
Kembali pada waktu dimana pemuda berkacamata ini tengah duduk di tengah-tengah pria yang sangat membuatnya canggung.
"Buka tangannya." Irsyad menyenggol lengan Ilyas, yang buru-buru membuat pemuda itu menengadahkan tangan. Hingga satu genggam kacang telur mendarat di sana.
Lah... Bingung dengan kacang sebanyak itu.
"Di makan, ini Bapak Ulum yang bikin sendiri. Kalau ada yang gosong-gosong. Pertanda Pak Ulum bikinnya dengan penuh cinta. Saking cintanya di pandang terus tuh kacang yang lagi di goreng sampe lupa ngangkat."
Ulum tertawa mendengar kata-kata yang sepertinya mengandung ejekan. Karena memang benar, kacang telur itu sebagian ada yang gosong. Dan entah kenapa, sebenarnya sudah ia simpan untuk tidak di hidangkan. Malah tiba-tiba sudah di tangan Kakak iparnya.
"Terima kasih, Kyai." Ilyas mengangguk sopan sambil mencicipi kudapan manis yang bercampur gurih dari kacang telor buatan Ulum katanya. Entah benar atau tidak sih, tapi dia percaya saja karena bentuknya tidak sama rata. Ada yang besar ada juga yang kecil.
"Jangan liat dari ukurannya ya, ini Bapak Ulum bikinnya sesuai suasana hati. Kalau yang gede gini berati buatan awal masih ada rasa niat, kalau yang tipis berati udah di akhir. Udah capek punggungnya yang renta itu, hasilnya kacang sungkan."
"Allahu Akbar, Kyai..." Ulum kembali tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Tentunya banyolan Ustadz Irsyad membawa suasana ruang tamu menjadi lebih hangat. Dan itu bisa di rasakan oleh Ilyas sendiri. Yang menjadi lebih santai, dengan di selingi tawa menanggapi setiap percakapan yang di layangkan kepadanya dari orang-orang tersebut.
"Nak, saya terima kasih sekali loh. Kamu mau beneran datang," ucap Ulum berbinar.
Pemuda berkacamata itu mengangguk sambil menurunkan gelas berisi teh manis.
"Sama-sama, Pak Ulum. Sebenarnya, saya justru yang berterima kasih. Karena duduk, di tengah-tengah orang-orang Shaleh. Sedikit-sedikit saya jadi nambah ilmu," tuturnya turut senang. Karena selama hampir satu jam. Dari obrolan mereka hari ini seperti menghasilkan booster, yang membuat imannya mendadak naik.
"Alhamdulillah kalau begitu, tapi sebelumnya saya ingin bertanya perihal?" Ulum menoleh pada Ustadz Irsyad yang nampak mengangguk sekali. Ulum kembali menggeser pandangannya pada Ilyas. "Perihal niatanmu waktu itu. Apakah masih berlaku?"
"Niatan Saya?" Kening Ilyas berkerut. Ia mencoba untuk mengingat-ingat. Yang dia tak lupa sih cuma satu, pengen menikahi Qonniah. Tapi masa iya itu?
"Bapak tahu sih ini telat banget. Kamu mungkin udah ada jodoh lain, ya?" Tanyanya yang di jawab gelengan kepala dengan cepat.
"Enggak, Pak. Belum..., belum saya belum ada jodoh, " jawabnya spontan. Ya Allah, semoga feeling ku bener. Semoga doa ku terjawab hari ini.
"MashaAllah, alhamdulilah kalau gitu. Semoga kalian benar-benar bisa berjodoh."
"Eh..." Ilyas menggeser sedikit semakin mendekat. "Ma–maksudnya, Pak?"
__ADS_1
Senyum Ulum mengulas sempurna. "Kalau kamu siap, bersedia kah? Kamu saya nikahkan sama anak saya. Ayudia Qonniah, bulan depan?"
Mulut pemuda berkacamata itu seketika terbuka. Sekujur tubuh terasa membeku, waktu pun seolah berhenti.
"Nak?" Panggil Ulum yang sepertinya tak di respon apapun selain bengongnya pemuda itu.
"Kamu kalau nggak cepat jawab, nanti yang di dalam berubah pikiran loh..." Irsyad menepuk bagian lutut yang tertekuk milik Ilyas hingga laki-laki itu tersadar.
"Allahu Akbar!" gumamnya dengan tetapan tak percaya. "B–Bapak... Bapak se–rius?"
"Kapan saya pernah nggak serius sama Kamu?" tanyanya yang sudah mengandung jawaban dari keraguan Ilyas tentang kata-kata Beliau barusan.
"Ya Allah..." Ilyas melepaskan kacamatanya. Mengusap air mata yang tiba-tiba luruh.
Pemuda itu pun gegas meraih tangan Ulum sebelum menciumnya bolak-balik. Setelahnya teringat akan satu hal.
"Lalu, apa yang harus saya kasih untuk melamarnya hari ini?"
"Apa yang kamu bawa hari ini?"
"Saya benar-benar nggak bawa apa-apa, Pak. Selain?"
Ya Allah, apa yang yang akan ku berikan kepada Ayudia?
