
Di dalam kamar, Ilyas masuk lebih dulu sampai ke pintu lemari tempat tas miliknya tersimpan. Pada sudut lain, tepatnya di ambang pintu yang masih terbuka Qonni mengamati apa yang di lakukan suaminya yang sedang mengeluarkan ransel warna hitam dan meletakkannya di lantai.
Tanpa berbicara apapun, pemuda itu merogoh isi dalam tasnya, mencari-cari sesuatu dan sekilas senyuman mengukir wajahnya yang teduh saat barang yang ia cari di temukan. Pria itu menekan frame kacamata-nya sambil bangkit, melangkah ke arah sang istri.
"Ini buat kamu, Dek," ucapnya sambil menyodorkan kotak bludru warna biru berukuran sedang berbentuk hati.
Tanpa menjawab, Qonni tertegun melihat kotak yang sudah bisa ia tebak isinya apa. Serasa kembali pada waktu itu, saat dimana Harun menyerahkan kotak dengan warna yang sama sebagai hadiah kelulusan.
Karena tak mendapatkan respon apapun selain diamnya Qonni, Ilyas segera membukanya. Ia berharap saat sang isteri melihat isinya dia akan senang.
Dua buah kalung emas dengan inisial yang berbeda ukuran terpampang di depan mata. Antara haru, dan sedih semua tumpang tindih di dalam pikirannya.
"Ini cuma emas muda sih. Tapi aku akan berusaha, bakal beli yang lebih bagus dari ini untuk kalian," sambungnya tanpa menghilangkan sedikitpun senyum tulus di bibirnya.
Mulutnya masih membisu, dengan tatapan mengarah pada sosok pria yang kebingungan sebab respon Qonni yang seperti ini, belum lagi tangannya yang tak sedikitpun terangkat untuk menerima, walau kotak bludru itu sudah ada mengarah padanya.
"Aku salah milih, ya? Atau Kamu nggak suka modelnya?" tanya Ilyas polos.
Qonni menitikkan air mata kemudian menghela nafas. Ia berjalan melewati suaminya tanpa menyentuh kotak perhiasan itu.
Ya Allah apa dia benar-benar nggak suka barang pemberian ku? Dan dia marah sekarang?
Tatapan Ilyas tertuju pada kalung yang berusaha keras iya beli dalam waktu satu bulan sebelum pernikahan. Melawan angin, hujan dan panas, menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk mencari tambahan. Demi sebuah rantai emas yang berharga ini bisa melingkar di leher istri dan anaknya.
Perhiasan itu memang sengaja tidak ia tunjukkan pada saat akad selain cincin kawin. Karena niatnya, ia hanya ingin memberikan secara pribadi kepada kekasih halalnya itu.
Ilyas menutup kotak perhiasan itu dan buru-buru membalik badan menghampiri sang isteri yang sudah duduk di atas ranjang.
"De," panggilnya sambil duduk bersebelahan dengan Qonni. "Maaf kalau Mas nggak pinter milih modelnya. Besok kita ke toko ya, kita tuker kalungnya sesuai yang kamu mau."
Perempuan itu menoleh sambil mengusap air matanya. "Nggak usah, Mas."
"Kok nggak usah? Aku minta maaf... serius besok siang kita langsung tuker."
Semakin Ilyas berusaha untuk meminta maaf dengan tutur katanya yang lembut, semakin deras pula air mata yang mengalir. Ia sendiri tidak berani jujur, kalau penyebab luruhnya air mata bukan karena ia tidak suka kalung yang di belikan, lebih karena caranya memberikan perhiasan itu sudah membuat dia jadi kembali mengingat Harun.
__ADS_1
Ilyas merengkuh pundaknya. Menarik lebih dekat pada dadanya yang rata. Adapun hati Qonni semakin di buat dilema. Bagaimana caranya menghilangkan rasa rindu pada Harun dan menampilkan rasa bahagia untuk suaminya secara bersamaan. Hal itu sedang di pikiran oleh perempuan berambut panjang sepunggung ini.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang," ucapnya sambil membelai rambut.
Di dengar isak tangis semakin tidak terkendali, membuat panik pemuda itu.
"Kalau gitu kita tuker sekarang aja, yuk kita siap-siap." Ilyas yang hendak bangkit langsung di tahan. Qonni memegangi tangan suaminya, kemudian menggeleng.
"Aku suka, Mas," jawabnya parau.
"Suka?" Ilyas kembali duduk, kemudian menghapus air mata itu. "Terus kenapa kamu nangis kaya gini, aku jadi khawatir loh."
Perempuan di sisinya tak menjawab, ia tak ingin menyakiti Ilyas. Hingga beberapa detik ketika hati mulai tenang Dia mulai bisa berpikir jernih.
