
Di hari-hari berikutnya...
Sebuah notifikasi masuk kedalam gawai yang tergeletak. Hal biasa di tanggal yang sama, Gus Mukhlis akan mengirimkan nafkah berupa uang yang seharusnya jadi tanggungjawab Harun untuk Ayudia dan anaknya melalui Ning Maulida isterinya.
Sebelum ini ia sudah sangat sering menolak nafkah dari Kakak pertama Harun. Karena, baginya menghidupi diri sendiri masih cukup. Tapi karena pemahaman agama keluarga Harun yang kuat, mereka tetap kekeuh untuk memberikan hak anak Harun walaupun sekarang masih berada dalam kandungan hingga nanti saat duduk di bangku perguruan tinggi. Kakak-kakak Harun sepakat untuk sama-sama membiayai sang jabang bayi jika diberi kesempatan untuk hidup, sampai anak tersebut mampu mencari nafkah untuk dirinya sendiri.
Perempuan yang masih membalut tubuhnya dengan mukenah tak langsung membuka notifikasi M-banking yang rutin berdering di tanggal-tanggal tertentu, setiap adanya transaksi. Melainkan kembali fokus pada Al Qur'an yang sedang ia baca saat ini.
Tok... tok...
Sebuah ketukan membuat kepala Qonniah menoleh ke arah pintu. Aina yang baru tiba langsung berlari masuk ke arahnya sambil menyerukan salam seperti ibunya.
"Walaikumsalam warahmatullah, ponakan Aunty." Dengan ceria Qonni menyambut gadis kecil yang sudah seperti anaknya sendiri juga. "MashaAllah, si cantik yang makin cantik."
Wajah yang mengikuti ayahnya itu tersenyum manis. Memunculkan air wajah khas Asia-Eropa yang membuat Puteri sulung Safa dan Arifin seperti boneka Barbie.
"Aunty, jalan-jalan yuk." Ajaknya dengan logat cadel kas anak-anak.
"Jalan-jalan kemana, Sayang?"
"Beli baju untuk Dede bayi," jawabnya. Anak itu tahu hari ini akan di ajak berbelanja perlengkapan bayi dengan Tante dan Neneknya.
"Oh, ya? Emang kamu di ajak? Aina kan nggak ikut, Aina sama Kakek."
"Aaaa, Aina ikut! Aina mau ketemu Baba."
"Hahaha..." Perempuan hamil itu tidak akan bisa tidak tertawa saat ada Aina di dekatnya.
"Dek, kamu kok belum siap? Nanti kesorean, loh." Tanya Safa. Sebenarnya waktu ashar sudah lewat beberapa menit yang lalu bahkan hampir satu jam. Namun perempuan itu masih betah membaca Surat Maryam dan Yusuf sampai-sampai ia kelupaan bahwa sore ini ada janji untuk membeli perlengkapan bayi.
"Iya, Mbak aku siap-siap. Nggak lama Kok."
"Ya udah, aku tunggu di luar ya."
Qonni hanya mengangguk sambil mengangkat tubuh Aina sedikit agar bangkit dari pangkuannya.
"Aunty ganti baju dulu, ya."
"Iya– Aina ke Nenek."
__ADS_1
"Okay, Sayang." Di ciumannya pipi kemerahan milik Aina. Tak lupa sedikit tarikan gemas di pipinya yang gemoi.
–––
Perjalanan menuju departemen store menggunakan mobil yang di kendarai supir pribadi Afin untuk Safa, tidaklah memakan waktu lama. Kini mobil yang di tumpangi tiga wanita dewasa, satu supir, dan gadis kecil yang tak memakai hijabnya telah sampai di pelataran Mall.
Nampak beberapa security dan salah seorang pria dengan pakaian yang terlihat lebih rapi menyapa mereka dengan ramah.
Yups, roda kehidupan keluarga Ulum benar-benar berubah. Padahal, dulu boro-boro mendapatkan sapaan ramah dari para security yang berjaga di pintu utama gedung. Yang ada, mereka justru melalui pintu samping yang dekat dengan area parkir khusus motor. Kalau di ingat-ingat, keluarga itu termasuk jarang ke mall, sih. Paling sering satu bulan sekali, pun ketika Ulum baru gajian.
Biasanya mereka akan naik motor berempat, yang jika panas kepanasan dan tak jarang juga anak-anak mereka menggigil karena kehujanan sambil ketawa-ketawa, senang.
Namun, itu masa lalu. Yang sekarang, Aida bersyukur puteri-puterinya bisa hidup sejahtera dengan pasangan mereka masing-masing. Dan, ya... tidak berlaku lagi untuk Qonniah sekarang yang justru menyandang gelar janda di tinggal wafat suaminya.
Langsung ke tujuan utama, mereka memasuki toko perlengkapan bayi. Di sana yang sangat antusias memilih justru Aida. Adapun Qonni hanya terlihat biasa saja sambil mengekor Kakak dan ibunya berpindah-pindah mencari barang yang pas.
"Qonni, liat. Ini lucu ya?" Aida menunjukkan jumpsuit bayi dengan motif beruang. Perempuan itu menanggapi dengan senyum sebelum mengangguk. "Kita ambil ada sepuluh kali, ya. Sama– Ah, kita cari bedong bayi dulu."
