
Ponsel masih digenggamnya dengan kedua tangan. Sementara pikiran terus liar walau berkali-kali ia tepis dengan keyakinan jika Ilyas akan baik-baik saja.
Hingga kini, manakala adzan subuh sudah berkumandang. Perempuan dalam balutan gamis tidur itu masih terlihat was-was karena belum adanya kabar dari adik-adik iparnya.
Berkali-kali tangannya yang gemetar terus berusaha menghubungi Ibnu ataupun Abas. Tapi dari keduanya tidak ada satupun yang menerima panggilan telepon tersebut.
Rasa kesalnya sesaat muncul, tapi ia tetap harus berpikir positif. Bisa jadi mereka berdua sedang dalam keadaan panik hingga tak sempat membuka ponsel.
Karena setelah kejadian tak terduga pada waktu dini hari tadi. Pak Sofian, Abas dan Ibnu langsung buru-buru membawa Ilyas ke rumah sakit, bisa saja, 'kan, mereka berdua tak membawa gawai masing-masing.
Terlebih, darah yang mengucur deras membuat semua orang panik, tak terkecuali Qonni yang nampak gemetar kala melihat Koko putih itu berubah merah di bagian lengannya.
Ya Allah, tolong Suamiku. Semoga dia baik-baik saja.
Dalam riuh suara adzan yang bersahut-sahutan, Qonni memanjatkan doa untuk suaminya, agar laki-laki itu bisa kembali dengan sehat.
Sebuah dering ponsel membuatnya gegas mengucap hamdalah. Buru-buru dia angkat panggilan dari nomor Abas.
"Halo, assalamualaikum, Dek." Yang di sana menyapa dengan lembut.
Tentunya, suara Ilyas langsung meluruhkan air mata dari netra sang istri. Sebuah rasa syukur yang penuh dengan kelegaan. Mendapati suara sang kekasih yang semoga dalam kondisi baik.
"Wa–walaikumsalam, Mas. Mas Ilyas, nggak papa? Apa pendarahannya udah berhenti? Mas di tangani dengan baik, 'kan?"
Bibirnya yang gemetar buru-buru memberondong dengan banyak pertanyaan hingga membuat yang di sebrang tersenyum. Walau sepersekian detik berikutnya pria yang masih berada di ranjang IGD kembali meringis kesakitan setelah efek biusnya mulai menghilang.
"Aku nggak papa, Alhamdulillah sampai sini aku langsung mendapatkan penanganan yang baik. Bahkan luka ku juga udah di jahit."
"Alhamdulillah, aku bersyukur mendengarnya. Mas di sana sama Ibnu dan Abas dulu, ya. Habis subuh Ibu sama Ayah katanya mau langsung jalan ke sini. Nanti aku langsung ke sana, ya."
"Nggak usah, Sayang. Mas bentar lagi juga pulang, kok."
"Pulang? Mas kan masih sakit?" Kening Qonni berkerut. "Mas, pasti nolak ketika mau di rawat, 'kan?"
"Enggak, Sayang."
__ADS_1
"Terus kenapa cepat sekali pulang, kalau ternyata lukanya kembali menganga gimana?"
Ilyas menghela nafas. "Emang kata dokternya udah boleh pulang, kok. Karena lukanya nggak dalam, jadi Mas di perbolehkan langsung pulang. Rawat jalan, Dek."
Bibir Qonni mengucap hamdalah, dengan satu tangan mengelus dada.
"Udah jangan khawatirkan aku. Yang penting aku baik-baik saja. Maaf juga, Mas baru ngabarin. Karena aku juga nggak bawa HP. Ibnu juga nggak bawa, untungnya Abas bawa. Jadi Mas bisa ngabarin ke kamu."
Qonni terdiam, tangan satunya terangkat sesekali menyeka air mata. Ketakutan yang hampir sama ia rasakan seperti saat dirinya kehilangan Harun. Sungguh, ia tak mengharapkan apapun saat ini selain kembalinya pria berkacamata itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Dek, udah adzan kan? Kamu udah sholat?"
"Belum, Mas."
"Ya udah sholat dulu aja. Jangan khawatirkan aku. Beneran, Mas itu baik-baik saja."
Kedua mata Qonni mengerjap. Bulir-bulir bening bercucuran. Ia pun refleks mengangguk walau hal itu tak terlihat suaminya.
"Tapi bener, 'kan? Udah nggak papa? Dokter udah benar-benar memastikan?"
"Hiks..., aku sebenarnya nggak mau nangis, tapi mau gimanapun juga aku takut kamu kenapa-kenapa," gumamnya seraya menghapus jejak air mata yang dengan bandelnya terus bercucuran, hingga membuat yang di sana kembali terkekeh lirih. "Terus sekarang lagi apa?"
