
Ilyas keluar, tangannya membuka pelan pintu bangsal hingga tak menimbulkan suara. Di tatapnya dengan perasaan gemas, sang istri yang sedang menikmati coklat hasil buah tangan yang ia bawa.
Isteri ku suka coklat, Yas. Jadi biasanya sengambek apapun Dia, kalau aku bawa benda ini senyumnya pasti merekah.
Ingat kata-kata Harun sembari menunjukkan dua batang coklat di tangan, ketika mereka telat pulang dari Sukabumi tiga tahun yang lalu.
Janji tidak akan sampai magrib sudah akan tiba di rumah. Nyatanya ketika lewat waktu Isya pun mereka masih berada di perjalanan.
Dan cara seperti itu sepertinya memang ampuh. Karena beberapa kali di amati jika mereka pergi berdua, Harun selalu mampir ke minimarket untuk membeli coklat.
Buat Ayu.... Katanya cengengesan sambil menunjukkan penangkal kemarahan istrinya.
Ilyas tersenyum, apa yang di katakan Almarhum benar. Qonni menikmati coklat yang ia bawa dengan enjoy. Padahal ada lebih dari dua puluh menitan dirinya di dalam. Perempuan itu tak menunjukkan kesan bad mood.
Langkahnya pelan terayun mendekati sang isteri. Hingga kepalanya menoleh naik karena laki-laki yang berdiri di sisinya.
"Loh, udah keluar?"
"Udah." Pria itu berjongkok di sebelah bangku panjang. Padahal di sebelahnya kosong. Tidak hanya itu, lorong ruang Betania ini juga sepi. Namun pria yang masih menggunakan seragam sebagai seorang pendidik itu memilih untuk berjongkok di dekat tangan isterinya.
"Kok cepet banget?"
"Mau gimana lagi, cuma ada Fatimah. Kamu sih, nggak mau ikut masuk." Ilyas memandangi coklat yang ada di tangan Qonni sembari bertopang dagu. Qonni tentunya paham, adab makan di dekat orang lain, ya harus menawarkan.
"Mas, mau?" basa-basi menawarkan.
"Mau..." Langsung membuka mulutnya. T
entu saja, hal itu di respon Qonni dengan baik, ia menyodorkan coklatnya ke mulut Ilyas. Satu gigitan memotong satu blok coklatnya. Dan karena lirikan manis Ilyas Qonni tersenyum malu-malu.
MashaAllah, isteriku rupanya bisa salting juga. –Ilyas merasa berhasil. Ia pun bangkit, karena melihat dua orang berjalan mendekat.
Pak Sofian menatap dengan malas pada pasangan yang kini berdiri menyapa Beliau.
"Loh, Nak Ilyas disini?" Bu Sofian menjabat tangan Ilyas dan Qonni juga. "Jemput isterinya, ya?"
"Iya, Bu," jawab Ilyas. Pemuda itu beralih pandang pada Pak Sofian, namun sepertinya pria paruh baya yang di tatapnya masih tidak menyukai pertemuan ini. Buktinya, uluran tangan Ilyas di abaikan. Pak Sofian nyelonong masuk begitu saja.
"Maafkan suami saya, ya." Karena tidak enak hati, Bu Sofian buru-buru minta maaf.
__ADS_1
"Nggak papa, Bu. Tapi maaf kami permisi dulu. Sudah sore soalnya."
"Iya, hati-hati di jalan. Sekali lagi terima kasih, udah mau jenguk Fatimah."
Qonni mengangguk dengan senyum terukir tulus. Keduanya pun mengucap salam, dimana tatapan Qonni langsung beralih pada tangannya sendiri yang di genggam Ilyas. Hingga kaki kaki mereka melangkah menuruni anak tangga, sampai ke tempat motor Ilyas terparkir. Pria dengan kaca minusnya baru melepaskan.
...
Dalam perjalanan pulang, Ilyas menggenggam tangan Qonni yang tengah melingkar di pinggang. Sesuai kemauan Beliau sesaat sebelum tancap gas. Ia sempatkan untuk menarik dua tangan Ayudia Qonniah dan melekatkan di pinggang hingga ke perut.
Deru motor terdengar halus, membelah jalan kota Cileungsi dengan di temani semburat jingga ketika mentari hendak bergeser. Detik-detik pergantian hari..
Pria itu sedikit melamun, entah apa yang sedang di pikirkan. Bahkan, akibat lamunannya. Ilyas sampai lupa mengambil jalan gang.
Tangannya masih mengusap lembut sambil sesekali mencium. Detik-detik di lalui dengan keheningan. Mungkin karena rasa lelah yang gandrung di diri masing-masing, menyebabkan pasangan baru ini tak banyak bicara.
