Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
pengagum rahasia


__ADS_3

Selepas mendapatkan pencerahan, Ilyas pulang dengan hati yang lebih tenang. Sekarang ia yakin, bahwa semua yang terjadi sudah tertulis dalam Lauhulmahfudz. Jadi tidak perlu lagi menjadikan diri sebagai penyebab wafatnya Harun di tengah-tengah huru-hara.


Namun, bukan berarti ia lantas melupakan semua yang terjadi begitu saja. Ilyas tetap mengenang Harun dalam jiwanya sebagai seorang sahabat yang syahid. Sementara Ayu, biarlah waktu yang menjawab dan semoga saja hatinya suatu saat nanti bisa terbuka. Dan kalaupun tidak– berati ia memang harus benar-benar ridha, kalau dirinya dan perempuan yang baru saja menyandang status sebagai ibu itu tidaklah berjodoh.


Sraaaak... Kaki yang beralaskan sandal jepit itu terhenti tepat lima meter dari posisi rumahnya. Di sana ia melihat seorang gadis tengah berdiri tanpa melakukan apapun.


Fatimah? gumamnya dalam hati. Pemuda berkacamata itu mengerutkan keningnya sejenak. Bingung dengan apa yang di lakukan anak dari seorang dosen di salah satu sekolah tinggi swasta. Sebelum akhirnya kembali melangkah mendekati gadis yang belum lama ini baru saja menamatkan strata satunya di kota pelajar.


"Assalamualaikum!"


"Astaghfirullah!" gadis dengan hijab warna coklat susu itu terperanjat. Padahal Ilyas menyapa dengan suaranya yang pelan. "Wa–walaikumsalam, Mas."


"Kamu ngapain disini, Dek?" Pemuda itu tersenyum saat melihat gerak salah tingkah gadis di hadapannya.


"Ini– itu, anu–" bingung ingin menjawab apa. Dia hanya menyodorkan rantang sambil memalingkan wajahnya.


Tentu hal itu membuat Ilyas tertegun dan belum pula tangannya merespon untuk menerima rantang yang di sodorkan padanya. Gadis yang merasa di abaikan kembali menoleh sebelum berpaling lagi.


"Tadi Ibu saya bikin soto ayam, Mas. Karena ada acara keluarga, dan Beliau minta saya buat ngirim ke sini."


"Owalah–" Ilyas menerima rantang tiga susun tersebut. "Makasih, ya."


"Sa–sama-sama." Tanpa berbicara lagi, gadis itu langsung berlalu walau sepersekian detik kembali memutar tubuhnya. "Assalamualaikum, Mas Ilyas."


"Walaikumsalam warahmatullah." Ilyas menjawab sambil tersenyum pada gadis dengan gamis hitam di depannya yang terburu-buru untuk menjauh. Setelah itu geleng-geleng kepala, dirasa tingkah gadis perempuan yang pernah jadi murid ngajinya di TPQ milik Kyai Irfan itu semakin kesini semakin aneh saja.


Pemuda dengan kacamata minus terpasang di wajahnya mengangkat rantang di tangan. Aroma gurih dari soto ayam yang ada di dalam sudah benar-benar menggoda. Kebetulan, dia sendiri belum makan malam. Alhamdulillah, mendapatkan rezeki tak terduga dari tetangga. Ia jadi bisa memanjakan lambung dengan makanan berkuah hangat itu. Kaki Ilyas kembali terayun masuk kedalam rumah.


Adapun di sisi lain, gadis yang sebenarnya sudah berbelok memasuki pagar rumahnya itu tersenyum, mengintip dari pagar besi di antara daun pohon pucuk merah. Sebelum bergegas masuk dengan perasaan senang ketika makanan yang ia kirim di terima langsung oleh laki-laki Sholeh dan ulet seperti Muhammad Ilyasa yang sudah ia kagumi sejak masih SMP.


–––


Seorang pemuda yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri dapur. Karena ia mencium aroma lezat dari sana.


Kraaaak, kraaaaak... Di temui sang Kakak sulung sedang membuka rantang plastik dan melepaskannya satu persatu.

__ADS_1


"Waaah, makanan dari mana ini? Enak bener baunya." Ibnu berdiri di dekat meja melihat semua makanan yang tertata secara terpisah.


"Soto ayam dari Fatimah," jawab Ilyas.


"Fatimah, anaknya Pak Sofian? Yang selama ini kuliah di Jogja?"


"Iya lah, tetangga kita yang namanya Fatimah siapa lagi?" jawab Ilyas yang nampak mondar-mandir menyiapkan piring dan gelas.


"Kapan ngasihnya?"


"Tadi, baru aja. Pas Mas pulang dari masjid, dia lagi tertegun di depan pintu rumah sambil nenteng rantang ini."


Ibnu manggut-manggut, ia pun gegas menarik kursinya keluar untuk ia duduki ketika piring dan gelas sudah di letakan di hadapannya oleh Ilyas.


"Mas, Fatimah itu udah dewasa, ya?"


"Terus kalau udah dewasa kenapa?" Ilyas yang sedang meracik soto untuk dirinya dan Ibnu melirik sebentar.


