
Sehabis ashar, keduanya berniat untuk jalan-jalan sore setelah menunggu Nisa yang tak kunjung pulang bersama Kakek dan neneknya.
Qonni melirik ke arah Ilyas dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan. Pasalnya, bayangan ciuman tadi seolah menari-nari di kepala. Perempuan dengan gamis rumahan dan bergo tali instannya membisu. Sambil menunggu suaminya bersiap.
"Yuk," ajaknya setelah siap.
Qonni pun mengangguk, beberapa langkah kakinya terayun dan Ilyas baru ingat sesuatu.
"Bentar, Dek." Pria itu mengeluarkan dompetnya lagi dari dalam saku celana. Kemudian mengeluarkan isinya, seperti uang dan kartu ATM khusus gaji Beliau. "Mulai sekarang, ini kamu yang pegang."
"Loh, Kok?" Perempuan itu belum mau menerima. Karena saat bersama Harun pun ia juga tidak pernah mau di kasih amanah memegang uang suami.
"Kamu kan sekarang isteri ku. Jadi masalah keuangan kamu yang handle. Jangan kaget, kalau gaji Mas emang kecil. Tapi nanti kalau ada tambahan lagi aku kasihin ke kamu, kok."
Qonni menggeleng, ia mendorong uang entah bernilai berapa beserta kartu Atm-nya itu dengan hati-hati.
"Mending uang Mas pegang sendiri aja. Mas lebih butuh, 'kan? Buat muter-muter ke yang lain-lain."
"Iya, cuman aku maunya kamu yang ngatur semuanya. Termasuk kebutuhan Nisa."
"Aku ada Kok. Gaji ku... dan untuk urusan Nisa, Mas nggak usah pusing. A' Mukhlis biasa kasih uang bulanan untuk kebutuhan Nisa. Itupun baru kepakai nggak banyak," jawabnya masih belum mau menerima.
Ilyas yang masih mengarahkan uang itu bergeming, belum lagi saat Qonni memutuskan untuk berlalu lebih dulu. Meninggalkan laki-laki yang masih terpaku dengan uangnya sendiri masih berada di tangan.
Mungkin masih baru makanya dia ngerasa nggak enak kalau aku langsung ngasih uang gini. – pria berkacamata itu tersenyum kecut, kembali memasukkan uangnya lagi ke dalam dompet. Nanti saja, ia akan menyerahkannya lagi. Karena sesuai ilmu yang ia dapat, sebesar apapun gaji isteri dirinya tetap wajib memberikan nafkah.
***
Langit masih terang, mentari juga masih nampak menyinari. Sepasang suami-isteri baru itu memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman kota. Tempat nongkrong para anak-anak muda, yang juga menjadi pusat kuliner bagi pecinta makanan kaki lima.
"Kita mau jajan apa?" Tanyanya sambil melangkah dan bergandengan tangan.
"Terserah Mas Ilyas aja."
"Kok terserah. Mas ikut kamu, maunya apa?"
Qonni diam saja, raganya mungkin sedang berjalan-jalan di luar namun hatinya seperti tertinggal. Dia masih tak habis pikir, sampai detik ini dirinya masih berusaha untuk berlaku baik. Menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Seperti beban yang tak bisa ia keluarkan, karena jika hal itu sampai tercetus tentunya akan menjadi belati untuk suaminya.
"Siomay mau?" Tanya Ilyas berinisiatif.
Perempuan itu pun hanya mengangguk, hingga langkah keduanya terus terayun sampai pada salah satu tikar yang di gelar milik penjual siomay.
"Kang, siomay komplit dua porsi."
"Siap.... duduk heula."
"Makasih," jawabnya sambil tersenyum. Ia mengibas-kibaskan permukaan tikar yang sedikit kotor setelahnya mempersilahkan sang isteri untuk duduk. "Sini, Sayang."
Qonni sebenarnya tidak ingin di perlakukan seperti ini, terlalu berlebihan. Gitulah kiranya yang tercetus di hati perempuan berwajah manis tersebut, perlahan duduk di sisi yang di tepuk-tepuk oleh suaminya tadi.
"Rame ya?" tanya Ilyas sambil mengitari pandangannya keseluruh kawasan ini.
"Ini emang pusatnya anak-anak muda nongkrong," jawab Qonni.
__ADS_1
"Kamu biasa ke sini nggak?"
"Iya..."
"Sama siapa?" Tanya Ilyas antusias.
"Aa."
Mendengar jawaban itu Ilyas langsung diam. Sejenak ia lupa kalau isterinya pernah memiliki pasangan sebelum dengannya.
"Ayah, Ibu, Mbak Safa, dan Nisa," sambungnya kemudian.
Pria itu manggut-manggut. "Sekarang sama aku, ya?"
Qonni menanggapi dengan senyumnya. Hingga dua porsi siomay terhidang di hadapan mereka.
"Minumnya apa, ya?" Tanya sang pedagang menawarkan.
Ilyas sendiri langsung bertanya kepada Qonni yang menjawab hanya ingin air mineral saja, begitu pula dengan ilyas mereka kemudian memesan itu.
"Dimakan, Sayang," titahnya sembari menyerahkan sendok dan garpu untuk sang isteri.
Terlihat, Qonni tengah menyingkirkan pare ke samping. Tentunya Ilyas yang peka langsung bertanya.
