Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kedatangannya


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu. Orang-orang pun sudah berpamitan untuk pulang, hanya tersisa Bu Nyai Nur. Beliau memeluk tubuh Qonni dengan erat, kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang renta.


"Semangat, ya? Kamu perempuan baik-baik..., Ummi harap kamu akan mendapatkan kebahagian."


Bibir Qonniah mengatup rapat, sisa-sisa tangis masih terlihat jelas dari kedua matanya.


"Kamu tetap ku anggap sebagai anakku. Karena bagaimanapun juga, kamu adalah perempuan yang sudah berusaha tegar. Kamu tidak pernah mengecewakan Ummi selama ini."


"Hiks," lirihnya kembali terisak. Tubuhnya turun hendak memeluk kaki Bu Nyai Nur, namun gegas di tahan. "Maafkan aku, Ummi. Maafkan aku–"


Bu Nyai Nur memeluk erat tubuh Ayu yang berguncang. Menepuk pelan punggungnya yang turut tertutup kain hijab.


"Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa."


"Tapi aku mengkhianati Aa."


"Enggak, Sayang. Kamu sama sekali nggak kaya gitu. Wallahi..."


Tangan sepuhnya mengelus pelan punggung Qonni. Ia bisa merasakan sekali, penyesalan yang di tunjukkan Qonni ketika akhirnya harus kalah dengan keinginan orang-orang di sekitar Dia. Jika perempuan itu harus menikah lagi.


"Bulan depan, Ummi akan datang. Kamu harus menampilkan senyum terbaikmu, ya?"


"Aku akan berusaha, Ummi."


Bu Nyai Nur tersenyum tipis, kemudian mencium pipinya. "Sehat-sehat ya. Jangan jadikan ini semua beban. Ingatlah kalau ini wujud kasih sayang Tuhanmu."


"Iya, Ummi. Terima kasih." Qonni mencium punggung tangan ibu mertuanya, sebelum perempuan sepuh itu berjalan dengan di dampingi anak sulungnya menuju mobil. Semua yang ada di sana melambaikan tangan tak terkecuali Qonniah.


Perempuan itu menghela nafas, sisa satu bulan sebelum kehidupannya berubah. Ia harus melakukan sesuatu agar hatinya jauh lebih menerima ketika akad di ikrarkan nanti.


***


Dua malam sebelum pernikahan, Ilyas semakin di hinggapi rasa tegang. Ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menguatkan dzikir dan doa-doanya demi kelancaran sebuah pernikahan.


Di sela-sela ketegangannya, ia mencoba untuk membuka aplikasi chatting di ponselnya. Dan melihat-lihat story orang lain. Alangkah terkejutnya, saat ia bisa kembali melihat story milik perempuan yang sebelum ini ia save kembali nomornya.


Walau bukan sebuah story yang berarti, karena postingannya hanya tentang beberapa anak-anak murid yang berprestasi. Bibir, Ilyas tersenyum. Ia bersyukur, calon isterinya bersedia menyimpan nomornya lagi.

__ADS_1


"Ya Allah..., tolong lancarkan. Semoga Dia juga bisa menerimaku sebagai suami dengan hatinya juga."


Ilyas meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Mengingat-ingat semua persiapan pernikahannya sudah sembilan puluh persen. Beberapa hantaran sudah di pesan, orang-orang yang di mintai tolong untuk turut mendampingi pun sebagian besar menerimanya dengan senang hati. Bahkan, tak sedikit yang menyokong, baik dalam berupa uang ataupun jasa.


Ya, seperti segalanya di permudah. Hanya tinggal satu orang saja sih, yang menolaknya. Bahkan saat di mintai, doa restu pun sama sekali tak merespon. Dialah Pak Sofian, berbeda dengan isterinya yang bahkan sampai menawarkan untuk ikut menyumbangkan empat jenis makanan basah saat hari-H nanti.


Ilyas menghela nafas, ia berpikir untuk terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Pak Sofian yang terlihat tak bersahabat lagi seperti sebelumnya.


"Mas, Mas!" Abas memasuki kamarnya yang tak di tutup sembari membawa kemeja batik berlengan panjang. "Mas liat, Saya pake ini gimana?"


"Keren, Bas. Ganteng...," jawab Ilyas sambil bangkit dari posisi rebahannya.


"Pantes, 'kan, ya?"


"Banget, Bas. Ini yang kamu beli lewat temannya Mas Ibnu?"


"Iya, Mas. Tapi nggak keliatan kaya bapak-bapak kan?"


"Ya enggak lah. Pake batik lengan panjang nggak akan bikin kamu keliatan tua?" Ilyas terkekeh.


