Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Keinginan kuat Ayu


__ADS_3

Yang di sebrang sedang menenangkan pikiran dan hatinya yang sudah bergejolak ketika nomor yang tak lagi aktif. Adapun Qonni sendiri sengaja, langsung mematikan ponsel suaminya lagi, sesaat setelah pesan tersebut di kirim kepada Ilyas.


Perempuan itu bergeming memandang benda pipih yang sudah ia matikan. Memang sejak kematian Harun, gawai tersebut masih ia pegang.


Namun, tak pernah sekalipun ia aktifkan. Dan baru kali ini ia membukanya, demi bisa berkomunikasi dengan laki-laki berkacamata tadi.


Bukan tanpa alasan, kenapa ia tak menunggu balasan dari Ilyas. Semua demi keputusannya yang tidak ingin memberikan ruang untuknya menjadi dekat lagi. Karena, sejak awal Qonni memang tak pernah sedikitpun menaruh ketertarikan pada sang pemilik rambut ikal dengan kacamata membingkai di sebagian kecil wajahnya.


Sepasang mata sendu itu bergerak naik menuju bingkai foto pernikahan yang bertengger di dinding kamar.


"A'a, aku kangen. Padahal baru tadi siang aku mendatangimu ke makam. Tapi, sudah kangen lagi."


Di peluknya ponsel Harun yang masih memiliki aroma khas laki-laki yang ia rindukan. Sambil mengusap perutnya yang bergerak-gerak. Qonni kembali menahan air mata yang mulai menganak sungai agar tidak terjatuh.


Tak semudah itu hati ini bertaut, A'. Tak semudah itu pula hati ini melupakan sosokmu yang sudah terpatri di hati. Walau tak ada larangan untuk menikah lagi. Tapi salahkah jika aku bertahan untukmu, A'?


Batin Ayudia merintih rindu yang menusuk-nusuk relung hatinya. Bunga memang terlihat mati, namun akarnya masih hidup. Ayu masih bisa kuat walaupun ia harus sendiri merawat buah cintanya dengan Harun.


🌲🌲🌲


Kurang dari satu jam lagi hari akan berganti. Namun sepasang mata itu tak kunjung terlelap. Mungkinkah sebab memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Qonni akhirnya keluar kamar untuk mengambil air minum.


Setiba di dapur, ia melihat lampu masih menyala. Dan di dapatinnya Sesosok Pria paruh baya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya mengetik data menggunakan komputer tabung yang tadi siang sempat di perbaiki, kemudian meng-print yang sudah jadi.

__ADS_1


Ayah masih terjaga. Aku sendiri belum bisa tidur karena memikirkan hal tadi siang. Haruskah aku mengajak Ayah bicara?


Maju-mundur tekadnya untuk membuka suara. Pasalnya, ia tidak benar-benar yakin jika Ayahnya langsung begitu saja merespon pinangan pemuda berkacamata itu. Ya, apapun itu. Meski hanya kesalahpahaman pikirannya. Ia tetap wajib mengatakan ini, bukan?


Memang tidak ada yang salah jika ada laki-laki yang ingin mempersunting-nya. Namun, Qonni hanya tidak ingin kehidupannya berubah lagi. Belum pula badai di hatinya mereda ia tak ingin sesiapapun datang walau sambil membawa trisula penyembuh luka di hatinya. Tak semudah itu...


"Yah," perempuan yang usia kehamilannya sudah menginjak delapan bulan kini berdiri disisinya.


"Iya, Nak?" Gerak mata Ulum mengikuti kata demi kata di layar monitor. "Kamu kok belum tidur? Kasian anak dalam kandunganmu. Nanti ikut lelah loh."


Qonni meremas tangannya di depan dada. "Ayah, apa Ayah masih sibuk? Qonni mau ngomong."


"Boleh, ngomong aja. Ayah dengerin, kok." Karena mengejar deadline, Ulum hanya menjawab tanpa menoleh.


