Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Masalah yang terselesaikan


__ADS_3

Masih dengan isi kepala yang di sesaki kebingungan. Pria itu duduk sambil mengangkat satu kakinya, sementara tangan kanan memijat kening. Ilyas mencoba menenangkan pikiran yang kalut soal uang dengan cara bersholawat lirih. Ia hanya sedang berusaha yakin, jika setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.


Di tengah kebingungannya, Sang adik keluar dengan baju di bagian depan menampung pecahan uang receh. Lalu menumpahkan uang tersebut keatas meja. Tentunya, saat dimana Ibnu meletakkan uang tersebut mata Ilyas menyoroti bingung.


"Apa ini?"


"Uang tabungan Ibnu, Mas," jawabnya sambil duduk.


"Terus?" Ilyas mengernyitkan dahi belum memahami.


"Ibnu mau bantu Mas Ilyas dengan itu," lirihnya sambil menggaruk kepala.


"Tunggu, jangan bilang ini uang dari celengan modal kamu?" tanyanya yang di jawab anggukan kepala. Ilyas pun menggeleng cepat, memunguti kembali uang yang ada di atas meja. "Nggak... nggak...!"


"Mas jangan gitu." Ibnu mencoba menahan tangan Ilyas. "Ibnu cuma mau bantu Mas Ilyas."


"Nggak perlu. Nggak usah, Nu." Kini uang tersebut sudah berada digenggaman, lantas menyerahkan kembali pada Ibnu yang buru-buru bersidekap. "Nu, ambil lagi ini uangnya."


"Enggak..., apaan sih, Mas?" pemuda di dekat Ilyas keukeuh merapatkan kedua tangannya menyilang. "Orang Ibnu mau bantu, kok."


"Ya tapi jangan tabungan kamu juga. Kamu bukanya udah pesen gerobak, ya? Kamu butuh bayar gerobak itu, kan?"


"Itu gampang, Mas. Cancel aja dulu."


"Aiiiih, nggak bisa gitu lah. Yang ada Mang Kisman nggak percaya lagi sama Kamu, nanti."


"Ya enggak, Mas. Lagian udah di DP lima ratus ribu. Mang Kisman nggak akan merasa gimana."


"Nggak pokoknya ambil ini." Mengulurkan kembali uang tersebut, sementara sang Adik masih bergeming. "Nu–"


"Mas, wallahi. Saya ikhlas mau bantu Mas Ilyas."


"Bantu Mas itu cukup pakai doa aja. Nggak usah kaya gini." Pria berkacamata ini masih terus berusaha mengembalikan uang adiknya.


"Mas percaya bantuan datang dari mana aja, kan?" Tanyanya hingga membuat Ilyas mendadak diam. "Mungkin Allah bantu, Mas, lewat perantara Saya."


"Tapi, kan?"


"Nggak papa, Mas. Saya ikhlas. Lagian Abas bukan cuma adeknya Mas Ilyas. Tapi adek Saya juga. Kita punya tanggungjawab yang sama buat dia, Mas."

__ADS_1


Mendengar itu Ilyas tak bisa berkata-kata, selain senyum yang terukir di bibirnya.


"Kamu udah dewasa sekarang, Nu." Menepuk lengan adiknya.


"Emang udah dewasa, Mas Ilyas aja yang nggak nyadar," Ibnu membalas dengan tawa. Sementara Ilyas mengucap hamdalah sambil memegangi uang di tangannya.


"Mas janji, akan mengusahakan untuk ganti uang ini."


"Nggak usah, Mas. Gampang nanti tinggal nabung lagi."


"Nggak bisa gitu, Nu. Pokoknya tunggu Mas ada rezeki ya."


Mengalah, Ibnu pun mengangguk saja, walau dalam hati ia ikhlas jika Kakaknya tak bisa mengganti uang tersebut. Dengan begitu perdebatan ringan ini pun berakhir.


–––


Pagi datang, pria berkacamata itu mengunjungi rumah sakit tempat sang korban dirawat. Sementara laki-laki yang biasanya hanya membolehkan Ilyas mengantar uang hanya sampai di depan rumah sakit saja, itu tak kunjung keluar. Ilyas mencoba menghubungi pria tersebut, nomornya aktif namun tidak di angkat.


"Duh, mana ya? Apa langsung masuk ke bangsalnya aja? Tapi, nanti Mas Juple marah." Sudah ada sekitar empat puluh lima menit menunggu di lobi rumah sakit. Pria berpenampilan preman itu tak kunjung menghampirinya.


Di saat yang bersamaan, seorang wanita paruh baya dengan gamis lusuh melintas di hadapannya.


"Eh, itu kan Ibunya–" gegas Ilyas menghampiri wanita dengan kerudung segi empat ukuran standard yang warnanya sudah memudar, bahkan terdapat benang-benang yang keluar.


"Eh, Mas?" Menujuk kearah wajah Ilyas. "Situ Kakak pelaku yang nggak bertanggungjawab itu, kan?" tudingnya kemudian. Kontan wajah ramah Ilyas langsung berubah bingung saat di tuding demikian, namun ia mencoba tenang.


"Nggak bertanggungjawab, gimana ya?"


"Ya nggak tanggung jawab. Udah nggak biayain, nengok suami saya juga kagak!"


