
Hari-hari di penuhi kegiatan di rumah baru. Pasangan suami-isteri itu nampak sibuk membuka kelas privat untuk anak-anak murid mereka.
Ruangan kelas di bagi dua. Untuk sementara di sekat dengan dinding yang terbuat dari papan triplek yang tingginya hanya sekitar dua meter.
Ilyas mengajar murid laki-laki, dan Qonni murid perempuan. Mereka hanya menerima dua mata pelajaran, yakni matematika dan Bahasa Arab.
Kegiatan les di buka sejak pukul empat sampai maksimal pukul lima. Jeda sebentar sehabis Maghrib, Ilyas baru membuka TPQ yang kebetulan belum banyak anak-anak. Paling hanya sekitar delapan anak saja sehingga bisa ia handle sendiri.
Malam ini dengan tubuh yang lelah perempuan itu merebah, sesaat setelah dirinya menidurkan Nisa. Tatkala punggung menyentuh kasur yang empuk berasa seluruh otot mengendur. Sungguh terasa nyaman sekali.
Tak terasa sudah satu bulan berlalu, sejak dirinya membuka jasa les privat. Qonni mulai merasakan suka dan dukanya. Sukanya, ia bisa mendapatkan tambahan untuk modal usaha suaminya. Dukanya, tentu rasa lelah yang tak bisa di gambarkan. Bahkan tak jarang, muncul rasa ingin berhenti saja sebab kepala yang sering pening akhir-akhir ini.
Ilyas baru saja selesai mengajar anak-anak yang di akhiri dengan sholat Isya berjamaah. Wajah yang tak pernah terlihat lelah itu menghampiri Isterinya, yang nampak lesu sejak sore tadi.
"Dek?" Di sentuh kening itu seraya duduk di sisi sang isteri yang terbaring. Ia pikir Qonni sakit karena sejak habis Maghrib dirinya tidak keluar kamar lagi. "Nggak enak badan, ya?"
"Enggak, Mas. Cuma kecapean aja."
"Ya Allah, kasian isteriku. Satu bulan terforsir tenaganya. Maaf, ya?"
"Nggak papa, Mas. Aku tuh seneng-seneng aja sebenernya. Cuma ya, namanya badan manusia, pasti bakal ada tumbangnya juga," balasnya sambil nyengir.
"Ya udah, besok liburin aja dulu selama satu Minggu ya."
"Nggak lah, Mas. Nggak enak, baru aja hari ini mereka bayar bulanan pertamanya. Masa langsung diliburkan?"
Ilyas tersenyum, bibirnya bergumam hamdalah. Walau ia belum melihat berapa uang yang di dapat untuk bulan ini, karena semua sudah ia pasrahkan pada isterinya. Tanpa membuka amplop-amplop mereka.
"Ya udah— tapi udah makan, 'kan?"
"Belum."
"Kok, belum?"
"Mau gimana, karena rasa capeknya bikin aku nggak nafsu makan," keluhnya sambil memiringkan tubuh, memeluk salah satu lengan Suaminya.
"Ya udah, malam ini mau makan apa? Biar Mas belikan."
"Enggak ah, Mas. Udah malam."
__ADS_1
"Nggak bisa gitu, Dek. Perut mu harus tetep di isi. Kwetiau atau sate Madura mau?"
"Nggak usah, lagian Mas Ilyas juga capek. Aku mau angetin sayur sopnya aja, sekalian goreng ayam yang di kulkas." Perempuan itu bangkit.
"Anu— Mas tadi sempet nengok sayurnya, ternyata agak berbuih."
"Berbuih, serius, Mas?"
"Iya, Dek. Mungkin karena terlalu pagi masaknya. Terlebih cuaca panas banget, jadi makanan kaya cepat basi," jawab Ilyas.
"Maaf ya, tadi sore lupa nggak aku angetin saking sibuknya."
"Nggak papa, sayang. Mas beliin yang di luar aja. Kamu maunya apa?"
"Mau soto ayam kuah bening aja," jawabnya manjat.
"Sama apa lagi. Biar sekalian."
"Apa ajalah lah, terserah. Pengen yang seger, jus atau apa gitu."
