Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
perselisihan kecil


__ADS_3

Bibir Ilyas membisu, matanya mengarah lurus ke map kuning yang ada di atas meja. Ia tak mengerti, tiba-tiba Kyai Irsyad berkenan mampir kemudian meletakkan map tersebut ke hadapannya.


Hal tak terduga, seolah apa yang ia dengar baru saja adalah sebuah kesalahan. Kyai Irsyad menyerahkan sebuah ruko yang sekaligus bisa untuk di tinggali, untuk dia dan keluarga kecilnya?


"Anu–" lidah Ilyas kelu, berbarengan dengan munculnya percikan rasa tak nyaman di dada. Aku kan masih mampu untuk mendapatkan hartaku sendiri, kenapa harus di kasih-kasih? —setan seperti tengah berbisik. Dan terus mengaduk-aduk hati dan pikirannya.


"Rukonya sangat strategis, Le. Saya udah sempat survei. Lebih-lebih dekat dengan gedung sekolah tempat Qonni ngajar," jelasnya pada lelaki muda di depan.


Perempuan di sebelah Ilyas menoleh. Respon Ilyas sama sekali tak terlihat antusias, justru sebaliknya. Walau sepersekian detik berikutnya, senyum kembali tersungging, tapi terlihat amat kaku.


Apa Mas Ilyas marah? batin Qonni.


"Pak Kyai. Mohon maaf sekali— sungguh, saya sangat menghargai dan sangat-sangat berterima kasih atas sebuah ruko yang Anda berikan kepada saya," ucapnya hati-hati. "Tapi?"


Pelan-pelan mendorong maju map kuningnya dengan ke-dua tangan. Sementara kepala menggeleng perlahan masih pada posisi menunduk. Khawatir tindakannya akan menyinggung sosok berwibawa di hadapannya. Tapi, sungguh—hati kecilnya sangat menolak hal-hal yang berbau pemberian.


Ingat saat sehabis kejadian pencurian yang menyebabkan tangannya terluka, Pak Sofian menghadiahi sebuah motor baru untuknya. Bahkan Abas sudah terlihat senang, karena dirinya selama ini memakai motor bebek yang sudah tidak orisinil lagi bentuknya. Namun secara hati-hati Ilyas menolaknya, ia hanya tidak mau keikhlasannya membantu Pak Sofian jadi gugur ketika menerima motor tersebut.


"Saya nggak bisa nerima, Kyai," sambung Ilyas.


"Memangnya kenapa, Le? ini kan rezeki?"


Kini kedua tangan Ilyas sudah bertumpu di atas pahanya sendiri. Duduk amat sopan di hadapan Beliau.


"Itu benar, tapi saya nggak bisa nerima pemberian Kyai. Sungguh ini bukan karena saya kufur nikmat, Kyai. Tapi— " pria itu tidak berani melanjutkan kata-katanya.


"Nggak papa, bilang aja," pancing Irsyad. Ilyas kembali tersenyum sambil mengusap-usap pahanya sendiri.


"Itu? Sejujurnya saya punya alasan tersendiri yang membuat diri ini bertekad untuk tidak menerima apapun dari keluarga pasangan saya."


Mendengar itu, Irsyad manggut-manggut menghargai. Pemuda di depannya benar-benar memiliki karakter yang sebelas-dua belas dengan Ulum. Karena memang, mau bagaimanapun juga sebagian kecil laki-laki pasti akan memikirkan harga dirinya.


Arifin pun pernah berkata, jika Ilyas ini merupakan pribadi yang sulit untuk menerima bantuan dalam bentuk apapun. Itulah kenapa, batuan dari Afin tak pernah ia terima. Walaupun sudah berkali-kali di tawarkan modal besar untuk membuka usaha. Tadinya, jika ini berhasil. Beliau akan bekerja sama dengan Arifin. Dimana Kyai Irsyad yang memberi modal berupa ruko, sementara Arifin isinya. Namun rupanya, tetap Ilyas menolaknya secara halus.


Qonni yang di sebelah Ilyas masih tak berkutik. Dirinya tidak terlalu tergiur sih sebenarnya, namun membayangkan suaminya memiliki usaha yang lebih baik. Pasti akan membuat pria berkacamata itu lebih sehat, sebab pekerjaan yang hanya ada di rumah. Ilyas jadi tak perlu bepergian jauh-jauh melakoni pekerjaan sampingan yakni menjadi kurirnya Bang Yazid.


–––

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, ketika malam kembali menyapa kota Cileungsi.


Pria yang gemar menggunakan sarung dan kaos oblong saat sedang bersantai nampak melamun di teras rumah. Tangannya yang sedang memegangi ponsel, bergerak pelan mengetuk-ngetuk keningnya.


Map kuning masih ada di meja ruang tamu. Irsyad tetap meninggalkannya di sana. Dengan akad lain, yakni di bayar dengan sedekah.


Jadi Ilyas boleh memberikan harga sendiri semampunya. Lalu di bayar dengan cara berinfaq.


Ya Allah...


Pria berkacamata itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ada rasa terharu yang bercampur dengan malu sebenarnya. Ketika ia sadar, kalau akhir-akhir ini hidupnya seperti terus di permudah. Namun, sepersekian detik berikutnya muncul ketakutan juga. Bagaimana kalau ini adalah tanda istidraj?


