Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Jaminan damai


__ADS_3

Setelah memastikan, Ilyas pun mantap untuk langsung izin keluar demi menemui adik bungsunya yang sedang dirawat di puskesmas. Karena lukanya tak serius, hari ini juga Abas seharusnya sudah bisa pulang. Namun, tentu saja pihak keluarga Abas terutama Abas sendiri yang sudah berusia 18 tahun itu harus bertanggung jawab dengan semua kerusakan yang ia lakukan hari ini di hadapan aparat kepolisian.


"Pokoknya, Gua mau ketemu pelaku tabrak larinya!" Seru seorang pria bertato dengan mata melotot.


"Mas, Mas. Sabar..." Ibnu masih berusaha menahannya. Karena saat ini ia hanya di temani salah seorang anggota polisi, dan satu security puskesmas. "Ini tuh bukan tabrak lari. Adik saya itu cuma menyelamatkan diri dari amukan massa."


"Alah! Sama aja dia mau kabur, kalau aja tadi nggak ke pegang mah!"


"Saudara- saudara ini mau apa? Lebih baik di bicarakan dengan baik-baik. Jangan seperti ini." Sang aparat menahan dada pemuda yang sejak tadi dibusungkan.


Pemuda berkacamata yang baru masuk itu setengah berlari menghampiri Ibnu dan dua pria dewasa lainnya yang sedang berbicara dengan hati-hati pada pihak keluarga dari pedagang asongan tersebut.


"Assalamualaikum, permisi. Saya Kakak sulung dari Abas." Pemuda itu menyela pembicaraan Ibnu dengan empat orang bertato yang mulai memanas. Bahkan Ibnu pun terlihat kewalahan. Bagaimana tidak?


Pria paruh baya yang sekarang sudah di rujuk ke rumah sakit itu mengalami cidera yang cukup parah, akibat terhimpit warung asongan miliknya sendiri setelah di tabrak dari sisi samping oleh Abas. Sementara salah satu dari mereka yang berbicara adalah anak dari korban, yang merupakan preman setempat. Tentunya hal itu cukup membuat Ibnu gemetar, karena pria di hadapannya terus berusaha untuk masuk ke UGD demi menemui Abas. Bukan apa-apa, bisa saja kan? Abas di hakimi.


"Oh, Lu Kakaknya juga? Sekarang gimana nih, Bapak saya?"


"Kita bicarakan ini dengan kepala dingin ya Mas. Mohon pengertiannya."


"Bicara dengan kepala dingin gimana? Bapak gua sekarat noh, Mas! Gara-gara Ade, Mas itu." Seorang pria dengan rambut gondrongnya menunjuk-nunjuk kearah pintu ruang IGD.


"Iya, iya, Mas. Saya minta maaf sekali lagi." Ilyas berusaha untuk meredam situasi yang memanas ini. "Nanti akan saya pikirkan untuk biayanya. Saya akan tanggung jawab, Mas."


Ilyas memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Situasi yang hampir sama dengannya dulu. Sehingga cukup membuat Ilyas berusaha lebih keras untuk membuang traumanya demi sang adik. Karena, sama seperti pemikiran Ibnu. Ilyas khawatir, tiga pemuda dengan tato di lengan itu akan menghakimi adiknya yang masih remaja itu.


Pemuda berpenampilan preman itu melirik dari atas ke bawah. Penampilan Ilyas cukup rapi.


Wah, PNS nih kayanya... Batin pria gondrong dengan tindik di telinga. Lagian, motor yang di pake buat nabrak juga motor mahal tuh.

__ADS_1


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, 'kan?" Ilyas kembali berbicara.


"Oke, dah! Kita bicarakan ini baik-baik. Berdua di sono–" tuturnya mengusulkan. Dan tanpa berpikir Ilyas langsung mengangguk. Mereka berjalan berdua, menjauh dari orang-orang di dekat pintu UGD.


"Gimana, Mas?" tanya Ilyas. Saat posisinya sudah cukup tak terlihat.


"Ini pan, nasib bapak gua belum jelas, ye? Romannye parah, Mas," ujarnya. Sementara Ilyas nampak serius mendengarkan sambil mengangguk-angguk. "Nah, Gua mau minta jaminan dulu, gimana? biar kalian nggak kabur!"


"Baiklah, untuk jaminan? mungkin saya akan titipkan KTP saya."


"KTP?! buat apaan?!" Sergahnya. "Maksudnya, kalau mau kasih jaminan itu yang bisa buat jaga-jaga. Kaya motor gitu?"


"Motor?" Ilyas mengernyit kening.


"Iya, gua mau motor adek lu, gua tahan!"


"Jangan gitu lah, Mas. Ini kan musibah yang nggak di sengaja. Lagian motor yang di pakai adik saya itu motor temennya, Mas."


"Tolong kasih keringanan. Saya cuma bisa ngasih jaminan KTP untuk sementara, Mas."


"Enak aja, lu!" Sarkasnya, "emang lu kira biaya rumah sakit bisa di bayar pake KTP!"


"Maksudnya, saya mungkin ngasih dulu seberapa gitu buat biayain Bapaknya, Mas. Setelahnya akan saya pikirkan lagi. Tolonglah –"


Ilyas sedikit kewalahan, pantas saja suara Ibnu saat di telfon terdengar gemetaran. Ternya yang menjadi korban adalah ayah dari preman gang yang biasa berkuasa di kawasan itu.


"Ya udah sini kasih gua lima juta!"


"Lima juta?"

__ADS_1


"Iya! Lima juta, dimuka, ye! Ini aja baru biaya awal. Selama perawatan pasti masih bisa nambah."


"Astaghfirullah al'azim..."


"Nggak usah istighfar lu! Tanggungjawab ini!"


"I–iya, Mas..." Ilyas sedikit beringsut takut. Melihat preman dihadapannya membuat ia kembali teringat saat-saat dirinya di pukuli masa. "Minta nomor rekeningnya aja, ya. Nanti biar saya transfer."


"CK! Kaga ada, gua mah nggak punya ATM."


"Terus?"


"Kan gua minta cash!"


"Ya udah, biar saya ambil uang dulu ya Mas di ATM."


"Buruan! Gua tunggu di sini."


Ilyas gegas melenggang pergi sambil beristighfar. Beruntung di ATM memang ada saldo tabungan khusus untuk biayanya kuliah Abas nantinya. Dan mau tak mau pria itu harus memakainya lebih dulu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah urusan dengan mereka selesai, dan polisi pun tidak lagi memperkarakan ini karena kedua belah pihak telah menyatakan berdamai mereka aparat tersebut pun melepaskan Abas, sementara motor pelaku rupanya sudah di tahan sementara oleh pihak kepolisian.


"Mas, tadi orang itu ngomong apa?" Tanya Ibnu penasaran, Ilyas sendiri menggeleng pelan. Sedang membantu adik bungsunya untuk minum.


"Nggak ngomong apa-apa."


"Beneran, Mas?" tanya Ibnu tak percaya. "Soalnya tadi kaya keras banget orangnya. Abis ngobrol tiba-tiba langsung mau damai."

__ADS_1


Ilyas memapah Abas yang duduk di atas ranjang, membantu pemuda itu untuk turun sebelum pulang.


"Udahlah, nggak usah di pikirin. Itu tolong tasnya Abas di bawa." Pria itu menuntun adiknya keluar tirai penyekat ranjang. Adapun Ibnu hanya menghela nafas, berharap Kakaknya benar-benar menyelesaikan ini dengan baik tanpa masalah di kemudian hari.


__ADS_2