Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Kenyataan yang menghantam hati


__ADS_3

Menjelang siang, Qonni bangkit dengan kedua tangan berkutat menutup bagian dada yang terbuka sehabis menyusui puterinya.


Di luar, terdengar suara kakak beradik itu tengah membersihkan beberapa ruangan. Qonni memutuskan untuk keluar membantu mereka.


"Bas, miringin dikit," titah Ilyas memberi instruksi karena mereka sedang berusaha mengeluarkan sofa agar ruang tamu terasa lebih longgar. Abas menuruti ia memiringkan sedikit, dan sofa pun perlahan mulai bergerak keluar.


Karena Suami dan adik iparnya itu terlihat sibuk membersihkan ruangan yang akan di gunakan untuk acara tasyakuran, Qonni pun memutuskan untuk membuatkan mereka minuman.


Perempuan dengan gamis warna hitam itu berjalan ke dapur. Dan sesampainya di dapur ia pun mulai mencari-cari toples-toples tempat kopi, gula, dan teh tersimpan seperti di rumahnya.


Beberapa menit mencari, ia tak menemukan toples tersebut.


"Cari apa, Dek?" Ilyas tiba-tiba muncul.


"Itu, aku mau bikin minum untuk kalian. Tapi nggak nemu teh atau kopinya."


Ilyas tersenyum, langkahnya kembali terayun mendekati meja makan. Lantas membuka kantong belanjaannya tadi.


"Di sini, Sayang." Ilyas mengeluarkan bungkusan kopi rencengan. "Airnya harus ngerebus dulu. Karena kami jarang nyetok air panas."


"Ya, Mas." Qonni meraih panci perebus air yang langsung ia temukan menggantung di dinding, kemudian mengisinya. Setelah itu ia letakkan di atas kompor.


Ctkkk... Ctkkkkk... Ctkkkk...


Beberapa kali menyalakan pemantiknya kompor dua tungku itu tak kunjung menyala.


Ctkkkkk... Ctkkkkk...


"Coba bentar ku periksa. Kompor di rumah ku emang agak manja. Harus pake cinta dulu, kalau nggak, ya kaya gini suka mogok." Ilyas mencoba untuk mencairkan suasana, ingin membuat Qonni tertawa tapi sepertinya lawakan Ilyas tak kena di hati. Nyatanya Qonni tak tertawa karena itu.


Ctkkkkk.... Ctkkkkk...


"Duh." Bergegas jongkok untuk memeriksa. Kali saja gasnya habis. Tapi, kalau di lihat dari jarum yang tertanam pada regulatornya, isi daripada tabung gas tersebut masih banyak.


"Harus pakai ritual ini," gumamnya dengan ekspresi di buat serius yang menyakinkan.


"Ritual apa maksudnya, Mas?"


Pria itu kembali bangkit kemudian mengarahkan tangan pada sang istri yang berdiri di sisinya. Qonni tertegun, bingung.

__ADS_1


"Tiup dulu punggung tanganku." Menggoyang-goyangkan tangannya.


"Ehh ..." aneh, wanita itu menaikkan salah satu alisnya.


"Tiup dulu, biar nyala kompornya." Masih mengarahkan tangan Beliau kepada Qonni.


Dan entah karena percaya atau perempuan itu tidak mau terlalu lama meladeni drama Ilyas ia pun menurutinya. Meniup punggung tangan Ilyas, dimana pria di depannya langsung tertawa tanpa suara. Kemudian ketika wajah Qonni kembali terangkat Ilyas buru-buru menghentikan tawanya.


"Bismillahirrahmanirrahim, wahai kompor menyala!"


Ctkkkkk, bllllrrrrrr... api menyala biru kemerahan. Pria itu menepuk-nepuk kedua telapak tangannya dengan tampang sok cool.


"Kompor ku emang unik. Nggak mau langsung nyala gitu aja. Harus pakai ritual. Maklumlah, kompor jaman kompeni."


"Astaghfirullah," gumamnya sambil tertawa.


Tentunya, melihat tawa Qonni membuat Ilyas senang. Ia mengusap kepala isterinya, gemas.


Bersama dengan itu Abas masuk ke dapur. Membuat keduanya menoleh kearah pintu.


"Mbak, Nisa kebangun," ucapnya sambil melongok.


"Udah biar Mas aja..." Ilyas melenggang pergi, Sementara Qonni melanjutkan pekerjaannya menyeduh kopi untuk dua laki-laki di rumah ini.


Kembali pada posisi Fatimah...


Gadis itu masih tertegun di sana, memandangi Ilyas dengan seorang anak perempuan yang sedang menyandarkan kepala di bahunya yang lebar.


