
"Sakit, bukan? Menggantungkan cinta yang tak terdapat ridho di dalamnya?"
Kata-kata dari seorang wanita bernama Maryam Chwa menohok hati Fatimah yang pada siang hari ini tengah menghadiri seminar peluncuran buku ke dua belas dari penulis berdarah Tionghoa itu. Isteri dari seorang Habib kondang Bilal Asegaf.
Pilu tatapannya mengarah ke lantai ubin yang di lapisi karpet merah. Diantara puluhan perempuan yang hadir, hanya dirinya yang merasakan setiap kata-kata yang keluar dari mulut perempuan cantik itu di peruntukan padanya.
"Menepilah sejenak, cantik. Pandang dirimu secara jernih. Jangan biarkan hawa nafsu mengotori jiwamu untuk terus menghakimi takdir. Kita— memang tidak berjodoh."
Suara halus Maryam mampu meruntuhkan kembali air mata yang sudah mulai mengering ini. Kepala perempuan yang duduk di barisan tengah menunduk, menutup mulutnya kuat-kuat.
Benar, betapa beratnya hati, berkecamuk di kepala. Sudah habis rasanya air mata ia keluar semenjak pemuda itu menikah. Bahkan, ia sampai lupa. Kapan terakhir kali dia merasakan keceriaan dalam menjalani hari-harinya.
Kini ia sangat teringin mengikuti kata-kata Maryam. Tentang Ikhlas dalam melepaskan cinta yang masih haram untuk di resapi. Agar tak menghalangi jodoh yang sesungguhnya
Satu jam kemudian...
Tiba masa mereka mengantri untuk meminta tanda tangan penulis di buku barunya tersebut. Perempuan berkerudung coklat susu itu sudah berada di barisan ke dua, sebentar lagi sampai pada sang penulis yang tak sedikitpun memudarkan senyumnya.
"Assalamualaikum, Kak Maryam," sapanya setelah tiba pada gilirannya.
"Walaikumsalam warahmatullah, siapa namanya?" Tanya Maryam setelah berjabatan tangan.
"Fatimah, Kak," jawabnya.
"MashaAllah, nama yang cantik...," pujinya sambil tersenyum, siap untuk mengguratkan tanda tangan di atas buku 'Hakikat Cinta' karya Maryam Chwa.
Gadis di hadapannya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
"Sudah menikah?" tanyanya.
"Belum–" jawab Fatimah lirih.
"Semoga, setelah ini kamu bertemu jodohmu," ucapnya sambil menyodorkan buku kearahnya lagi.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih doanya, Kak. Jujur, Saya sangat suka Novel Kak Maryam, terlebih yang ini. Benar-benar nyata dalam kehidupan."
"MashaAllah, terima kasih. Kamu terlalu menyanjung. Saya juga terima kasih karena sudah berkenan hadir."
"Sama-sama, Kak." Gadis itu menjabat tangan yang terulur padanya, kemudian menyingkir dari barisan.
Di tatapnya perempuan yang masih menyapa satu persatu dari penggemarnya dengan perasaan kagum.
Sedikit ia tahu dari viralnya pemberitaan tentang sang penulis yang pernah di poligami mantan suaminya hanya karena tidak bisa memberikan anak. Lantas bertemu dengan sosok pria pengganti yang benar-benar tulus menerimanya.
Aaaah, senangnya bisa merasakan seperti itu. Apa aku bisa seperti Maryam Chwa? Mendapatkan jodoh pengganti yang lebih baik?
Fatimah balik badan, perempuan dengan gamis hitam itu mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut sambil memeluk buku terbaru sang penulis kesayangan.
Karena acara telah selesai, tentunya bagi hadirin yang telah menerima tanda tangan penulis akan langsung pulang.
Pintu lift terbuka, gadis itu tertegun sejenak saat melihat pria dengan potongan khas perwira polisi.
"Fati?"
"Masuk, Fat. Mau turun, 'kan?"
