
Di luar gadis berhijab syar'i nampak berdiri memunggungi pintu. Menunggu pemuda yang hendak di ajaknya berbicara.
"D–Dek?" Panggil Ilyas yang kontan membuat air mata gadis itu terjatuh. Buru-buru Dia menyeka air matanya. Tersenyum sembari membalik badan.
"Aku dengar, Mas Ilyas mau menikah?" tanyanya lirih. Pria itu mengangguk.
"Iya, Dek. Apa kamu dengar kabar ini dari Ibu?"
"Ayah, yang bilang saat makan malam kemarin."
"Oo.." pemuda itu manggut-manggut."
"Cepat sekali..." gumamnya pelan. "Mungkinkah, saat Ayah meminta Mas Ilyas datang sesungguhnya, Mas sendiri udah punya calon?"
Pria di depan menggeleng pelan. Fatimah mengerti, ia pun langsung mengangkat kedua tangannya.
"Ini, untuk, Mas Ilyas." Mengulurkan paper bag berukuran sedang.
"Ini, apa?"
"Kado untuk pernikahanmu..., lusa," jawabnya yang sempat terjeda di bagian akhir.
"Ya Allah..., kenapa harus repot-repot?" Pelan-pelan Ilyas menerimanya. "Makasih, ya. Semoga Allah SWT, mengganti rezekimu lebih banyak."
"Aamiin–" Fatimah bergumam pelan. Menahan air matanya agar tidak jatuh.
Rencana awal seharusnya gadis itu sudah langsung berpamitan saat menyerahkan kadonya kepada Ilyas. Namun, semakin di tahan lidahnya semakin tidak mampu menyembunyikan getir.
"Wanita itu, beruntung sekali ya?" spontan mengatakan, hal yang tertahan sejak tadi
Kedua mata Ilyas terangkat, mengarah nanar pada gadis yang tertunduk dengan kedua tangan menggenggam ujung hijabnya.
"Aku mungkin, tidak sebaik Dia," sambungnya yang sedikit frustasi sejak pertama kali tahu Ilyas akan menikahi seorang janda beranak satu. "Seharusnya aku jadi janda dulu, biar di kasihani."
"Astaghfirullah al'azim, Dek. Kamu nggak boleh bicara seperti itu."
Fatima melirik kearah wajah Ilyas. Jujur ia sudah tidak tahan menumpahkan kekecewaannya ketika tahu Ilyas malah mau menikahi wanita lain, sementara hatinya belum ikhlas mendapatkan penolakan.
"Maaf, aku udah salah bicara."
"Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu, Fatimah. Kamu tidak ku pilih, bukan karena kamu nggak jauh lebih baik darinya. Bisa jadi, sebaliknya. Aku yang nggak baik buat kamu."
Gadis itu menggeleng, menyeka air mata yang bandel menetes begitu saja. Padahal sudah susah payah ia tahan.
"Kenapa, harus terhalang takdir. Jika saat ini aku sudah menjatuhkan hati kepadamu, Mas? Aku tahu, ini salah. Tapi aku lelah memendamnya sendirian."
__ADS_1
"Mas tahu perasaanmu, Dek."
"Enggak," jawabnya parau sambil menggeleng. "Mas Ilyas nggak ngerti perasaanku." Menyentuh dadanya sendiri.
"Justru karena saya sangat mengerti itu, Fatimah. Saya benar-benar minta maaf. Saya nggak bisa membalas perasaan kamu. Saya sudah menyakiti kamu."
"Hiks... ini nggak adil buat Fatimah."
"Dek?"
Kedua tangan Fatimah terarah, menahan kata-kata dari bibir Ilyas yang justru akan membuatnya semakin terluka.
"Sekali lagi, selamat untukmu. Semoga, Allah merahmati pernikahan kalian...."
"Aamiin," jawab Ilyas lirih.
"Maaf, sudah memperlihatkan sisi rendah ku dihadapanmu beberapa waktu terakhir ini. Aku memang hina..., itu sebabnya aku nggak pantes buat, Mas Ilyas."
"Saya nggak berpikir kamu rendah, Dek. Kamu wanita yang luar biasa."
"Mengatakan itu sekarang adalah caramu untuk menghiburku saja 'kan. Nyatanya kamu menolak saya, Mas."
Ya Allah... Pria itu menghembuskan nafasnya lirih.
Ilyas kembali mengangkat kepalanya. Ia tidak bisa lagi menyanggah.
"Nggak ada kata-kata selain doa untukmu. Semoga Allah lekas memberikanmu, tambatan hati yang baru. Yang halal pula untukmu," ucap Ilyas untuk Fatimah yang langsung menghela nafas.
Bibirnya tersenyum sambil mengangguk. "Aamiin... Saya pamit, Mas. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah..."
Seiring langkahnya terseok pelan menjauh dari teras rumah Ilyas. Perempuan itu menahan suara tangisnya yang sudah tak terbendung lagi.
