Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
kedatangan tak terduga


__ADS_3

Semilir angin mengantarku pada kerinduan tak berujung. Menyeret langkah mencari asa yang tak akan pernah ada. Kehidupan seperti inikah yang ku bilang baik-baik saja, ketika senyum yang ditorehkan hanya sebatas sandiwara belaka. Nyatanya semua dilakukan demi menutupi senyap-nya relung jiwa, yang tak mampu lagi mendekap sosoknya yang telah fana.


– Ayudia Qonniah –


🥀🥀🥀


Tidak terasa, beberapa bulan telah dilaluinya berdua dengan Chaerunnisa Denia Athalla. Tiga kata yang bermakna Perempuan cantik dan hebat, karunia Allah.


Sosok pelitanya yang diharapkan mampu tumbuh menjadi gadis yang cantik dan hebat, sebagai karunia Allah yang di titipkan kepadanya. Sehingga kelak, ia bisa menjadi bunga yang selalu membuat bahagia dan bangga.


Perempuan dengan gamis rumahan, bermotif bunga warna pink dan kerudung instan yang senada dengan pakaiannya. Sedang berjalan sambil mendorong stroller bayi sendiri, di jalan komplek yang mengarah ke taman.


Sambil membuang rasa jenuh yang terkadang membuatnya mengalami baby blues tanpa di sadari orang rumah. Qonni memutuskan untuk menikmati waktu paginya bersama sang anak menghirup udara segar.


Saat ini, langit belum begitu terang. Bahkan matahari pun belum keluar dari tempat peraduannya. Di rasa sangat pas untuk mengembalikan mood setelah berbulan-bulan mengurung diri di rumah.


Tanpa ekspresi, dengan mulut terus bersenandung sholawat Ia mendorong kereta bayi dengan sorot mata mengarah kedepan. Beberapa orang yang ia lalui, pun di sapa seperlunya dan yang lebih sering hanya dengan senyum tipis dari bibir yang di biarkan polos tak bergincu.


Di saat yang bersamaan, sebuah motor melintas, melewati Ayudia yang kontan menarik tuas rem lalu menoleh kebelakang.


"Nisa–" gumamnya sambil tersenyum, ia tahu nama anak perempuan Qonni dan Harun tentunya dari Story WA Pak Ulum. Yang di post sesaat setelah acara aqiqah bayi perempuan itu.


Qonni sendiri sama sekali tak menyadari jika pria dengan motor merah adalah Ilyas yang sengaja mampir hanya untuk melihat keseharian Ayu dan bayinya dari kejauhan.


Biasanya, Ilyas hanya berdiam diri selama beberapa menit dengan jarak lima meter dari rumah Fatkhul Qulum. Dan jika beruntung biasanya ia bisa melihat Ayu dan puteri kecilnya di teras atau mungkin di balkon kamar.


Ia sudah melakukan kebiasaan ini sejak tiga Minggu terakhir. Memang tidak setiap hari, hanya seminggu sekali, mengingat jarak dan waktu yang membuatnya terkadang merasa kesulitan.


Ini tidak bisa di sebut menguntit, 'kan? Kadang hati Ilyas bertanya demikian. Takutnya apa yang ia lakukan akan menjadi boomerang di kemudian hari.


Ilyas memutar sepeda motornya, sebelum melaju melewati perempuan itu lagi dan berhenti di tepi trotoar taman yang juga di isi beberapa pedagang kaki lima, penjual makanan untuk sarapan pagi.


Ia yakin, Qonni pasti mau ke taman ini. Karena jaraknya hanya tinggal dua puluh meter dari posisi Qonni. Sambil menunggu, sambil mengamati. Ilyas tak melepaskan helm, dan juga slayer yang menutupi mulutnya.


Cukup lama ia berdiam diri di atas motor, hingga perempuan dengan wajah polos tak berias itu menghentikan laju roda-roda kecil kreta bayi yang ia dorong, disalah satu bangku taman yang kosong.

__ADS_1


Qonni melirik ke segala penjuru. Suasana taman tak begitu ramai, hanya segelintir orang tua yang sedang menikmati waktu pagi mereka dengan berolahraga. Dua orang yang lain merupakan pasangan muda, dimana nampak seorang suami tengah menemani isterinya yang sedang mengandung untuk berjalan-jalan di taman ini.


"Yank, mau makan bubur, nggak?" Samar-samar suara sang suami menawarkan. Pasangan yang sedang berjalan bersama itu sebentar lagi melewati kursi yang di duduki Qonni.


"Nggak mau, Ah. Kalau makan itu mual–"


"Ya terus apa?" tanyanya sambil terus melangkah hingga benar-benar melalui perempuan yang tengah menunduk sambil memegangi tangan puteri kecilnya.


"Nggak tau, tapi pengen yang seger-seger gitu," sang perempuan hamil menimpali, dimana suara percakapan mereka semakin kesini semakin samar terdengar.


Perempuan dalam balutan hijab baby pink itu terpekur. Dimana dalam hatinya sedang timbul rasa iri. Yang sepersekian detik berikutnya di halau dengan cara tersenyum saat melihat sang anak yang sedang dalam keadaan terjaga.


Tidak ada yang membuat ku harus iri. Saat ini bahagiaku adalah Nisa. Putriku dengan Aa.