"Sebenarnya, aku nggak mau kamu repot-repot kasih ini ke aku apalagi Nisa."
Kening Ilyas berkerut, sempat terbesit rasa kecewa namun gegas di tepis dan mengalihkan itu dengan cara menunggu penjelasan dari bibir Qonni.
"Aku sebenarnya udah pake kalung." Qonni menunjukkan kalung yang melingkari lehernya.
Merasa gagal untuk membuat istrinya senang, tangan Ilyas bergeser. Menurunkan kotak itu dari atas pangkuan hendak di sembunyikan ke sisi yang lain.
"Tapi aku menghargai Suamiku yang udah mau berusaha memberikan ini untukku. Dan aku terharu sebab itu."
Hembusan angin kembali meniup hatinya. Ia sudah yakin isterinya pasti bukan tipe wanita yang kufur.
"Dan untuk satunya, boleh nggak untuk di simpan dulu. Aku nggak mau membiasakan anakku pakai perhiasan apalagi masih bayi. Sangat riskan, Mas."
Qonni berusaha memberikan pengertian, tanpa mengecilkan hati pemuda yang baru dua puluh empat jam resmi menjadi suaminya.
Ilyas mengangguk-angguk, ia rasa tak masalah dan itu sangat masuk akal. Justru kini berbalik membodoh-bodohkan dirinya sendiri.
Lalu kalung untuk Qonni, apakah wanita itu juga tetap tidak mau pakai sebab masih adanya kalung dari Harun? Ilyas masih menggenggam kotak berukuran sedang tersebut.
Sangat sia-sia.
__ADS_1
Tidak! Tidak ada yang sia-sia sih.
Qonni mengangkat kedua tangannya dan menyentuh bagian leher belakang. Tentunya apa yang di lihat itu sudah seperti jawaban bercampur kelegaan di hati Ilyas.
Ya, Qonni memang sedang berusaha melepaskan sendiri kalung tersebut sebab menyadari raut wajah sedih dan kecewa yang di tunjukkan Ilyas membuatnya tak enak hati. Walau semampu Pemuda itu menyembunyikan, dan Qonni sangat peka itu.
Melihat istrinya kesulitan, Ilyas buru-buru meletakkan kotak di tangan lalu membantu melepasnya.
"Kenapa ini di lepas?" Tanya Ilyas.
"Karena udah ada yang baru," jawabnya tanpa berpikir. Walau jauh dari lubuk hatinya, ia rasa berat.
"Terus, apa kamu mau pakai yang dari ku?" tanyanya lagi penuh harap.
Qonni memandangi wajah itu kemudian mengangguk. Senyum Ilyas kembali terlihat, Pria itu langsung mencium kening isterinya.
"Aku pakaikan, ya," izinnya yang di balas anggukan kepala. Dengan semangat Pemuda berkacamata itu membuka pengaitnya lalu memasangkan di leher Qonni.
Dan saat benda berbahan emas dua puluh dua karat itu terpasang cantik di leher isterinya, Ilyas merasa senang. Setidaknya usahanya tidak sia-sia.
"Makasih, Mas."
"Makasih aja?" Tanya Ilyas dengan nada menggoda, perempuan di hadapannya pun hanya tersenyum.
Ia memberikan kecupan lembut di pipi suaminya seperti tadi pagi. Namun, yang di balas Ilyas di luar dugaan. Pemuda itu malah justru mendaratkan kecupannya di bibir.
Qonni yang belum siap buru-buru melepaskan diri dengan cara memalingkan wajahnya. Seperti biasa Ilyas hanya tersenyum, ia rasa tidak ada salahnya mencoba lagi.
Diraihnya wajah malu-malu Qonni untuk kembali mengarah padanya. Setelah itu, tanpa memerlukan izin lagi Ilyas kembali mendekati wajah Ayudia lantas mendaratkan ciuman di bibir.
Satu tangan Qonni meremas kain seprai, tatkala merasakan gerakan lembut mempermainkan bibirnya hingga basah. Hembusan nafas yang segar bisa ia rasakan seiring permainan manis seperti pria yang telah ahli.
Jangan, salah sangka. Pria memang sejatinya memiliki insting tersendiri. Jadi bukan karena sering latihan, hanya berdasarkan insting yang bekerja saat mangsa sudah di depan mata.
Adzan Dzuhur berkumandang. Menghentikan gerakan lembut dari sang suami. Ilyas melepaskan bibir Ayudia lalu membuka matanya secara perlahan. Ketika darah panasnya telah naik, laki-laki itu berusaha menahan diri sambil mengusap bibir Qonni yang membuatnya merasa candu.
__ADS_1
Ia melepaskan perempuan itu sejenak, lebih baik di tahan sampai malam. Karena waktu Dzuhur sudah tiba ia harus mementingkan ibadahnya.