Masih berusaha mencari-cari. Hingga tangannya menyentuh satu bungkusan kecil. Sebuah solder listrik yang baru ia beli. Pemuda itu mengeluarkannya pelan dengan ragu-ragu.
Irsyad tersenyum melihat itu. "Dulu, Ali bin Abi Thalib di tanyai sama Rosulullah. Ketika dirinya di panggil untuk melamar puterinya. Dan Ali hanya menjawab, Dia hanya memiliki baju besi untuk perang. Dan Rosulullah Saw menerima itu... lalu bagaimana dengan kamu Ulum? Kalau calon mantu mu hanya bisa ngasih itu?"
Pertanyaan Ustadz Irsyad membuat suasana ruangan hening. Para laki-laki yang ada di ruang tamu itu pula turut diam menunggu jawaban Ulum. Berbeda dengan Ilyas yang seketika memasukkan kembali alat tersebut.
"Pak. Izinkan saya membeli cincin untuk Ayu. Dan S–saya akan datang lagi besok."
Tangan Ulum menahan pemuda itu. Kemudian menggeleng sambil tersenyum hangat.
"Dengan ini sudah cukup, saya akan menyerahkan anak dan cucu saya kepadamu. Asal kamu mau berjanji untuk berusaha menjadi pria bertanggungjawab. Yang tidak akan pernah khianat pada Ikrar mu nanti."
__ADS_1
"MashaAllah... maaf, saya boleh memeluk bapak?"
"Silahkan." Ulum merentangkan kedua tangannya menerima Ilyas yang langsung menghambur padanya. "Berjanjilah kepada Allah..., karena Allah yang akan menyaksikan kehidupanmu setelah ini. Bagaimana caramu memperlakukan Puteri dan cucu saya."
"InshaAllah, Pak. inshaAllah... akan saya emban amanat bapak. Saya akan berusaha membahagiakan Ayu dan Nisa, semampu saya." Ilyas manggut-manggut. Kedua matanya masih banjir dengan air mata, sementara bibir gemetaran mengucap hamdalah tanpa henti.
Di ruangan lain, Ayudia tidak sanggup mendengarkan percakapan di luar. Ia gegas bangkit dan berjalan cepat menaiki anak tangga. Meninggalkan para wanita yang turut menemaninya. Bahkan Nisa sendiri pun tak ia hiraukan.
Terlihat sorot mata Nuha, Safa, Bu Aida, dan Bu Nyai Nur yang kebetulan tengah hadir juga berkaca-kaca. Membiarkan wanita itu menenangkan hatinya setelah lamaran dadakan ini diterimanya.
Sambil menutup pintu kamar, Ayu terisak-isak. Tubuhnya merosot turun memeluk lutut. Senyum Harun kembali melintasi pikirannya.
"Aa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku tidak bermaksud, Aa..."
Tubuhnya berguncang hebat karena tangis. Suara akad nikah yang di gaungkan Harun lima tahun lalu terngiang-ngiang. Bahkan kecupan pertama di bibirnya saat malam pertama mereka pun masih terasa hangat.
"Hiks..." Qonni meremas kain hijabnya. Rasa sesak merejam-rejam jiwa yang dingin dan kosong. Ia tak yakin bisa benar-benar taat pada Ilyas. Laki-laki yang sama sekali tidak ia cinta itu.
Di depan pintu, Safa menghentikan niatnya yang hendak mengetuk pintu saat mendengar tangis adiknya dari dalam kamar benar-benar menyayat hatinya.
"Aku itu mencintaimu A', kenapa Aa pergi lebih dulu. Sehingga aku harus menikah lagi dengan Dia."
Di luar, Safa menutup mulutnya. Beristighfar dengan air mata juga turut berlinang. Menempelkan bahunya di pintu, merasakan betapa beratnya kehidupan Qonni sekarang-sekarang ini.
Kembali ke dalam... Perempuan itu sudah merubah Posisinya tersungkur di lantai sembari memeluk bingkai foto pernikahannya dengan Harun. Mengusap pelan wajah yang tengah mengarahkan pandangan penuh cinta padanya.
"Beritahu aku, bagaimana nanti aku harus menjalani hari-hari ku dengan laki-laki lain...? beritahu Aku A' Harun..., bagaimana caraku melayani laki-laki lain, dan bukan kamu! tolong beritahu padaku caranya." Merintih dalam kerinduan yang menyayat. Tak ingin rasanya ia melepaskan bingkai foto dalam dekapannya. Apalagi membuang cinta yang mengakar untuk suaminya, demi pria yang akan menjadi suami keduanya nanti.
Andai bisa ia memilih, ia hanya ingin bersama Harun hingga masa tua menyapa. Nyatanya, perkara hidup dan mati semua di luar kuasa siapapun, selain Tuhan yang menggenggam takdir. Dan sekarang, ia harus patuh dengan alur yang di gariskan kepadanya.
Bersambung...
.
.
__ADS_1
.
# POV Author... Okay, nafas dulu. Agak nyesek nih dada ku... huhuhu. 🥺 Terima kasih atas komen dan like-nya teman-teman.