"Ya nggak kenapa-kenapa, sih. Tapi– orangnya cantik, nggak– menurut, Mas?"


Mendengar itu Ilyas langsung tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Nggak, nggak." Ilyas meredam tawanya yang merasa lucu ketika adiknya mulai terang-terangan menyebut seorang gadis cantik.


"Bener cantik, 'kan?" Ibnu mengulangi pertanyaannya. Yang di setujui oleh Ilyas dengan anggukan kepala.


"Nah nggak hanya cantik luarnya. Tapi inshaAllah Sholehah juga, karena Fatimah itu seorang Qori yang bersanad."


"MashaAllah..." Ilyas menimpali lirih dengan bibir masih mengembangkan senyum. Setuju dengan perkataan adiknya. Bisa dibilang, Fatimah lumayan sempurna sebagai seorang muslimah.


Jujur masuk juga dalam kriterianya, jika saja sang adik sudah lulus dan memiliki pekerjaan tetap yang mumpuni. Ia pasti bersedia langsung melamar Fatimah untuk Ibnu. Namun, melihat saat ini adiknya belum lulus. Kerja juga masih samar-samar kedepan mau jadi apa, Ilyas pun tak begitu menanggapi. Karena mau bagaimanapun, keluarga Pak Sofian lumayan terpandang. Mantan anggota DPRD juga. Sudah pasti, adiknya akan jauh dari kriteria calon menantu yang di harapkan sang mantan pejabat daerah tersebut.


"Di tambah lagi dia berkerudung panjang, pas itu di jadikan bidadari halal, Mas..."


"Eh, eh...!" Pria berkacamata yang sudah merasa tergelitik itu menepuk-nepuk meja pelan demi menghentikan ocehan adiknya. "Kuliah dulu tamatin. Baru juga semester lima udah mikirin Akhwat!"

__ADS_1


"Yeeeee! Ini bukan buat Ibnu, Mas. Ibnu mah masih jauh mikir nikahnya. Malah belum kepikiran."


"Terus?"


"Ya buat, Mas lah..."


Pemuda berkacamata itu bergeming. Tangan yang bergerak sedang mencampur soto dengan sambal untuk dirinya sendiri terhenti.


"Mas Ilyas itu udah dewasa. Udah saatnya cari isteri," sambung Ibnu kemudian. "Nah, Fatimah itu jodoh yang pas. Orangnya kalem, tutur katanya halus. Terus, penampilannya sederhana walaupun anak orang berada."


"Udah, udah! makan aja abisin, gih. Abas mana?" tanyanya yang terkesan mengalihkan. Hingga membuat pemuda di hadapannya menarik nafas dalam-dalam. Memang kalau berbicara dengan kakaknya yang menjurus pada pernikahan pasti selalu di abaikan.


"Abas lagi main di rumah Ridwan. Paling pulang malem," jawabnya sebelum menyeruput kuah kuning dari soto ayam yang rasa gurihnya langsung menyebar ke seluruh rongga mulut.


"Tadi Dia nggak ke masjid lagi, ya?" tanyanya dengan sorot mata kesal. Adapun Ibnu hanya menggedikan kedua bahunya.


"Astaghfirullah al'azim," gumam Ilyas kecewa.


"Bisa jadi sholat di rumah Ridwan," jawabnya kemudian.


"Mudah-mudahan aja tuh anak nggak lupa sholat. Soalnya kalau udah hobi game online begitu. Maunya mabar terus sampe lupa waktu ibadah." Ilyas kini sudah siap menyantap makanannya sambil memegangi sendok dan garpu. Dalam hati tengah meredam rasa kesal pada adik bungsunya yang memang terkadang susah di atur.


"Mas, gimana?"


"Gimana apa?"


"Soal Fatimah." Pemuda di hadapan Ilyas masih belum puas menggodanya dengan cara menaik-turunkan alis. "Jangan-jangan ini soto rasa cinta. Kalau ada bumbu-bumbu doa pemikat gimana?"


"Astaghfirullah!" gumamnya di selingi tawa yang membuat Ilyas hampir tersedak.


"Serius! Biasanya cewek kalau udah ngirim makanan gini, pasti ada rasa. Lagian dia 'kan dulu kalau nggak salah ingat– waktu masih SD, sampai SMP maunya ngaji sama Mas Ilyas terus di TPQ."


Lagi-lagi, Ilyas hanya tersenyum sambil menekan kacamata-nya agar lebih kencang saat tengah menunduk fokus pada makanannya.


"Iya 'kan, Mas? Masuk akal, 'kan?"

__ADS_1


"Nu!" Panggilnya pelan dengan penekanan. "Makan, aja!"


"Iya, Mas," jawabnya mengalah. Karena mau gimanapun Kakak sulungnya memang susah jika di ajak bicara soal pasangan. Biarlah, mungkin memang Beliau belum ada keinginan menikah. Lagipula menikah juga kan butuh biaya. Pasti itu juga yang menjadi faktor Kakaknya belum berani untuk menikahi anak gadis manapun.


__ADS_2