Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
yang tak terduga


__ADS_3

Perempuan yang kini telah menemukan kursi kosong lantas duduk lebih dulu. Dan di susul pula oleh Fatimah. Qonni lantas tersadar, jika ia telah meninggalkan gadis berhijab di sisinya secara tiba-tiba.


"Bu Fatimah, saya minta maaf tadi tiba-tiba nyelonong pergi begitu aja," sesalnya.


Fatimah sendiri hanya tersenyum. "Nggak papa, Bu Ayu. Tiba-tiba papasan dengan seorang Ikhwan pasti kaget 'kan? Aku juga."


Qonni hanya menanggapi dengan senyum kecut.


Sebenarnya, bukan masalah kaget. Hanya saja aku tidak? –dalam hati pun ia berusaha untuk tidak mengucapkan kalimat ketidaksukaannya terhadap Ilyas. Perempuan itu beristigfar.


"Ayo di makan, Bu." Ajak Qonni mengalihkan adapun gadis di sisinya langsung mengangguk semangat.


Sebenarnya Fatimah senang saat berpapasan dengan pria berkacamata yang memiliki aura teduh seperti Ilyas. Namun sebagai seorang wanita muslimah yang tentunya wajib menjaga marwahnya, iapun hanya bisa memendam dalam hati hingga saat ini.


Walau sempat dirinya mencoba memancing keluarganya, agar di carikan jodoh. Bahkan menyematkan kriteria seperti Ilyas. Ya, semoga saja Ayah peka. Begitulah kira-kira batin Fatimah berharap. Karena sampai sekarang Ayah belum juga memberitahukan kalau sebenarnya laki-laki paruh baya itu sudah menyampaikannya pada Ilyas.


🌸🌸🌸


Tidak ingin berlama-lama di acara tersebut. Saat yang lain masih memutuskan untuk saling mengobrol, Qonni pun berpamitan. Beginilah kehidupan setelah memiliki anak. Ingin pergi lama pun, sudah tidak semudah dulu. Kalaupun di rumah ada yang jaga, tetap saja hatinya was-was. Selalu saja kepikiran anak yang ada di rumah.


Dalam perjalanan yang masih berada di kawasan Bogor. Perempuan itu harus melewati rute yang sama seperti saat berangkat tadi. Jalan yang tak begitu mulus, karena terdapat beberapa lubang yang tersebar di beberapa titik. Bahkan sisi kanan dan kirinya nampak di penuhi perkebunan yang membentang panjang. Pantas saja Neti hanya pulang dua minggu sekali ke rumah orangtuanya. Karena jarak tempuh yang jauh menuju tempatnya bertugas.


Perempuan yang masih tertegun memandangi jalan yang sedikit berliku itu mulai merasakan adanya keanehan pada motor yang ia kendarai.

__ADS_1


"Teh, bannya kempes tuh!" Seru seseorang yang sengaja mendahuluinya. Qonni pun menepi, turun dari atas motor serta memeriksa kedua roda motor matic tersebut. Benar saja roda di bagian belakang kempes yang bisa ia pastikan jika roda tersebut bocor.


Di bawah teriknya matahari siang menjelang sore, perempuan itu tertegun sejenak. Matanya menyalang menatap sekeliling. Kawasan jalan ini terbilang sepi, hanya terdapat motor dan mobil lalu lalang saja. Pun, lumayan jarang. Sementara di tepi-tepi jalannya tak nampak satupun warung permanen ataupun yang hanya sebatas warung tenda yang biasa berjajar.


Perempuan berhijab itu sedikit menghela nafas, namun ia tetap berusaha untuk tenang. Tak ada pilihan lain selain mendorongnya pelan motor tersebut. Berharap setelah ini ia bisa melihat adanya bengkel tambal ban.


Baru sekitar sepuluh meter perempuan itu berjalan, ia sudah ngos-ngosan. Belum lagi ia tak kunjung menemukan satupun penjual jasa untuk masalah motornya itu. Qonni sedikit khawatir, sementara sinar mentari sore semakin meredup.


