Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Ajakan main


__ADS_3

Setiba di rumah sederhana, Ilyas langsung melepaskan monitor tabung milik client-nya yang di ikat di belakang dengan tali berbahan karet. Karena sebelum pulang seorang dosen yang ia kenal menghubunginya untuk datang ke rumah dan mengambil barang-barangnya yang rusak itu untuk di servis.


"Assalamualaikum, Nak Ilyas!"


"Walaikumsalam warahmatullah, Weh Pak Masdar. Dari mana Pak?" Sapanya balik pada pria paruh baya yang menjabat sebagai ketua RT di tempatnya.


"Abis jalan-jalan siang menuju sore," jawabnya sambil terkekeh. "Bawa apa, nih?"


"Biasa, benda purbakala. Hahaha..." sautnya bercanda.


"Di jual nggak nih? Keliatannya masih bagus. Kebetulan monitor di rumah lagi sering rewel."


"Waduh, dia cuma pasien. Nggak bisa dimaharin."


"Gitu, ya?"


"Kalau mau ada sih di dalem. Tapi ya, nggak sebagus ini." Ilyas menawarkan.


"Berapa? Nggak mahal, 'kan?"


"Murah, sama Pak Masdar mah. Yang penting liat dulu aja barangnya."


"Ayo lah."


Ilyas tersenyum, dengan hati-hati ia mengangkat benda yang di bawanya tadi dan meletakkan di atas meja ruang tamu. Setelah itu ke-dua pria beda usia tadi langsung masuk ke dalam ruang khusus kerjanya. Dimana barang-barang hasil servis atau mungkin barang baru tertata cukup rapi di dalamnya.


Pria berkacamata itu menjelaskan, kekurangan dan kelebihannya. Setelah cukup memberikan detail barang bekasnya, proses tawar-menawar pun terjadi, sehingga sampailah pada harga yang di sepakati.


"InshaAllah, nanti ba'da Isya saya antar, Pak."


"Tapi saya belum bawa uangnya nih, Yas."


"Gampang, nanti aja sekalian."


"Hohoho, iya, deh." Pria paruh baya dengan perut buncitnya menepuk pundak pria di sebelahnya. "Kalau gitu, saya permisi dulu."


"Ya, Pak. Monggo, hati-hati di jalan."


"Siap!" balasnya sambil mengacungkan ibu jari.


Ilyas menghela nafas sambil mengucap hamdalah. Hari ini rezeki sedang mengalir lumayan lancar, ia jadi bisa membayar tagihan rutin setiap bulan dengan hasil tambahannya beberapa hari ini. Setelah menjalani hidup sebagai tulang punggung tanpa Ayah dan ibu, Pria itu memang harus bekerja lebih ekstra lagi.


Dulu penghasilan ibunya mungkin bisa membantu kebutuhan sehari-hari, jadi tak begitu terasa berat. Sementara sekarang? Ia benar-benar kerja sendirian demi menghidupi dirinya dan juga adik-adiknya yang masih sekolah. Pernah tercetus di bibir Ibnu untuk menghentikan pendidikannya sampai SMA saja setelah itu bekerja. Tapi, tidak seperti itu yang di inginkan Ilyas. Pria berkacamata dengan rambutnya yang ikal ini tetap menginginkan semua adiknya bersekolah setinggi mungkin. Agar mampu menjalani hidup lebih baik daripada dirinya.


🍃 🍃 🍃


Beberapa hari berganti lagi...


Di malam yang cerah tak berwarna ini, Ilyas sudah rapi dengan batik berlengan panjang membalut tubuhnya yang tak terlalu kurus namun tidak gemuk juga. Sosok dengan tubuh ideal itu hendak mendatangi acara sunatan anak dari salah seorang rekan Guru yang pernah mengajar di sekolah yang sama.


Dengan mengendarai sepeda motornya. Ia menerjang jalan, menyusuri gang demi gang hingga sampai ke salah satu rumah di kawasan yang lumayan padat penduduk.