Pemuda berkacamata itu semakin di buat bingung. "Sebentar-sebentar..."


"Mas di sini mau apa?" potongnya sedikit ketus dengan logat khas orang Betawi. "Mau minta ganti rugi karena motor adeknya rusak?"


"Astaghfirullah al'azim." Ilyas melebarkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Sebentar, Bu. Saya dari tadi nggak paham loh sama kata-kata ibu."


"Nggak paham gimana? Nih, ya..., Kita nyari duit aja udah susah setengah mati, Mas. Malah di tabrak gerobak laki Saya. Udah gitu mending tanggung jawab biayain, atau paling nggak nengok. Ini boro-boro segala nengok apalagi bantu pengobatan. Eh, malah minta ganti rugi balik!" berangnya dengan suara yang sedikit keras hingga memicu lirikan mata para pengunjung.


"Kita bicarakan ini di ruangan Bapak aja, Bu. Kayanya ada kesalahan."

__ADS_1


"Alah, ngapain! Kita udah mau pulang, ini saya lagi mau nebus obatnya di bagian farmasi. Udah jangan bikin pusing Mas. Mending balik aja sana gih!"


"Bu, sebentar aja. Saya mau bicara. Apa selama ini uangnya nggak pernah nyampe di tangan ibu?" Tanya Ilyas hati-hati sambil menahan wanita tersebut.


"Bodo amat!" Sarkasnya.


"Bu, demi Allah. Selama ini saya ngasih uang loh, buat biaya Bapaknya."


"Kasih apaan, sepersen pun nggak masuk di kantong gua buat biaya rumah sakit. Lu jangan ngada-ngada deh."


"Nggak ngada-ngada, Bu. Saya bahkan ngasihnya langsung ke Mas Juple."


"Juple?" Tanyanya. "Jadi Lu ngasih ke Si Juple?"


"Iya, Bu. Bahkan sejak hari pertama. Jika di hitung-hitung sudah masuk lima juta. Dengan berbagai alasan."


"Ya Allah, Ple..., Ple!" gumamnya. "Ntar, dah Mas kita ngobrol. Saya mau antri obat dulu."


"Oh, iya Bu." Ilyas menghela nafas. Wajahnya berubah kecewa sebab, dari perbincangan ini ia bisa menyimpulkan jika pria itu tidak benar-benar menggunakan uangnya yang sengaja ia kumpulkan, dengan sebagai mana semestinya. "Ya Allah, benarkah laki-laki itu udah nggak jujur?"


Beberapa waktu kemudian, tepatnya satu setengah jam perempuan itu mengantri obat untuk di bawa pulang. Lantas menghampiri Ilyas yang kini dalam posis duduk menyandar di salah satu kursi tunggu yang kosong.


"Bener anak Saya udah minta uang terus?" Tanyanya pelan, dengan intonasi yang berbeda tak seperti tadi.


"Iya bener, Bu. Ini buktinya..." Ilyas menunjukkan bukti chatting sekaligus voice note anak laki-laki Beliau. Perbincangan demi memecahkan kesalahpahaman pun tercipta, Ilyas menjelaskan sama halnya dengan ibu itu. Kini ketemu lah titik masalahnya.


"Ya Allah –" merasa tak enak hati perempuan itu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Maafin anak ibu ya nak? Ibu nggak tau kalau selama ini situ di mintain uang terus ampe segitu banyaknya. Bener, dah!"


"Nggak papa, Bu. Yang penting semuanya jelas. Saya minta maaf kalau nggak pernah besuk, Bu. Soalnya nggak di bolehin juga sama Mas Juple."


"Iya, iya, Nak. Nggak papa... untuk sekarang mending nggak usah ngasih uang lagi. Alhamdulillah, biaya udah di cover pake jaminan kesehatan dari pemerintah. Jadi Mas nggak perlu lagi ngasih. Saya anggap lunas, dah."


"Be–bener, Bu?"


"Iya." Wanita itu mengelus dada. "Ya Allah, jadi nggak enak kalau begini Saya."


"Udah Bu, nggak papa. Sekarang saya mau nengok Bapak, Bu."


"Ayo silahkan." Wanita itu bangkit lebih dulu dan berjalan di depan Ilyas. Kini perkara tanggung jawab terhadap korban telah selesai. Memang, suami ibu itu mengalami patah tulang, namun tidak begitu parah seperti apa yang di laporkan anak korban.

__ADS_1


Dan setelah semuanya di ketahui, pria itu pun tak lagi bisa di hubungi. Sebaliknya, Sang preman malah memblokir nomor Ilyas. Pemuda berkacamata itu berpikir tak masalah. Yang terpenting semua sudah terselesaikan, dan kini ia bisa menjalani kehidupannya dengan tenang.


Walaupun tak sepenuhnya, sebab tanggung jawab ganti rugi kerusakan motor pun masih menjadi urusannya. Namun, setidaknya salah satu beban pundaknya sudah terlepas, Ilyas jadi tidak begitu kesulitan. Adapun kini ia mengembalikan uang Ibnu full. Karena tidak ada satu sen pun yang di gunakan. Dua pemuda itu lantas mengucap syukur bersama-sama.


__ADS_2