
Beberapa waktu sebelumnya.
Ulum melangkah pelan menghampiri Aida yang masih sibuk menjahit di ruangannya. Sebelum duduk, bibir pria itu mendesah. Menghela nafas yang terdengar berat bahkan hingga terdengar di telinga Aida. Wanita itu menoleh sekilas sebelum kembali pada jarum dan benang yang akan di pasang.
"Kenapa, Mas?" Tanya Aida kemudian.
"Kenapa, apanya?"
"Itu tadi, nafasnya kaya berat banget," jawabnya masih fokus pada mesin.
Ulum bergeming, memandang punggung ramping isterinya yang terbalut hijab, dan daster batik berlengan panjang.
"Ada masalah?" Aida kembali bertanya. Bersamaan dengan itu, Qonni yang hendak menghampiri ibunya mendadak urung. Sepertinya Ibu dan Ayah sedang berbicara serius.
"Menurut Ibu, kalau ada yang ngelamar dan berniat menikahi Qonni setelah Dia melahirkan, gimana?"
Deg! Perempuan yang tanpa sengaja tengah menguping itu menyentuh dadanya. Niat hati ingin kembali masuk malah justru tertahan karena kata-kata Ayah tadi.
Aida menoleh cepat kebelakang. "Ngelamar, Qonni? Siapa?"
Ulum tak langsung menjawab. Sehingga Aida gegas bangkit dengan meteran pita masih menggantung di lehernya.
"Laki-laki yang tadi, kah?" Tanyanya sambil mendekat setelah itu duduk di sebelah Ulum.
"Iya–"
"Ya Allah, kok agak gimana, ya?"
"Agak gimana, maksudnya?"
"Ya, Mas kan tahu Qonni baru kehilangan suaminya. Dia aja masih suka nangisin Almarhum. Masa iya mau di suruh nikah lagi?"
__ADS_1
"Sebenarnya, Mas juga nggak maksa sih. Tapi kalau di pikir-pikir menikahkan anak juga bukan sesuatu yang salah. Mas jadi inget, dulu saat Sayyidah Hapsah baru menjadi janda, Sayyidah Oemar bin Khattab langsung menawarkan puterinya pada para sahabat lain. karena ya itu, untuk menghindari fitnahnya sebagai seorang janda."
Qonni yang masih ada di sana langsung memejamkan matanya. Kesedihan seolah kembali merundungnya.
Tidak bisakah ia mempertahankan status jandanya untuk Harun. Berati benar dugaannya, Ilyas datang tidak hanya untuk memperbaiki komputer Ayahnya saja melainkan melamar dia juga.
Betapa ia merasa kecewa pada Ayah Ulum, jika sampai laki-laki yang menjadi panutannya selama ini sampai menerima pemuda berkacamata itu. Buru-buru kakinya melangkah masuk, tak ingin lagi mendengarkan percakapan antara ibu dan ayahnya.
"Ini era apa, Mas? Jangan samakan jaman Nabi dengan jaman kita sekarang ini. Perempuan jaman sekarang tidak seperti dulu. Laki-laki pun sama, tidak seperti laki-laki di jaman Rosulullah Saw."
"Iya, Mas tahu. Tapi pemuda itu, entah kenapa aura keimanan bagus. Walau belum begitu mengenalnya."
"Mas, maaf ya. Pokoknya untuk urusan jodoh Qonniah kali ini, sebaiknya Mas bicarakan dulu sama anakmu. Jangan asal menerima lamaran orang hanya karena diri Mas itu cocok. Bagaimanapun juga yang akan menjalani ya Qonniah sendiri, bukan kita."
Ulum membisu. Yang di katakan Aida ada benarnya. Sebagai Ayah, ia sudah tidak hak seratus persen untuk menjodohkan anak yang berstatus sebagai janda.
"Aku nggak bisa bayangin, apa yang orang-orang bakal omongin ke anak kita. Suaminya baru meninggal belum genep setahun? Eh... udah nikah lagi. Haduuuuh!" Aida memijat keningnya sendiri. "Tau sendiri kan, Mas? jaman sekarang itu semua orang kalo merespon sesuatu, udah nggak lagi pake hati. Melainkan pakai mata! udah gitu cuma sebelah, pula, yang di pake. Udah deh, jangan macam-macam."
🍂🍂🍂
Malamnya, pemuda berkacamata yang baru saja pulang dari masjid bergeming. Duduk di beranda rumah dengan pikiran gamang. Memikirkan apakah Pak Ulum benar-benar menerimanya? Ia harap si begitu. Kalau di lihat dari responnya, Pak Ulum sangat terbuka. Namun bagaimana dengan Ayu?
Bersamaan dengan itu, sepasang langkah kaki terdengar sedang melangkah keluar. Kedua netra pemuda yang sedang memijat keningnya sendiri bergerak kearah pintu.