"Sip lah..." Pemuda itu menyugar rambutnya kebelakang.


"Iya-iya, calon penganten banyak bener kemauannya," cibir Abas sambil tertawa. "Omong-omong, gimana rasanya mau nikah, Mas?"


"MashaAllah–" Ilyas jadi merasa malu saat di tanyai hal seperti itu.


"Katanya deg degan, ya?"


"Deg degan, lah. Namanya masih hidup. Kalau nggak berdebar ya mati?" Selorohnya.


"Yeeee, serius, Mas."


"Iya, Abas. Pokoknya campur aduk. Itulah nikmatnya ketika kita nikah tapi nggak ada kata pacar-pacaran."


Abas manggut-manggut. Sebenarnya dia sendiri nggak pacaran, namun ada gadis yang sering chatting dengannya setiap hari. Dan itu di luar sepengetahuan kakak-kakaknya.


"Mas, nanti kalau udah nikah. Mas Ilyas tinggal dimana?"

__ADS_1


"Emmm, itu belum tahu sih. Mas ngikut isteri, Mas, nanti, maunya dimana."


"Jiaaah, udah manggil isteri aja," goda Abas sehingga menimbulkan tawa pada keduanya.


"Lagian, ngapain si kamu mau tahu aja? Khawatir kalau Mas Ilyas tinggal di Babelan kamu jadi sering kena marah saya, ya, Bas?" Ibnu tiba-tiba nongol dari balik pintu.


"Ya nggak, kan mau tau aja. Soalnya, kata Mas Ilyas, Mba Ayu kan ada anak dari hasil pernikahan sebelumnya. Jadi kaya seneng aja, kalau ada anak kecil di sini."


Ilyas senyum-senyum. Memang Abas dan Ibnu termasuk laki-laki yang sangat menyukai anak kecil, tak jauh berbeda dengan dirinya.


"Kemungkinan, bolak-balik. Iya, 'kan, Mas?"


"Bisa jadi, Nu," jawab Ilyas.


"Nggak papa, kalau Mas mau tinggal di sana. Toh, kita udah dewasa semua. Jadi nggak usah khawatirkan kami," balas Ibnu.


Ilyas mengangguk. Perkara-perkara itu memang tidak perlu ia pusingkan. Mungkin dirinya akan sering kerumah untuk mengerjakan pekerjaannya sebelum pulang ke Babelan. Karena tidak enak juga kalau harus bawa segala pekerjaan sampingnya ke sana. Lelah, sudah pasti. Tapi itulah resikonya ketika sudah menikah. Dirinya tidak boleh lagi egois.


"Intinya, Mas cuma titip pesan sama kalian berdua. Kalau setelah nikah nanti, Mas jarang di rumah tolong jadilah pribadi yang nggak lalai. Terutama kamu, Bas. Perkara sholat jangan di anggap enteng."


"Iya, Mas," jawab pemuda yang duduk di tengah-tengah antara kedua kakaknya.


"Mas, soal jas nikahnya, gimana?" Tanya Ibnu.


"Udah beres. Alhamdulillah Pak RW sebelah, kan, anaknya buka jasa penyewaan jas sama kebaya. Niat mau nyewa, eh... malah digratisin."


"MashaAllah..., kayanya Allah benar-benar ridho. Buktinya, baru denger Mas Ilyas mau nikah para warga satu RT udah berduyun-duyun mau ngebantuin. Bahkan siap ikut nganter kesana."


"Alhamdulillah. Itulah kuasa Allah..., kita nggak akan kekurangan keluarga. Walaupun sebatang kara sekalipun. Kita tidak akan pernah sendirian, Allah pasti kirim orang-orang baik untuk membantu dan membersamai kita. Hanya tinggal kitanya saja, bagaimana bersikap? Makanya, jangan jadi orang yang memiliki sifat buruk terhadap tetangga atau siapapun. Karena, jika ada apa-apa tetangga lah yang pertama kali datang. Paham kan sampai sini?"


"Iya, Mas. Pokoknya semoga semuanya lancar."


"Aamiin..." Ilyas tersenyum senang.


"Assalamualaikum..." Suara salam dari luar terdengar. Ketiganya saling pandang, sementara Ibnu langsung bangkit untuk melihat siapa yang datang.


Setelah beberapa detik berlalu, pemuda itu balik lagi menghampiri Kakaknya.

__ADS_1


"Mas, Mbak Fatimah di luar."


"Fatimah?" tanyanya sembari mengangkat satu alisnya. Kemudian buru-buru bangkit sembari mengencangkan kain sarungnya.


__ADS_2