Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kedatangan kedua.


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Motor yang di kendarai Ilyas sembari membawa isteri dan anaknya tiba di pelataran rumah sederhana namun rapi dan bersih. Cukup nyaman dan tertata, padahal penghuninya bujangan semua.


Qonni turun dari atas motor Ilyas, dimana sorot matanya tertuju pada rumah yang terakhir ia datangi bersama Harun. Ya, saat ibu dari pria yang kini menjadi suami keduanya meninggal dunia.


Allah maha membolak-balikkan keadaan, seperti baru kemarin dirinya berkunjung sebagai tamu. Sekarang, ia harus menganggap bahwa rumah inilah rumahnya juga.


Bagaimana kalau sang Suami mengajaknya tinggal? Qonni bergeming cukup lama, pikirannya berputar dan kembali pada kehidupan di tujuh sampai delapan tahun yang lalu. Saat rumah orangtuanya belum di bangun. Dan jika diamati, rumah Ilyas dan adik-adiknya lah yang paling sederhana di banding yang lain, terlebih bersebelahan dengan rumah lantai dua yang nampak lebih mewah dari yang lainnya.


"Mas Ibnu, Mas Ilyas pulang!" Seru Abas membuyarkan lamunan Qonni. Sembari remaja itu menggelayuti pintu yang memang sudah terbuka. Pemuda dengan celana se-bawah lutut hingga ke betis ini buru-buru menghampiri mereka bertiga.


"Assalamualaikum," sapa Ilyas sambil tersenyum menyambut uluran tangan Abas meminta jabat tangan.


"Walaikumsalam, Mas." Sudah cium tangan dengan Ilyas, beralih ke kakak ipar. "Mbak..."


Qonni menyambutnya dengan ramah, senyumnya yang manis menghilangkan rasa canggung pada remaja yang kini sudah menjadi adik iparnya itu.


"Dede..." sapa Abas pada anak perempuan yang berada di gendongan Qonni. Karena remaja ini memang suka anak kecil makanya cepat jatuh hati pada keponakannya itu.


Tak berselang lama, Ibnu keluar sambil membawa termos air dan perlengkapan dagangnya.


Terlihat tas selempang kecil sudah melingkar di bahu hingga ke punggung, sepertinya ia sudah siap untuk pergi ke lokasi outlet boba miliknya.


Pemuda itu gegas meletakkan barang-barang yang di pegang ke dalam keranjang motor yang memang sudah terparkir di luar. Setelahnya menyapa kakak dan iparnya.


"Kirain agak siangan, Mas?" Tanya Ibnu.


"Sengaja pagi karena mau siap-siap. Nanti malam rencananya mau bikin tasyakuran kecil-kecilan," jawab Ilyas.


"Walah, jadi malam ini, kirain Minggu depan?"


"Mumpung masih ada cuti satu hari lagi, Nu. Makanya mending sekarang," jawab Ilyas lagi.


"Yaah..., Saya udah siap-siap mau dagang nih, Mas. Gimana ya?"


"Nggak papa, Nu. Nasi kotak, sama Snack udah Mas pesen. Jadi tinggal bersih-bersih dikit aja. Kamu dagang aja dengan santai," tuturnya sambil menepuk-nepuk pundak.

__ADS_1


"Ya udah, nanti saya pulang cepet deh. Nggak sampai jam dua."


"Nggak usah buru-buru. Mas doakan, bobanya laris."


"Aamiin." Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. "Maaf ya, Mas. Mbak Ayu..., saya tinggal dulu."


"Iya." Qonni menjawabnya.


Di sini ia baru tahu kalau adik Ilyas yang bernama Ibnu memiliki usaha kecil-kecilan. Tapi bukankah anak itu sempat kuliah? Apakah dia sudah lulus dan sekarang jualan Boba?


Mengamati sebentar, pemuda yang sedang menata ulang dagangnya kemudian memasang jaket di tubuhnya yang kurang lebih memiliki perawakan sama dengan Ilyas. Hanya bedanya pemuda itu lebih kurus. Kalau soal tinggi, tentu tinggi Ibnu sekitar lima sentimeter.


Qonni langsung menyusul Abas masuk. Karena saat ini Nisa sudah berpindah tangan. Dia sedang di gendong Abas yang langsung membawanya ke ruang tamu.


"Cieee..." sambil memasang helm Ibnu menggoda kakaknya yang terus-menerus menebar senyum, saat iparnya itu sudah masuk.


"Apa?" balas Ilyas pada pemuda yang sudah duduk di atas motor, sambil mengeluarkan tas yang sejak tadi nangkring di pijakan kaki.


"Yang udah jadi pengantin baru. Auranya lain..."


"Ya, Mas. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah," jawabnya dengan langkah kaki masih terayun.