Hatinya terus berusaha lapang. Berusaha menyelamatkan kebahagian hatinya yang terbungkus awan gelap sepanjang waktu.


Di tempatnya, Ilyas terus mengamati. Wajah dengan aura keibuan milik Ayu.


Kayanya, kalau aku cuma berdiam diri tanpa mencoba untuk berkomunikasi, semua tidak akan ada hasilnya. Tapi, kalau aku tiba-tiba mendekat dan Ayu malah risih gimana, ya? –masih di atas motor, pemuda berkacamata itu mulai merasakan bimbang.


Di sisi lain, terdengar suara tangis Nisa yang gegas dikeluarkan dari dalam stroller oleh Qonni.


Mendengar tangis Nisa, Ilyas sangat ingin mendekati. Namun bagaimana caranya. Sejenak, pemuda berkacamata itu menoleh sekilas kearah motor yang baru saja tiba tidak jauh dari posisinya. Nampak seorang bapak tua membawa segerombolan balon dengan bentuk bervariasi, yang di lapis jaring halus agar benda-benda berisi angin itu tidak menyulitkan laju motor Beliau.


Melihat itu, Ilyas jadi punya ide. Ia pun turun dari motor kemudian mendekati penjual balon tersebut dan membeli satu balon dengan bentuk yang lucu.


"Berapa, Pak?"


"Dua puluh ribu aja, Mas," jawabnya setelah menyerahkan balon yang ujungnya sudah di ikat dengan buntelan berisi batu kerikil.


"Ini–" Ilyas mengulurkan dua lembar uang dengan nominal sepuluh ribu.


"Makasih, Mas. Udah ngelarisin dagangan saya."


Ilyas tersenyum. "Sama-sama, Pak. Semoga setelah ini banyak yang beli sampai dagangan Bapak abis."

__ADS_1


"Aamiin, Mas." Bapak tua itu tersenyum senang sambil menepuk-nepuk dua lembar uang pertamanya hari ini ke semua dagangnya.


Dengan tarikan nafas panjang sambil membawa balon warna pink. Pemuda itu mendekati perempuan yang sedang berdiri dalam posisi membelakangi.


"Assalamualaikum–" sapanya ragu-ragu, yang membuat Qonni menoleh.


"Walaikumsalam warahmatullah..." Tentu, melihat Ilyas tiba-tiba ada di depan mata, perempuan itu sempat heran hingga membuatnya tertegun sebentar sambil terus menepuk-nepuk pelan punggung Nisa.


"Hei–" pria itu menggoyangkan balon di hadapan bayi berusia tiga bulan yang bahkan tatapan matanya belum benar-benar fokus.


"Mas Ilyas kenapa bisa ada di sini?" tanya Qonni yang mengambil langkah mundur, menjaga jarak.


Pemuda itu pun merubah posisi balon yang menutupi wajahnya.


"Saya ingin bilang, kalau saya nggak sengaja lewat. Pasti Kamu nggak akan percaya," jawab Ilyas. Adapun Qonni hanya diam saja mengerutkan dahinya. "Saya memang sengaja kesini, Yu."


"Ke taman ini?"


"Enggak, tapi rumah kamu."


"Ada urusan sama Ayah?" Tebaknya, yang di jawab gelengan kepala. "Lantas?"


"Saya mau ketemu, Nisa."


Jawaban Ilyas sejenak membuat Ayu bergeming. Sebenarnya, ada apa dengan laki-laki ini. Kenapa sepertinya ia gencar sekali mendekatinya dan sekarang, apa ia tengah menggunakan Puterinya sebagai cara lain untuk memikat? Perempuan itu menggeleng pelan, tidak ingin menduga dengan pemikiran yang buruk.


"Boleh nggak, saya menggendongnya?"


Perempuan di hadapannya masih membisu dengan kedua tangan yang kuat memegangi Nisa seolah takut seseorang akan merampasnya.


"Yu! Aku tahu ini terlalu aneh bagimu, kan? Namun, kamu musti tahu. Ada alasan kuat kenapa aku pengen banget ketemu anak ini," tuturnya. "Tolong, kasih saya izin untuk menggendong Nisa. Sebentar aja–"


Ilyas memohon. Hingga Qonni pun tak mampu menolak lagi. Ia percaya , laki-laki dihadapannya bukanlah orang asing yak tak ia kenal. Tapi soal alasan, kenapa tiba-tiba ia jadi penasaran.


"Ya?" Kembali Ilyas meyakinkan. Hingga perlahan pelukan Qonni terhadap anaknya mulai mengurai lalu memindahkan anak tersebut kedalam dekapan Ilyas secara hati-hati.

__ADS_1


"MashaAllah–" dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Ilyas bisa merasakan peri cantik sedang berada dalam pelukannya. "Ya Allah..., cantiknya."


Qonni yang masih berada di hadapan pemuda itu, hanya diam saja. Memandangi laki-laki yang sedang fokus menimang Nisa bahkan sampai anak itu terlelap dalam dekapan pria dengan jaket hitam, dan slayer yang masih melingkar di bagian lehernya. Ia akan menunggu, yang sebisa mungkin tak lama. Karena khawatir fitnah akan menghampiri mereka berdua.


__ADS_2