"Ada apa dengannya?"


Gadis yang tak memakai hijabnya saat ini terdiam, memandang lekat wajah ayahnya dengan ekspresi memohon.


"Aku mencintai A' Harun–" lirihnya dengan kedua mata mengembun. "Dan aku nggak mau menggantikan A' Harun dengan siapapun. Wallahi, Ayah."


Tanpa harus menjelaskan, Ulum sudah paham. Sudah pasti Puterinya tahu lamaran mendadak Ilyas tadi? Beliau kembali pada layar monitor hanya untuk mengeklik simbol Save, agar datanya tak hilang jika tiba-tiba komputer mati. Kemudian kembali mengarah pada Qonni.


"Apa, kamu mendengarkan percakapan Ayah dan Ilyas, tadi?" Tanyanya, yang lantas di jawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Mas Ilyas pasti ngomong sesuatu ke Ayah? Aku cuma nebak, Yah." Ia tak mengatakan apa yang ia dengar saat ayahnya sedang berbicara dengan ibunya tadi.


Pria itu mengangguk pelan. "Nak, sebelumnya Ayah minta maaf. Tapi, seperti yang di katakan Bu Nyai Nur. Kamu di perbolehkan menikah lagi dengan siapapun."


Qonni menggeleng, pertanda ia menolak hal itu.


"Ayah, selama ini Qonni pernah nggak membantah Ayah?" Qonni buru-buru menyela. Pria paruh baya di hadapannya pun menggeleng. "Kalau begitu tolong jangan pernah respon apalagi menjanjikan siapapun yang sekiranya sedang berusaha mendekati aku dan anakku."


Perempuan yang masih berdiri di sisi Ulum menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir di salah satu pipinya.


"Ayah tolong pahami perasaanku. Aku itu bisa mengurus hidupku dan Anak ini walaupun tanpa sosok suami pengganti. Ini caraku menerima takdir Sang Maha Pencipta. Allah mungkin merenggut raganya dari ku. Tapi tidak untuk cintaku terhadap A' Harun."


Qonni memejamkan mata, setiap kata-kata yang keluar terdengar amat menyayat hati. Hingga Ulum gegas bangkit dan memeluk tubuh puterinya.


"Ayah masih mau 'kan, nerima Qonni tinggal disini. Aku janji nggak akan merepotkan Ayah dan Ibu. Aku akan rawat anakku sendiri tanpa membebani kalian. Qonni bisa, Yah. Qonni bisa rawat anak Qonni dan A' Harun sendirian..." Perempuan dalam pelukan Ulum terisak-isak, ia bahkan belum mendengarkan penjelasan Ulum namun hatinya sudah memberontak lebih dulu.


"Kenapa kamu bicara begini, Nak. Ayah jelas nggak akan pernah keberatan. Walau seumur hidup kamu tinggal bersama Ayah disini," balasnya sembari membelai lembut kepala sang Anak yang tak mampu lagi berbicara. "Kamu jangan berpikir yang nggak-nggak, ya. Ayah pasti akan menerima kamu dan calon cucu Ayah ini. Maafin, Yah ya Nak."


Qonni mengangguk pelan. Bibirnya masih sesenggukan mengucapkan istighfar berkali-kali. Dimana saat ini relung hati itu masih belum mampu menerima ujian yang menyesakan ini, dan ia juga tidak akan mampu jika harus memaksa isi hatinya yang penuh dengan Harun untuk di isi kembali dengan laki-laki lain.


β€”β€”β€”


Adapun di sisi lain. Pemuda berkacamata itu, sedang membentangkan sajadahnya. Meminta sebuah petunjuk lewat munajat yang sedang ia tegakkan. Tidak ada yang mustahil jika Rahmat Allah yang ia kejar lebih dulu. Takdir memang sudah di gariskan, namun ia tetap teguh berharap kepadaNya Sang Maha pemegang hati manusia.

__ADS_1


__ADS_2