
Di kontrakan Haki, tiga pemuda itu masuk. Mereka lantas duduk di atas karpet yang buru-buru di gelar oleh pemuda asal NTB tersebut.
"Sorry nih..., agak berdebu. Maklum, kebanyakan hijrah kesana-kemari."
"Percaya Anne, mah. Hijrahnya Antum juga buat ngilangin sumpeknya hati karena masih jomblo," kelakar Ilyas yang di tanggapi muka cemberut Haki.
"Ampuuun, di katain jomblo ama jomblo?" Skak mat. Ilyas langsung menghentikan tawanya. Yang kemudian berbalik pada Haki dan juga Ilham.
"Iya-iya, kita mah jomblo semua udah." Ilyas mengalah daripada candaan melebar kemana-mana.
"Tapi maap-maap." Pria Betawi itu meletakkan kedua telapak tangan menghadap Ilyas dan Haki di depan dada. "Anne beda, ama kalian. Anne hampir mengakhiri masa kejombloan ini." Ilham menepuk dadanya sendiri.
"Eh iya, si juragan jengkol mau akad nih?" Haki langsung merangkul pundak temannya dengan sedikit pitingan. Tentunya lengan yang berisi itu membuat kawan bertubuh kerempeng di sebelahnya merasa sesak nafas.
"Ki, Anne belum ngerasain akad. Ente mau bunuh Anne?" Ilham menepuk lengan temannya itu. Tangan Haki pun mengurai sambil terus tertawa.
"Pesen jengkol ke Anna, eh nggak taunya dia dulu yang bakal hajatan." Ilyas memukul lengan Ilham dengan gulungan kertas.
"Hahaha– mau gimana, pas waktu itu emang belum ada calon. Anne ngelamar juga nggak di sengaja."
"Emang gimana ceritanya tau-tau dapet jodoh anak seorang Ustadz?" Tanya Haki penasaran.
"Jadi, nih.... Anne kan lagi main kerumah guru ngaji, tahu-tahu di tawarin seorang perempuan lajang yang siap nikah."
"Terus-terus?" Ilyas turut penasaran.
"Ya udah, atur jadwal ketemu. Dan qadarullahnya..., ketemu sekali? kita sama-sama cocok. Jadilah kita, inshaAllah bulan depan...." Ilham meraih tangan Ilyas menjabatnya. "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhitu bihi, wallahu waliyu taufiq."
"Gimana saksi?" Tanya Ilyas sambil menoleh pada Haki. Pria di tengah mengangkat kedua tangan.
"Saaaaaah!" Serunya.
Sama dengan Haki, Ilyas pun menengadahkan kedua tangannya membaca doa. "Baarakallahu laka..."
__ADS_1
"Aamiin!" Seru Haki dengan suaranya yang lantang.
"wa baarakaa alaika..."
"Aamiin!"
"wa jama'a bainakumaa fii khoir..."
"Aamiin, Aamiin, Aamiin.... Barakallah, barakallah..." Ilyas dan Haki menjabat tangan Ilham secara bergantian. Sambil tertawa, namun di selingi doa yang sebenar-benarnya untuk pria yang akan melangsungkan akadnya satu bulan lagi.
***
Setiba di rumah, Ilyas langsung menuju tandas untuk membersihkan tubuhnya sebelum adzan Magrib berkumandang. Setelah mandi, ia pun melihat adanya makanan di atas meja yang sedang di tata oleh Abas.
"Makanan dari mana, nih?" Tanya Ilyas terheran-heran, dengan tangan bergerak mengeringkan rambut menggunakan handuk.
"Dari Bu Janah, Ibunya Mbak Fatimah," jawab Abas, yang terus terang sudah tergoda dengan hidangan di atas meja. Ada sayur lodeh, orek tempe, plus ikan asin dan sambalnya.
"Bu Janah baik banget ya, Mas? Sering ngasih makanan ke kita." Abas tersenyum senang, ia buru-buru mengambil dua piring kosong, salah satunya ia letakkan di hadapan Ilyas.
Adapun pria itu sama sekali tak merespon, selain perasaan tak enaknya pada keluarga Fatimah.
"Di makan, Mas."
"Ya, Bas. Nanti aja..., Mas mau siap-siap ke masjid. Lima belas menit lagi adzan soalnya."
"Okeh. Abas makan duluan." Abas buru-buru duduk dengan tangannya yang masih agak basah setelah membasuh dengan air dan sabun.
