Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
pertolongan tak terduga


__ADS_3

"Assalamualaikum." Sapa Ilyas pada mereka yang ada di sana.


"Walaikumsalam warahmatullah." Baru kali ini Qonni merasa lega sekaligus senang saat melihat pria berkacamata itu.


"Maaf, Kang. Ini calon saya." Karena paham situasinya Ilyas malah mengaku-ngaku yang kontan membuat Qonni menunduk.


"Oh, calonnya. Kunaon malah jalan sendiri - sendiri?" Salah seorang pria tadi bertanya sambil menjauh mendekati motor mereka.


"Ya karena kita belum halal, makanya sendiri-sendiri. Ini biar jadi urusan Saya. Terima kasih, ya Kang."


"Hemmmm! Yuk lah–" ajak salah satunya sambil menepuk pundak pria satunya lagi. Mereka pun kembali menyalakan mesin motor bebek yang sudah tidak orisinil lagi bodynya. Kemudian melenggang pergi sambil menggeber gas berkali-kali.


Alhamdulillah – batin Qonni saat dua laki-laki tadi sudah pergi.


"Kamu diapain, Dek?" Tanya Ilyas bernada khawatir. Perempuan itu pun menggeleng.


"Nggak di apa-apain. Mereka cuma bilang mau nunjukin bengkel tambal ban," jawabnya singkat. Adapun Ilyas langsung melirik kearah ban motor yang memang kempes.


"Alhamdulillah Ya Allah..., beruntung mereka bukan begal, Yu," tutur Ilyas kemudian.


"Begal?"


"Disini lumayan rawan loh. Tadi contohnya, bukan su'udzon tapi mereka mencurigakan."


Qonni manggut-manggut, sebenarnya ia juga merasa nggak enak saat mereka menawarkan diri untuk mengantar Qonni.


"Belum lama ini ada kasus pemerkosaan, Yas. Seorang gadis yang baru pulang sekolah, siang-siang melintas di kawasan sini. Bahkan termasuk kasus ke tiga. Yang terakhir korbannya sampai terbunuh." Seseorang dengan motor sport itu menimpali.


"Astaghfirullah! disini?" Tanya pemuda berkacamata itu.


"Ya di daerah sini, agak kedepan sana. Kawasan perkebunan," jawabnya. Ilyas pun menoleh ke arah Qonni. Wajah manisnya mendadak pucat pasi.


Tiba-tiba kedua kaki gadis itu seketika lemas. Tadi juga mereka berdua mengajaknya ke sana. Coba saja jika tidak bertemu Ilyas dan kawan-kawan bisa saja kan ia menjadi korban keempat.


"Motornya bocor?" Tanya Ilyas mengalihkan agar teman-temannya tak lagi bercerita, hal yang membuat jandanya Harun itu semakin ngeri.


"Iya, Mas," jawabnya singkat.


"Kok bisa kamu nggak bareng siapapun?" Tanya Ilyas sembari berjongkok di dekat motor Qonni. Memeriksa ban motor tersebut. Perempuan itu pun hanya diam saja. Perasaannya masih tak karuan, antara lelah bercampur takut yang sedang beralih ke perasaan lega.


"Tambal ban jauh kayanya." Salah satu teman Ilyas bersuara. Mereka-mereka jadi turut sibuk mencari cara agar bisa membawa motor Ayudia ke salah satu bengkel tambal ban.


Sementara itu seorang pria yang memiliki profesi sama sebagai seorang guru mulai melihat mobil dari kejauhan.


"Kayanya itu pick up..."

__ADS_1


"Mana? Kosong nggak? Coba di stop."


Dua orang dengan jaket yang sama-sama hitam menghentikan mobil pick up tersebut. Beruntungnya, mobil tersebut kosong sehabis membawa kayu.


"Nuhun, Kang. Boleh minta tolong?"


"Oh, iya A'..., gimana?" Tanya bapak dengan kulit tubuhnya yang gelap terbakar matahari.


"Ini. Bisa angkut satu motor sampe ke bengkel?"


"Oh, atuh boleh. Mangga! Taro aja di belakang." Pria paruh baya yang terlihat ramah itu membolehkan. Bahkan dengan senang hati, membantu mereka untuk mengangkat motor Ayudia Qonniah ke atas bak bagian belakang mobil.


"MashaAllah–" Qonni merasa senang dan terbantu sekali. Mereka-mereka seperti malaikat yang di kirim Tuhan untuk membantunya. Kini motor sudah berada di atas mobil dalam posisi terikat. Dua orang pria yang tadi membonceng Ilyas dan satu motor lainnya memilih untuk naik di bak belakang sambil menjaga motor tersebut.


Ilyas pun menggeser pandangannya ke arah Qonni.


"Maaf, apa kamu mau bonceng saya, Yu? Saya antar sampai ke bengkel," ucapnya menawarkan.


