Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kumpul teman


__ADS_3

Tak berselang lama dari kedatangan Ilyas, tiba juga dua pasangan suami-isteri. Mereka menghampiri pasangan baru yang tengah duduk di meja khusus enam orang.


Seperti reuni kecil-kecilan. Semua saling berpelukan, dengan penampilan yang cukup membuat Ilyas pangling.


"Weeeh, Gus..." sapanya pada pria dengan Koko gamis warna abu-abu, di sebelahnya pula tak kalah membuat Ilyas geleng-geleng kepala.


Para isteri bersalaman. Saling berkenalan antar satu sama lain, sebelum kembali duduk di kursinya masing-masing.


Hampir tiga puluh menit menunggu, Ilham datang dengan di bantu pegawainya, membawa nampan. Di suguhinya cumi yang di campur kerang dan udang masak saus Padang. Gurame asam manis, cah kangkung, serta beberapa menu goreng-goreng lainnya. Tak lupa pula, enam gelas minuman yang sempat di tawarkan oleh Ilham.


"Royal banget Tuan hajat, MashaAllah..." cibir pria dengan Koko gamis tadi.


"Iya ini mah buat se-RT. Banyak, banget?" timpal Ilyas melihat beberapa menu yang tersaji di depan.


"Biar bisa tau, mana yang paling di sukai." Terkekeh.


"Wah wah... duduk sini, Ham. Jangan kaya orang ngasih makan ayam. Antum juga mesti makan–" ucap pria satunya lagi yang di sambut tawa mereka.


"Haha, thoyib... thoyib..." Ilham mengambil kursi lain, turut duduk bersama mereka.


Sambil mencicipi makanan yang tersaji mereka pun ngobrol ringan. Mengenang masa-masa perkuliahan, serta kegiatan kala mereka masih jadi aktivis.


Untuk Qonni sendiri, sebenarnya tidak asing dengan para laki-laki itu. Karena mereka Kakak tingkatnya dulu. Yang salah satunya sempat datang di acara pernikahan dirinya dengan Harun.


"Omong-omong, rame juga ya kedai Antum. Padahal baru buka?" tanya Ilyas penasaran.


"Baru buka di sini, Yas. Tapi sebenarnya, di rumah tuh isteri Ane udah ada lima tahunan nerima katering."


"Lima tahun?" Tanya pria di sebelah Ilyas setengah tak percaya.


"Iya, dari masih gadis. Emang suka masak orangnya, terlebih kenalan Umminya banyak. Jadi sering terima orderan seafood gitu."


"Ooo..." Serempak manggut-manggut.


"Nah, baru tahun ini lah terkumpul modal. Akhirnya Ane bisa buka sendiri. Tapi tetep— isteri yang racik bumbu-bumbunya."


"Iya...iya... sip lah. Pulang dari Qatar langsung banting stir dagang," ledek pria yang menggunakan setelan kasual hingga memicu gelak tawa mereka.


"Yah, tujuan Ane kerja setahun di Qatar kan karena ini. Pengen mengembangkan bisnis rumahan isteri," jawabnya kemudian setelah meredam tawa.


"Bisa, gitu— cuma setahun?" Tatapan Ilyas mengarah serius, seperti tertarik.


"Bisa, karena emang kontraknya segitu. Soalnya Ane cuma jadi pengganti pekerja yang lagi cuti pada saat itu. Makanya nggak lama."


"Oh, berati emang sebenarnya, harus lebih, 'kan?" Tanya pria yang menggunakan Koko gamis.


"Iya lah. Minimal tiga tahun. Tapi kalau tiga tahun, kayanya Ane nggak betah. Maklumlah, setahun aja rasanya udah pengen pulang terus."


"Wajar sih... kita-kita yang udah beristri pasti paham."


"Nah itu. Lagian, seenak-enaknya tinggal di negeri orang, lebih enak negeri sendiri. Mungkin di sana gaji besar. Itu kalau di bawa ke Indonesia, Ane setuju. Tapi kalau di pake buat hidup di sana. Sama aja kaya UMR Jakarta di pake buat hidup di Jakarta."

__ADS_1


"Setuju... setuju," timpal Ilyas.


"Omong-omong, udah nggak buka privat lagi dong?" tanya pria berpenampilan kasual yang masih asik menikmati udangnya.


"Sementara Ane tutup dulu. Soalnya waktu dan tenaga terbatas," jawabnya.


Mereka kompak manggut-manggut. Sementara Ilyas beralih menyeruput Teh tawarnya.


Sambil meletakkan gelas, pria berkacamata minus itu menoleh kearah Qonni yang duduk di sebelahnya, paling pojok dekat dengan dinding.


Ia khawatir keasikan ngobrol malah jadi mengabaikan Qonni yang justru tengah asik menyantap jamur tiram goreng tepung.


"Di makan, Mas," ucapnya menawarkan, yang di balas senyum Ilyas.


"Enak, nggak?" tanyanya lirih, sebab kalah dengan tawa teman-teman yang lain.


"Iya, gurih... nggak beraroma jamur yang agak langu juga, Mas."


"Emmm..., mana sini, Mas mau coba." Pria itu membuka mulut, yang seketika itu di respon, Qonni langsung memasukkan jamur tiram krispi itu kedalam mulut suaminya.


