
Di tempat lain...
Siang ini Ustadz Irshad dan Rumi melangkah bersama, menyusuri jalan berpaving di salah satu masjid. Setelah menghadiri acara tabligh yang di isi oleh seorang Habib dari Tarim, niatnya mereka akan langsung pulang ke rumah.
"Le, kita mampir ke toko bunga dulu, ya."
"Buat apa, Bi?"
"Buat kekasih hati Abi, dong. Kalau dia ngambek gimana? Repot urusannya bisa-bisa nggak mau dateng ke mimpi Abi lagi," candanya.
Rumi terkekeh. "Baru juga kemaren Abi ke makam Umma."
"Masa iya baru kemarin? Kok berasa udah satu abad ya?" Tubuh gempal Ustadz Irsyad berguncang karena tawa. Sembari menekan frame kacamata, Beliau melanjutkan langkahnya pelan bersisian dengan Rumi.
"Nanti deh, abis dari rumah Abahnya Jimi ya, Bi."
"Kok, rumah Abahnya Jimi?"
"Gini, Rumi baru ingat. Kemaren si Jimi bilang, Abahnya pengen ketemu Abi. Ada yang mau di sampaikan."
"Soal opo?"
"Nggak tahu juga. Kalau bisa siang ini kita langsung mampir aja, besok kan Abi balik ke Magelang."
"Opo, Ndak ganggu? Siang-siang mertamu?"
"Enggak, Bi. Ini aja Rumi baru kepikiran mau ambil file sorenya. Tapi dari pada bolak-balik mending sekalian aja."
"Hmmm..." Ustadz Irshad mengusap dagunya yang berjenggot tipis tersebut, sambil melangkah mendekati mobil mereka.
"Gimana, Bi, mau nggak? Abi nggak begitu capek, kan?" Tanya Rumi sambil menekan tombol kunci.
"Dikit, sih. Tapi yo wes, Ndak papa. Sekalian silaturahmi, kali aja dapat es teh manis," ucapnya sembari membuka pintu mobil. Rumi sendiri geleng-geleng kepala turut masuk juga di bagian kemudi.
***
Seorang pria berusia tiga puluhan ini menyuguhkan empat cangkir teh dan dua piring kue basah.
"Di minum, Kak Rumi. Pak Kyai–" Jimi menawarkan, sebelum akhirnya duduk di sebelah Abahnya.
"Lagi di Jakarta, Le?" tanya Ustadz Irsyad pada laki-laki yang sudah cukup lama di kenal.
"Iya, Pak Kyai. Karena besok tanggal merah jadi mudik Jakarta, kalau hari kerja di Bandung. Soalnya masih di kantor yang pusatnya, " jawab Jimi sopan. Sementara Irsyad hanya mengangguk.
"Barakallah, Kyai..." seorang pria yang kisaran usianya tak beda jauh dari Irsyad menghampiri.
"Allah... Allah..., apa kabar?" Irsyad berdiri menyambut lantas berpelukan.
"Kabar baik, walau suka sakit-sakitan."
"Yo wajar, kita kan sudah bau tanah," kekehnya. Sang Tuan rumah kembali menawarkan minum. Berbincang sebentar sebelum ke inti.
__ADS_1
"Saya langsung to the poin aja, ya Kyai."
"Monggo, Pak." Irsyad terkekeh, tangannya bergerak perlahan menurunkan cangkir.
"Begini, di daerah Babelan, saya punya ruko. Lumayan luas sih, berlantai dua. Jadi yang di bawah semacam toko sementara di atas bisa untuk tempat tinggal. Nah, saya tuh ada niatan untuk menawarkan itu pada Kyai Irsyad."
Irshad manggut-manggut, ia berpikir jika Abah di depan akan menjual rukonya kepada Beliau.
"Kira-kira, Bapak mau jual berapa?" tanya Irsyad dengan bibir tersungging senyum.
"Loh saya nggak niat jual, Kyai."
"Lantas?"
"Saya mau kasih buat Kyai, secara cuma-cuma sebagai tanda cinta karena Allah. Hitung-hitung ucapan terima kasih, karena udah bersedia jadi guru ngaji saya selama sepuluh tahun ini, Kyai," jawabnya sambil terkekeh.
"MashaAllah," gumamnya. Baru saja kemarin Beliau di kasih sawah sepuluh hektare oleh orang tua santrinya. Sekarang ia malah mau di berikan toko pula. "Saya ini ngajar bukan buat minta toko, loh, Pak."
"Alaaah, ya nggak gitu. Ini kan inisiatif saja, Kyai. Saya cuma ngerasa semakin tua semakin ingin mengurangi harta saya. Biar bisa mengurangi hisab."
"Dengan cara di buang ke saya? Terus saya dong yang bakal lama di hisabnya." Keduanya terkekeh.
"Nggak gitu, Kyai. Saya hanya ingin, toko yang saya kasih itu di manfaatkan untuk syi'ar."
"Syiar— pie maksude iki?"
"Gini, loh. Inginnya ruko saya itu jadi rumah Qur'an atau apalah. Itu kan luas Kyai. Karena sempat di sekat juga pakai dinding kaca. Sementara sebelahnya bisa di pakai untuk berniaga."