Perempuan itu bingung, ia menoleh kebelakang berharap ada orang lain lagi yang akan menggunakan lift, demi menghindari berdua-duaan di dalam bilik yang tidak transparan ini.
"Fatimah?"
Menghela nafas, perempuan itu akhirnya mengalah. Kasian juga pada Pria di depan yang sudah cukup lama menahan pintu lift.
Kini dengan memberi jarak cukup jauh. Keduanya berdiri menghadap pintu yang tertutup. Berbeda dengan Fatimah yang masih konsisten menghadap depan, pemuda di sebelahnya justru berkali-kali melirik kearah perempuan di samping.
"Abis acara apa?" tanya Prima basa-basi memecah keheningan.
"Hanya ikut seminar biasa," jawabannya singkat. Sementara yang di sebelah membulatkan bibirnya manggut-manggut. "Mas Prima sendiri, abis acara apa?"
__ADS_1
"Aku, habis menghadiri acara nikahan teman satu profesi."
"Sendiri?" tanya Fatimah.
"Sama temen sih, tapi yang lain udah di bawah. Kebetulan Saya ada tertinggal sesuatu, makanya naik lagi."
Fatimah manggut-manggut, dari percakapan singkat ini tak sekalipun gadis itu menoleh kepada Prima. Berbeda dengan pemuda di sebelahnya, yang tak melepaskan sedikitpun pandangannya saat berbicara. Walau hanya bisa melihat wajah Fatimah dari samping.
"Kamu juga sendirian?"
"Iya–"
"Padahal, perempuan biasanya nggak berani loh kemana-mana sendiri," balasnya hanya untuk pancingan.
"Kenapa harus nggak berani? Toh, selagi masih menjaga penampilan yang tertutup dan yakin akan di lindungi oleh Sang Maha Kuasa, aku tidak akan kenapa-kenapa."
Pria itu tersenyum tipis, benar juga...
Beberapa detik kemudian pintu terbuka, Fatimah mengangguk sekali, berpamitan pada Prima sebelum keluar lebih dulu. Sementara pemuda itu menyusul dan berdiri di depan pintu lift yang kembali tertutup.
Di pandangnya terus perempuan anggun dengan penampilannya yang syar'i. Mengingat permintaan orang tuanya untuk segera mencari jodoh. Sepertinya ia mulai memiliki jawaban dari pertanyaan yang hampir setiap hari di layangkan untuknya, jika dirinya kini sudah menemukan calon yang tepat untuk di nikahi.
***
Mobil yang di kendarai Fatimah sudah mulai memasuki jalan menuju kediamannya. Melewati rumah-rumah tetangga, tak terkecuali rumah Ilyas.
Ia melihat lagi motor pria itu terparkir di depan rumah. Kalau sebelumnya dia selalu berdebar sekaligus bahagia setiap melihat motor merah milik Ilyas. Sekarang tidak lagi...
Mobil mulai berhenti di depan pintu gerbang yang sedikit terbuka. Gadis itu turun lebih dulu guna melebarkan pintu pagar.
"Bu Fatimah!" Panggil Qonniah di sebrang. Dengan malas Fatimah menoleh ke sumber suara, tempat dimana perempuan itu berdiri sembari melebarkan senyumnya.
Fatimah baru sadar ini akhir pekan. Sudah pasti jadwal pasangan baru itu menginap di sini. Hanya menanggapi dengan senyum yang nanggung, Fatimah buru-buru membuka pintu lebih lebar. Menghindari tatapan perempuan yang masih terpaku di sebrang jalan.
__ADS_1
Dan setelah gadis itu masuk ke dalam mobilnya, ia membawa laju kendaraan tersebut ke dalam pagar rumah.
Qonni menghela nafas, tatkala belum juga mendapatkan respon baik dari rekan kerjanya itu. Padahal, ia pikir semuanya sudah selesai saat pembicaraan tempo hari. Nyatanya, tidak demikian— dilihat dari sikap gadis itu yang masih saja dingin padanya, pertanda gadis itu sudah tidak ingin lagi memperbaiki hubungannya dengan Qonni.