Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
perasaan dua wanita


__ADS_3

"Jangan nangis, Nak. Ummi paham sekali perasaanmu. Itu pula yang Ummi rasakan saat Abah meninggal. Tapi, bedanya. Ummi pas di tinggal wafat kan sudah mulai menua, tidak seperti kamu yang masih berumur dua puluh tiga tahun." Ummi Nur menyeka air mata menantunya. Kemudian mengingat pembicaraannya dengan Ilyas beberapa waktu yang lalu, saat pemuda itu masih sama. Mau membantu majelisnya ketika hendak ada acara.


"Ada laki-laki Sholeh yang amat tulus menyayangi puterimu. Dia bahkan senantiasa menanyakan Nisa pada Ummi. Katanya, ia sudah menganggap anak itu seperti anaknya."


"Menganggap anak?" Tanya Qonni. Perempuan paruh baya itu mengangguk.


"InshaAllah, sedikit banyak... Ummi sudah mengenal pemuda itu. Pria yang ulet, rajin. Ilmunya? InshaAllah sama dengan Harun. Hanya bendanya dia hanya belajar fiqih di Indonesia tidak seperti Harun yang pernah ke Mesir."


Mata perempuan jelita ini mengerjap. Bukan karena kagum dengan sosok yang belum ia ketahui siapa orangnya. Namun, lebih ke lelah ketika terus di tawari laki-laki yang katanya shalih.


Tapi, Ummi bilang dia selalu menanyakan Nisa. Memang dia sudah pernah melihat Nisa?


Kapan?


Dimana?


Benaknya sedikit muncul rasa penasaran. Apakah dia mengenal laki-laki itu juga.


"Orang tua bilang. Katanya, jika seorang perempuan sendiri yang sudah memiliki anak dan ingin mencari pasangan lagi? Maka yang di lihat adalah laki-laki itu apakah mencintai anaknya atau tidak?"


Tiba-tiba saja Qonni mengingat wajah Ilyas yang nampak lues menggendong Nisa waktu itu. Dan bayangan pun bergeser pada senyum Ilyas sesaat setelah mengantar Dia tadi bersama teman-temannya.


Hati-hati ya. Afwan, kalau tadi sempat ngaku-ngaku calon. (Suara Ilyas)


Gegasnya menggeleng, menyingkirkan pria berkacamata itu dari ingatannya. Ada apa dengannya? Ummi sedang bercerita kenapa pikirannya malah justru nyambung ke Ilyas. Qonni beristighfar tanpa suara. Sementara telinganya masih terpasang mendengarkan kata demi kata dari Ummi Nur.


🌸🌸🌸


Di tempat lain...


Malam yang tak begitu sunyi, dengan suasana langit biru yang cerah. Di depan rumah, masih terlihat orang berlalu-lalang. Bahkan para ibu-ibu tetangga pun masih asik bertukar informasi di depan warung Madura yang buka dua puluh empat jam dengan anak-anak mereka.


Gadis bernama Fatimah membuka pintu pagar besi, yang terlihat paling tinggi di antara pagar milik rumah-rumah yang lain. Gadis dengan hijab syar'i itu berjalan keluar, berniat untuk datang ke warung depan rumah guna membeli keperluan pribadinya. Sambil menyapa mereka-mereka dengan senyum manis yang terkesan kalem dan hangat.


Setiba di dalam warung yang bergaya seperti mini market perempuan itu langsung menuju rak berisi tumpukan pembalut berbagai merek. Setelah menemukan yang dicari, Fatimah langsung membayarnya.


"Makasih, Neng Fatimah." Menyerahkan kantong belanjaan setelah transaksi jual-beli di selesaikan.


"Sama-sama, Ibu–" sautnya sambil tersenyum ceria. Perempuan itu kembali keluar dari warung yang cukup lengkap ini dan berdiri di tepi jalan.

__ADS_1


Sebelum menyebrang, gadis itu menyempatkan diri untuk menoleh ke sisi kanan. Memandang ke arah rumah seseorang, yang kebetulan saat ini pemiliknya sedang berada di depan rumah.


Fatimah tersenyum tipis, karena malam ini ia melihat pemuda berkacamata itu tengah membaca buku yang jika di lihat dari sampulnya merupakan sebuah buku Tafsir hadits.


MashaAllah... Selama ini, aku nggak pernah melihat Mas Ilyas aneh-aneh. Mas Ilyas bertanggung jawab, Mas Ilyas juga laki-laki yang pekerja keras. Imannya bagus, sopan dan terjaga sekali dengan lawan jenis.


Fatimah membatin, hatinya benar-benar di penuhi dengan kekaguman atas pemuda sederhana itu. Baginya, Ilyas tipe pria yang sempurna. Walau soal materi ia sangat jauh dari laki-laki yang selama ini mengajaknya menikah.


Tak lama sebuah mobil Fortuner warna putih berhenti di depan rumahnya. Membuat gadis itu terdiam sejenak, memastikan siapa sekiranya yang datang.


