Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
sebuah pengakuan


__ADS_3

Angin pagi masih berhembus sejuk, seberkas sinar pula mulai keluar seiring waktu terus berjalan. Qonni duduk di kursi saat laki-laki itu memilih titik lain untuk menikmati waktu singkatnya bersama Anisa. Demi agar wanita itu tidak risih, Ilyas mengambil jarak kurang lebihnya dua meter dari perempuan berhijab pink tersebut.


Lama bibir keduanya tenggelam dalam keterasingan. Ilyas mencoba menoleh kearah ibu dari bayi yang ada dalam dekapannya.


"Yu, maukah kamu mendengarkan aku berbicara sebentar?"


Permintaan Ilyas hanya di respon dengan lirikan mata. Sebelum kembali tertunduk.


"Ini soal pesan yang kamu kirim waktu itu lewat ponsel Almarhum."


"Apa pesan ku masih kurang jelas, sampai Mas Ilyas mau membahasnya lagi?" Qonni langsung menanggapi. "Saya nggak suka di paksa dalam semua hal yang berkaitan dengan hati."


Ilyas bergeming, sorot matanya mengarah pada bayi yang nampak tenang di gendongannya.


"Sama halnya dengan ini. Kalau bisa, Mas Ilyas jangan melakukan hal seperti ini lagi. Apapun alasannya, jangan mencoba mendatangi kami lebih-lebih saat aku hanya dalam kondisi berdua dengan Nisa–" Qonni memalingkan wajah. "Saya nggak mau ada fitnah diantara kita."


"Aku paham, dan aku minta maaf kepadamu. Tapi, apa yang ku lakukan ini beralasan," kilah Ilyas yang tak lagi di tanggapi dengan jawaban. "Aku mau kamu mendengarkan sebuah pengakuan. Yang mungkin setelahnya akan membuatmu berang terhadapku. Tapi aku siap, Ayu. Bahkan kalaupun kamu akan mengutukku sekalipun."


Qonni yang masih duduk di kursinya terus diam. Menunggu pengakuan apa yang akan dia katakan.


"Selama ini yang ku lakukan bukan karena perkara nafsu. Melainkan, aku telah berhutang nyawa pada sahabatku. Ya..., Abinya Nisa."


Perempuan dengan balutan hijab instan itu menoleh. Adapun Ilyas jadi kembali terduduk. Tidak mau lagi mengulur waktu, sebaiknya ia jujur mengatakan alasannya.


"Kalau bukan karena menolongku, mungkin Harun masih disini membersamai kalian."


"Kalian sama-sama korban." Qonni masih mempercayai itu. Walaupun ia sedikit kecewa, karena ia tahu yang mengajak Harun nonton bola di stadion adalah Ilyas.


"Memang benar, namun kejadian sebenarnya ada kaitannya dengan kekeliruanku," timpal Ilyas sambil menggeleng. "Kalau saja, aku tidak menjadi penyebab Harun celaka. Mungkin aku tak akan seberusaha ini, ingin menjadi pengganti Harun untuk kalian."

__ADS_1


Perempuan itu tidak mengerti, namun hatinya mulai tercubit lara. Ia harap, tak mendengarkan apapun yang akan membuatnya tambah kecewa. Mudah-mudahan saja hanya rasa bersalah karena mengajaknya nonton bola. Dan itu sudah di maafkan sejak lama.


Pelan-pelan, Ilyas menjelaskan tragedi yang sesungguhnya. Dengan berkali-kali meminta maaf, bibir itu memaparkan secara gamblang tanpa di kurangi sedikitpun situasi yang terjadi kala itu, seperti saat dirinya menjelaskan di depan Gus Mukhlis.


Detik demi detik bergulir, mengganti air wajah penuh tanda tanya menjadi keterkejutan yang hanya di kemas dengan kebisuan milik perempuan tersebut.


"Ja–jadi, sebenarnya kita sudah hampir pulang. Bahkan Harun sudah memakai helmnya."


"Cukup!" Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya, sebelum mendekati Ilyas dan merebut anak dalam dekapan pria itu.


"Aku minta maaf," tuturnya dengan tatapan sendu mengarah pada perempuan yang kini tak lagi meladeninya. "Yu, tolong dengar dulu–"


"Jangan katakan apapun lagi, Mas!" potongnya dengan intonasi suara yang tertahan, namun sarat akan kekecewaan.


Kedua netra peri itu mulai mengalirkan kristal bening ke pipi. Yang buru-buru di singkirkan sambil menoleh ke sekeliling. Situasi taman terlihat semakin ramai, dan tak mungkin juga ia meluapkan emosi disini. Lagi pula, Qonni bukan gadis yang suka memperlihatkan kemarahannya terhadap siapapun. Apalagi di tempat umum.