Adapun Ibnu langsung tancap gas, karena hari sudah semakin siang ia tidak boleh kelamaan. Karena semakin pagi dia buka outlet bobanya, maka akan lebih maksimal pula peluang mendapatkan rezeki lebih.


–––


Ilyas melewati ruang tamu, ia tersenyum saat melihat Nisa sudah akrab dengan Omnya. Di tambah Qonni pun tak terlihat canggung, ia turut serta duduk di sofa yang sudah lumayan usang.


"Dek, sebentar sini...," ajak Ilyas pada sang isteri yang gegas bangkit kemudian mengikutinya ke dalam.


Di sebuah kamar sederhana yang tidak begitu luas. Qonni kembali di buat masuk pada suasana yang menurutnya tidaklah asing. Ya, Kamar Ilyas hampir ama persis seperti kamarnya dulu. Bedanya, lebih gelap karena cahaya tak banyak masuk seperti kamarnya. Mungkin karena terhalang dinding tinggi dari rumah di sebelah. Yang membuat kamar Beliau terasa gelap, namun tidak pengap sih.


"Ini kamar aku. Eh..., kamar kita," katanya setelah membuka pintu dan masuk beberapa langkah sambil meletakkan tas.


Qonni pun masuk ia lihat sekeliling. Di dalam kamar ini hanya ada satu dipan kayu yang tak begitu luas. Mungkin size-nya hanya bisa di tiduri satu pria dewasa. Satu meja minimalis di sudut kamar dan lemari yang tak begitu besar di sisi ranjang.

__ADS_1


"Nanti kamu sama Nisa tidur di atas. Aku yang tidur di bawah. Karena kalau bertiga nggak akan muat. Kasian Nisa juga, nanti ke tiban tubuh ku malah repot." Ilyas menoel hidung Qonni gemas, yang di respon senyum samar isterinya.


Masih melihat-lihat lagi isi dari kamar suaminya yang sangat berbanding terbalik dengan kondisi kamar Harun saat pertama kali dirinya masuk.


"Kamar ku sempit ya?" tanyanya hingga kedua netra Qonni langsung bergeser padanya. Ia pun menggeleng.


"Enggak juga, sama kaya kamarku dulu."


"Iya kah?" Mengusap kepala sang istri. "Kamu jadi nostalgia nggak?"


"Iya, sedikit," jawabnya sambil menoleh lagi kearah pintu yang terbuka. Ia khawatir Abas tiba-tiba menghampiri mereka ke dalam kamar. Tapi sepertinya tidak, karena suara remaja itu masih terdengar jauh di ruang tamu.


Sebuah kecupan di pipi mendarat, yang lantas membawa kembali wajah Qonni mengarah padanya. Ilyas tersenyum...


"Kamu mau jajan, nggak? Kita ke warung depan, yuk." Ilyas mengalihkan suasana kikuk ini.


"Aku lagi nggak pengen jajan, Mas..."


"Sebentar aja, Sayang. Sambil ngenalin kamu ke Eceu yang jualan. Beliau itu salah satu tetangga yang paling dekat sama aku dan adik-adikku setelah Ibu aku wafat."


Mendengar itu, Qonni langsung mengangguk. Ia pun turut melangkah keluar mengikuti langkah Suaminya. Setelah izin untuk ke warung sebentar pada Abas, mereka berdua pun berjalan menuju warung depan rumah.


Sebenarnya agak tidak enak hati saat melewati gerbang rumah milik Fatimah yang tertutup. Ilyas berpikir seperti tidak ada orang sih. Karena sejatinya membawa Qonni ke warung bukanlah suatu kesengajaan untuk memamerkan isterinya pada gadis itu.


Sesampai di warung, tentu saja keduanya langsung di sambut hangat oleh ibu tokonya. Mengobrol singkat seraya pasangan suami-isteri itu memilih belanjaan. Setelah itu melakukan pembayaran.


"Kalian mau tinggal di mana setelahnya?" Tanya Ibu tersebut sambil memasukkan belanjaan yang sudah di hitung kedalam kantong plastik.


Saat di tanya, baik Ilyas ataupun Qonni tak ada yang menjawab. Keduanya memang masih bingung, kalau maunya Ilyas tentu mereka tinggal di sini.


Tapi melihat kondisi rumahnya, tentu ia lebih merasakan kasian pada Nisa yang biasa tidur dalam kamar ber-AC. Sementara Qonni juga sama ia inginnya tetap tinggal di rumahnya sendiri, hanya saja jika ia langsung menentukan sendiri nanti di bilang tidak taat.


"Alaaaah, mana-mana aja tetep sama atuh. Rumah kalian juga hehehe..." Ibu pemilik toko menambahkan beberapa roti kedalam Katong belanjaannya. " Bonus–"


"Ya Allah, repot-repot Ibu."


"Nggak, kaya sama siapa." Terkekeh sembari menyerahkan kantong belanjaan tersebut. Keduanya pun langsung berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2