Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Menyusui Nisa


__ADS_3

Menit-menit penuh perjuangan, tentang rasa cemburu yang tertahan, tentang cinta yang juga tak langsung tersalurkan.


Ketika dirinya harus mengesampingkan ego hasratnya sebagai seorang pria dan memilih untuk menenangkan sosok bidadari dunia yang amat ia cintai. Menangis akibat terkenang pria yang sudah mendahuluinya pergi untuk selama-lamanya. Seorang mantan suami, yang mungkin posisinya berada jauh bertingkat-tingkat diatas pemuda tersebut.


Malam-malam panjang yang mereka lalui hanya sebatas saling diam. Baik dirinya maupun Ayudia. Tak ada yang berani memulai kata setelah pelukan tadi hingga kini kedua tubuh lelah itu terbaring di atas ranjang yang sama.


Suara rintik hujan terdengar, mata pemuda yang sudah melepaskan kacamatanya menyalang. Tertuju pada jendela yang sebagiannya terbuka. Menyaksikan bulir-bulir air langit berjatuhan dari ujung genteng.


Helaan nafas panjang terdengar, kembali Pria itu menggeser pandangannya pada Ayudia. Kemudian termenung dengan posisi miring, seraya tangan menopang kepala bagian samping. Memandangi wajah yang entah sudah benar-benar terlelap atau hanya sebatas menahan kelopak mata itu tertutup. Yang pasti, wajah bersinar tanpa riasan milik Ayu nampak tenang di bawah sinar remang-remang dari lampu tidur.


Ya, ini kali pertama, Ilyas tidur satu ranjang dengan seorang wanita. Tentunya sangat campur aduk, antara senang bercampur sedikit rasa canggung yang lebih mampu ia kendalikan.


Bisa jadi karena sudah mengenal sosok Ayudia Qonniah sejak masih kuliah, sehingga tak ada tambahan perasaan asing yang membuatnya tidak berani memeluk sang isteri seperti tadi.


Ilyas melepaskan sedikit selimut yang menutupi tubuh Ayudia kemudian menyingkirkan bantal guling yang di peluk perempuan itu secara perlahan.


"Maaf, aku singkirkan kamu. Soalnya dia sudah ada aku yang lebih berhak di peluk," gumam Ilyas dengan suara berbisik.


Sejujurnya, perempuan itu belum tidur. Ia masih bisa mendengar suaranya Ilyas. Namun sengaja Qonni tak bergerak. Karena takut, setelahnya Ilyas akan meminta lebih dari apa yang akan ia lakukan saat ini.


Setelah Ilyas masuk kedalam selimut sembari menahan tangan Ayudia, dan meletakkan tangan tersebut di pinggangnya. Pria itu menyusupkan satu tangan yang lain melalui bawah leher. Hingga, tubuh Mereka semakin menempel dengan lengan Ilyas sebagai bantalan.


"MashaAllah, kasian istriku kecapean," gumamnya sambil mengecup kening Qonni sebelum kembali merebahkan kepala perlahan, sesudah mendapatkan posisi nyaman.


Pria itu tersenyum, pelan-pelan matanya mulai terpejam seraya mempererat pelukan. Sebab hawa yang semakin terasa dingin.


Andaikan ada kata-kata yang lebih tinggi untuk ku ucapkan selain hamdalah. Pastilah itu sudah ku ucapkan berkali-kali. Aku bersyukur, dan aku berterima kasih atas segala nikmat yang selalu tercurahkan kepada ku. Dia, bidadari yang ku harapkan benar-benar menjadi milikku.


– Muhammad Ilyasa –


–––


Kehidupan pengantin baru, seharusnya sedang hangat-hangatnya, bukan? Berjalan berduaan, bersisian sambil bergandengan tangan bila perlu. Satu lagi yang harus di lakukan, dengan manja seharusnya Qonni langsung menyandarkan kepalanya di bahu Ilyas. Menikmati hawa sejuk pagi hari sehabis terguyur hujan tadi malam.


Tapi, hal itu tak tergambar di antara keduanya yang terkesan biasa saja di pagi pertama selepas akad kemarin.


Saat ini pemuda itu masih di masjid bersama mertua laki-laki karena biasanya sehabis jamaah, Ustadz yang menjadi imam akan melanjutkan waktu sehabis subuh itu untuk mengisinya dengan kajian. Jadilah ia bertahan beberapa menit untuk mendengarkan kajian yang menurutnya lumayan bisa di pahami.

__ADS_1


Adapun Qonni sendiri nyatanya terlihat sibuk dengan laptop demi menyelesaikan soal untuk ujian tengah semester selepas menegakkan ibadah sholat pastinya.


Tok tok... Suara ketukan kamar terdengar, di susul panggilan Aida yang meminta izin untuk membuka pintu. Qonni pun menjawabnya, mempersilahkan sang ibu untuk tetap membuka pintu kamarnya.


"Nduk, anakmu bangun. Suruh mimi dulu aja...," ucap Aida setelah pintu kamar terbuka dan beliaulah masuk.


"Ya Allah, Anakku. Sini-sini..." Di terimanya anak perempuan yang sedang rewel sebab haus ini. "Semalam nangis, nggak, Bu?"