Di ambilnya nasi sebanyak dua centong, kemudian di siramnya nasi tersebut dengan kuah santan putih berisi terong, kacang panjang, daun melinjo, labu siam, dan juga jagung manis. Ada melinjo juga di dalamnya, namun remaja itu tak mengambilnya karena tidak suka.
Ya Allah, Fat? Bagaimana saya bisa membalas kebaikan keluarga kalian? Kalau hampir setiap hari, ibu kamu selalu ngirim makanan ke rumah kami. –Ilyas terdiam memandangi Abas yang sedang mengambil satu sendok sambal. Pria itu pun kembali melangkah untuk keluar.
"Oh iya, Mas!" Seruan Abas membuat pria yang sudah berada di ambang pintu dapur itu menoleh. "Tadi Bu Janah bilang, katanya habis Isya, Mas Ilyas di suruh main kerumah. Karena ada yang mau di sampaikan bersama Pak Sofian juga," sambungnya.
__ADS_1
Ya ampun... apa masalah ngelamar Fatimah lagi? –Ilyas bergeming, setelah itu mengangguk pada sang adik sebelum keluar.
–––
Selepas pulang dari Masjid pria itu terdiam di depan pagar rumah milik keluarga Pak Sofian yang terbuka setengahnya. Sebenarnya ia ragu-ragu antara tetap masuk untuk memenuhi undangan atau pulang saja dengan menyiapkan alasan di esok hari. Namun, jika seperti itu bukankah tidak sopan?
Pria itu menguatkan kacamata-nya. Kemudian mengucapkan bismillah sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah yang cukup besar milik seorang pria berwibawa yang bekerja sebagai Dosen di salah satu Sekolah Tinggi Swasta.
Karena Ilyas datang memenuhi undangan Tuan rumah. Tentu kehadirannya di sambut baik oleh sepasang suami-isteri tersebut. Kini ia sedang duduk berhadapan dengan Pak Sofian dan juga Isterinya.
"Di minum, Nak Ilyas –" perintah Bu Janah dengan senyum keibuannya yang hangat.
"Terima kasih, Bu." Ilyas tersenyum, sebelum meraih secangkir teh yang di suguhkan untuknya.
Adapun seorang gadis yang kini berdiri sambil menyandar dinding ruangan tengah, nampak bahagia. Karena permintaannya kembali di turuti sang Ayah. Semoga saja, ia bisa langsung mendapatkan jawaban 'iya' dari pria idamannya.
Ilyas meletakkan cangkir yang sudah di minumnya sedikit.
"Maaf ya, Nak Ilyas. Sudah menyuruhmu datang malam-malam."
"Nggak papa, Pak, Bu." Pria itu tersenyum. "Kalau boleh tahu, ada apa ya? Tiba-tiba saya di panggil kesini."
"Emmm, begini. Masih berkaitan yang waktu itu saya katakan sama kamu." Pak Sofian mulai membuka inti dari percakapannya. "Tawaran saya kan belum di jawab. Sekarang, saya mau Nak Ilyas menjawabnya. Ini udah berbulan-bulan loh, bahkan lebih dari satu kali saya menawarkan. Setidaknya, Nak Ilyas pasti sudah memiliki jawaban. Karena waktu untuk berpikir sudah di berikan cukup lama."
Jujur Pak Sofian benar-benar tengah melawan rasa gengsinya sebagai mantan pejabat daerah. Karena melamar laki-laki bukankah suatu perbuatan yang berani. Iya kalau di terima, bagaimana kalau di tolak? Pasti akan langsung hancur harga dirinya.
Sementara itu, pria yang sedang duduk di hadapan suami-isteri tersebut juga nampak bimbang. Di tambah, senyum Qonni yang tadi kembali melayang-layang di kepalanya. Membuat ia kembali merasakan adanya harapan untuknya bisa meminang janda dari mendiang sahabatnya.
Namun, di sisi lain ia juga ingat kebaikan keluarga Fatimah. Lebih-lebih Bu Janah, wanita itu bahkan sampai menaruh perhatian lebih padanya dan adik-adiknya semenjak Ibu mereka wafat. Tak sekali-dua kali Beliau mengirim makanan, baik makanan berat atau pun sebangsa kue-kue.
"Bagaimana, Nak Ilyas?" Kembali Pak Sofian menanyakan, membuat kepala yang sedang tertunduk itu kembali terangkat.
Kebimbangan benar-benar membelenggu pemuda itu. Antara Fatimah yang keluarganya sangat baik, atau Ayudia Qonniah yang sampai saat ini belum jelas. Intinya, bibir Ilyas masih membeku belum mampu menjawab tawaran pria terhormat di hadapannya.
__ADS_1