Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Jawaban Ayudia


__ADS_3

Dua hari sebelumnya...


Aina merengek sebab sang Ayah tidak kunjung melepaskan Nisa dari gendongannya. Siang itu, Safa, Afin, dan Aina mengunjungi kediaman Ayah Ulum. Agenda rutin di setiap minggunya, mereka harus menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah orang tua Afin dan Safa secara bergantian.


Nampak kesal anak semata wayang Arifin dan Safa ketika sang Ayah belum juga menyerahkan Nisa pada Umminya. Padahal, ia sendiri pun juga ingin bermain dengan Beliau.


Kecemburuan yang acap kali muncul, mengingat Sang Ayah benar-benar terlihat sayang pada Anak yang sudah berstatus yatim dari sebelum di lahirkan. Memicu rasa ingin mencari perhatian lebih setiap kali Baba Afin berniat baik, agar anak itu merasakan figur seorang ayah walau tidak setiap hari dirinya berkunjung untuk mencurahkan kasih sayang.


"Baba, Aina mau gendong. Aina mau gendong..." rengeknya tanpa henti hingga membuat Safa turun tangan untuk meraih keponakannya itu, sebelum puterinya semakin menjadi tatkala keinginannya tak kunjung di turuti.


"Aina jangan gitu, ya? Nisa kan adik Aina juga," tuturnya lembut sembari mengulurkan tangan. Namun seperti tidak ingin melepaskan Arifin, Nisa terus saja memalingkan wajahnya ketika hendak di gendong Safa melalui sisi kanan ataupun kiri.


"Tapi ini Babanya Aina–"


"Iya, Umma tahu. Setiap hari kan, Baba main sama kamu. Kalau sama Nisa hanya sebentar, kan? Ayo istighfar... latihan berbesar hati. Karena Aina jauh lebih beruntung, Baba masih ada di dunia. Sementara Nisa? Om Harun sudah tidak ada, jadi jangan seperti ini ya sayang?"


Safa berjongkok di hadapan putrinya, mencoba untuk meminta pengertian. Maklumlah, anak kecil belum benar-benar mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi.


"Tapi, aku mau sama Baba," kedua kaki anak itu mulai di hentak-hentakkan, tetap saja meminta Ayahnya untuk menaruh perhatian kepadanya saja. "Baba ayo kita pulang aja. Ayo Baba! Baba jangan sama Nisa!"


Arifin terkekeh, satu tangannya mengusap kepala puterinya. Dari balkon kamar, Qonni yang mendengar itu jadi termenung. Perempuan yang sedang melakukan rapat daring dengan beberapa rekan guru jadi tak begitu fokus melakukan pekerjaannya. Ini bukan salah, Aina sih. Anak itu masih polos. Karena, jangankan Aina. Dia sendiri saja masih suka cemburu ketika ada dalam situasi dimana Ayah sedang menaruh perhatian lebih pada Safa.


"Sini biar Baba gendong semuanya aja kalau gitu." Afin mengambil jalan tengah seperti biasa. "Dua-duanya kesayangan, kok."


"Jangan, Bang. Susah loh. Takut salah satunya jatuh." Safa menahan niatan suaminya itu.


"Nggak papa. Emang kamu pikir aku nggak kuat gendong dua anak? Sekalian kamu di punggung sini, aku juga mampu, kok." Bukannya menurut laki-laki itu malah menggoda isterinya.


"Abaaang." Safa melotot padanya hingga menimbulkan gelak kecil di bibir Arifin. Pria itu menggendong Aina di tangan kanan, sementara Nisa di tangan kiri.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Setelah berjongkok untuk mengangkat tubuh Aina, Pria itu pun bangkit. "MashaAllah, simulasi punya anak dua, nih. Kamu lihat, aku sanggup kan?"


"MashaAllah... latian, ya, Bang?" Safa menanggapi sambil tersenyum, menyetujuinya.


Candaan manis yang menimbulkan tawa dari sepasang suami-isteri itu, tentu terdengar juga sampai ke atas. Sehingga mencuatkan perasaan iri pada perempuan yang masih menghadap laptop, sementara bibir manisnya tersenyum.

__ADS_1


Kakak perempuannya beruntung. Karena suaminya masih membersamai. Sehingga Aina masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Sementara dirinya dan Nisa?


Dalam hati, Qonni beristighfar. Ia tidak boleh iri. Seperti yang di sampaikan Pakde Irsyad, setiap orang memiliki kadar kebahagiaan dan ujiannya masing-masing. Seperti saat ini, dirinya di berikan nikmat yang tak semua orang mampu untuk menjalaninya. Bisa jadi, ia di pilih karena cinta Allah begitu besar padanya. Kepala yang tertutup lain hijab warna hitam itu manggut-manggut, seraya tersenyum ia menenangkan jiwanya sendiri.


"Baiklah rapat dari sore ini kita tutup..." Qonni terkesiap saat mendengar sang kepala Sekolah mulai membaca doa penutup.


Perempuan itu pun kembali fokus pada rapat daring-nya hingga beberapa menit berlalu. Ia menutup kembali laptop di hadapannya.


"Alhamdulillah..." Qonni melepaskan earphone yang terpasang di telinga. Setelahnya membereskan, perlengkapan kerjanya. Ia pun bangkit untuk menghampiri orang-orang yang masih asik bercengkrama di bawah. Lebih tepatnya, mengambil Nisa. Mengingat langit senja sudah semakin berubah jingga. Pertanda magrib akan datang.