"Sedang duduk sambil menunggu Pak Sofian, Dek. Kalau urusan udah kelar, kita langsung pulang. Tapi Mas juga mau sholat dulu, niatnya."
"Kalau begitu aku tunggu di rumah. Hati-hati ya, Mas."
Ilyas menyentuh dadanya yang berdebar. Rasa rindu menyeruak, padahal baru beberapa jam ia pergi. Mungkin karena tangis khawatir Qonni padanya membuat hatinya terenyuh. Rasa ingin mendekap tubuhnya pun amat kuat saat ini.
Ucapan salam terdengar dari bibir Qonni, seiring berakhirnya percakapan mereka menggunakan gawai masing-masing. Perempuan dengan rambut panjangnya itu tak henti-hentinya mengucap syukur sembari tangan meletakkan ponsel ke atas meja.
Langkahnya pelan mendekati Nisa yang masih tertidur pulas setelah beberapa menit yang lalu terjaga.
"Alhamdulillah, Nak. Abi nggak papa... sebentar lagi Abi pulang." Di kecupnya pipi Nisa sebentar, sebelum akhirnya bangkit hendak menunaikan ibadah sholat subuh.
....
__ADS_1
Di posisi Ilyas, pria itu termenung dengan senyum terukir di bibir. Matanya lurus kebawah menekuri benda pipih warna hitam milik Abas.
Tirai di hadapannya tersibak, tatapan Ilyas lantas beralih pada seorang pria paruh baya yang masuk dengan tampang penuh penyesalan.
Keheningan di ruang tindakan ini menemani keduanya. Pak Sofian duduk di kursi besi lipat, tepat di dekat ranjang Ilyas.
Helaan nafas terdengar, pria paruh baya itu terus menghindari sepasang mata milik pria berkacamata itu.
"Kenapa kamu harus mengorbankan diri demi harta dunia saya?" tanya Pak Sofian lirih.
Kedua tangannya berada di antara kedua paha beliau. Keangkuhan yang beberapa waktu terakhir ini di perlihatkan pun tak ia tampakkan lagi. Selain rasa bersalah sekaligus prihatin dengan apa yang di alami pemuda itu.
"Padahal, nggak perlu kamu tutup gerbang itu, lantas melawannya dengan tangan kosong. Beruntung hanya terkena sabetan pisau. Kalau sampai ke tusuk?"
"Saya tahu saya sangat gegabah. Karena yang saya pikirkan tadi adalah maling itu jangan sampai mengambil sesuatu yang bukan haknya," jawab Ilyas. Pak Sofian pun menoleh.
"Lantas kenapa kamu nggak teriak aja?"
"Saya kasian, kalau maling itu sampai di pukuli warga."
"Kamu kasihan sama penjahat? Dia aja nggak kasian sama kamu. Liat, luka mu itu..., adakah dia kasihan? Seharusnya biarin aja penjahat itu di hajar kalau perlu di bakar hidup-hidup."
Ilyas beristighfar. Tangannya pelan mengusap lengan yang tertutup perban.
"Saya ingat sebuah kisah— pada saat itu di medan perang. Ali Bin Abi Thalib sudah bersiap hendak memenggal kepala musuh. Namun seketika urung tatkala musuh tersebut meludahi wajahnya. Tangan Beliau yang memegang pedang sudah gemetaran, geram di dadanya bergemuruh. Padahal hanya dengan satu kali tebasan dari pedangnya tersebut akan langsung membuat sang musuh terbunuh. Tapi apa? Beliau justru menurunkan pedangnya kembali, Ali bin Abi Thalib tidak jadi membunuhnya."
Pak Sofian bergeming, ditatapnya serius wajah yang sedikit tertunduk menekuri lantai ubin di bawahnya.
"Lantas apa yang membuat Ali bin Abi Thalib melepaskan musuhnya itu. Karena niat yang sebelumnya adalah membunuh musuh karena Allah, berubah lantaran murkanya setelah di ludahi."
Kepala Ilyas terangkat, kembali mengarah pada Pria paruh baya yang sedang duduk di dekatnya.
"Di situasi itu saya berpikir, kalau saya berteriak lalu masa menghabisinya sampai mati apalagi membakar dia hidup-hidup. Saya justru akan merasa ketakutan setengah mati, Pak."
Mendadak merinding dengan kata-katanya sendiri, ia justru memikirkan nasib si maling setelah tertangkap warga. Bayangan penganiayaan yang di lakukan secara berkelompok seperti ia rasakan kembali. Sakit karena di pukuli tanpa jeda sedikitpun membuat kepalanya terasa berat. pria itu beristigfar sembari menyentuh kepalanya.
__ADS_1