"Ya udah, Mas jalan dulu." Mengusap kepala Qonni sebelum melenggang pergi. Perempuan itu pun tersenyum.
...
Menunggu hampir satu jam, pintu kamar kembali terbuka. Ilyas melongok dari ambang pintu.
"Ayo makan dulu, Dek. Mas udah siapin," ajaknya.
Dimana sang istri walaupun dengan tubuh berat untuk beranjak. Ia tetap patuh, menyusul sang suami yang sudah berjalan lebih dulu menuju meja makan.
Diliriknya beberapa makanan di atas meja termasuk pesanannya tadi. Ia pun duduk di kursi, karena makanan sudah tersaji di atas piring.
Mendadak senang, ketika melihat bungkusan berisi jus tomat kesukaannya. Ilyas memang hafal sekarang, apa saja yang paling di suka sang istri. Termasuk soal makanan.
Tak tertarik dengan makanan beratnya. Qonni lebih memilih untuk menyambar jus tersebut, menusukan sedotan ke plastik penutup sebelum ia sedot isinya.
"Minumnya nanti, Dek. Keburu kenyang karena jus," ucapnya sambil tersenyum, sebab melihat sang istri terus menyedot jus tomat di tangannya.
Qonni menggeser gelas plastik berisi jus tomat. Setelah itu meraih sendok untuk mencoba kuah sotonya sedikit. Kepalanya manggut-manggut sedikit sebelum beralih pandang pada Ilyas yang sedang membuka bungkusan sate Madura lengkap dengan lontongnya.
__ADS_1
"Bismillah–" di ambilnya satu tusuk sate, pria itu mengangkatnya sedikit mendekati mulut.
"Kok kaya enakan itu, ya?" ucapnya membuat sang suami urung menggigit daging ayam panggang yang penuh dengan bumbu kacang.
"Kamu mau yang ini?" Tanya Ilyas.
"Enggak, Mas." Qonni menolak, ia kembali menikmati soto ayamnya dengan ogah-ogahan.
Ilyas yang peka buru-buru bangkit dan meletakkan piring tersebut ke hadapan Qonni. Perempuan itu bergeming, kembali mengangkat kepalanya.
"Makan yang ini aja kalau kamu nggak suka sotonya."
Jujur saja mencium aroma sate Madura ini memang membuatnya ingin makan. Tapi kasian juga Suaminya. Ia pun menggeleng.
"Nggak, Mas. Udah lanjutkan aja makanya."
"Mas serius..., Mas akan makan kalau kamu udah selesai aja."
"Ih, kok gitu sih? jangan lah— nggak sopan namanya."
"Kok nggak sopan, kan, Mas yang minta." Ilyas terkekeh.
"Gini deh, Kita makan barengan aja, Mas. Jadi kita bisa mencicipi semuanya," usul Qonniah.
"Oh iya, ya?" setuju.
"Sini, duduknya deketan," pintanya yang tak perlu berpikir panjang, pria itu langsung membawa kursi ke sebelah. Jadi yang tadinya saling berhadapan kini bersisian. "Kalau disuapin sekalian lebih enak kayanya."
"Waduh, isteri ku ini paling bisa, ya?" Gelak tawa mereka pecah, Ilyas mengarahkan satu satenya kearah Qonni yang sigap menerimanya dengan mulut terbuka.
"Emmmm, MashaAllah." Mengunyah sebentar dan menelannya. "Kan bener lebih enak."
"Halah-halah..." Di kecupnya kepala Qonni. Perempuan di sisinya semakin hari semakin menunjukkan kesan manjanya yang tentu saja membuat Ilyas semakin gemas padanya.
Sorot mata Qonni terarah pada pria yang sedang tertunduk menyamping. Tangannya bergerak menciduk kuah soto dengan sendok.
Pria berkacamata itu terlihat semakin ganteng dan menarik saja bagi Qonni. Bibir perempuan itu tersenyum manis, tatkala sang suami menoleh akibat sadar terus perhatikan.
"Jangan di liatin terus nanti diabetes," seloroh Ilyas, terkekeh. Sementara Qonni hanya tersenyum tipis, sebelum menarik pipi Ilyas hingga pria di sebelahnya minta ampun.
__ADS_1