Qonni yang sudah sampai diambang pintu melangkah dengan tergesa-gesa.


"Maaf, Kak, Mbak. Aku kelamaan, ya?" Qonni gegas menghampiri pasangan suami-isteri tersebut.


"Enggak, kok. Emang kamu udah selesai?" Tanya Arifin pada adik iparnya.


"Udah, Kak. Sini Nisa biar sama aku." Kedua tangan Qonni terulur, menggampit ketiak Nisa dengan hati-hati. Baru sedikit tubuh mungil itu terangkat, Puteri kecilnya sudah menangis.


"Dia lagi mau sama Om-nya, Dek." Safa mengusap tangan Aina setelah berpindah ke dalam dekapan Qonni. Setelah itu mencium dengan penuh kasih sayang.


"Nggak juga, kok, Dek." Arif menanggapi, melihat dengan rasa tidak tega. Sebab kedua tangan Nisa masih terus terulur padanya.


Berbeda Aina yang justru malah semakin kuat melingkari leher Ayahnya, seolah melarang sang Ayah untuk menggendong Nisa lagi.


Qonniah tersenyum tipis pada tingkah lucu keponakannya yang selalu cemburu jika Baba Arif terlalu memperhatikan Nisa. Dan hal itu memang wajar sih, terlebih puteri kecilnya memang jika sudah bersama Afin, tidak pernah mau di gendong siapapun lagi termasuk ibunya. Seperti sekarang ini.


"Aku masuk duluan, Mbak. Udah mau Magrib, nih."


"Iya, Dek. Kita masuk sama-sama," ajak Safa sembari melangkah bersama Qonni dan Nisa bersisian. Sementara Arifin dan Aina masih di luar untuk beberapa saat.


----


Sehabis Isya keluarga sederhana itu berkumpul untuk menyantap hidangan makan malam. Qonni tak ikut, karena dirinya harus menemani sang anak tidur di dalam kamar. Kebetulan, Dia sudah makan lebih dulu saat setelah sholat Maghrib tadi.


Tok tok...

__ADS_1


Safa masuk setelah mengetuk pintu dua kali. Perempuan berhijab syar'i menghampiri Qonniah yang sedang menonton drama dari layar laptop yang bertengger di atas nakas.


"Nisa tidur?" Tanyanya sambil menutup pintu.


"Iya, Mbak," jawab Qonni yang masih asik memperhatikan jalannya cerita.


"Dek, tadi ayah udah ngobrol sama, Mbak," tuturnya pelan. Sambil berjalan dan duduk di sisinya.


"Soal apa, Mbak?" Qonni sebenarnya sudah bisa menebak. Pasti niatan untuk menjodohkan dirinya lagi. Berhari-hari ia kenyang mendengar bujukan Ayahnya untuk mau menikah lagi.


"Kamu menyadari satu hal nggak, kalau Nisa ingin sekali punya Ayah," lirihnya. Berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyinggung.


Qonni menghela nafas. "Dia masih bayi, Mbak. Belum paham hal seperti itu."


"Tapi, feeling anak kecil kan kuat."


"Aku nggak mau terlalu dini menafsirkan dekatnya Nisa dengan Ayah ataupun Kak Arif itu karena anak itu menginginkan figur Ayah."


"Mbak tahu. Mbak minta maaf kalau kamu kurang setuju dengan itu." Keduanya hening, menyisakan suara percakapan dari layar laptop ketika sang artis sedang berdialog sesuai script.


"Aku ngikut aja, Mbak. Kalau Ayah memang mau aku nikah lagi. Sama siapapun, terserah saja," jawabnya tanpa menoleh.


"Dek?" Safa menggenggam tangan adiknya. "Jangan mengiyakan kalau kamu terpaksa."


Qonni menunduk. Setelah itu menggeleng, "aku nggak terpaksa. Aku sudah memikirkan itu matang-matang. Aku harus melupakan A' Harun. Mengobati luka hati ku dengan hati yang baru. Gitu kan keinginan kalian?"


Safa tertegun, mengatakan hal ini memang sebenarnya agak berat. Karena terkadang, niatan baik tak selamanya akan di terima baik pula oleh orang lain.


Kedua mata Qonni mengembun. Bibirnya mengulas senyum. Sementara itu wajah teduh Safa memancarkan aura kasih sayang dan perhatian yang lebih. Menyadari riak kesedihan di kedua iris mata adiknya. Dia berusaha untuk paham dengan isi hati adiknya, yang masih besar cintanya kepada Harun.


"Aku ikhlas, kalau Ayah benar-benar mau menjodohkan saya dengan Mas Ilyas. Seperti yang selalu Dia katakan."


"Dek, kamu serius?" Safa memegangi wajah adik bungsunya.


Perempuan itu pun mengangguk, "Wallahi, Mbak Safa. Toh, laki-laki itu juga sudah sangat menunjukkan usahanya."

__ADS_1


"MashaAllah..." Safa buru-buru memeluk tubuh adiknya. Kedua matanya berlinang. Ia harap Qonni bisa bahagia, dengan siapapun itu yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dan mengganti sosok Harun di sisa-sisa hidup dia.


__ADS_2