Astaghfirullah al'azim, Ya Allah. Tolong jangan hukum aku dengan harta dunia. Tolong jangan abaikan aku dengan kemudahan ini. Sesungguhnya aku adalah seorang pendosa, yang tidak akan mampu berdiri sendiri.


Melihat suaminya sedang melamun, Qonni melanjutkan langkahnya keluar sambil membawa gelas berukuran sedang yang di isi dengan teh hangat untuk suaminya.


"Mas–" sambil meletakkan gelas ke atas meja, wanita itu memanggil. Ilyas lantas menoleh, senyumnya kembali muncul untuk sang isteri.


"Makasih, Dek," ucapnya dengan tangan mengusap pundak sang istri yang masih mencondongkan tubuhnya ke arah meja.


"Nisa udah tidur?" Tanya Ilyas.


"Udah, Mas," jawabnya kemudian.


Udara malam berhembus, menemani sunyi yang singgah sejenak di tengah-tengah mereka berdua. Ilyas menikmati teh buatan sang istri, sementara Qonni duduk menghadap ke jalan yang masih terbilang ramai lalu lalang kendaraan.


Beginilah jika hidup di perkampungan yang lumayan padat penduduk. Beda dengan tempat tinggalnya di Babelan yang kerap sepi, karena jalan yang ada di depan rumah bukanlah jalur utama kendaraan.


Terdengar gumaman membaca hamdalah, seraya tangan meletakkan gelas kembali keatas meja. Ilyas menyandarkan bahunya pelan.


"Mas?" panggil Qonniah, pria di sebelah kontan menoleh. "Mas kenapa jadi diam, aku pasti udah bikin, Mas, marah?"


Ilyas menghela nafas, bibirnya tersenyum, kemudian tangan kanan meraih tangan sang istri.


"Adakah alasan untuk, Mas, marah sama kamu, Dek?"


"Aku rasa ada," lirihnya menjawab.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Mas cuma lagi mikir— apa, Mas terlihat seperti pria malang?"


Qonni menggeleng, sesuai dugaan. Sejak sang ayah memasrahkan mobilnya untuk di pakai Ilyas, kemudian tawaran Kak Afin untuk memberikan modal usaha, Pak Sofian dengan motornya, sekarang Pakde Irsyad juga. Pria di sebelahnya pasti tersinggung sekali.


"Engga, kan? tapi kenapa mereka pada berbondong-bondong sedekah ke, Mas? Padahal Mas mampu loh, cuma belum sekarang-sekarang aja."


"Mas jangan jangan salah sangka. Niat mereka tuh baik, loh." Qonni mencoba untuk meluluhkan hati Ilyas. "Ingin meringankan beban Mas Ilyas."


Pria berkacamata itu mendengus. Tangannya tampak mempermainkan jemari sang isteri. Ingatannya membawa dia untuk beralih ke yang lain lagi.


"Tentang Gus Muklis, Mas sebenarnya pengen bicara ke kamu, Sayang."


"Soal?"


"Nafkah, Nisa—" jawabnya sambil menjuruskan matanya pada Qonni. "Mas pengennya menafkahi Nisa secara utuh. Jadi kalau bisa, tolak transferan dari mereka mulai bulan depan, ya?"


Qonni terdiam, sejenak. Tatapannya terarah ke meja. Seraya menggigit ujung bibirnya sedikit. Kedua mata mulai berkaca-kaca. Ini bukan soal uangnya, namun dari larangan Ilyas, kenapa seperti membuat Nisa kehilangan hak sebagai anak Harun.


"Dek, kamu tersinggung ya?"


"Sedikit," jawabnya langsung. Wajah Qonni kembali terangkat pelan, mengarah pada sang suami. "Aku sedih, bukan karena soal uang. Sebenarnya aku pun mampu membiayai Nisa, jika saja tidak di beri nafkah oleh keluarga dari A'a. Tapi masalahnya?"


Tak sanggup melanjutkan, tatapan Ilyas kini mengarah pilu pada sepasang mata yang mulai mengalirkan air matanya ke pipi.


"Mas seperti ingin benar-benar menghilangkan sosok A' Harun di kehidupan Nisa," sambungnya kemudian sembari terisak.


"Astaghfirullah al'azim, enggak, Dek. Bukan gitu maksudnya." Ilyas mendadak panik, tatkala sang istri salah sangka terhadap dirinya.


Padahal, ia hanya tidak enak. Ketika sudah menikah, dan berkomitmen untuk menafkahi Qonni dan Nisa, namun masih juga menerima nafkah dari keluarga Harun.


Qonni mengusap air matanya sendiri, perempuan itu bangkit dan memilih untuk masuk.


"Dek, mau keman?" mencoba untuk menahan, tapi sia-sia tatkala perempuan itu justru tak menggubris. Langkahnya terus melangkah cepat seiring isak tangis yang pecah.


Ilyas sendiri terus menatapnya sampai sang kekasih menghilang di balik pintu.


"Astaghfirullah al'azim—" tak ingin masalah ini menjadi lebih panjang. Pria itu gegas menyusul isterinya ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2