"Enggak sih, paling bangun sesekali buat Mimi, mungkin karena hawanya nggak panas jadi dia tidur. Dan sekarang baru bangun."


Qonni mengangguk, sembari dirinya mengeluarkan benda kenyal sebagai sumber ASI dan mengarahkan ujungnya pada mulut mungil Nisa.


Melihat sumber ketenangannya di arahkan ke bibir, Nisa buru-buru membuka mulut dan menghisapnya dengan gerakan cepat.


Qonni tersenyum gemas pada anaknya itu. Yang minum sambil menatapnya terus menerus.


"Duuuuh, hausnya padahal semalaman habis beberapa botol loh," ucap Aida.


"Nisa memang kalau malam miminya banyak, Bu. Makanya aku khawatir dia rewel semalam.


"Tapi nyata nggak rewel, to?"


"Ibu udah gantiin popok sekalian pakainya juga Sekarang tinggal Mimi dulu, Uti mau siapin sarapan dulu ya." Aida mengecup pipi Nisa gemas setelah itu keluar.


Setelah pintu kembali tertutup Ayu terus fokus menyusui sembari membaca ulang ketikan soal yang akan ia kirim melalui Email pada guru pengganti.


"Duh, waktunya kaya cepet banget, ya?" Melirik sesekali ke jam weker untuk memastikan waktunya.


Tok tok, cklaaakkk...


"Aah..." Qonni yang melihat suaminya masuk buru-buru memutar tubuh sedikit untuk memunggungi Ilyas. Ia hanya belum terbiasa menyusui di depan suami barunya, jadilah ia tak ingin sebagian dari buah dada itu terlihat.


Pemuda yang tak menyadari kecanggungan Qonni justru malah mendekati wanita tersebut.


"Mas jangan kesini–" tahannya berusaha menutupi dada.


"Kenapa, emangnya?" Melihat baju di bagian bahu yang turun. Ilyas baru paham jika Isterinya sedang menyusui. Ia pun menghentikan langkahnya cepat.

__ADS_1


"Aku lagi menyusui Nisa," jawabnya dengan wajah memerah karena malu.


"Ya ampun, maaf."


Pria itu mengerti, dan sebab melihat sebagian bahu yang terbuka itu membuat jantungnya berdebar. Hingga memutuskan untuk kembali mundur setelah itu duduk di atas ranjang.


Qonni sendiri kembali memutar sedikit tubuhnya, memastikan bagian dada benar-benar tak terlihat. Menyadari Ilyas masih duduk, Qonni melirik ke belakang.


"Mas kenapa masih di sini?"


"Emmm..." kelabakan. Iya, ya? Kok aku masih di sini? "Mau nemenin kamu," imbuhnya asal yang menimbulkan penyesalan. Kenapa harus jawab itu sih.


"Aku sih, nggak papa. Udah biasa menyusui sendirian. Jadi nggak perlu di temani," jawabnya.


Berharap Ilyas keluar ataupun Nisa lekas selesai menghisap ASI, agar dirinya bisa kembali memasukkan dadanya kedalam baju. Tapi justru sebaliknya, semakin ia berusaha melepaskan semakin kuat Bisa menahannya.


Sayang, Ummi malu sama Abi Ilyas. Ayo selesai ya, miminya nanti lagi. –rintihnya dalam hati.


Sebuah dering ponsel terdengar, Ia melirik keatas nakas bersamaan dengan Ilyas yang gegas mengambil benda pipih tersebut.


Sambil memalingkan wajahnya, pemuda itu berjalan mendekat sebelum menyerahkan ponsel Qonniah. Agak lucu sih, seharusnya Ilyas tak perlu melakukan itu. Tapi ah, biarlah...


"Makasih, Mas." Dengan gugup, Qonni menerimanya. Yang di balas dengan usapan lembut di kepalanya dari Ilyas.


Ya Allah, jadi nggak enak sama Beliau... kembali fokus pada panggilan telepon dari seorang guru matematika yang akan menggantikannya itu. Rupanya guru tersebut menanyakan soal UTS yang belum di kirim juga.


"Iya, Bu. Sebentar lagi kelar, semalam saya ketiduran soalnya."


"Nggak papa kok. Seharusnya saya yang minta maaf sama, Bu Ayu. Karena udah ganggu bulan madunya," seloroh seorang wanita di sebrang.


"Bu Emi ini bisa aja, nggak kok. Saya nggak merasa terganggu. Lagi pula, sebenarnya udah di siapin. Tapi ku revisi ulang, makanya belum kelar."


"Ya udah, saya tunggu, Bu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Qonni mematikan sambungan teleponnya. Kemudian menoleh ke arah Ilyas yang sedang mengganti atasan. Sama seperti yang di lakukan Ilyas, perempuan itu kontan memalingkan wajahnya.


"Astaghfirullah al'azim."

__ADS_1


"Kenapa, Dek?" Ilyas bingung dengan dadanya yang masih terbuka.


"Nggak papa, lanjutin aja," jawabnya singkat setelah melihat tubuh bagian atas milik Ilyas yang tak tertutup tabir itu. Ya ampun, Qonni kamu lihat apa?


__ADS_2