Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Hidup yang akan penuh dengan belajar


__ADS_3

"Kita jadi mandi lagi–" Qonni menatap pantulan dirinya dan Harun di depan cermin. Pria itu tersenyum sambil memegangi hairdryer. Membantu Qonni mengeringkan rambutnya.


"Bii, nanti sambil cari jajan kita anterin Eceu dulu ya."


"Iya, A'..." Tersenyum.


"Kita sekalian nonton, deh."


"Wah, nonton?" Semangat Qonni membara.


"Iya, nonton film Star wars." Harun menjawab tak kalah antusias, namun berbeda dengan Qonni yang langsung menarik senyumnya. Mata perinya bergeser pada sang suami yang justru semakin menunjukkan gigi-giginya yang bersih dan putih.


"Kok, star wars, sih?"


"Itu yang A'a tunggu-tunggu, Bii. Yeeeeaaah!" Pria itu menggerakkan tangannya seolah sedang memegang Lightsaber kemudian menebas-nebaskannya ke arah samping mengikuti gaya Darth Vader yang sedang beraksi. "MashaAllah, keren 'kan?"


"Aaaaaah, ku pikir kita akan nonton film romantis. Lagian pasti banyak aurat yang di buka kalau nonton film barat."


"Nanti A'a tutup mata, begini." Harun menutup matanya dengan jari-jari tangan yang ia uraikan sehingga Ayudia masih bisa ia lihat dengan jelas.


"Iiiiih!" Qonni menutupi wajah suaminya dengan ke-dua tangan yang memicu tawa Harun. "Jangan nonton itu, A'. Yang lain aja."


"Apa dong?"


"Duyung, Disney."


"Aiiiih, itu malah lebih-lebih aurat, Bii! Sepanjang durasi film tersebut."


"Hahahaha. Lagian sama aja sama Star wars, A'..."


"Atuh beda..."


"Nggak jauh beda. Sama!'


"Benda, Bii. Jangan ngeyel deh. Pokoknya, Star wars!"


"Ariel!"


"Darth Vader!" Harun tak kalah ngototnya.

__ADS_1


"Ariel, Ariel, Ariel! Titik nggak pake koma...!"


JEGEEEEEEEEEER!


"Kyaaaaaaa!" Qonni gegas memeluk tubuh suaminya saat petir tiba-tiba menyambar hingga memicu getaran di kaca kamar mereka. "Astaghfirullah al'azim, petirnya kenceng banget."


"Hah, kualat tuh. Nggak mau nurut sih?!" Ledek Harun.


"Nggak nyambung, ah...!"


"Ya udah jadi gimana?"


"Nonton Muara Cinta, Sang Habib aja, deh." Qonni menawarkan, sesuai keinginan yang sesungguhnya yaitu menonton film yang di adaptasi dari Novel buatan Maryam Chwa.


"Haaaaah, iya deh." Harun mengalah. "Menurut saja lah demi ketentraman hari ini, esok dan seterusnya."


Qonni yang mendengar gumaman Harun tertawa, setelah itu memeluk lingkar leher suaminya dan menghadiahi sebuah kecupan di pipi.


# Flashback Off


Sebuah tangan menyentuh pundaknya, Qonni terhenyak sedikit sebelum menoleh kebelakang.


"Nggak papa, Bu Nida."


"Syukurlah, kirain kenapa. Habis dari tadi bengong di sini. Lagi kangen sama Almarhum Suami, ya?" tanyanya dengan wajah prihatin. Adapun Qonni hanya menanggapi dengan senyum tipis. "Emmmm, di bawa istighfar. Sebaiknya jangan sering-sering ngelamun begini, pamali! Bu Ayudia kan lagi hamil."


"Saya cuma lagi liat ujan, Bu."


"Ya sama aja sambil bengong. Khawatirnya kan ada sesuatu yang tak kasat mata, nempel. Udah, masuk aja, yuk. Di sini dingin, dan lagi baju Bu Ayudia jadi sedikit basah. Kasian Dede dalam kandungan, Bu Ayu."


"Iya, Bu Nida. Terima kasih atas perhatiannya, loh." Perempuan yang sempat larut dalam kenangan itu melangkah masuk bersisian dengan Guru sosiologi yang di kenal ramah plus keibuan tersebut.


Ya, begitulah kehidupan yang cepat sekali berubah. Situasi penuh cinta yang kini tinggal kenangan, entah mengapa menimbulkan siluet-siluet tipis yang terkadang membuatnya kembali menitikkan air mata.


Entah sampai kapan ia akan hidup seperti ini. Yang jelas, alur yang ia terima harus iklhas ia jalani. Duka ini hanya sebentar kok. Allah SWT justru lebih banyak memberikan rasa bahagia daripada sedihnya. Begitulah nasehat yang selalu ia terima dari Ustadz Irsyad. Agar hatinya tetap tawakal, sami'na wa aṭo'na.