"Enak, kan?"


"Iya enak..," jawabnya setuju.


"Duuuuh, penganten baru di pojok. Udah, berasa tembok semua kita mah," ledek salah satu dari mereka. Hingga membuat pria berkacamata itu kembali menoleh sambil turut tertawa.


Mereka terus melanjutkan satap malam ini dengan nikmat. Bahan-bahan Seafood yang fresh, membuat olahan ini menjadi lebih nikmat. Tak bisa di pungkiri, rasa saus Padang yang kental ini juga tidak kaleng-kaleng. Pantas lah, jika menu ini yang menjadi best seller di sini.


Masih berlanjut obrolan, walau kedai sudah mulai sepi. Bahkan alat masak juga sudah mulai di bersihkan. Pertanda kedai akan tutup karena memang waktu sudah semakin beranjak malam.


"Udah jam setengah sepuluh, nih. Anna harus pamit," ucap Ilyas.


"Iya, Anna juga." Pria dengan Koko gamis itu setuju.


"Padahal masih belum begitu malam. Tapi, makasih banyak ya. Kapan-kapan jangan lupa datang lagi."


"InshaAllah..." Ilyas tersenyum.


"Duh, jadi berapa nih?" Tanya salah satu dari mereka.


"Apaan, sih nanya harga," tolak Ilham.


"Ana nggak mau lah kalau digratisin. Makanannya aja sebanyak dan seenak ini."


"Bener, Anna setuju. Kita bayar aja, Ham," ujar Ilyas.


"Eh, Antum-Antum ini kan Ane yang undang. Pegimane sih... udah, santai aja. Kaya ama siapa."


"Ya Allah, beneran, Ham. Jujur kita nggak enak."


"Nggak enak kasih kucing! Ribet amat, di kasih gratis malah mau bayar segala. Lagian hitung-hitung selametan," ujarnya sambil tertawa, Ilham benar-benar serius mengundang temannya itu sebagai tasyakuran.

__ADS_1


"Ya udah, kita doakan semoga kedainya rame terus." Ilyas menepuk bahu pria di sebelahnya.


"Aamiin, makasih ya. Semua..., sayang banget Haki nggak datang."


"Lagi di kampung ya tuh, anak?" Tanya pria berpenampilan kasual.


"Iya. Kemungkinan balik nggak tau kapan. Ibunya sakit keras."


"Ya Allah, moga-moga Allah angkat penyakitnya," ucap Ilyas.


"Aamiin," saut mereka hampir bersamaan.


Setelah saling berpelukan, mereka pun pamit. Ilham dan isteri mengantar hingga ke depan kedai. Dan, diantara teman-teman Ilyas yang datang semuanya mengendarai mobil. Ya, hanya Ilyas yang datang dengan sepeda motornya.


Pria itu memasangkan helm di kepala isterinya. Suara klakson terdengar dari dua mobil yang mulai melaju mundur.


"Hati-hati, Yas." Masih menunggu, Ilham setia berdiri bersama isterinya.


Ilyas pun membunyikan klakson, sebelum akhirnya melaju. Meninggalkan kedai yang baru saja di buka itu.


...


Dalam perjalanan, Qonni termenung memandangi jalan yang semakin lengang. Cahaya dari lampu-lampu jalan sesekali menerpa wajahnya ketika melintas.


"Dek?"


"Ya, Mas?" terkesiap.


"Maaf, ya."


"Maaf kenapa, Mas?" Mencondongkan tubuhnya, agar lebih terdengar suara Ilyas.


"Maaf, karena Mas masih ngajak kamu jalan pake motor."


"Ya Allah, Mas Ilyas ngomong apa sih?" Wanita itu kembali memundurkan wajahnya. Sementara tangan Ilyas terangkat sambil menggenggam tangan Qonni, menciumnya.


"Mas janji, akan berusaha. Kasih kenyamanan untuk mu, Nisa, dan adiknya Nisa kalau Allah kasih rezeki lagi."


Qonni tersenyum tipis, menanggapi kata-kata yang terakhir.


"Omong-omong, kamu mau nggak punya anak dari Mas?"


"Kenapa mesti tanya. Emang ada— orang yang nolak rejeki anak, gitu?"


"Enggak Sayang." Kembali mencium tangan Qonni. "Mas sebenarnya khawatir kamu belum siap karena Nisa masih kecil."


Qonni bergeming, dengan bibir menghembuskan nafas. Ia sebenarnya setuju, dengan kata-kata Ilyas. Nisa masih terlalu kecil untuk punya adik. Namun, kalau menolak sama saja ia tidak menghargai Ilyas.


"Jangan terlalu di pikir. Mas cuma tanya aja kok. Mas menghargai tubuhmu, yang akan mengandung dan menyusuinya. Sekarang, fokus aja dulu sama Nisa, ya."


Qonni mengangguk. "Iya, Mas," jawabnya kemudian.

__ADS_1


Ilyas menghembuskan nafasnya pelan. Walaupun sudah merasakan berhubungan suami-istri yang pertama, dan lupa langsung menyirami lahan yang subur itu. Ia berharap, masih ada kesempatan. Karena kasian isterinya jika harus hamil lagi. Namun, jika rezeki datang lebih cepat. Ia pun siap untuk membantu sang isteri merawat dua anak.


__ADS_2