Setelah mobil terparkir sempurna, nampak seorang Pasutri paruh baya keluar dari pintu tengah. Dan satu pemuda juga nampak turun dari kursi kemudi. Gadis itu mengernyitkan keningnya, kalau ibu dan bapak Haji itu paham– Mereka tak lain adalah teman dekat Ayah dan ibunya. Kalau pemuda itu... ya, mungkin anak mereka.


Fatimah tertegun di sebrang. Dan memilih untuk menunggu saja, karena mereka bertiga tak menyadari anak pemilik rumah itu ada di seberang jalan tempat mobil mereka terparkir.


Saat ini gadis berkerudung panjang itu sedang menunggu sampai tamu tersebut masuk ke dalam rumah. Setelahnya ia akan masuk lewat pintu samping.


Di posisi lain...


Dering ponsel membuat Ilyas menghentikan kegiatannya itu. Pemuda berkacamata ini bergeming saat membaca nama di layar.


Mas Juple (anak korban)


Ragu-ragu menerima panggilan telepon. Karena anak itu pasti ingin meminta tambahan biaya lagi. Namun karena tak ingin di anggap melarikan diri akhirnya ia menekan simbol hijau.


"Mas, Bapak saya harus nebus obat tambahan nih," sahutnya dari sebrang tanpa basa-basi apalagi membalas salamnya sebelum ini.


Ilyas memijat keningnya. "Mohon maaf, kalau boleh tahu berapa lagi yang harus saya kasih?"


"Tiga juta deh."


"Tiga juta?" Ilyas terhenyak dengan nominal yang di sebutkan. Pemuda ini seperti asal sebut tanpa pertimbangan saat meminta uang.


"Iya tiga juga, noh tadi Dokternya bilang."


"Maaf, bisa di cicil dulu nggak? Keuangan saya lagi menipis."


"Itu si urusan Lu, Mas. Yang penting biaya berobat Bapak gua harus berjalan."


Ilyas terdiam sejenak, di sisi lain. Ibnu yang sebenarnya sedang di ruang tamu tengah belajar pun memasang telinga mendengarkan. Walau yang bisa ia dengar hanya suara Ilyas saja.

__ADS_1


"Besok deh, saya coba usahakan ya, Mas."


"Ya! Jangan siang-siang pokoknya!"


"Iya, Mas. Di usahakan...." Belum selesai Ilyas bicara panggilan di sebrang sudah terputus. Pemuda berkacamata itu pun menghembuskan nafasnya pelan sambil menurunkan ponsel yang menempel di telinga.


"Itu pihak korban ya, Mas?" Tanya Ibnu buru-buru keluar.


Ilyas sendiri hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia benar-benar sedang dilanda kebingungan. Bagaimana caranya mencari uang tiga juta dengan waktu sesingkat ini.


"Minta uang lagi?" Ibnu langsung duduk di kursi lainnya.


"Iya, Nu," jawabnya dengan nada lemas.


"Tuh kan? Abas musti tahu sih ini akibat dari kelakuannya."


"Ehhh, mau apa?" Ilyas menahan lengan kurus adiknya.


"Manggil Dia. Biar Abas ngerti susahnya Mas Ilyas."


"Ngapain? Udah lah... ini tanggungjawab Mas."


"Sama aja, Abas perlu tau Mas. Biar aja dia yang suruh mikirin semuanya."


"Istighfar, Nu. Siapa sih yang mau tertimpa musibah. Jangan terus-terusan menyalahkan Abas. Memangnya kamu nggak pernah ngerasain fase remaja yang masih suka semaunya sendiri?" Tanya Ilyas memenangkan pemuda berkaos abu-abu yang warnanya sudah memudar itu.


"Ck!" Ibnu nampak kesal. Memang, tiga bersaudara itu memiliki tipe yang berbeda-beda. Dan Ibnu termasuk yang paling keras namun masih menghormati Ilyas, sementara Abas tipe dableg dalam segala hal yang tak begitu ia sukai.


"Udah ya. Mas menyadari penyesalannya kok. Buktinya anak itu udah jarang main sekarang. Yang terpenting untuk urusan ini kamu nggak usah ikut-ikutan pusing. Biar Mas aja."


"Nggak bisa gitu, Mas." Berpikir sejenak sebelum mengingat akan sesuatu. "Sebentar aku ambil sesuatu dulu."


Ibnu masuk ke dalam yang tentu saja hal itu membuat Ilyas mengerutkan kening.


Di kamar...


Pemuda berkaos lusuh itu mengambil celengan besar yang berada di atas lemari. Pemuda itu tertegun sejenak memandangi benda pecah belah yang ia jadikan sebagai wadah untuk menabung modal.


Sebenarnya ini untuk modal jualan es Boba. Tapi, Mas Ilyas lebih butuh.

__ADS_1


Dengan perasaan berat, Ibnu meletakkan lagi celengan itu ke atas meja dan ia pun gegas melangkah menuju dapur demi mengambil palu. Setelah kembali ia mencoba untuk berpikir ulang.


"Bismillah ... Innallaha 'ala kulli syaiin qadir." Dengan hati yang mantap pemuda itu langsung memecahkan celengannya dengan hati-hati.


__ADS_2