Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Membesuk


__ADS_3

Di tempat lain, Fatimah terdiam. Luka-luka di beberapa bagian tubuhnya masih nyeri terasa. Beruntungnya, kecelakaan tadi tidak menyebabkan cedera parah. Ia masih bisa tersadar walau trauma akan kecelakaan tadi masih membayangi.


Tirai ruang IGD terbuka. Ibu dan Ayah masuk dengan tergesa-gesa, serta menunjukkan ekspresi kekhawatiran.


"Ya Allah, kenapa kamu bisa kaya gini, Fat?" Ibu mendekat sembari mengusap kepala puterinya yang tertutup kain hijab. Lantas mencium kening bersamaan dengan luruhnya air mata yang mengandung rasa syukur. "Ibu takut sekali pas dengar kamu kecelakaan."


"Aku nggak papa, Bu. Tadi ada ibu-ibu nyelonong gitu aja makanya mobil jadi tergelincir gara-gara ngerem mendadak."


"Kamu, sih! Ayah kan udah bilang, jangan kemana-mana kalau pikiran lagi kalut." Pak Sofian berkacak pinggang di sisi ranjang.


"Ayah, Fatimah itu nggak lagi banyak pikiran. Udah ya, toh aku nggak papa." Fatimah mencoba menenangkan hati sang Ayah.


Melihat kondisi puterinya yang hanya luka-luka ringan jika di lihat dari luar membuatnya bisa bernafas lega.


Bu Sofian menoleh kearah suaminya, yang sejenak membuatnya teringat atas perbuatan Beliau tadi pada Ilyas.


"Ayah mesti minta maaf ke Ilyas," ucap Bu Sofian pada suaminya yang hanya diam saja.


"Minta maaf?" Fatimah bertanya dengan kening berkerut. Bu Sofian sendiri hanya menghela nafas ia tak mungkin menceritakan kejadian tadi pada Puterinya. "Emang Ayah habis ngapain, Bu?"


"Nggak papa, Fat. Udah lupain aja," jawabnya mengalihkan.


Jujur, rasa ingin tahu Fatimah masih menyeruak di hati gadis itu. Namun, urung ia tanyakan lagi ketika sebuah salam terdengar seiring tirai yang tersibak.


Seorang perwira polisi yang menggunakan seragam lengkap menghampiri keluarga Pak Sofian.


"Pak, Bu," sapanya sopan.


"Loh, Nak Prima ya?" Bu Sofian menyambutnya dengan hangat anak dari teman suaminya yang bekerja sebagai dosen juga.


"Iya, Bu. Kebetulan saya yang menangani kasus kecelakaan Fatimah."


"Oh, gitu. Terima kasih banyak ya, Nak."


"Sama-sama. Karena keluarga udah datang, dan juga Fatimahnya nggak papa jadi saya mau izin pamit."


"Buru-buru sekali." Pak Sofian menampilkan wajah ramahnya pada pria berseragam ini.


"Iya Pak. Saya harus tugas lagi. Mungkin, nanti sore jika di izinkan saya akan menjenguk lagi sama Ayah dan ibu saya."


"Oh, udah pasti di izinkan lah." Pak Sofian terkekeh, berbeda dengan ayah dan ibunya. Fatimah justru tak peduli, ia lebih fokus pada rasa pedih di bagian luka-lukanya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Nah, yang kaya gini baru keren. Nggak kaya tetangga sebelah."


"Ayah, kok ngomongnya gitu. Istighfar...," tegur Bu Sofian yang tak di jawab oleh pria paruh baya di hadapannya.


Fatimah geleng-geleng kepala, bibirnya meringis karena sakit pada luka-lukanya benar-benar membuat dirinya melupakan semua yang ada di sana.


***


Sebelum senja datang, Ilyas bersiap. Mereka akan kembali ke Babelan setelah menginap satu malam di sini.


"Mas, kenapa nggak nginep semalam lagi?" tanya Abas pelan. Karena kakak iparnya sedang ada di dalam makanya ia berani bertanya hal seperti ini. "Rumah jadi sepi lagi."


"Besok, Mbak Ayu masuk pagi, Bas. Jadi kita harus balik. Minggu depan, kita nginep lagi kok."


Abas manggut-manggut, ia pun mengambil langkah mundur saat Kakak iparnya keluar sembari menggendong Nisa.


"Udah?" tanya Ilyas dengan tangan memegangi helm milik Qonni.


"Udah, Mas." Qonni menoleh kepada Abas, adik iparnya itu sedang melambaikan tangan pada Nisa. "Bas, Mbak pulang dulu ya."


"Iya, Bas. Salam buat Ibnu ya."