Ya, dunia memang seperti ini... tidak semua bisa memilih dan sukses dengan keinginannya. Adakalanya, keinginan itu harus terjegal kenyataan. Jika takdir tidak menuliskan nama kita untuk bersanding dengan orang yang kita mau.
Itulah, kenapa. Tuhan menginginkan kita untuk tidak mencintai makhluknya lebih dari kadar yang di sarankan. Karena ketika semua itu tak tersampaikan. Sakitnya akan lebih terasa. Karena keihklasan tak memihak kepadanya.
Jika sudah begini, sebagian besar manusia akan menyalahkan takdirnya. Sehingga menganggap kehidupan ini tidak adil. Padahal, nyatanya semua tak demikian. Kita saja yang terlalu terburu-buru mengambil sesuatu yang belum tentu menjadi hak kita.
***
Hari-H pernikahan pun tiba. Ilyas menjabat tangan Fatkhul Qulum di salah satu masjid terdekat dari tempat tinggal keluarga Qonni.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.”
__ADS_1
Selepas ikrar di gaungkan dengan tegas dalam sekali tarikan nafas. Semua yang di sana pun berseru 'sah'. Terlebih, teman-teman Ilyas yang turut menjadi saksi. Semua berteriak paling kencang.
"Alhamdulillah..." Ilyas menitikkan air matanya. Ketegangan seketika sirna, seiring doa yang di bacakan Ustadz Irsyad untuknya dan Ayudia Qonniah.
Setelah serangkaian akad selesai, pemuda itu menghampiri istrinya yang juga terlihat menunduk sejak tadi.
"Izin, menyentuh keningmu, ya..." ucapnya gemetaran. Qonni sendiri hanya merespon dengan anggukan kepala.
Tangan Ilyas pun menempel, ia memanjatkan doa untuk sang istri dengan suaranya yang lirih dan terpatah-patah. Setelah itu mendaratkan kecupan singkat di kening.
"Barakallah..., alhamdulillah," gumamnya sambil menempelkan sejenak keningnya di kening Qonni. Pemuda itu menyentuh pipi Ayu, menghapus air mata dan terakhir menggenggam tangannya erat.
Safa yang sejak tadi menjaga Nisa langsung menghampiri kedua mempelai. Ilyas buru-buru menyambut anak dalam gendongan Safa. Dan memeluknya erat sesaat setelah tubuh mungil Nisa yang menggunakan gamis warna putih itu berpindah tangan.
"Assalamualaikum... Anak Abi." Ilyas menangis sambil menciumi pipi Nisa berkali-kali. Ia senang, sekarang dirinya bisa lebih dekat dengan puteri dari Harun. Dan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tanpa perlu mencuri-curi waktu, dan mencari-cari kesempatan demi bertemu dengan Nisa. Sekarang ia bisa melihat anak tirinya itu setiap hari.
Semua orang yang menyaksikan itu turut terharu. Menghapus air mata masing-masing yang terus saja mengalir di pipinya. Karena ketulusan hati Ilyas mencintai Nisa benar-benar terlihat jelas walau tak di ucapkan dengan lisan.
...
Waktu terasa begitu cepat bergeser, acara telah selesai. Para tamu undangan termasuk keluarga yang melanjutkan acara di rumah sudah pulang.
Ketika adzan ashar sebentar lagi berkumandang Ilyas masih belum berani naik ke lantai dua. Padahal, ia ingin membasuh tubuhnya agar lebih segar dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih bersih.
Di sisi lain, terlihat Qonni yang baru selesai mengganti pakaian nampak ragu-ragu untuk mendekati Ilyas yang masih berdiri di samping rumah dekat kolam ikan dengan Puterinya.
"Mas?" hati-hati ia memberanikan diri mendekat.
Pria berkacamata itu pun langsung menoleh. sejenak ia tertegun melihat Qonni dengan gamis rumahnya. Rasanya masih tidak percaya, perempuan itu sudah sah menjadi isterinya sekarang.
"Mas mau ganti baju, sebentar lagi Ashar."
"Oh, iya," masih dengan perasaan gugup. Ilyas tersenyum.
"Sini Nisa biar sama aku. Mas tahu kamar aku, kan?"
Ilyas menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu dimana letak kamar Qonniah. Saat tiba tadi, orang yang membawakan tasnya tidak bilang apa-apa.
"Aku boleh minta ditemenin? Aku nggak tahu kamar kamu," jawabnya yang justru membuat Qonni gugup.
"Kamar ku di lantai dua. Nggak jauh dari tangga, kok?"
"Ya tapi, aku masih baru di sini..., nggak enak kalau main nyelonong aja."
Qonniah menghela nafas, ia mengangguk paham. Karena, dulu Harun juga begitu. Tanpa berpikir lagi ia langsung mengambil langkah, berjalan lebih dulu yang di susul Ilyas kemudian sembari senyum.
__ADS_1