"Astaghfirullah gimana ini, mana jalannya lumayan sepi." Perempuan itu masih melanjutkan langkahnya yang mulai terseok-seok. Mendorong motor dengan susah payah, sebab medan yang lumayan menanjak. Berharap bisa segera menemukan bengkel tambal ban.


Andai Ada A'a. Aku pasti tidak kondangan sendirian. Dan di saat-saat masalah yang terbilang sepele seperti ini. A'a pasti menenangkanku atau yang sudah pasti akan dilakukan adalah, kita akan berjalan bersama sambil ngobrol agar tidak begitu terasa lelahnya.


Sebenarnya, bukan sengaja ia jalan sendirian. Para guru lain sudah mendiskusikan akan berangkat bersama menggunakan mobil. Tapi Qonni menolak ikut karena niatnya ia ingin datang bersama ibu dan Nisa, sambil mampir ke suatu tempat untuk refreshing. Sementara Ayah saat ini sedang di luar kota menghadiri acara lain. Namun sayang, Nisa malah justru sedikit demam. Jadilah ia tetap berangkat sendiri karena tidak enak dengan Neti yang sudah menjadi rekan terdekatnya selama di sekolah. Bahkan ia pun ikut sibuk membantu Qonni ketika menikah dengan Harun dulu.


Di sela-sela rasa yang mulai menunjukkan keputusasaan. Sebuah motor melintas, salah satu pria yang membonceng itu sempat menoleh kebelakang saat melewati perempuan dengan gamis pink yang masih menggunakan helm-nya.


"Geulis euy!" ucap pria di belakang sambil menepuk pundak kawannya. Sementara yang duduk di depan langsung menoleh ke kaca spion.


"Samperin?"


"Hahaha... hayu lah!"


Dua pria dewasa itu langsung putar arah menghampiri wanita yang kini sudah kembali mendorong motornya. Perempuan berstatus janda muda itu tak memiliki pikiran apapun saat dua laki-laki dengan kaos lusuh khas pekerja perkebunan itu menghampirinya.

__ADS_1


"Neng, sendirian? Motornya kenapa, kok di tuntun?" Tanya salah satu dari mereka yang jika di lihat-lihat wajahnya nampak polos.


"Iya, bannya bocor. Maaf, Akang-Akang ini tahu tambal ban yang terdekat?"


"Tahu, atuh," jawabnya tersenyum nakal kemudian menunjuk ke arah belakangnya. "Ada di sana, Neng mau di anterin?"


Qonni bergeming, ia menyadari mendadak perasaannya tidak enak. Lebih-lebih kata mau di anterin.


"Sini motornya biar Akang yang tuntun. Nengnya ikut A'a itu ya. Biar nggak capek–" usulnya.


Perempuan itu pun tersenyum sambil menggeleng. "Maaf, Kang. Biar saya tuntun sendiri aja. Makasih ya–"


"Nggak akan ketemu kalau cuma sendirian. Mending di anterin aja, yuk." Sedikit memaksa, pria itu malah justru memegangi stang motor matic milik Qonni.


Bersamaan dengan itu, Ilyas yang kebetulan melewati kawasan yang sama bersama empat motor lainnya memicingkan mata. Dari kejauhan, ia seperti kenal dengan perempuan bergamis pink yang sedang berdiri dengan dua orang pria.


"Itu kayanya tamu di acara walimahan tadi, ya?" tanya pria yang membonceng Ilyas.


"Iya, Isterinya Harun. Kenal?"


"Oh..." pria yang hanya mengenal sosok Harun-nya saja mengangguk. "Tolongin, Ust. Kayanya ada yang nggak beres."


Tak ingin mengambil resiko karena harus berpikir panjang. Buru-buru Ilyas menarik gas guna menghampiri Qonniah yang tengah di bujuk agar mengikuti dua pria asing tersebut. Sementara empat teman-temannya yang lain ikut menepi. Hal itu pulalah yang kemudian membuat dua orang tadi sedikit panik.

__ADS_1


__ADS_2