Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan
Latihan Mengemudi.


__ADS_3

Pagi yang mulai terik, Ilyas duduk di kursi kemudi. Tatapan tegangnya mengarah ke depan, sementara tangan yang berkeringat mencengkram lingkar setir.


Ya, dia yang sebenarnya tidak ingin latihan mengemudi, tapi malah jadi terjebak karena perasaan tak enak untuk menolaknya. Lebih-lebih, mobil yang akan ia kendarai merupakan mobil mahal milik mertuanya.


Ya Allah, lindungilah hamba. Hamba takut nabrak... Tak henti-hentinya bibir berdzikir, mendengarkan setiap arahan dari Pak Ulum. Dengan tangan menunjuk-nunjuk apa-apa saja yang ada di hadapan Ilyas.


"Lihat tombol yang ada di sebelah kanan setir?" tanya Ulum.


Ilyas pun melirik kearah yang di tunjuk, kemudian mengangguk saat menemukan tombol tersebut.


"Nah, itu namanya tombol stop angine. Kamu tekan dulu sekali tombol itu."


"Sa–sambil injek rem?" tanyanya gugup.


"Nggak jangan dulu. Pencet aja sekali."


Ilyas nurut, di tekannya tombol tersebut. Dimana hatinya masih sedikit khawatir kalau mesin akan langsung menyala, kemudian jalan sendiri karena tidak menginjak remnya.


Bagian spion yang tertutup mulai terbuka, bersama dengan layar audio yang secara otomatis menyala.


"Sekarang pencet lagi angine-nya."


"Ya–yang tadi, Pak?"


"Iya," Ulum tersenyum. Menyadari ketegangan Ilyas. Lelaki muda di sebelahnya nurut saja. Menekan lagi tombol tersebut. Kini, sistem elektrik pun mulai menyala, beserta segala komponen mobil lainnya.


Ilyas mengusap keningnya yang mengeluarkan keringat dingin. Dimana bibir terus berdzikir, tangan pula semakin kencang mencengkram kemudi.


Allah... Allah... Allah...


"Santai aja, Nak. Jangan tegang, kita latihan dulu menguasai segala komponennya. Jadi nggak langsung jalan–" ucap Ulum yang memahami gerak-gerik ketegangan menantunya.


Membuatnya mengingat masalalu, tatkala tiba-tiba di ajak Kyai Irsyad pergi tanpa perencanaan. Kemudian melatihnya mengemudi secara dadakan.


Hanya bedanya, dulu Beliau latihannya menggunakan mobil manual, tidak seperti Ilyas sekarang.


"Tarik nafas, tarik nafas..." Hibur Ulum hingga menantu di sebelahnya tertawa kaku.


"Iya, Pak." Bismillah...


"Sekarang, injak rem. Terus tekan tombol yang tadi lagi satu kali lagi."


Lelaki berkacamata itu menarik nafas panjang, sementara kaki mulai menginjak rem. Tangannya pun mulai menyentuh tombol angine hingga suara halus mesin mobil mulai terdengar.


Hembusan nafas terdengar. Ulum kembali terkekeh menepuk-nepuk pundak menantunya.


"Jangan tegang, Yas."

__ADS_1


"Tetep aja, Pak. Udah istighfar padahal..." Pria di sebelahnya mencoba untuk tertawa walau tangannya gemetar.


"Intinya di awal paham ya. Gunanya komponen-komponen ini?"


"Iya, Pak."


"Sekarang saya matikan dulu. Kita mulai dari awal lagi."


"Ya, Pak," balasnya lagi.


Diawali dengan membaca bismillah, Ilyas kembali mengingat-ingat. Kemudian menunjuk sambil mengulangi, apa-apa saja nama dan gunanya komponen-komponen tersebut. Seperti fungsi dari Electrik parking break yang ada di sisi kirinya. Kemudian kembali Beliau menekan tombol start angine. Sebanyak tiga kali dengan memberikan waktu jeda.


Beberapa kali mencoba, Ulum mulai meminta Ilyas untuk menginjak pedal gas pelan-pelan. Karena ini tipe mobil matic, menurut Ulum akan lebih mudah di pahami.


Beberapa jam kemudian, mobil mulai melaju mulus walau masih mutar-mutar di sana. Ilyas yang tegang memang belum begitu menguasai sekali. Masih perlu beberapa kali latihan, namun bagi Ulum ini sudah baik.


Hingga, hari-hari dan minggu demi minggu berlalu. Ulum masih terus mengajaknya untuk berlatih. Ilyas pun mulai berani masuk ke jalan raya, dengan bimbingan Pak Ulum yang sabar dan telaten.


"Nah, udah agak enjoy, kan? Yang penting pelan-pelan aja," tuturnya dengan tatapan tertuju pada jalan yang lengang.


"MashaAllah–" Pria berkacamata itu mulai bisa tersenyum. Tangannya memutar lingkar setir untuk berbelok.


"Coba parkir di sana." Menunjuk ke depan.


