Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Mengajak bicara


__ADS_3

Perempuan dengan rambut tergerai sedang menutup kancing bajunya. Dilihat balita itu sudah tenang tertidur di atas ranjang dengan selimut menutupi sebagian tubuh mungilnya. Selesai menyusui Nisa sampai tidur, ia langsung mematikan lampu di bagian ranjang puterinya. Setelah itu menoleh kebelakang.


Di dapati sang suami juga sudah tidur dalam posisi miring. Qonni menghela nafas, melihat Ilyas sakit hatinya jadi iba. Sambil bangkit, perempuan itu meranggai termometer yang biasa tersimpan di meja dekat ranjang Nisa. Setelah itu mendekati suaminya hanya untuk memeriksa suhu tubuh.


Kliiiik... ibu jarinya menekan tombol power, dan alat yang berbentuk memanjang ditangan ia pasang di ketiak Suami.


Sambil menunggu alatnya selesai mendeteksi suhu tubuh, Qonni merebah sebagian tubuhnya miring, menyentuh kening suaminya. Menyugar kebelakang lalu menahannya.


Di tatap dalam-dalam wajah yang teduh tengah memejamkan mata. Hatinya yang dulu tak peduli, kini berubah menginginkan perhatian. Adakah, sejumput cinta itu hadir sekarang?


Dulu aku setidak suka itu sama kamu. Karena Kamu berisik dan sok, mentang-mentang aktivis kampus. (Qonni)


Pelan, ibu jarinya bergerak naik-turun mengusap pelan. Hingga di saat yang bersamaan, mata pria di sebelah terbuka. Dalam posisi miring menghadap Suami, perempuan itu tertegun. Ilyas pun sama, membeku dengan tatapan tak terlepas dari kedua mata isterinya.


Beberapa detik saling memandang, mengagumi antar satu sama lain di tengah kebisuan. Mereka mulai hanyut dalam pikiran masing-masing.


Piiip... piiiip... Suara termometer yang telah selesai mendeteksi membuat perempuan itu tersadar kemudian bangkit, tangannya mengeluarkan alat pendeteksi suhu tubuh dan memeriksanya.


Adapun pria di sisinya masih dalam posisi sama, tak melepaskan sedikitpun tatapannya pada sang istri yang kini tengah menyematkan sebagian rambutnya ke belakang telinga sambil melihat kearah angka digital.


Alhamdulillah, udah nggak demam. –Qonni bersyukur, baru tubuhnya hendak bangkit, laki-laki itu menahannya dengan memegang lengan sang isteri.


Praaaak... termometer di tangan Qonni terjatuh ke lantai. Bersama dengan tubuh yang masuk kedalam pelukan.


Sudah pasti Qonni yang terkejut tak keburu untuk menjauh. Dan sekarang tubuhnya terkunci, memandangi wajah yang tak berekspresi, terus terarah padanya.


Mas Ilyas mau apa sih? Lagi sakit, juga... –Batinnya berpikir akan melakukan hubungan suami-istri seperti semalam.


"Di luar hujan," ucap Ilyas.


Qonni pun mengangguk polos. Ia pikir ucapan tadi adalah sebuah pertanyaan.


"Mas kedinginan." Mempererat pelukan, pria itu mencium di sebelah telinga, dengan sesekali menghembuskan nafas hingga perempuan itu sedikit beringsut menahan geli.


"Aku matikan aja AC-nya," jawabnya sebab tak memahami maksud laki-laki itu.


"Nggak usah," sahutnya langsung.


"Terus?"


Ilyas diam saja. Namun sejurus kemudian mendekati wajah Qonni, hingga perlahan mata perempuan itu mulai terpejam siap menerima sentuhan di bibirnya yang tipis dengan lembut.

__ADS_1


Tangan Qonni yang turut membalas pelukan pria di sisinya, meremas pelan kaos oblong di punggung pria itu, hingga beberapa detik berikutnya kembali dilepaskan.


Pria itu tersenyum, menunggu mata Ayudia terbuka dengan malu-malu. Dada Perempuan di sisinya nampak naik-turun disebabkan ritme jantung yang kuat, perlahan mata perinya kembali terbuka.


Dalam keadaan sadar, untuk pertama kalinya, Qonni tak lagi memandang Ilyas sebagai sumber penyesalan terbesarnya kepada Harun. Justru sebaliknya, ia mulai merasa nyaman berada dalam pelukan laki-laki yang sedang tak memakai kacamata tersebut. Walau belum seluruhnya.


"Mas?"


"Ya?" jawabnya setengah berbisik.


"Nggak papa kan, jika langkah ini lambat?"


Bibir pria itu kembali melengkungkan senyum. Keheningan malam dengan di temani suara hujan di luar membuat suasana semakin damai dan nyaman.


"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Dek. Lagian, Mas Ilyas nggak muluk-muluk. Mas bisa jadi Suami kamu di dunia saja, juga sudah bersyukur."


"Maksud, Mas?"


Ilyas menatap dengan serius, punggung jari telunjuknya mengelus-elus pipi.


"Mudah-mudahan, kita bisa sama-sama menjadi ahli surga. Dan jika kelak kamu lebih memilih jadi isteri Harun, Mas ridho, Sayang."


Hati Qonni berdesir, karena suaminya memahami maksud dari kata-katanya tadi. Di tambah , kata-kata terakhirnya. Mata perempuan itu pun kembali mengembun.