Masuk sekitar sepuluh kilometer. Mata Ilyas mulai nyalang, melihat rumah warga yang semakin jarang dan terasa asing dengan jalannya.
"Mas, kok, kayanya aku tadi nggak lewat sini?"
"Iya, ya?" Mulai khawatir, pria itu pun berhenti karena kalau di lanjut maka semakin masuk ke kampung. "Duh, kita puter balik aja deh."
Pria itu semakin muter-muter, bahkan dua kali melewati jalan yang sama.
Lah, ini dimana ya? Batin Ilyas kebingungan.
"Mas?"
"Iya, Dek..."
"Kita kok kaya muter-muter sih?"
"Iya ini, kita agak nyasar."
"Nyasar?" Qonni mengeraskan suaranya yang kalah dengan angin.
"Iya, efek ingetnya jalan ke hatimu. Sampai lupa jalan nyata yang sedang di lalui."
Qonni tersenyum tipis, reflek mencubit pinggang Ilyas hingga pria itu terpingkal.
__ADS_1
"Bisa-bisanya dalam keadaan kaya gini, ya?"
"Bercanda, Dek. Jangan di ambil serius. Tapi..., cubit lagi dong. Enak, Dek," goda Ilyas sambil tertawa. Sementara Qonni hanya geleng-geleng kepala.
Pemuda berkacamata itu menatap wajah yang tenang dengan senyum terukir indah di bibir isterinya memalui kaca spion.
MashaAllah, respon yang semakin baik. Syukurlah...
Ilyas bersyukur, mengangkat tangan Qonni kemudian menciumnya sebelum ia kembangkan di perut.
🌸🌸🌸
Akibat nyasar tadi, mereka baru sampai rumah selepas Maghrib. Perempuan yang sudah bebersih sekaligus mengganti pakaian santai, kini sedang meluangkan waktu untuk anaknya.
Usapan lembut di arahkan pada kening balita yang sedang asyik menikmati ASI dari sumbernya langsung. Bermakna kerinduan. Padahal hanya seharian tak bertemu, tapi sudah seperti bertahun-tahun.
Memang benar kata orang, yang namanya seorang ibu tidak akan bisa jauh lama dengan puterinya. Dan ia merasakannya sejak satu hari statusnya berubah menjadi Ibu.
Qonni merasa bersalah, karena dirinya terlalu lama melakoni kegiatan di luar. Hingga tak jarang mengabaikan Nisa. Padahal, membersamai anak di usia-usia segini penting. Sebab waktu yang cepat berputar dan tak akan pernah kembali.
Di kecupannya kening Nisa ketika bibir mungil anak itu terlepas dengan sendirinya.
"Udah tidur, anak Ummi." Qonni menutup kembali sumber ASInya, setelah itu menata bantal untuk meletakkan sang pelita hati.
Sapaan salam yang di selingi pintu terbuka di dengar. Ilyas baru pulang dari masjid selepas berjamaah shalat Isya. Dan duduk-duduk sebentar dengan Ayah Ulum di bawah.
"Yah, anak Abi udah tidur." Ilyas menyayangkan, padahal rasa tidak sabar untuk bermain dengan Nisa sejak tadi sudah mengganggunya. Namun mau bagaimana lagi nyatanya anak itu sudah terlelap.
Qonni tersenyum sebelum akhirnya melirik ke arah sang suami, karena tatapan Ilyas sekarang sudah beralih padanya.
Debaran jantung kembali kencang, ia membenci kecanggungan ini. Terlebih jika hanya berdua, tapi di kamar ini kan ada Nisa juga. Tandanya mereka tidak benar-benar berdua, 'kan?
Pria itu hanya tersenyum. Sekuat tenaga mempertahankan diri dari godaan syahwat yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Kamu juga tidur ya. Hari ini capek banget, kan?" tanyanya sambil mengusap kepala. Perempuan di hadapannya mengangguk.
"Sekarang kita tidur bertiga. Aku di sana, dan kamu di sini. Sementara Nisa di tengah-tengah."
Qonni mengangguk sekali lagi dengan gerakan yang lebih semangat. Ia amat setuju. Walau ranjang bayi masih muat, namun meletakkan Nisa di tengah-tengah adalah ide bagus baginya.
__ADS_1
Soalnya, tak jarang saat tengah malam ketika dalam keadaan setengah sadar, tangan Ilyas suka kemana-mana. Hal itulah yang kadang membuat Qonni terkejut bahkan berkali-kali terbangun hanya untuk membalikkan tubuh Ilyas supaya membelakanginya lalu menukar dengan bantal guling.