"Mau kemana?" Tanya Ilyas pada Abas yang sedang memakai alas kaki.
"Ke tempat Foto copy, Mas. Ini, mau ngejilid tugas kliping."
"Oh, uangnya ada nggak?"
"Ada kok. Nih," jawabnya sambil menepuk kantong celananya. Adapun hal itu membuat Ilyas tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah sana. Jangan lama-lama, kalau udah selesai langsung balik. Jangan ngelayap!"
"Iya, Mas. Abas jalan dulu, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Sepasang mata Ilyas bergerak mengikuti langkah kaki Abas yang semakin menjauh sambil geleng-geleng.
Tiiiiiiiing!
Sepasang mata itu kembali bergeser kearah meja. Tempat dimana gawainya tergeletak di atasnya, nampak menyala karena adanya pesan masuk.
Sejenak pria itu tertegun, karena ia melihat pesan itu berasal dari nomor Harun. Buru-buru ia meraih gawainya setelah itu membuka pesan yang rupanya cukup panjang. Sudah bisa di tebak, Ayudia sepertinya sudah tahu percakapannya dengan Pak Fatkhul.
[Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Maaf, Mas Ilyas. Aku harus mengirim pesan ini menggunakan gawai Suamiku. Tak mau panjang lebar, aku mau menyampaikan sesuatu. Sebelumnya, saya sudah tahu apa yang Mas Ilyas dan Ayah katakan tadi siang. Sebuah ajakan, yang bahkan dari dulu Mas selalu gaungkan berulang-ulang. Entah dalam masa orientasi atau bahkan saat kita bertemu lagi setelah bertahun-tahun tak bersua semenjak Mas Ilyas lulus. Aku benar-benar menghargai itu, dan berterima kasih atas perasaan kagum yang di labuhkan kepadaku selama ini.]
Dalam diamnya, Ilyas membaca kalimat yang di tulis panjang oleh Ayu dengan seksama.
[Namun, Satu hal yang perlu, Mas Ilyas tahu. Mencintai seseorang memang tidak salah. Namun, bukan berarti orang yang Mas cinta harus membalas itu, bukan? Maaf, aku harus berkata untuk kesekian kalinya, bahwa tidak ada laki-laki lain selain Harun Azmi di hatiku yang sudah terkunci rapat. Jadi tolong, jangan menyiksa diri untuk mengagumi satu gadis. Di luar sana, ada banyak wanita Solehah yang lebih dari pada aku. Mas bisa memilih salah satu dari mereka. Tolong, Mas. Batalkan lamarannya. Karena saya tidak bisa menerima Mas Ilyas.]
Baru selesai membaca, tubuh Ilyas mendadak gontai. Menyandar pada sandaran kursi yang usang di beranda rumahnya.
Ilyas mendesah, dirinya belum sama sekali keluar dari aplikasi chatting yang terpampang tulisan panjang dari Ayu beberapa menit yang lalu.
Dalam kegamangan, pria itu berpikir. Ini bukan masalah ada banyak wanita di luaran sana yang bisa ia pilih. Melainkan perkara hati yang telah lama memendam rasa dalam senyap. Dan dalam kurun waktu itu pula bukan perkara mudah untuk mengupayakan bisa hidup bersama bidadari bermata beningnya. Walau ujung-ujungnya harus di paksa menyerah ketika tiba-tiba langkah merangkaknya justru di balap seseorang yang baginya tak begitu keras mengupayakan Ayu seperti Dia.
Ah... Ilyas memaki diri sendiri. Kenapa jadi seperti dia kembali tidak terima Qonniah lebih memilih Harun. Dan apa yang ia lakukan sekarang? terkesan memanfaatkan keadaan. Memang Qonniah saat ini sedang dalam posisi lemah. Namun siapa yang menyangka benteng hatinya tetap kekar menahan siapapun yang berniat masuk ke dalamnya.
Ilyas menggaruk kepalanya, sambil beristighfar beberapa kali. Ia tidak akan menyerah selagi nyawanya dan nyawa Ayu masih terkandung raga. Dan salah satu di antara mereka masih memegang status kesendirian.
Ya, perjuangan untuk mendapatkan Ayu masih panjang. Diakuinnya saat ini ia amat gegabah, sementara keberanian untuk meminta maaf langsung saja belum ada. Di pandangannya gawai di tangan.
"Apa aku coba menelfon Dia, dan berbicara langsung?" Ilyas menekan tanda call untuk menghubungi Ayudia langsung. Namun, sayang. Nomor Harun kembali tidak aktif, sementara dia sendiri tak punya nomor Ayu semenjak wanita itu resmi dipersunting sahabatnya.
__ADS_1
Ilyas menghembuskan nafasnya. Tenanglah hati. Aku yakin ada sesuatu yang membuatmu sulit mendapatkannya yaitu, nafsu karena dunia. Aku harus banyak-banyak musahabah.