Tangan Pria yang tak memudarkan senyum itu beralih mengusap-usap bibir Qonniah yang tipis dan amat menggiurkan.


"Makasih, udah sabar, Mas. Padahal aku nggak pantes untuk di perjuangkan sampai seperti ini."


"Kamu yang nggak pantes atau justru sebaliknya? Bukannya aku ya yang nggak tahu diri karena mendekati kamu."


Qonni bergeming, sementara dua pasang mata itu masih saling mengunci.


Nggak demikian, Mas. (Qonni)


"Yang penting di jalani apa adanya. Kalau ada kekurangan diriku sebagai seorang suami. Mas minta maaf ya, Dek."


"Justru aku yang banyak kurangnya, Mas."


"Kita sama-sama memiliki kekurangan dan sedang berusaha melengkapi kekurangan itu menjadi kelebihan," balas Ilyas lagi.


"MashaAllah...."

__ADS_1


"Mencintai ku nggak berat, Dek. Karena kamu nggak perlu melupakan Dia seratus persen dalam kehidupanmu. Yang perlu kamu berikan padaku adalah ketulusan mu menerima hadirnya Aku sebagai suami ke-duamu. Dan berdoalah, aku yang terakhir dalam kehidupanmu."


Merespon dengan anggukan kepala, Qonni langsung menyandarkan kepalanya di dada sang suami, karena ia sendiri tidak paham bagaimana caranya menyampaikan perasaan hatinya saat ini. Sementara Ilyas, bukanlah laki-laki yang harus mengakui kekurangannya di depan perempuan yang bahkan sering tidak tulusnya menjalani kewajiban sebagai Istri.


A' Harun, maaf. Hatiku mungkin mulai condong kepadanya. Namun, perlu kau ketahui kalian berdua itu menempati posisi yang berbeda. Sama-sama spesial dengan kelebihan kalian masing-masing.


Sebuah kecupan manis diterima perempuan itu di bagian kepala, saat tangan Qonni semakin erat memeluk tubuh Ilyas.


Ya Allah, aku ingin benar-benar mencintai laki-laki ini, sekarang. (Qonni)


🍃🍃🍃


Lebih dari sepuluh hari sejak perempuan itu pulang dari rumah sakit, Fatimah kini bisa kembali mengajar.


Beberapa rekan guru mendekati, menanyakan kondisi Fatimah apakah sudah benar-benar pulih. Tak terkecuali Ayudia, perempuan itu turut nimbrung di antara segelintir orang. Tidak untuk mengobrol, hanya sebatas jabat tangan saja kemudian kembali duduk di kursinya.


Qonni bersyukur karena rekannya itu sudah pulih, walau belum seratus persen. Di jam pertama ini baik Fatimah ataupun Qonni sama-sama memiliki jam kosong. Beberapa guru sudah mulai berjalan menuju kelas masing-masing untuk mengajar. Hanya tersisa segelintir orang saja, pun sebagiannya lagi tidak hadir.


Hening menyelimuti suasana kantor yang lengang ini. Baik Qonni ataupun Fatimah saling tak bersuara. Tak ingin berlama-lama dengan kondisi yang kikuk, perempuan itu mengeluarkan permen dari dalam tasnya.


"Bu Fatimah, mau?" Menawarkan sembari mengulurkan bungkusan berisi lima biji permen.


Alih-alih menerima. Perempuan itu justru hanya melirik saja sebelum mengabaikan Qonni dengan cara membuka buku.


Pelan, tangan itu di tariknya kembali. Qonni merasa ini harus di luruskan. Pasalnya, ia sendiri tidak tahu apa penyebab Bu Fatimah tiba-tiba bersikap seperti ini padanya.


Sudah lewat satu jam pertama, Qonni dan Fatimah bangkit. Bersiap untuk beraktivitas sebagai seorang guru.


Karena keluar bersama biasanya guru-guru lain akan berjalan bersisian hingga ke kelasnya masing-masing. Sama seperti Qonni dan Fatimah yang harusnya demikian. Namun, berbeda dengan untuk kali ini, Fatimag justru terus berjalan di depan tidak mau bersebelahan dengan Qonni seperti biasanya. Bahkan ia terus sengaja mempercepat langkahnya tanpa peduli kondisinya.


Sebuah kotak pensil terjatuh. Qonni buru-buru mendekat untuk memungutnya, mendahului gadis di depan yang menyadari barang miliknya terjatuh.


"Terima kasih," jawabnya dingin sambil menerima kotak pensil yang di ulurkan kepadanya. Gadis itu segera memutar tubuh kembali melanjutkan langkahnya.


"Bu Fatimah!" Panggil Qonniah, kontan membuat Fatimah berhenti melangkah. "Boleh kita bicara?" sambungnya.


Fatimah yang tak sama sekali menoleh nampak menghela nafas, sementara satu tangannya mengepal kuat.


"Saya nggak bisa janji, Bu Ayu," ujarnya kemudian.


"Hanya sepuluh menit, saat jam istirahat pertama di masjid sekolah," bujuk Qonni dengan penuh harapan. "Saya mohon, Bu Fatimah. Kita harus bicara."

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan suara, gadis itu mengangguk setuju. Langkahnya pun kini kembali terayun, meninggalkan Qonni yang tertegun di tempatnya memandangi gadis di depan.


__ADS_2