"Oh, ngunu..." manggut-manggut.
Irsyad kembali mengangguk, tiba-tiba saja ia teringat wajah Ilyas dan Qonniah.
"Kayanya kalau saya hanya nerima cuma-cuma, Ndak bisa, Pak."
"Emang kenapa?"
Irsyad termenung. Rasanya hati ini seperti ada yang mengganjal, setiap kali menerima sesuatu dari jama'ahnya. Sebab jaman Nabi dakwah tak seperti dirinya. Memberi manfaat malah di berikan dunia yang tiada henti-hentinya melalui para jama'ah. Sementara Rosulullah di awal-awal kenabiannya, Beliau sering pulang dalam keadaan babak belur. Yang tak jarang ketika dirinya sedang sujud, orang Quraisy justru meletakkan isi perut unta yang telah membusuk di punggung Beliau.
"Kyai?"
Irsyad mengusap air matanya. "Saya bersedia sih nerima, asal jangan cuma-cuma."
"Kok, gitu? Wallahi Kyai, saya itu ikhlas. Mau ngasihnya."
"Maturnuwun, Pak. Tapi saya juga Ndak bisa kalau harus gratis. Gini aja, kita pakai akad. Sampean jual ke saya. Nanti uangnya saya sumbangkan ke Baitul maqdis atas nama Anda."
"MashaAllah, iya, Kyai. Kalau gitu nggak papa..."
"Ridho, njih?" Kyai Irsyad mengulurkan tangannya. Bapak itu pun menyambut dengan menjabat tangan Irsyad. "Setelah ini akan saya urus lewat orang yang akan saya berikan amanah."
"Baik Kyai." Binar di wajah pria dengan rambut yang sudah memutih semua itu terpancar. Begitu pula dengan Irshad.
__ADS_1
MashaAllah, rejekimu Nduk. –Irsyad tengah memikirkan anak bungsu dari Ulum.
***
Senja menguning, Pria tambun yang baru saja selesai berdzikir petang ini tengah sibuk memasak mie instan sendiri di dapur. Entah mengapa, tiba-tiba ingin makan itu bersama Alzah sang cucu.
Irsyad membawa dua porsi mie, satu mie goreng untuk Alzah satunya lagi mie rebus untuk dirinya sendiri.
"MashaAllah, mantep ini Le... makanan ilegal di rumah. Mumpung Ummi lagi pergi sama Abi." Irsyad meletakkan dua porsi mie ke atas meja.
"Yeeeeey..." Alzah yang sudah duduk sambil memegangi garpu dan sendok girang ketika mie goreng terhidang di hadapannya.
"Pelan-pelan maemnya. Masih panas, ya, Le."
Alzah manggut-manggut. Kedua kakinya yang belum sampai napak ke lantai di ayun-ayunkan.
"Alzah nggak suka kuningnya, Mbah." Alzah meletakkan kuning telur ke mangkuk kakeknya yang kontan membuat Irsyad terdiam.
Seolah ingatannya kembali ke masa lalu, masa di mana dirinya sedang makan mie instan berdua lalu Rahma meletakkan kuning telur ke dalam mangkuk suaminya.
# Flashback on...
"Buat, Mas Irsyad," ucapnya seraya cengengesan.
"Gimana ceritanya jadi dikasihin ke Mas, to, Dek?"
"Aku nggak suka kuning telur," jawabnya enteng. Di seruput nya kuah Mie instan rasa soto itu dengan hati-hati. "MashaAllah..."
"Enak, Dek?"
"Enak banget, Mas."
"Yo jelas, wong rasa kari— kari mangan," selorohnya sembari terkekeh. Rahma pun sama, turut tertawa.
"Ada untungnya aku suka makan putih telur, Mas."
"Hemmm..." Irsyad manggut-manggut, mulutnya tengah menyantap helaian kriting yang terbuat dari tepung.
"Karena memang asupan protein itu perlu. Bisa nguatin otot juga, dan aku jadi nggak gampang gemuk." Cekikikan.
"Yooo, kamu langsing makan putih telur. Biar Kang Mas mu ini yang ke bagian kolesterolnya. Karena selalu ngabisin kuning telur yang kamu tolak ini."
Rahma tertawa sambil menutup mulutnya. Sementara tangan yang satu memukul lengan sang suami gemas.
"Kebiasaan, kalau ketawa pake KDRT," cibir Irsyad sambil mengusap lengannya sendiri. Yang di singgung pun semakin tergelak.
#flashback off
Irsyad tersenyum, memandangi sang cucuk yang terlihat lahab menikmati seporsi mienya. Beliau pun menyantap sedikit kuning terlur tersebut dengan rasa rindu bergemuruh di dada, karena sekarang tentu Beliau membatasi konsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi.
Di luar suara bel berdengung. Membuat kepala Irsyad terangkat mengarah ke pintu.
__ADS_1
"Mbah, nengok tamu sebentar, yo, Le."
"Oke, Mbah...," jawab bocah berusia delapan tahun itu semangat. Irsyad bangkit mengusap kepala Alzah kemudian gegas keluar menghampiri seseorang yang bertamu sore ini.