Sedikit ragu-ragu gadis itu pun mengangguk. Ilyas pun bersiap naik ke atas motornya. Dimana ia berada di paling belang dari posisi teman-teman yang lain.


"Udah?" Tanya Ilyas memastikan, perempuan yang kini sudah duduk dengan tas di tengah-tengah sebagai pembatas antara dia dan Ilyas itu mengangguk.


"Iya, udah."


"Ayo jalan, Kang!" Salah seorang teman Ilyas yang ada di mobil berseru. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju bengkel untuk memperbaiki ban motor yang bocor.


–––


Tiba di bengkel motor langsung di turunkan. Dan mendorongnya pelan agar lebih masuk ke dalam bengkel untuk di tangani.


"Maaf, Kang..." Ilyas menyerahkan uang limapuluh ribu pada sang supir pickup.


"Apaan nih?" Pria bertubuh tambun itu tertawa dengan kedua tangan bersembunyi di belakang.


"Buat ganti bensinnya," kata Ilyas.


"Nggak perlu, kebetulan saya juga mau pulang. Rumah saya masih maju ke sana. Jadi nggak usah, yang penting motor udah sampai sini."


"Aduh, jangan gitu Kang."


"Nggak papa. Mangga-mangga, saya lanjut jalan lagi ya."


"Tapi, Kang?" Ilyas masih berusaha untuk mengulurkan uangnya.


"Nggak usah." Pria paruh baya itu sudah masuk ke dalam cabin kemudi.

__ADS_1


"Ya ampun–" gumamnya. Qonni pun mendekati bapak tersebut.


"Pak, makasih banyak ya. Dan ini buat keluarga Bapak." Qonni menyerahkan sebuah bingkisan berisi satu loyang kue bolu yang ia terima dari ibunya Neti sebagai oleh-oleh untuk keluarganya.


"Aduh, makasih banyak Neng." Untuk kali ini pria itu tak menolaknya. Kedua tangannya menerima dengan senang hati.


"Saya yang berterima kasih. Semoga kebaikan bapak di balas lebih baik lagi."


"Aamiin, aamiin Ya Allah. Kalau begitu saya jalan lagi, ya. Buat kalian yang mau pulang, hati-hati setelah ini."


"Ya Kang!" Mereka saling mengarahkan telapak tangan mengiringi laju mobil tersebut. Ilyas melirik kearah Qonni yang tersenyum singkat sebelum menjauh darinya dan teman-teman yang lain.


Karena tak ingin kejadian sama terulang. Mereka sepakat menemani Qonni sampai motornya selesai di tambal, kemudian mengantar perempuan itu hingga ke kawasan yang lebih aman dan lebih dekat dari tempat tinggal Qonni.


Qonni menghentikan laju motornya. Ia mengucapkan terima kasih pada Ilyas dan teman-teman sebelum kembali melanjutkan perjalanan yang berlainan arah dengan lima motor tersebut.


"Yas, beneran dia calon Ente?" Tanya teman yang saat berangkat membonceng Ilyas dan kini jadi membonceng teman lain.


Pria itu pun tersenyum tipis. "Kalau Allah meridhoi. Inginnya begitu."


"waduh, waduh?"


"Jangan heran. Inilah pria sejati, selama ini pasif tapi diam-diam memiliki belahan jiwa yang ia sedang perjuangkan di belakang, lewat jalur langit," seloroh salah satunya sambil menepuk pundak Ilyas yang hanya senyum-senyum sendiri.


"Jadi beneran, nih?"


"Doa orang banyak akan terkabul kan? Maka doakan saja saya bisa bersanding dengannya, tapi harus ikhlas. Apalagi sedang adzan Magrib nih. Doa akan mustajab." Ilyas menanggapi, mendorong mereka-mereka yang seolah tersihir bersama-sama mengangkat kedua tangannya.


"Aaaamiiiiiin!" Mereka serentak mengaminkan yang di akhiri dengan tawa.


"Abis ini kita kondangan ke rumah Ustadz Ilyas." Goda si A.


"Betul, Anne request menu jengkolnya di banyakin ya..." Si B menanggapi.


"Orang Jawa mana ada menu jengkol di prasmanannya. Ente kadang-kadang, Ente.!" Kelakar salah satunya lagi di antara mereka.


"Makanya Anne request..., biar di ada-adain. Hahaha..."


"Juragan jengkol aja masih ngemis jengkol di kondangan. Parah, maneh mah!" Seloroh pria dengan jenggot tipis di sebelah motor Ilyas.


"Ye, pan enak yang geratisan."


"Banyakin aja lengkuasnya, Yas. Hahaha..."


Ilyas geleng-geleng kepala, terserah mereka mau bercanda sampai sejauh mana. Semoga saja kelak candaan itu bisa menjadi nyata. Dirinya bisa benar-benar mempersunting Ayudia, dan ia bisa benar-benar menjadi ayah untuk Nisa, puteri kandung Harun.

__ADS_1


__ADS_2