"Ya, Mbak."


Qonni tersenyum, kemudian beralih pandang pada dada Ilyas ketika laki-laki itu sedang memasangkan helm untuknya. Setelah berpamitan, motor pun melaju meninggalkan remaja yang tengah berdiri di pelataran rumah. Di tatapnya langit sebentar, setelah itu kembali masuk.


...


Hari kembali berganti...


Pasangan suami-isteri baru ini tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Qonni yang sedang memasang hijabnya tak henti-hentinya di pandangi Ilyas.


Ya, perempuan itu memang selalu terlihat menarik saat menggunakan seragam dinas warna kaki. Kalau dulu dia selalu menjaga pandangan, sekarang ia bisa melihatnya sampai puas.


Sebuah kecupan manis mendarat di pipi, Ilyas merasa gemas padanya walaupun sang isteri tak merespon lebih selain hanya diam saja ketika bibir Suaminya menempel di pipi.


"Cantiknya isteriku," pujinya masih pada posisi merengkuh. Qonni tersenyum samar, membiarkan pipinya yang sudah dialasi bedak padat tipis-tipis terus diciuminya.

__ADS_1


"Mas..."


"Ya?" Ilyas menghentikan gerakannya. Menatap wajah Qonni dari cermin sembari menyandarkan dagu di pundak.


"Tadi aku baca group chat, teman-teman guru mau jenguk Bu Fatimah."


Ilyas terdiam. Padahal niatnya juga hari ini sepulang ngajar ia akan mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan Fatimah. Karena dari kemarin ia terus kepikiran, sementara pesan chat-nya kepada Pak Sofian tak di balas.


"Mas izinin aku ke Cileungsi lagi, nggak?"


"Emang kamu sama siapa aja?" tanya Ilyas meraih sisir di hadapan Qonni. Pria itu pun menata rambutnya sendiri.


"Hampir semua staf guru. Niatnya pake mobil, sisanya pakai motor masing-masing."


Ilyas mengangguk dengan tatapan mengarah pada pantulan wajahnya sendiri, setelah itu meletakkan benda yang terbuat dari bahan plastik tersebut.


"Boleh nggak, hari ini, kamu, Mas yang anter?"


"Kok dianter?" Tanyanya dengan kening berkerut. "Nanti pulangnya?"


"Pulangnya aku yang jemput lagi. Aku juga ada niatan mau besuk Dia, Dek."


Qonni bergeming, setelah itu memeriksa memar yang masih membiru di tulang pipi. Satu tangannya terangkat, mengusap luka pukulan yang di terima laki-laki itu kemarin.


"Mas yakin mau kesana, kalau ketemu Bapak itu lagi, gimana? Jujur aku aja sebenernya masih takut."


"Takut apa? Ngapain takut sama manusia? Lagian kita kan nggak salah apa-apa." Ilyas berjongkok ia menggenggam tangan Qonni. "Jangan khawatir, selagi kita nggak melakukan kesalahan. Kita nggak perlu takut."


Mendengar itu perempuan dengan hijab segi empat warna kaki itu mengangguk.


"Jadi gimana, mau, nggak, ku anterin ke tempat ngajar?" Mengulangi pertanyaan.


"Iya, Mas." Perempuan itu mengangguk. Dalam hati ia berharap tidak akan ada masalah besar seperti kemarin saat tiba di rumah sakit nantinya.


***


Setelah tiba waktu pulang, para murid berhamburan. Staf-staf guru yang mengatur janji akan membesuk Fatimah pun mulai berkumpul di pelataran masjid yang ada di depan gedung sekolah. Hingga hanya berselang tiga puluh menit, kendaraan mulai melaju menuju lokasi tempat Fatimah mendapatkan perawatan.


Setibanya di salah satu rumah sakit umum, beberapa rekan guru yang terdiri dari delapan guru wanita dan lima guru pria memasuki ruang rawat VIP.


Tentunya, kehadiran mereka di sambut hangat oleh Bu Sofian yang kebetulan sedang berjaga sendiri, karena suaminya hari ini ada pertemuan dengan mahasiswa yang sedang membutuhkan bimbingan.

__ADS_1


Satu persatu menjabat tangan Bu Fatimah, tak terkecuali Qonniah. Ia tersenyum hangat pada gadis yang menampilkan senyum kecanggungan yang tak seperti sebelum-sebelumnya.


Qonni menyadari sikap dingin Fatimah. Namun, ia berusaha menampik. Fatimah memang sedang sakit, wajar jika dia terlihat mengabaikan beberapa orang. Walaupun yang lebih mencolok sikap acuh itu di tujukan hanya kepadanya.


__ADS_2