Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Wejangan Ummi Nur


__ADS_3

Setiba di rumah, adzan Magrib sudah tak lagi terdengar. Perempuan itu tak langsung naik selain buru-buru ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelahnya menuju ruang sholat yang berada di dekat ruang keluarga. Wanita dengan wajah yang basah terkena air wudhu itu tertegun sebentar di depan pintu masuk, mushola mini.


Sebab melihat seorang wanita paruh baya yang tengah berdzikir di sana, namun jika di lihat-lihat tubuhnya tak seperti ibu Aida.


"Assalamualaikum," ucapnya sambil masuk. Perempuan yang tengah berzikir itu menyahut sambil menoleh ke belakang.


"MashaAllah, Ummi..." Qonni seketika tersenyum, berjalan sopan dengan lututnya mendekati Ummi Nur.


Ia meraih tangan sepuh tersebut dan mencium punggung tangan wanita yang inshaAllah mengandung keberkahan karena akhlaknya yang baik. Tanpa berbicara, Qonni kembali melangkah mundur dengan jarak lebih kesamping beberapa senti.


–––


Setelah ibadah sunnah dan wajib di jalani, perempuan itu naik ke lantai dua demi menemui putri dan dua wanita paruh baya yang ia hormati itu.


Bibir manisnya mengucap salam sementara kakinya melangkah masuk. Qonni mengukir senyum pada dua orang yang menjawab salamnya penuh kehangatan, menyambut dia yang baru saja tiba.


"Ummi datang sendiri?" Perempuan itu duduk dengan sopan di sisi Ummi Nur.


"Tadi di antar A' Mukhlis," jawabnya. "Kamu dari Bogor ya?"


"Iya, Ummi. Teman dekat Ayu, hari ini menikah. Dan kebetulan di rayakan di Bogor," jawabnya sedikit tak enak hati. Karena telah meninggalkan Nisa cukup lama. Sementara itu wanita paruh baya lainnya mulai bangkit.


"Bu Nyai, saya permisi keluar dulu ya."


"Mau kemana Bu Aida?"


"Biasa..., menghangatkan sayur tadi siang," jawabnya sambil terkekeh yang di balas senyum.


"Oh... Iya, Bu Aida. Yang penting jangan repot-repot menyiapkan sesuatu karena adanya saya loh," kelakarnya.

__ADS_1


"Haha, nggak Bu Nyai. Lagipula repot juga tidak masalah," Aida menanggapi sebelum benar-benar keluar dari kamar puterinya, demi menyiapkan hidangan untuk santap malam.


Kembali pada wanita dengan kacamata membingkai mata sepuhnya. Ia melirik sekilas kearah Qonni yang memang selalu canggung saat hanya berdua dengan Beliau.


"Nak?" Panggilannya kemudian.


"Iya, Ummi?"


"Kamu kan wanita, ada baiknya kalau bepergian jauh itu jangan sendirian." Ummi Nur berkata dengan hati-hati. Bukan ingin mengatur istri dari mendiang anaknya itu, hanya lebih condong ke rasa khawatirnya saja.


"Iya, Ummi. Tadi kebetulan aja lagi sendiri, karena Ayah sedang di luar kota. Biasanya, Ayu di antar Ayah."


Perempuan dengan hijab syar'i itu bergeming. sambil menggoyangkan tangan Nisa yang sedang menggenggam jari telunjuknya.


"Nasib jika masih sendiri ya seperti ini..." lirihnya yang membuat mata Qonni bergerak kearahnya. Perempuan paruh baya itu sama-sama menoleh lantas tersenyum.


Terdengar rengekan Nisa yang membuat Ayudia tersadar. Sepertinya anak itu paham jika sudah jamnya dia menyusu dari sumbernya langsung. Qonni pun membopong tubuh putrinya, memindahkan ke pangkuan sambil membuka resleting di bagian dadanya. Anak itu pun langsung merespon dengan mulutnya yang terbuka menuju sumber ketenangan.


Di liriknya foto Harun yang masih bertengger di tempat yang sama. Padahal sudah berbulan-bulan berlalu, Pria itu meninggalkan namanya yang harum dalam benak perempuan paruh baya itu. Beliau menghela nafas panjang.


"Nggak kerasa ya, sudah hampir setahun." Lirih suara Ummi kembali membuat Qonni menoleh. "Nggak kerasa dalam sekejap mata, waktu merubah wujudnya menjadi kenangan."


"Emmm," perempuan di sisi Ummi Nur menunduk. Salah satu tangannya yang menggenggam tangan kecil itu terangkat, lantas menciumnya lembut.