"Tapi agak rame, Pak."


Ilyas mengangguk, lelaki itu mulai melambatkan laju mobilnya. Kemudian menyalakan lampu sen dan menepi.


"Lihat situasi, jangan lupa untuk pastikan belakang kosong saat mundur. Menggunakan spion tengah dan samping."


"Iya, Pak," jawab Ilyas patuh. Pria itu pun mulai memposisikan mobilnya, walau belum sempurna namun tetap berhasil. "Alhamdulillah."


"Nah, mampu kan?"


"Alhamdulillah, Pak," jawab Ilyas tenang.


"Setelah ini sering-sering bawa sendiri. Nggak usah nunggu saya. Biar lebih lancar lagi."


Ilyas mengangguk. Hatinya lega, karena selama latihan, mobil mertuanya masih utuh tanpa lecet sedikitpun. Beberapa menit istirahat di sebuah toserba. Pak Ulum pun kembali menyuruhnya untuk membawa mobil tersebut sampai ke rumah.


–––


Di rumah...


Qonni, Aida dan Safa sedang duduk di pelataran rumah beralaskan tikar. Tiga perempuan beda usia itu sedang asik makan rujak sembari memantau dua peri kecil yang bermain di atas rumput.


"Bu, ini agak kepedesan." Safa protes, sudah makan beberapa potong mangga. Perutnya mulai terasa panas, ia pun menyerah.

__ADS_1


"Emang pedes banget, Nduk?" tanya Aida cekikikan. Qonni menggeleng, mulutnya masih penuh mengunyah jambu air. "Payah, Mbak, Mu," lanjut Aida kemudian.


Safa mengibas-kibaskan tangannya. Ia benar-benar sudah tidak berani mencolek sambalnya lagi.


"Astaghfirullah, mulut serasa terbakar—kerupuk itu, Dek." Menunjuk kerupuk putih di dekat Qonni yang masih asik makan rujak buatan ibunya.


Tangan itu meranggai, kemudian menyerahkan toples plastik berukuran besar kepada kakaknya.


"MashaAllah, segernya–" puji Qonni yang tak henti-hentinya mencolek sambal rujak menggunakan mangga.


Safa menghabiskan kerupuknya sambil geleng-geleng kepala. Ibu dan Qonni memang paling jago soal makan makanan pedas. Dirinya suka sih, tapi tak sejago mereka.


Kini perempuan berhijab panjang itu tetap makan jambu, ataupun bengkoang. Namun memilih untuk makan secara polosan. Menetralkan efek pedas di lidah walau mungkin masih saja coba-coba untuk mencocol sambalnya sedikit.


Di tengah asiknya para perempuan yang sedang makan rujak buah. Mobil yang di kendarai Ilyas muncul.


Senyum Qonni pun merekah, ia senang ketika suaminya mulai mahir mengemudi kendaraan roda empat.


"Walah..., udah pinter itu Abinya Nisa. Besok ke Cileungsi udah nggak pake motor lagi," seru Aida turut senang.


"MashaAllah–" bibir Qonni bergumam senang. Menyambut dua pria beda usia yang ia cintai.


Terlihat, Ilyas tersenyum pada sang istri sambil menenteng tas selempang.


"Keliatannya udah lancar, Mas?" tanya Qonni setelah cium tangan.


"Lumayan– tapi tetep harus dilancarin lagi," jawabnya.


"Alhamdulillah kalau gitu," balas Qonni.


Beliau pun kembali mendekati Pak Ulum. Hendak menyerahkan kunci mobil kepada ayah mertuanya, mendadak lupa kalau kunci mobil masih di pegang.


"Ini, Pak. Kuncinya," ucapnya sambil menyodorkan.


"Pegang kamu dulu aja. Besok latian lagi, sesering mungkin."


"Tapi, nanti kalau Bapak mau pakai?"


"Itu mah gampang, yang penting di simpan kamu dulu aja," jawab Beliau sebelum mendekati dua cucu perempuannya.


Di sisi lain, Safa tersenyum. Ia bahagia ketika semuanya nampak baik-baik saja. Bahkan adik iparnya pun tak memperlihatkan kesan tak nyaman walau tinggal satu rumah dengan mertua.


Ilyas menghela nafas, tatapannya bergeser pada Qonni.


"Nggak papa, Mas," bisiknya tanpa suara. Ilyas mengangguk, sebelum bergabung pada ibu, Ayah, dan juga kakak iparnya untuk menikmati rujak buah.


Jangan kalian tanya Afin Anka dimana. Pria itu sedang sibuk mengurus cabang baru restoran Turkinya di kota lain. Yang kini sudah memiliki kurang lebih sepuluh restoran Turki yang tersebar di beberapa mall besar area Jakarta dan Bekasi.

__ADS_1


Yang kemungkinan akan bertambah lagi, seiring permintaan para fans Beliau yang merasa penasaran ketika melihat review-review jujur dari para Selebgram lain secara sukarela.


__ADS_2