
Seorang gadis berhijab melangkah lunglai sambil membuka pintu. Bagian tulang leher yang bermasalah serta tulang panggul sudah tak begitu terasa nyeri. Namun tetap, Ia harus hati-hati ketika melangkah atau mungkin saat merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Beberapa menit berikutnya, Bu Sofian masuk, meletakkan beberapa buah yang di di kumpulkan dalam satu wadah ke atas meja. Sementara Fatimah duduk termenung di tepi ranjang seraya memeluk boneka yang biasa menjadi teman tidurnya.
"Ibu bersyukur kamu udah boleh pulang, Fat. Setelah ini jaga diri baik-baik. Karena ibu sedih melihat mu kenapa-kenapa." Wejangan Bu Sofian menyiratkan kasih sayang seorang ibu yang khawatir akan kondisi puterinya.
Gadis itu mengangguk. Sang ibu yang sudah duduk di sebelahnya menggenggam tangan puterinya.
"Kamu masih aja keliatan lesu, Fat?"
"Siapa yang lesu, Bu. Aku biasa kok," jawabnya. Walau sebenarnya ibunya tahu apa yang membuat anak gadisnya tak berselera hidup.
"Ibu cuma mau kamu melupakan laki-laki itu. Dia udah beristri, Fat. Mau gimana lagi."
Fatimah menghela nafas. Tubuhnya bangkit dan berjalan pelan hingga ke jendela yang luas dengan tirai putih.
"Ibu pikir, Fatimah nggak berusaha?" tanyanya sembari menatap ke jalan yang terlihat dari sudutnya berdiri. "Tapi emang nggak gampang, semua ini butuh waktu, Bu. Aku udah mengagumi Beliau jauh sejak masa menuju remaja. mas Ilyas cinta pertamanya Fatimah, Bu. Walaupun dalam Islam tidak boleh mengaku cinta pada siapapun yang bukan mahramnya."
"Ibu memahami itu, Fat. Yaaah, ibu cuma berharap, kamu lekas di berikan jodoh. Agar luka hatiku bisa sembuh."
Fatimah tak menjawab. Ia justru sedang memikirkan untuk mengambil study S2 ke luar negeri saja. Setidaknya dengar cara itu ia bisa menghindari sepasang suami-isteri baru itu.
***
Di sisi lain...
Baru saja mereka sampai, Ilyas langsung menghampiri puterinya yang tertidur pulas di ranjang mereka. Senyum melengkung ceria, semangatnya pulih manakala mata memandangi mahluk yang masih suci ini.
"Duh, semalaman nggak ketemu, Abi udah rindu, Nak." Pemuda berkacamata itu mengusap pipi mungil yang kemerahan.
Kulitnya yang putih bersih, menurun dari almarhum Ayahnya. Bahkan tak hanya warna kulit, wajahnya pun seperti Harun dalam versi perempuan.
Terlihat menggemaskan sekali, ketika bibir Nisa maju seperti tengah menghisap empeng botol susu. Ilyas tertawa lirih.
"Run, Harun...," gumamnya gemas pada sosok Harun dalam kemasan sachet, itu yang ada pada bayangan Ilyas. Hehehe.
"Mas!"
"Ya?" Ilyas menoleh kebelakang, karena saat ini kedua tangannya tengah bertumpu di sisi kanan dan kiri puterinya, mengungkung.
"Makan siang dulu."
"Iya, sebentar." Ilyas kembali mengarah pada puterinya. "Terus, ini, Nisa?"
"Nanti ibu naik, kok. Yuk..."
Ilyas mengangguk, hendaknya mencium sang anak. Namun karena tubuh masih merasakan kurang fit, ia pun membatalkan.
__ADS_1
...
Waktu semakin mendekat senja, selepas sholat ashar berjamaah di masjid, pria itu kembali merasakan menggigil. Hingga, ia pun memutuskan untuk buru-buru merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian, setelah mengajak Nisa keluar untuk makan, perempuan itu masuk kedalam kamar demi menghampiri Suaminya, yang tak kunjung keluar.
"Mas, kenapa? Sakit lagi?" tanyanya mendekati sang suami yang sedang meringkuk di bawah selimut.
Di sentuhnya kening Ilyas, yang ternyata kembali demam.
"Tuh kan, Mas masih demam."
"Nanti kalau minum obat juga enteng lagi, Dek," jawabnya sambil memegangi tangan Nisa yang menggantung di dekatnya.