"Dan kamu masih seperti ini, Yu." Ditatapnya perempuan yang kini menoleh pelan pada Beliau lagi. "Kamu nggak pengen punya teman untuk merawat, Nisa?"


"Maksud, Ummi?" Tanya Qonni hati-hati.


"Ummi itu nggak pernah melarang loh kalau kamu mau mencari pendamping hidup yang baru," ucapnya to the points. "Bahkan sejak awal-awal kematian Harun. Ummi membolehkan, kamu menikah setelah melahirkan."

__ADS_1


Apakah Ummi tidak paham, jika kehilangan pasangan hidup itu amatlah berat. Apalagi saat masih sayang-sayangnya.


Qonni tak menjawab selain kembali menunduk. Memandangi wajah Nisa yang benar-benar memiliki kemiripan dengan Harun.


Ummi yang menangkap secercah kepedihan diwajah Qonniah. Langsung menggenggam satu tangan Qonni yang juga sedang menggenggam tangan kecil Nisa dengan lembut. Keduanya kembali saling memandang dengan tatapan berbeda. Ummi yang iba, dan Qonni yang kembali merasakan kesedihan karena rindu yang tak akan pernah berujung.


"Jangan salah faham..., Ummi hanya ingin Kamu membuka hati. Karena kamu tidak akan bisa selamanya sendirian seperti ini, Ayu."


Di sisi lain gadis itu masih bergeming, Qonni bingung ingin menjelaskan yang seperti apa lagi. Karena tak sekali dua kali, orang-orang terkasihnya terus berusaha membujuk Dia untuk membuka hati. Mungkin karena, tak sedikit pula laki-laki shalih yang sebagian besar seorang lajang yang belum pernah menikah, kerap berusaha mendekati orangtuanya atau mungkin Umminya Harun.


Itulah alasan ia mulai jengah dengan orang-orang yang selalu menyuruhnya membuka hati. Memangnya, dia sendiri mau hidup seperti ini? Kalaupun di suruh memilih, ia juga sebenarnya ingin normal sebagai seorang ibu. Memiliki pasangan yang mampu mengajaknya berdiri bersama, tidak seperti ini. Pincang sebelah.


"Kamu memang bisa memilih untuk tidak menikah. Tapi, masalahnya usiamu masih sangat muda jika harus sendiri terus-menerus. Fitnahmu masih amatlah besar, Nak." Ummi masih terus berbicara dengan tutur katanya yang lembut. Berharap Qonni bisa menerima tanpa tersinggung padanya.


"Aku tau, Ummi," jawabnya setelah menunggu perempuan paruh baya itu selesai bicara. "Tapi, mau bagaimana. Aku masih takut..."


"Takut apa? Apa yang kamu takutkan?"


"Adanya pernikahan yang akan membuatku sendiri lagi."


"Apakah kamu mampu memastikan masa depanmu seperti apa?" Tanyanya, yang di jawab gelengan kepala. "Kalau ngga, ya sudah jangan pernah khawatir dengan masa depan. Bukalah hatimu, terimalah orang lain. Siapapun yang akan melamar mu asalkan dia tidak hanya mencintaimu tapi juga anakmu. Jangan terus mengurung hatimu hanya untuk cinta masa lalu yang sudah tidak mungkin membersamai kalian lagi."


Qonni menempelkan tangan Nisa ke pipinya sendiri, sambil mendengarkan wejangan ibu mertuanya.


"Ya, Nak– Ummi mau kamu bahagia. Ummi rasa Harun juga pasti inginnya seperti itu."


"Tapi kata orang, kalau perempuan tidak menikah lagi ia akan bersama dengan suami pertamanya." Lirihnya dengan air mata yang mulai terjatuh. "Ayu ingin bersama Aa hingga ke Jannah, Ummi."


Ketulusan hati Qonni mengilat di kedua netranya yang basah. Hingga belaian lembut mengusap bahunya.

__ADS_1


"Kau ingin bersama Harun? Tentu masih bisa. Karena Ummu Salamah pernah bertanya pada Rosulullah Saw, suami mana yang akan menjadi jodohnya jika ada seorang wanita semasa hidup menikah dua kali. Dalam artian ia telah menjadi janda yang di tinggal wafat suaminya lantas menikah lagi. Maka apa kata Rosulullah, orang itu akan di sandingkan dengan yang paling shalih. Namun jika dua-duanya shalih, maka istri boleh memilih ingin bersanding dengan siapa nantinya disana."


Qonni tertegun memandangi wajah Ummi Nur yang amat teduh dihati. Tetap saja, jika ia menikah lagi pasti tidak akan bisa maksimal mencintai laki-laki itu bukan? Yang secara otomatis, setitik rindu pada suami sebelumnya akan membuat cintanya seolah bercabang.


__ADS_2