Acara yang hanya di gelar satu hari satu malam ini membuat tamu yang datang dan pergi tak kunjung surut. Seperti biasa, tamu yang baru datang akan langsung di arahkan ke area prasmanan. Tentunya setelah menyapa tuan rumah.

__ADS_1


Sambil mengantri, Ilyas baru sadar rupanya salah seorang pria yang turut mengantri juga adalah seorang Bapak yang ia kenal.


"MashaAllah, Pak Fatkhul Qulum?" Pria itu langsung menegur pria yang ada tepat di depannya. Ulum pun menoleh sedikit.


"Eh, Kamu?"


"Muhammad Ilyasa, Pak. Masih ingat 'kan?" Pria itu mengulurkan tangannya.


"Masih lah..., cuma emang namanya agak lupa." Pria dengan senyum ramah di depannya langsung menjabat tangan Ilyas. "Bisa ketemu disini?"


"Iya Pak. Kebetulan Pak Haqi itu dulunya ngajar di SMA Negeri Cileungsi, tempat saya ngajar sekarang. Makannya saya kenal."


"Oooh, dan Beliau sekarang mengajar di Man, tempat saya tugas," balas Ulum kemudian.


"Iya Pak. Beruntungnya saya bisa ketemu Pak Fatkhul lagi," tuturnya yang membuat Ulum tersenyum sambil mengambil nasi yang sudah terhidang. "Bapak sama siapa?"


"Sama Isteri, itu di meja prasmanan untuk deretan perempuan," menunjuk meja lain di mana Ilyas bisa menemukan sosok berkerudung dengan tubuh yang masih ramping. "Kamu sendiri sama siapa?"


"Sama teman-teman rekan guru, Pak. Cuman janjiannya ya di sini."


Ulum manggut-manggut sambil mengambil lauknya satu persatu. Keduanya sempat terdiam sejenak karena fokus mengambil lauk secara bergantian.


"Anu– bagaimana kabar Ayu, Pak?" tanyanya memberanikan diri. Karena jujur saja ia penasaran dengan kondisi Qonni selepas kepergian Harun. Maklumlah, jarak yang jauh dan dirinya yang bukan siapa-siapa sangat mustahil untuk tahu apapun yang di lakukan perempuan itu sekarang.


"Ayu baik. Alhamdulillah –"


"Oh... alhamdulilah." Ilyas mendadak gugup. Padahal ini kesempatan bisa mengobrol lagi dengan Ayahnya Qonni. "Ma–masih ngajar, 'kan?"


Keduanya sudah selesai mengambil makanan dan kini menepi agar tak menghalangi tamu lain yang ingin mengambil makanan juga.


"Syukurlah," gumamnya samar. Berarti hari-hari Ayu sudah mulai normal lagi. Anna senang dengarnya.


"Kalau ada waktu luang, bisa main ke rumah?"


Kepala Ilyas kontan terangkat. Ia tak salah dengar 'kan, Pria paruh baya disebelahnya menawarkan dia untuk datang kerumahnya?


"Ma–main?" tanyanya mengulangi.


"Iya, Saya dengar kamu pintar service barang elektronik?"


"Oh..., iya, Pak." Anna pikir disuruh main untuk benar-benar main. Batinnya meneruskan dengan sedikit perasaan kecewa.


"CPU bisa?"


"Bisa, Pak. Bisa–" Ilyas menekan bagian tengah frame kacamata-nya.


"Nah, saya pengen coba di cek. Kayanya ada masalah sama heatsink fan-nya. Soalnya, CPU jadi cepet panas."


"InshaAllah, hari ahad besok, Pak. Agak senggang."


"Alhamdulillah, Saya tunggu ya. Masih ingat jalan ke rumah saya, 'kan?"


"InshaAllah, masih." Pria itu cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Ya udah kalau begitu. Saya duluan, ya. Udah di tunggu isteri, tuh. Assalamualaikum."