"Yu– Ayudia." Ilyas masih berusaha memanggil wanita yang mulai membawa laju stroller bayi, menjauh dari pemuda berkacamata dibelakang. "Aku memang merasa bersalah dengan mu, dan Nisa. Tapi aku sungguh-sungguh menyayangi anak itu..., terlepas dari hutangku terhadap Harun."


Qonni memejamkan matanya sejenak sambil menggeleng, tanpa sedikitpun niatan untuk berhenti.


"Terhadapmu pun, aku tulus. Bukan gombalan seperti masa awal kuliah. Bukan pula hanya sebatas iba. Aku benar-benar ingin mengikatmu dengan cara yang halal, Ayudia. Karena pilihan hatiku."


Astaghfirullah al'azim... Batinnya merintih, menahan emosi yang memacunya untuk berteriak agar laki-laki itu berhenti berbicara. Adapun Ilyas sendiri menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar. Segala yang tertahan di hati sudah ia utarakan, pada perempuan yang semakin menjauh bahkan sudah mulai keluar dari petak taman komplek ini.


Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menahan diri untuk terus menyatakan perasaanku. Setidaknya setelah ini, aku akan benar-benar pasrah dengan sikapnya yang mungkin semakin menolak ku hadir ditengah-tengah mereka. (Ilyas)


🥀🥀🥀


Sampai di rumah, Qonni langsung menggendong puterinya. Memeluk anak itu sambil menahan suara tangis agar tak terdengar Aida dan Ayah Ulum yang mungkin sedang berada di ruang makan. Buru-buru ia membawa Nisa ke dalam kamar, meninggalkan pintu rumah yang di biarkan terbuka begitu saja.

__ADS_1


Klaaaaap, pintu kamar tertutup. Qonni meletakkan bayinya di atas ranjang. Dengan bahu berguncang bersama derai air mata, ia terus memandang wajah Nisa yang memiliki kemiripan hampir tujuh puluh persen lebih condong ke Abinya. Kemudian mengecup pipi tembem anak itu.


Sesungguhnya, Harun meninggal karena menolongku yang bersikeras ingin melerai kerusuhan.


"Hiks!" Qonni kembali menutup mulutnya, terisak. Satu tangan meremasi kain seprai yang ia jadikan pelampiasan emosi.


Kalau saja aku tidak sok-sokan. Mungkin kita, terutama Harun masih pulang membawa nyawa.


Aku minta maaf, Yu. Sudah membuat hari-hari mu terus di selimuti kedukaan.


"Ya Allah..., suamiku A'Harun..." Kini perempuan itu tengah menepuk dadanya yang sesak pelan. Seolah kembali tidak terima dengan semua fakta yang sebenarnya terjadi.


Suara Ilyas terus terngiang-ngiang di telinga. Bahkan tumpang tindih dengan ketulusan pemuda yang ingin mengikatnya dalam catatan negara, dan agama.


Terhadapmu pun, aku tulus. Bukan gombalan seperti masa awal kuliah. Aku benar-benar ingin mengikatmu dengan cara yang halal, Ayudia.


"Astaghfirullah! Cukup! cukup tolong hentikan. Aku mencintai A' Harun. Aku hanya ingin mencintainya..." Tubuhnya merosot hingga ke bawah ranjang, lantas menutup ke-dua telinga sambil menggeleng cepat. Menolak keras sosok laki-laki yang andai saja tidak berdosa, ia sangat ingin membencinya sekarang ini.


–––


Di sisi lain, pria itu masih bertahan di taman. Menekuri sepasang sepatu yang ia kenakan, sambil mengorek-ngorek debu jalan berpaving ini.


Ilyas menghela nafas panjang, batinnya memang lega setelah melepaskan semua yang tertahan selama ini. Namun, mengingat perempuan itu menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun, selain tatapan kecewa mengarah padanya, justru menimbulkan sayatan baru di relung hati pemuda berkacamata tersebut.


Kisah Rosulullah Saw yang lantas mendapatkan hati Sofia selepas menghabisi seluruh keluarga beserta suaminya karena perang. Rupanya tidak akan pernah terjadi pada mahluk seperti ku.


Kembali Ilyas tersadar, bahwa tak semua keadaan yang di alami seorang hamba akan seratus persen sama dengan yang di alami pada hamba lainnya. Lebih-lebih, Beliau seorang Rosul pilihan Allah. Akhlak dan kepribadiannya saja sudah berbeda jauh. Namun, bukankah rahmat Allah itu luas. Di peruntukan untuk siapapun yang tak pernah berputus asa. Dan bukan tidak mungkin akan menjadi sama, hanyalah waktu yang membedakan kisahnya dengan kisah Rosulullah Saw.


Ilyas mengangkat kepala, menatap langit cerah yang mulai menyilaukan di atas. Sambil termenung ia meletakkan harapan pada sang maha membolak-balikkan hati manusia. Agar kelak ia benar-benar bisa memilik Ayudia Qonniah dalam ikatan halal yang di restui semua orang. Dan juga, hati perempuan itu tentunya.

__ADS_1


__ADS_2