
Setelah bel istirahat pertama berdering beberapa menit yang lalu, Qonni sudah berada di dalam masjid. Mengambil dua reka'at Sunnah Dhuha-nya.
Suasana masjid bisa terbilang cukup ramai, karena waktu istirahat biasanya memang benar-benar di manfaatkan segelintir siswa/i, dan guru untuk menjalankan ibadah Dhuha.
Sama halnya Qonni yang sudah berada di reka'at terakhir. Fatimah sendiri buru-buru melepaskan sepatu dan kaos kaki, sebelum menuju tempat berwudhu khusus perempuan.
Setelah menit demi menit berlalu, dimana suasana masjid semakin sepi karena satu persatu mulai undur diri setelah selesai berdialog dengan Allah melalui sholat Dhuha. Adapun kedua wanita ini masih betah, berdzikir serta memanjakan doa. Dengan jarak yang tak bersebelahan.
Setelah selesai, Fatimah mendekati Qonni yang kini tengah mengusap wajah dengan kedua telapak tangan tanda perempuan tersebut sudah selesai juga.
Sambil menunggu, Fatimah mulai melipat mukenanya. Kemudian di susul Qonni berikutnya turut melipat muka, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Demi penampilan yang tetap segar, sesuai tuntutan pekerjaan. Mereka kompak saling menyapukan tipis-tipis bedak padat sade ivory pada wajah masing-masing. Kemudian lipstik ataupun lip cream dengan series nude color sesuai nomor yang cocok untuk mereka. Keduanya memang lebih menyukai riasan natural, yang membuat wajah itu tidaklah menor namun tetap nampak segar di pandang.
Klap! Qonni menutup wadah bedaknya setelah selesai merias diri. Sambil menunggu, ia pun mengembalikan mukenanya ke dalam tas. Dan melihat Fatimah telah selesai merias, Qonni pula mulai berbicara.
"Sebenarnya, Apa sih yang mau Bu Fatimah omongin?" tanya Qonni membuka obrolan. Perempuan di sisi Qonni meremas tas mukena di atas pangkuannya.
"Begini, Bu Ayu. Sebenernya etis, nggak, sih? Jika seorang wanita menyatakan perasaannya kepada lawan jenis?" Pelan-pelan, gadis di hadapan Qonni mulai berbicara. Adapun Qonni langsung tersenyum.
"Menurutku, etis-etis aja. Ketika ada niatan baik, Bu Fatimah memiliki keinginan dengan laki-laki tersebut. Kemudian meminta seseorang untuk menyampaikan keinginan Bu Fatimah, seperti Khadijah kepada Rasulullah Saw."
__ADS_1
Fatimah bergeming, memainkan tali pada tas mukenanya. Mungkin ia tak seperti Khadijah makanya di tolak Ilyas. Batinnya pundung.
"Emang, Bu Fatimah benar-benar menyukainya?" godanya kemudian.
"Sebenarnya, udah nggak bisa di bilang suka lagi. Tapi udah menjurus ke Cinta."
"MashaAllah–" lirih Qonni menanggapi. Ia tahu sih rasanya mungkin hampir sama dengan dirinya saat sebelum menikah dengan Harun, jika saja ia tidak bisa menahan hasrat cintanya itu.
"Sayangnya, Dia nggak pernah peka dengan keinginan Saya, Bu. Jadilah, saya malah justru menyatakan perasaanku lebih dulu melalui perantara."
Qonni terdiam, memilih untuk menyimak lebih dulu. Dalam hati sambil berpikir, ia rasa dirinya tak akan seberani itu.
"Sayangnya saat perantara ku telah menyampaikan padanya, Dia malah justru menolak permintaan untuk melamar Saya," gadis itu kembali tertunduk. "Saya ditolak karena adanya wanita lain yang sejatinya tengah ia perjuangkan, Bu."
"Saya tidak pernah menyangka, akan sesakit ini ketika mengalami cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan," sambungnya kembali merasakan sedih bercampur malu ketika mengingat kenekatan dirinya tadi pagi untuk menghampiri Ilyas.
Qonni menghela nafas. "Nggak ada yang bisa ku sampaikan selain ucapan sabar untukmu, Bu Fatimah. Karena kalau belum jodoh mau dikejar seperti apapun, kita akan sulit mendapatkannya. Ingatkan, kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha?"
"Bu Ayu benar..." Fatima lesu, "Sebelumnya, aku mau tanya, apakah Bu Ayu pernah mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti saya? Atau mungkin hanya sebatas mengagumi namun sudah masuk ketahap cinta?" tanyanya, yang justru membuat Qonni langsung teringat sang kakak perempuan.
"Jujur jika di tanya soal pernahkan aku merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Aku tak pernah merasakannya. Sebab, melihat pengalaman dari Kakak ku yang pernah kecewa karena kekagumannya tak terbalaskan, membuatku berusaha keras untuk tak menjatuhkan hati pada pria. Sebelum jelas pria itu mau atau tidak padaku."
__ADS_1
"Tapi, bukankah jatuh cinta adalah fitrah bagi semua orang?"
"Itu benar, Bu Fatimah. Namun, saat hati ini berdesir pada lawan jenis aku selalu menolak sedini mungkin."
"Masalahnya, aku mengagumi dia sejak usia belia. Dan semakin dewasa aku semakin jatuh hati padanya. Pria itu, memiliki aura yang lain Bu Ayu. Itulah kenapa bisa hati ini terjerat semakin dalam. Bahkan sampai berkali-kali aku menangisinya."
"Istighfar, Bu. Kamu harus bisa membedakan, antara cinta dan nafsu. Bisa jadi setan yang mengetahui isi hatimu lantas mengaduk-aduk nya."
Fatimah bergeming, apa yang dikatakan oleh Qonni benar. Seharusnya ia selalu bertanya pada hatinya. Yang mendorong dia untuk mendapatkan Ilyas itu cinta atau hawa nafsunya.
"Cobalah untuk istikharah, Bu Ayu. Kali saja langsung di jawab."
Fatimah menghela nafas. "Sudah berkali-kali aku mencoba, Bu. Namun sampai sekarang belum ada jawaban. Mungkin karena aku kurang khusyuk."
Qonni tersenyum, "coba untuk berikhtiar doa saja. Kalau jodoh, pasti nggak akan kemana."
Perempuan di hadapnya mengangguk. Sebenarnya sudah sering ia mengamalkan hal itu. Dan berpikir pesimis ketika mimpinya tak kunjung memperlihat jawaban.
obrolan mereka pun masih berlangsung, seiring waktu yang berjalannya hingga menghabiskan jam kelima.
.
__ADS_1
.
.# hai hai, makasih atas kesetiaan kalian. kalau salah satu Babnya nyangkut tunggu aja ya. Siangan... 🥰🙏