Aida kembali sibuk memilih bedong, popok, dan lain sebagainya. Sementara Qonni hanya diam saja, sambil menyentuh beberapa sarung tangan yang menggantung di rak-nya.
A' sudah tinggal menghitung minggu loh, anak kita akan lahir. Selama itu pula, aku menahan rindu yang jujur saja sudah tidak bisa ku tahan. Tapi, aku kuat kok sekarang, walaupun hanya belanja sama ibu dan Mbak Safa. Entah nanti, saat aku melahirkan.
Qonni mengangkat bola matanya yang kembali berkabut. Tidak, ia tidak ingin menangis. Ia sudah janji loh. Setiap pagi ia terus berjanji untuk tidak menangis di hari ini.
"Ya, Mbak?" Buru-buru perempuan itu menghembuskan nafasnya.
"Sini deh–" pintanya, mengundang adiknya untuk segera mendekat.
"Kamu suka yang mana?" Safa menunjuk kasur bayi dengan model yang berbeda.
"Aku yang mana aja, Mbak," jawab Qonni pasrah.
"Jangan gitu, dong. Ayo pilih yang mana yang paling kamu sukai." Safa membujuk agar Qonni semangat dalam mempersiapkan kelahiran anak pertamanya.
"Itu aja–" dengan asal Qonni menunjuk yang sisi kanan.
"Beneran?" Tanya Safa memastikan.
"Iya," jawabnya singkat sebelum berlalu dengan langkah gontai. Safa pun menghela nafas panjang, sebelum mengiyakan barang yang di tunjuk Qonni tadi untuk di turunkan oleh pegawai di sana.
__ADS_1
Perempuan yang sekarang-sekarang ini gemar memakai gamis warna hitam itu terus menyusuri rak-rak yang di dominasi baju-baju. Sebenarnya, kalau bukan paksaan Aida ia tidak ingin belanja perlengkapan bayi. Karena itu akan membuatnya sedih. Bukankah ini harapannya dulu, bisa hamil dan beli perlengkapan bayi bersama suaminya.
Qonni meraih salah satunya yang menurut dia amat lucu. Tak lama dari itu ia merasakan tendangan kuat bayinya yang membuat dia terhenyak kemudian mengelus perut tersebut.
"Ya Allah... maaf sayang. Ummi nggak bersemangat belanjanya, ya? Tapi bukan berarti Ummi nggak semangat menyambutmu, kok. Ummi bahkan nggak sabar pengen ketemu sama kamu. Kamu tetap sehat, ya?"
Di usapnya terus perut yang bergerak-gerak dan mulai merasakan kencang. Sebuah reaksi yang biasa ia rasakan semenjak usia kehamilannya mendekati HPL.
🍂🍂🍂
Beberapa Minggu kemudian...
Baru saja ia terjaga dari tidurnya. Perempuan itu merasa tidak nyaman sebelum akhirnya menyentuh permukaan kasur yang terasa basah dengan aroma agak lain. Ia yakin ini bukan air seni, tapi apa?
Padahal belum melewati HPL. Qonni bahkan belum merasakan tanda-tanda kontraksi, sepertinya ia mengalami pecah ketuban dini.
Pelan-pelan turun dari ranjang untuk membersihkan diri, mengganti pakaian setelah itu menghampiri ibunya yang juga sudah terjaga sedang melakukan rutinitasnya menyiapkan menu makanan hari ini sebelum adzan subuh berkumandang.
"Bu!"
"Iya, Nduk."
"Tadi kasur kerasa basah. Tapi Qonni yakin itu bukan air seni."
Taaaak... Perempuan yang sedang memotong wortel langsung menghentikan gerakannya, kemudian menoleh.
"Basah? Ada bau-bau gitu?"
"Ada sih tapi kaya aroma pemutih pakaian."
"Astaghfirullah al'azim. Perut Kamu sakit nggak?"
"Engga, Qonni nggak ngerasain apa-apa."
"Allahu Akbar. Kamu duduk, Nduk. Istirahat, jangan kemana-mana." Buru-buru wanita itu keluar dapur, menghampiri Suaminya yang sedang berzikir sambil menunggu adzan subuh di musholla rumah. "Ayah! Yaaaaa!"
"Astaghfirullah, Astagfirullah, Astaghfirullah..." gumam Ulum khusyuk.
"Ayah!" ulangnya terus memanggil Sang suami kemudian duduk di sisi suaminya. "Yah, tolong berhenti dulu. Kayanya air ketuban Qonni pecah. Kita harus ke rumah sakit, Yah."
__ADS_1
"Astaghfirullah al'azim–" Ulum menghentikan dzikirnya setelah itu bangkit. "Suruh Qonni siap-siap. Ayah mau siapin mobil dulu."
Aida mengangguk, ia bergegas mengikuti perintah suaminya. Menghampiri Qonni dan membantunya untuk bersiap-siap. Karena perlengkapan persalinan memang sudah di siapkan, mereka pun tinggal jalan saja sekarang.