"Jangan di sepelekan. Kamu ngedropnya selalu pas tiba waktu sore. Kita ke dokter aja, ya, biar tau sakit apa."
"Nggak usah, Dek. Beneran, deh..., Mas cuma butuh istirahat."
"Kan, selalu gitu. Kemarin aku maklumi, sekarang Mas harus nurut lah. Ayo ke rumah sakit."
Pemuda yang tengah membenamkan separuh wajahnya itu menggeleng.
"Kenapa nggak mau, sih?"
"Nggak papa. Aku mau minum obat aja."
"Mas, nggak mau sehat, ya?"
"Ya mau lah, Dek."
"Kalau mau kenapa susah. Cuma periksa aja ke klinik."
Ilyas terdiam, tangannya masih mengayun-ayunkan tangan Nisa.
"Ayo, Mas, biar cepet sembuh. Kalau kaya gini, gimana mau sembuh coba?"
"Aku itu nggak pernah berobat kalau kalau sakit, Dek."
"Itu kan sebelum kamu nikah sama aku. Sekarang? Kamu punya isteri dan anak yang butuh di bersamai dalam keadaan sehat."
Senyum pemuda itu melengkung tipis di bibir yang sedikit pucat.
"Gimana, mau, ya?"
"Iya. Janji periksa aja..."
"Ya, iya..., emang apa lagi? Lagian takut banget ketemu dokter," cibirnya pada pemuda yang hanya diam saja. Perlahan bangkit sambil menyibak selimut. Bergegas untuk bersiap, sebelum menuju klinik umum.
__ADS_1
...
Setiba di sana. Pemuda itu banyak diam, lebih menjurus ke rasa tegang. Bahkan tangan yang menggenggam tangan isterinya nampak meremas kuat.
"Atas nama Muhammad Ilyasa." Seorang suster berseru dari balik pintu yang terbuka. "Bapak Muhammad Ilyasa! Adakah pasien yang bernama, Muhammad Ilyasa?"
Qonni menoleh kearah suaminya, kemudian menyikutnya hingga pemuda di sebelah terkesiap sambil menoleh.
"Di panggil," bisik Qonni.
"Sekali lagi, Atas nama Muhammad Ilyasa!"
"Sa–saya." Dengan kaku pemuda berkacamata itu berdiri.
"Silahkan masuk ke ruang pemeriksaan, Pak."
"Terima kasih," ucap Ilyas sebelum kembali menoleh kearah isterinya. "Temani aku."
"Iya, Mas." Perempuan di sebelahnya mengangguk sambil menahan tawa.
Hingga akhirnya, keduanya masuk ke ruang perawatan bersama.
Astaghfirullah, nggak suka bau obatnya. Nggak suka juga sama alat injeksi. –keluhnya dalam hati.
Pemeriksaan di lakukan oleh Dokter laki-laki. Ilyas yang kini sedang berada di atas bed, sedikit merasakannya nyaman.
"Masnya sudah periksa Lab?" Tanya sang dokter. Pria itu menggeleng. "Ya sudah, ini saya kasih Mas untuk observasi selama dua puluh empat jam. Kalau sakitnya masih kambuh-kambuhan langsung balik lagi saja kemari.
"Terima kasih, Dok." Menunggu sang dokter menulis resep, Ilyas menghela nafas lega.
–––
Dengan wajah tenang sepasang suami-isteri itu keluar dari gedung klinik. Ilyas meminta Qonni untuk duduk di belakang sementara dirinya mengemudikan kendaraan bermotor miliknya sendiri.
"Kamu tadi tegang banget, Mas?"
"Aku tegang, karena aku agak trauma dengan jarum suntik soalnya."
"Trauma?" Jadi Mas Ilyas takut di suntik. Pantesan nolak terus di ajak ke rumah sakit.
"Dulu ada suatu kejadian, yang sampai bikin aku pingsan karena kesalahan pihak puskesmas."
"Kesalahan apa?" Tanyanya sambil menunggu laki-laki itu memasang pengait helm.
"Ya, mereka pernah nyuntik bagian pembuluh darah yang salah. Akibatnya, pembuluh darah itu pecah. Darah jadi keluar terus. Itulah kenapa aku sampai pingsan karena banyaknya darah. Dan sampai sekarang aku trauma kalau di bawa ke fasilitas kesehatan."
Qonni manggut-manggut paham. Kini keduanya sudah naik di atas motor. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang.
__ADS_1
.