tersambung dari monitor dan yang lainnya. Kemudian memindahkan benda tersebut ke posisi yang lebih terang untuk di periksa. Setelah membongkarnya, ia bisa melihat bagian mana yang nampak bermasalah.


"Selain cepat panas, layar monitor juga sering mati. Itu kenapa ya?" Tanya Ulum.


"Saya cek dulu... mungkin Fan cooler-nya emang kotor. Soalnya kalau sampai kotor baling-baling bisa berat muternya. Itu yang bikin cepet panas. Kalau perkara monitor, coba nanti Saya cari tau di bagian chipsetnya."


Ulum manggut-manggut, Pria paruh baya itu turut duduk di atas lantai keramik di sisi kanan pemuda tersebut. Menonton tangan cekatan Ilyas yang mulai membongkar-bongkar komponen komputernya.


"Kira-kira bisa langsung bener, nggak?"


"inshaAllah, kalau nggak berat masalahnya ya bisa, Pak. Kalau sekiranya bakal lama dan butuh alat yang nggak bisa saya bawa kesini ya mau nggak mau harus saya bawa pulang dulu."


"Iya, deh." Ulum menurut saja.

__ADS_1


Sambil memeriksa, mereka terus berbincang kesana-kemari. Terdengar juga tawa Ilyas sesekali saat menanggapi pertanyaan Ulum. Adapun Qonni yang hendak mengambil air di dapur jadi urung masuk saat mendengar suara laki-laki itu ada di tempat kerja Ayahnya. Kini ia justru langsung putar arah, kembali ke lantai dua.


Beberapa jam berlalu, pria itu telah selesai dengan pekerjaannya. Dari membongkar total, membersihkan bagian-bagian yang kotor, sampai memasang kembali dan mengetesnya.


"Alhamdulillah–" Ilyas bergumam. Di susul Ulum yang lantas memeriksa komputernya sendiri. "Gimana, Pak?"


"Udah bener ini, kayanya."


"Kita coba tunggu nyalain sampai sekiranya dua puluh lima menit," usul Ilyas yang di jawab dengan anggukan kepala.


Selama menunggu, Ilyas mulai membuka pembicaraan. Ia rasa, sejak tadi dirinya sudah cukup basa-basi. Mungkin ini saatnya Ilyas mencoba untuk bertanya tentang Qonni. Semoga saja hal yang akan ia tanyai ini tidak melewati batasannya.


"Pak?"


"Ya?" Pria itu menoleh. Ilyas yang ragu nampak terdiam sebentar.


"Saya boleh tanya sesuatu tentang Ayu?" tanyanya hati-hati.


Ulum sendiri sempat tertegun, kemudian mengangguk pelan. "Silahkan," timpalnya kemudian.


"Anu– apa selama ini, Ayu memang selalu murung?"


"Emmm?" Pria paruh baya di sisi Ilyas memandanginya sesaat, kemudian mengangguk.


"Astaghfirullah," lirihnya.


"Wajar, 'kan? namanya di tinggal suami saat masih sayang-sayangnya, apalagi dia lagi mengandung."


Rasa bersalah Ilyas kembali menyentuh relung hatinya. *******-***** jantung yang seketika menjadi sesak.


"Semua karena saya–"


"Apa?" Ulum bertanya tentang gumaman Ilyas yang tak begitu jelas tadi. Pemuda berkacamata itu kemudian menggeleng dalam posisi menunduk sambil membenahi kacamatanya. "Sebenarnya, saya masih penasaran. Pada saat itu, almarhum ada bareng kamu, 'kan?"


Ilyas menjawab dengan anggukan kepala tanpa menoleh kepada Ayahnya Qonni.


"Maaf, bukan saya mau mengingatkan kamu pada tragedi waktu itu. Tapi, boleh nggak saya tau kronologi sebenarnya? Saya tau, Almarhum penggemar Club A. Tapi, bukankah KTP dia Jakarta? Kenapa bisa kalian bisa di keroyok oleh suporter dari XX FC?"


Ilyas terdiam, sebenarnya ia sudah tidak ingin mengingat tragedi yang acap kali membuatnya ketakutan bahkan sampai terbawa mimpi. Itulah kenapa, sampai saat ini ia terus berusaha menguburnya dan menghindari orang-orang yang terus mendesaknya untuk bercerita. Sebab, setiap kali ditanya, kedua kakinya pasti akan gemetar serta keringat dingin mulai timbul dari kening hingga ke bagian tengkuk lehernya.

__ADS_1


__ADS_2