🌧️ 🌧️ 🌧️


Hujan yang masih lumayan deras mengguyur kota Cileungsi, tak menggoyahkan semangat Ilyas yang sudah melindungi tubuhnya dengan mantel hujan. Pria berkacamata itu baru selesai mengajar, sekarang saatnya melakukan perjalanan ke Jatinegara untuk mencari barang-barang pesanan client yang ia butuhkan.

__ADS_1


Sebelum kembali berperang dengan hatinya, ia justru harus mengumpulkan modal lebih banyak. Setidaknya, ia ingin lebih siap secara finansial dan metal ketika kelak bisa benar-benar mempersunting isteri mendiang Harun.


Memang, baru semalam dirinya di tolak langsung oleh Ayudia Qonniah. Tapi, apa lantas membuatnya gentar? Tentunya tidak, ia justru semakin terpacu untuk berusaha lebih gigih. Hanya saja, untuk kali ini ia tidak ingin menggunakan nafsu seperti sebelum-sebelumnya.


Biarlah, Ayu menikmati status kesendiriannya sambil menyembuhkan luka. Sementara Dia, fokus memperbaiki hubungan dengan Rabb penguasa alam semesta. Tidak peduli apa yang Allah tuliskan dalam takdir hidupnya, ia hanya berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup sebagai pelakon. Dan menyerahkan ending pada sebaik-baiknya sutradara yang lebih berhak mengatur jalannya kehidupan ini.


Setelah berkeliling menghabiskan sisa harinya. Laki-laki tersebut baru tiba di rumah selepas isya. Tubuh yang lemas dan dingin, tak di hiraukan. Ilyas gegas membersihkan diri dengan air hangat yang rupanya sudah di siapkan oleh Ibnu.


"Mas, makan dulu." Pemuda dengan kaos yang sudah terlihat usang itu meletakkan tiga mangkuk mie instan rebus lengkap dengan telur dan sawi hijau.


"MashaAllah, seger banget keliatannya." Laki-laki yang selalu menyembunyikan mata di balik lensa minus itu langsung duduk di kursi.


"Yah, Mie lagi." Berbeda dengan Ilyas, Abas sendiri justru menunjukkan respon ketidaksukaan dengan menu makan malamnya.


"Bersyukur, Bas. Masih bisa makan, mana nggak ada ikhtiar beli dan masaknya lagi," protes Ibnu yang sedikit kesal.


"Ya lagian dari siang, Mie terus. Kan pengen makan yang lain."


"Kalau mau makan yang lain bilang lah dari tadi. Main aja sih, bisanya!"


"Udah-udah–" Ilyas melerai. Karena dua adiknya memang agak sering meributkan sesuatu yang sepele. "Gini aja, Abas mau apa?"


"Udah lah, ini aja." Dengan ogah-ogahan pemuda yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu menarik mangkuknya lebih mendekat.


Ilyas menghela nafas. "Lain kali kalau mau makan menu yang kamu inginkan ngomong aja, ya."


"Katanya di suruh irit, makan apa adanya. Kemaren aja minta beli nasi goreng nggak di beliin sama Mas Ilyas."


"Astaghfirullah al'azim. Na'am, na'am! Mas yang lupa, Dek. Beneran! Sekarang aja belinya, ya. Mas ambil uang dulu."


"CK! nggak usah lah, ini aja cukup!" Remaja di depan Ilyas langsung beranjak sambil membawa mangkuk berisi mie yang masih terlihat mengepul dan keluar dari dapur.


"Ngambek, terus!" Ibnu berseru menanggapi sikap Abas yang belum dewasa. Adapun Ilyas langsung menahan Ibnu dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


"Udah makan aja. Biarin..." bisiknya memberi perintah. Ibnu yang sedang memegangi teflon rice cooker menghela nafas, ia meletakkan benda tersebut di atas meja kemudian sendirinya duduk di hadapan Kakak sulungnya.


Ya, begitu tidak mudahnya hidup tanpa orang tua. Lebih-lebih belum memiliki pasangan hidup. Yang secara otomatis, rumah akan kurang hangat karena tidak adanya sentuhan wanita.


Ilyas berusaha terus untuk menerima keadaan ini. Mengatur emosi yang tak jarang naik-turun. Belum lagi menghadapi adik-adik yang memiliki sifat berbeda. Memang benar, tidak ada manusia yang sempurna. Sama halnya Ilyas, selamanya ia kan terus belajar untuk menata hati demi hidup yang berkualitas.

__ADS_1


__ADS_2