Di susul dua orang ibu-ibu, mereka mengobrol dengan riang. Bahkan, salah satu diri dua orang tadi sedang berusaha mengajak anak tiri Ilyas untuk di gendong.


Fatimah tersenyum kecut, ia menghela nafas. Ikhlas.... Bergaung terus di hati dan pikirannya agar tak terlalu memikirkan Ilyas yang sudah berkeluarga.


Baru saja dirinya berniat untuk menyebrang, seorang wanita keluar turut menyapa dua ibu-ibu tadi. Kontan tubuhnya langsung membeku, kedua kaki kaku dan tangannya pun mendadak kebas.


Praaaak...


"Astaghfirullah al'azim, Neng." Sang pemilik warung yang melihat belanjaan di tangan Fatimah terjatuh langsung menghampiri perempuan tadi. "Neng, telurnya pecah."


Fatimah tak menjawab ucapan ibu penjual warung, sekaligus tidak peduli dengan belanjaannya. Ia masih membisu mengarahkan pandangan pada orang-orang di rumah Ilyas. Terutama pada wanita yang kini menatap kearahnya karena suara teriakan sang pemilik warung.

__ADS_1


"Bu Fatimah?" Gumaman bibir Qonni terbaca seperti itu.


Setitik air mata mengalir di pipi gadis itu. Ia tak lagi mendengar panggilan ibu penjual, dan lebih memilih untuk pergi tanpa membawa kembali belanjaan.


Tentu saja hal itu memicu keheranan dari perempuan paruh baya tersebut. Lebih-lebih Qonni, namun sepertinya tidak dengan Ilyas. Ia yang melihat dari kejauhan seperti tahu, namun belum memahami jika Fatimah dan Qonni saling kenal. Atau mungkin lupa kalau mereka mengajar di sekolah yang sama dan pernah bertemu di salah satu acara hajatan di Bogor.


Masuk dengan tergesa-gesa, bahkan hampir menabrak ibunya yang hendak keluar rumah.


"Fatimah, kamu kenapa?" tanyanya sedikit terkejut. "Telurnya mana?"


Tidak ada satupun dari pertanyaannya tadi di jawab, gadis itu gegas melangkah menjauh.


Ibu sempat menoleh kebelakang, ia baru menyadari jika puterinya menangis tadi. Tapi apa penyebabnya.


Terdengar suara ramai di rumah sebelah. Bahkan ada rengekan anak kecil juga. Perempuan paruh baya itu langsung memeriksa, dan ia pun menemukan jawabannya.


"Astaghfirullah al'azim, Fatimah." Menyayangkan sikap anaknya yang masih bersedih karena melihat Ilyas bersama isterinya. Ya, itulah kurang lebih yang di tangkap oleh wanita dengan hijab instannya.


Di dalam kamar...


Fatimah masih mencernanya, kenapa bisa Bu Ayudia menikah dengan Mas Ilyas? Bagaimana bisa, Dia yang di nikahi Mas Ilyas?


Gadis itu mengingat-ingat, jika ia memang mendengar kabar pernikahan Ayudia tepat di tanggal yang sama seperti tanggal menikahnya Ilyas.


Bahkan para staf guru pun datang, hanya dia sendiri yang tidak datang karena suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi tak pernah ia berpikir jika suami ayu adalah Ilyas tetangga sekaligus pria yang ia inginkan selama ini.


Tangannya yang terkepal menepuk-nepuk dada. Sesak yang tak bisa di jelaskan, memikirkan betapa sulitnya kehidupan ini di tebak.


Gadis itu menarik hijabnya sendiri sampai terlepas, Fatimah tersungkur di atas ranjang. Emosinya semakin kencang ia luapkan. Bertanya kepada takdir yang terasa tidak adil.


"Kenapa Bu Ayu, kenapa Bu Ayu, Mas... kenapa Dia? Kenapa harus Dia..." Tangisnya tak terima dengan pilihan laki-laki itu.


Seiring rasa kecewanya itu menumpuk-numpuk, senyum laki-laki itu semakin menari-nari di otaknya yang sedang tidak jernih. Fatimah memukul-mukul permukaan kasur, berang. Ingin rasanya ia melampiaskan kemarahannya ini pada Ilyas, namun adanya kesadaran masih menahan itu.


.


.


Note:

__ADS_1


Dunia adalah hukuman bagi manusia yang tinggal di dalamnya. Berisi bermiliar-miliar hikmah yang tersembunyi. Terbungkus ketidakadilan, nyatanya itu adalah kebaikan bagi manusia itu sendiri.


Dan apa bila kau menggugat takdir sebab sakit mu di dunia, sejatinya itu bukanlah karena Tuhan mu yang tak memberikanmu keadilan. Melainkan dampak dari sebuah kedzoliman yang kau lakukan pada dirimu sendiri.


__ADS_2