"Kamu nggak suka pare ya?"
"Iya, Mas."
"Kok punya Mas di taro sini?"
"Nggak papa. Di makan..." Pria itu mengangkat piringnya kemudian mulai menyantap siomay yang benar-benar terasa ikannya, gurih dengan siraman bumbu kacang yang kental dan sedikit pedas.
Qonni memandanginya dengan perasaan bersalah. Kenapa ia terus memikirkan Harun, padahal yang di sebelahnya sudah sangat berusaha untuk membuatnya bahagia. Ilyas yang merasa di perhatikan melempar senyum padanya.
"Jangan lama-lama ngeliatin, nanti kalau naksir gimana?" godanya yang di tanggapi senyum malu-malu Qonni.
–––
Malam datang, ketika perempuan itu hendak mengambil air wudhu sebelum menjalankan ibadah sholat Isya, ia merasakan seperti ada yang keluar. Qonni memeriksanya dan benar saja, tamu bulanannya datang.
Di bukanya pintu lemari gantung mini yang berada di kamar mandi guna mengambil sebuah pembalut.
Di luar, Ilyas sudah siap hendak ke masjid duduk di bibir ranjang menunggu sang isteri.
"Mas, aku nggak jadi ikut."
"Kenapa?"
"Tamu bulananku datang."
"Tamu bulanan?" Tanyanya tak percaya. Perempuan itu pun mengangguk. "Ya udah kalau gitu."
"Mas ke masjid sendiri aja, ya."
__ADS_1
"Iya, Dek." Tersenyum setelah mengucap salam dan keluar dari kamar. Saat pintu tertutup pria itu menghela nafas. "Ya Kareem..."
Ilyas geleng-geleng kepala sambil melanjutkan langkahnya, ingin rasanya menertawakan diri sendiri ketika merasa batinnya terus saja bergejolak. Ya, dia sudah menahan itu sejak semalam. Bukankah itu hal normal? Terlebih sudah merasakan tidur satu ranjang dengan seorang wanita. Sekarang ini ia harus benar-benar berpuasa batin sampai isterinya selesai masa haid.
***
Hari berganti, Fatimah yang selama berhari-hari mengurung diri di rumah mulai kembali keluar untuk membeli kebutuhannya sendiri.
Berjalan pelan untuk menyebrang gadis itu menoleh ke kanan kemudian ke kiri, di lihat motor Ilyas sudah terparkir di depan. Hari ini laki-laki itu sudah kembali setelah dua hari di rumah mertuanya.
Ia tahu sih, itu sudah bukan urusannya lagi. Ilyas sudah berkeluarga, tandanya ia harus benar-benar melupakan apapun tentang Ilyas.
"Assalamu'alaikum," sapa Fatimah pada ibu-ibu yang sedang berkumpul didepan warung.
"Walaikumsalam, eh... Neng Fatimah. Lama nggak keliatan, abis tugas di luar ya?"
Fatimah tersenyum tipis. "Enggak, Bu. Fatimah di rumah aja kok. Lagi nggak enak badan, makanya banyak di rumah."
"Oh, kirain kemana. Mau beli apa?"
"Aku mau cari jajan aja. Sama tadi Ibu nitip telor satu kilo."
"Oh, iya Neng. Ibu timbang dulu ya..."
Fatimah mengangguk, kemudian berjalan menuju lemari pendingin dengan pintu transparan. Ia mengambil beberapa minuman manis, dan sosis siap santap yang di bungkus satuan.
"Ceu, katanya si Ilyas udah pulang bawa isterinya, ya?" Seorang ibu-ibu yang baru datang langsung menghampiri si pemilik toko. Adapun Fatimah sendiri hanya diam saja, namun telinganya masih mendengarkan.
"Iya, sama anak sambungnya juga. Eleuh-eleuh meni gelis pisan..."
"Sahana?"
"Dua-duanya, atuh."
"Oh..., jadi penasaran. Nanti main lah, mau nyapa."
"Sok... perempuannya teh ramah. Tadi aja udah sempet mampir sih sama Ilyas. Serasi lah kalau di lihat-lihat."
Mendengar tawa antusias para ibu-ibu, Fatimah termenung. Ia membayangkan, pasti memang secantik itu isteri Ilyas. Pantas lah dia lebih memilih wanita itu walau statusnya sudah memiliki satu anak.
Buru-buru dirinya menyerahkan jajan yang ia ambil setelah itu melakukan pembayaran.
"Terima kasih, ya, Neng."
"Sama-sama, Bu." Fatimah berjalan dengan kantong plastik di tangan.
Sebelum menyebrang, ia menoleh lagi ke arah rumah Ilyas yang berada tepat di sebelahnya. Rumah tanpa pagar pembatas dan terlihat sangat sederhana namun adem karena adanya salah satu pohon rindang di depan rumah.
Seorang pria keluar dari pintu sambil menggendong seorang anak perempuan. Fatimah tertegun, matanya kembali mengembun.
Mas Ilyas...
Pria yang terlihat amat menyayangi puteri sambungnya itu sedang berjalan menuju kursi depan, yang kemudian di hampiri dua ibu-ibu. sehingga ia tak menyadari ada seorang perempuan yang tengah memperhatikannya dengan tatapan sedih.
__ADS_1