"Iya, Pak Fatkhul. Walaikumsalam warahmatullah," balasnya lirih.


Sesaat setelah Pria itu menjauh entah mengapa Ilyas jadi merasa senang. Bukankah ini kesempatan untuk melihat kondisi Ayudia secara langsung?


Seorang pria menepuk pundaknya, hingga membuat dirinya menoleh cepat. Seorang pria yang ia kenal menyapa, setelah itu mengajaknya untuk makan bersama di kursi yang kosong. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju tempat yang di lihat kosong tadi dan duduk di sana sambil mengobrol-ngobrol banyak hal.


...----------------...


Di waktu yang sama, Qonni sedang mengikat rambut Aina dengan karet warna-warni. Gadis kecil yang sudah mulai aktif berlarian itu sedang di tinggal kedua orangtuanya menjenguk seseorang di rumah sakit. Jadilah anak itu di titipkan di rumah Ulum sejak sore.


"Aunty," panggilnya sedikit cadel.


"Ya, Sayang?" Qonni masih fokus mengikat rambut tipis Aina.


"Om Haun, itu–" tangan kecilnya menunjuk foto pernikahan Qonni dan Harun yang ada di kamarnya.


Qonni sendiri langsung menoleh, melihat wajah ceria mereka yang sedang menunjukkan buku nikah masing-masing. Ia pun tersenyum tipis sebelum kembali pada keponakannya.


"Om Haun? Mana Om..." tanyanya polos yang memang belum begitu paham, jika laki-laki yang sering menggendong kemudian mengajaknya jalan-jalan telah tiada.


"Om Haun, di langit. Sama Allah–"


"Allah?" tanyanya dengan kening sedikit berkerut. Hal itu pula yang membuat Qonni tertawa gemas setelah itu memasang kerudung di wajah mungilnya.


"Yeeeey, sudah cantik, Ainaaaa..."


"Tantik?"


"Hehe, muaaaach." Qonni mencium pipi Aina gemas.


Tok, tok...


"Assalamu'alaikum, Ukhti cantiknya Umma." Safa melongok dari balik pintu yang sedikit terbuka.


"Walaikumsalam, Umma!" Qonni berbisik dengan ekspresi antusias. Gadis kecil itu pun langsung berlari kencang kearah Ibunya yang sudah merentangkan kedua tangan.


"Baba, mana Baba, Umma?"


"Baba di bawah, Sayang," jawab Safa, yang langsung saja membuat Aina berlari keluar. "Jangan lari, Nak!" Safa gegas mengejarnya.


Qonni sendiri menghela nafas, pelan-pelan ia beranjak sambil memegangi pinggangnya. Lalu berjalan pelan menyusul Kakaknya itu.


Tepat di ujung tangga, Qonni termenung memandangi kebahagiaan Aina yang langsung berhamburan ke pada Afin. Membuat tangannya reflek mengelus perut yang sedikit merasakan gerakan bayinya.


"Baba, Aina tadi mewarnai."


"Oh, ya? Coba Baba lihat?" Afin menciumi pipi mungil anaknya berkali-kali, hingga gadis kecil itu tertawa.


"Di kamar Aunty. Di sana!" menunjuk kearah atas.


Qonni tersenyum dengan mata yang mulai berkabut. Sebenarnya ia tak ingin merasakan iri pada Kakaknya yang masih memiliki suami. Terlebih saat melihat Aina bisa bermanja ria dengan Babanya. Namun tidak salah 'kan jika terkadang hatinya merasa perih?

__ADS_1


Membuatnya jadi membayangkan, anaknya nanti hanya bisa melihat kedekatan Aina dengan Ayahnya. Sementara Dia, mungkin tidak akan bisa seperti itu.


Safa yang melihat kondisi Ayudia langsung merengkuh tubuhnya, lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang adik. Hal itulah yang membuat Qonni berusaha menahan air matanya, kemudian membalas pelukan Safa sisinya.


__ADS_2